Menunggu Yang Tak Pasti


  Minggu kemarin adalah hari terakhir liburan sekolah. Hari ini, Senin, Juli 1990 adalah hari pertama kembali masuk sekolah. Aku kelas II SMA sekarang. Hari pertama seperti biasa belum ada aktivitas ajar mengajar yang signifikan. Kami hanya mencari informasi dimana kelas kami sekarang, siapa teman baru kami sekarang, siapa wali kelas kami sekarang dan lalu berusaha mencari posisi kursi yang strategis. Aku tak terlalu suka duduk didepan meskipun tak jadi masalah buatku, aku biasanya memilih di baris ketiga atau kedua. Kursi paling belakang adalah posisi yang paling aku benci sejak Sekolah Taman Kanak-Kanak. Pesan Ibu adalah “jika ingin pintar, duduklah di kursi paling depan”  dan itu tergiang terus saat mencari posisi kursi diruang kelas. Tapi kepintaran bukan dari posisi kursi, namun dari kapasitas otak masing-masing individu. Meskipun selalu duduk dibaris terdepan dan selalu belajar mati-matian, aku tak pernah sekalipun masuk 10 besar, bahkan untuk mencapai 15 besar aku butuh perjuangan setengah mati. Nilaiku selalu jeblok di matematika dan fisika. Nilai 6 diraport adalah perjuangan penuh darah dan nanah. Tapi untuk pelajaran yang berbasis hapalan aku bisa dibilang mumpuni. PMP, BIOLOGI, GEOGRAFI, PSPB, AKUNTANSI, BAHASA INGGRIS dan AGAMA nilaiku alhamdulillah cemerlang, tapi matematika dan fisika cukup 6 saja tak pakai koma, itupun aku pikir adalah nilai belas kasihan guru karena aku yakin sebetulnya aku tak mampu mencapai angka 6. Kendala traumatimatis.

     Di papan mading tertera penempatan kelasku di kelas II ini. Aku masuk kelas IISOS2, artinya aku kelas dua dan di jurusan sosial urutan dua. Ada 4 urutan untuk kelas sosial, 3 Kelas Fisika, 3 kelas biologi dan 1 kelas bahasa. Aku berharap di kelas sosial ini ada peningkatan mutu nilai dan berharap teman-temanku yang sakti mandraguna tak ada dikelas ini. Oke, baguslah harapan sesuai kenyataan. Tiga sahabat terbaik di kelas satu dulu juga masuk kelas ini. Empat raja kembali bertahta tak terpisahkan. Kami adalah pasukan cowok lugu, cowok pemalu, cowok kuper, cowok lurus, cowok penakut dan segala sesuatu yang sifatnya negatif ada di kami. Kami sebetulnya sekumpulan cowok lucu, namun entah kenapa cuma kami sendiri yang bisa menilai bahwa kami itu lucu. Suatu saat akan ada cerita tentang kami.

     Ada nama nama asing yang aku baca di mading. Kebanyakan aku hanya tahu nama samaran mereka, nama alias yang kadang diberikan berdasarkan bentuk pisik, lokasi tinggal, perbuatan bodoh atau bahkan nama orang tua. Seperti Herri Setiawan Bensneidder  yang dipanggil Ewunk karena tinggal dibantaran kali Ciliwung, Sunaidi yang dipanggil pacul karena saat ospek dulu mau-mau-nya disuruh bawa pacul, atau Johny yang dipanggil Rahmat karena dia satu satunya orang keturunan Cina yang nama bapaknya memiliki nama pribumi. Dan aku sendiri di panggil Babeh, entah kenapa aku dipanggil Babeh, katanya sih karena aku mirip Rano Karno, bahkan saking miripnya, Rano Karno kalah mirip sama aku. Yah begitulah.

    Dan ada satu yang mengejutkan kami ber-empat adalah bunga sekolah kelas bidadari kelas para dayang yang jadi incaran para senior dan kaum cowok, ternyata  juga termasuk dalam kelas kami. Kami cuma saling pandang dan berbicara lewat telepati, kemudian tertawa terbahak-bahak. Entah tertawa senang, mencemooh atau tertawa heran. Yang aku tahu bidadari ini dulu pernah sesumbar kalau dia tak masuk kelas fisika lebih baik pindah sekolah, kelas selain fisika adalah kelas para recehan, namun nyatanya sekarang ada dikelas kami. Termakan karma, ingin menyamar atau mencari kesempatan seperti aku agar mendapat peningkatan nilai mutu ? entahlah yang pasti salah seorang teman sangat berbinar binar matanya penuh nafsu birahi. Itu bukan sesuatu yang aku harapkan, aku masih berharap seseorang yang aku kenal tanpa sengaja, seseorang yang sempat membuat semangat hidup bersekolah kembali membuncah, seseorang yang bisa membuat aku senyam senyum sendiri, seseorang yang saat di mushala membuat otak mesumku berkibar tak tentu arah, seseorang yang memiliki betis indah putih merona juga ada dalam kelasku. Kelas para raja.

     Hari ini seseorang itu tak ada dalam pencarian mata liarku. Parahnya aku juga tak tahu siapa nama seseorang itu. Jadi sia-sia rasanya mencari seseorang itu berdasarkan nama-nama yang tertera di mading. Bodoh. Siang makin meninggi, lapar kian meradangi perut kami, mie ayam Bram dipojok kantin jadi sasaran tempat kami melampiaskan kebutuhan biologis. Sambil menatapi para teman yang terlihat antusias atas kelas barunya atau bahkan ada yang kecewa dengan penempatannya, aku bahkan tak merasakan sensasi yang mereka rasakan. Biasa saja karena sensasi yang aku harapkan belum terjadi dan aku tak tahu apakah akan terjadi. Aku hanya menunggu seseorang itu, tak perlu pula harus sekelas, yang aku butuh hari ini adalah bisa menatapnya dihari pertama sekolah di kelas II. Semoga.

Romansa Putih Abu-Abu 1990

Sangpriabiru

Saat Rasa Itu Datang


     Semester kedua ditahun pertama sekolah di SMA ini tentunya tak akan ada yang istimewa seandainya aku tak memaksakan diri ikut acara pertandingan antar kelas atau yang saat itu dikenal dengan nama Class Meeting diakhir minggu setelah selama sepekan penuh kami menghadapi ujian semester. Sekolahku adalah sebuah sekolah negeri dibilangan Cibubur, Jakarta Timur. Awal tahun 1989 masih dihiasi dengan curahan sisa-sisa hujan sejak November tahun lalu. Jika kawan sekelasku pagi ini tak datang menjemput, aku lebih baik beristirahat saja dirumah, terlebih hanya untuk datang menonton pertandinmgan sepakbola antar kelas. Aku tak suka bola. Pertandingan bulutangkis yang rencananya akan aku ikuti dihapuskan dengan olah raga volley Ball. Angin yang terlalu keras dan permainan outdoor yang tak cocok di musim ini menjadi alasan kenapa bidang olah raga yang aku kuasai harus dihapuskan dari daftar yang dipertandingkan dalam acara class meeting ini.

     Langkah ini terasa berat. Aku malas untuk bicara. Aku lebih menikmati diam selama perjalanan. Kekecewaanku setelah ngotot di forum OSIS agar bulutangkis disertakan dalam class meeting ternyata harus kandas juga karena faktor alam. Terlebih semua yang dipertandingkan tak ada yang bisa menggantikan minatku untuk ikut dalam ajang lomba ini. Aku hanya bisa bulutangkis. Ini juga yang menjadikan alasan aku malas untuk datang dan tak bersemangat meski harus dijemput pula oleh seorang kawan baik sekalipun. Kawanku adalah ketua OSIS yang tinggalnya satu komplek dengan rumahku.

     Selama hinggar binggar dilapangan pertandingan, aku hanya berdiam diri di ruang kelas. KLA Project jadi hiburan satu satunya yang bisa aku nikmati lewat Walkman 2 bands hadiah seorang teman satu kelas. Dari lantai dua ruang kelas aku hanya bisa menatapi lapangan bulutangkis yang kosong melompong. Hanya ada tumpukan tas dan logistik pertandingan tertumpuk disisi pinggir. Dilapangan sepak bola riuh hiruk pikuk peserta dan supporter tak bisa menggodaku untuk sekedar melirik kesana. Lapangan Volley Ball yang selalu dipenuhi siswi siswi cantik dan genit tak juga membuatku tertarik walau hanya sekedar tuk mencuci mata yang penat ini. hanya saja di beberapa sudut luar ruang kelas, seperti biasa, anak-anak senior (anak kelas tiga) terlihat menebar jala pesona kepada anak-anak junior (kelas satu atau kelas dua) untuk sekedar berbual bual mencari perhatian. Tak dapat dipungkiri, acara seperti ini adalah ajang mencari jodoh bagi anak senior, mungkin secara masa pendidikan, jatah mereka disekolah ini sudah tak lama lagi. Aku belum tertarik untuk urusan yang seperti itu, lagipula aku masih junior kelas satu pulak. Syukur Alhamdulillah, sejak pertama kali aku menjejakkan kaki disini tak ada yang menggangguku. Rata rata anak senior disini adalah kakak kelas yang tinggalnya satu komplek denganku, bahkan kedua mantan OSIS terdahulu dan yang sekarang adalah tetangga samping kiri kanan rumah. Setidaknya karena itu pula aku mendapat penjagaan nonformil, secara aku tiap hari datang dan pulang bersama mereka.

     Jam sudah menunjukkan pukul 16.20 WIB. Aku masih ada diruang OSIS menunggu kawan aku yang sedang memberesi perlengkapan hari ini dan untuk dipakai esok hari. Tak ada yang bisa dilakukan selain duduk santai mendengarkan lagu lagu dan berbincang dengan beberapa guru diruangan itu. Bahkan makanan yang berlimpahpun tak mengoyahkan hasratku untuk menjamahnya. Hingga suatu saat mata ini tertuju pada seseorang wanita yang menuruni tangga. Aku tak kenal dia, tapi mata ini tak melepaskan begitu saja, seperti ada yang menarik dari dirinya. Entahlah, dirinya yang lewat sepintas itu dalam sekejap bisa membuncahkan perhatianku. Namun dalam sekejap pula menghilang dari ke-terkesima-an-ku.

     Kami bersiap untuk pulang setelah selesai shalat ashar. Sambil menunggu kawan mengambil motor ditempat parkir, kusandarkan tubuh dipilar teras mushala. Sejuk cuaca dan semilir angin sore lumayan menentramkan jiwa ini. Entah mengapa sekelabat bayang bayang yang aku kenal saat kulihat menuruni tangga tadi lewat dihadapanku. Aku terkesima, ketika dalam jarak hanya tiga meter dia ada dihadapanku melepaskan sepatunya, melepas kaos kakinya dan berlari dengan polosnya menuju tempat wudhu. Jelas aku dapat memandangi wajahnya. Rambut lurus, tebal, pendek sepundak, mengenakan bando, berkacamata dan dengan tas selempang berwarna merah bertuliskan “ESPRITE” warna merah. Cantik rupa wajahnya, putih merah merona…….imajinasiku mulai bermain main tak senonoh. Jiwa ke-lelakian-ku seakan akan baru membuncah menuju kondisi yang sesungguhnya, setelah sekian masa waktu bumi terkekang dalam ikatan tabu yang absurd. Bidadari ini sungguh turun dari langit, turun ditempat yang suci, menembusi relung hati yang yang selama ini tertutup tabu tradisi. Astaghfirullah…ini mushala tempat dimana diharamkannya pandangan zina dan sebagainya….maafkan aku Tuhan…!!!

       Sepanjang perjalanan pulang, diamku kali ini berbeda dengan diamku saat datang tadi. Banyak imajinasi yang berkecamuk di hati dan otak ini. Janjiku pada kawan untuk tak datang besok hari kesekolah rasanya adalah sebuah maklumat yang bodoh yang keluar dari emosi jiwa yang labil atas ke-tidak-berdayaan yang absurd. Aku ingin melanggar janji itu…ingin sekali dan pasti akan kulanggar. aku ingin melihat sekali lagi raut wajah putih merah merona yang berlari polos dihadapanku tadi. Aku ingin melihat sekali lagi rambut hitam lurus tebalnya yang diselipkan bando dirambutnya. Aku juga ingin melihat sekali lagi isi dari balik kaos kakinya yang aahhhh….sudahlah….!!!. Aku tak sadar ketika senyum senyum sendiri ini sudah terlihat gila di mata sang kawan. Entah bagaimana cara dia memperhatikan aku yang ada dibelakangnya.

     Aku tak sabar menunggu pagi, aku ingin  matahari terbit lebih cepat malam ini. Aku ingin menyambut hidup baruku disemester kedua sebagai junior yang penuh ambisi. Aku ingin ada yang bisa membuat aku bersemangat menyapa pagi. Aku ingin ada yang bisa aku isi untuk memenuhi hati ini dengan sesuatu yang baru, sesuatu yang bukan keputus asaan, kegamangan, kesedihan atau bahkan hanya sekedar kesenangan semu…aku ingin ada juga cinta yang bisa mengisi dan memenuhi hatiku disisa waktuku. Mungkin baru kusadari, inikah yang dinamakan “suka pada pandangan pertama”  …masih banyak yang harus kucari untuk menjawabnya, yang pasti akan kudapatkan sesuatu yang lain dari hidupku sejak ini. Selamat datang rasa baru …selamat datang cinta.

N.B. : Disarikan dari catatan catatan semprul buku diary yang masih tersimpan rapi dilemari, sekedar mengingat kembali perjalanan cinta yang hingga saat ini tak lekang oleh waktu…amiiin.

Romansa Putih Abu-Abu 1990

Sangpriabiru

Cinta Versi Aku


Romantis itu nggak perlu ngasih bunga mawar…
Gak perlu juga bikin tulisan muter muter gak jelas disurat kalo intinya cuma buat gantiin kalimat “aku cinta kamu”…

Ngasih kado apalagi cuma coklat…

Gandeng tangan…Peluk peluk didepan umum…Jalan jalan ke taman bunga ala film-film India…

Makan malam berdua pakai lilin kecil warna merah jambu…

Kayaknya gak perlu juga harus gitu

Buat Aku, saat dia paham siapa diriku dan aku mengerti siapa dirinya, udah lebih dari cukup buat kami untuk memaknai cinta…
*Nyuruh dia mandi dan bikin kopi aja udah cukup romantis dari pada nggak sama sekali*
“Cinta hanyalah segumpal perasaan dalam hati. Sama halnya dengan gumpal perasaan senang, gembira, sedih, sama dengan kau suka makan bakso yang pedas, suka main game yang jadul tapi ngeselin, suka utak atik mesin , dan semacamnya. Bedanya, kita selama ini terbiasa mengistimewakan gumpal perasaan yang disebut cinta. 
Kita beri dia porsi lebih penting, kita besarkan, kita pupuk, lalu terus menggumpal membesar. Coba saja kau cuekin, kau lupakan, maka gumpal cinta itu juga dengan cepat layu seperti kau bosan makan bakso dan teman temannya tadi”.
Cinta sejati selalu datang pada saat yang tepat, waktu yang tepat, dan tempat yang tepat. Ia tidak pernah tersesat sepanjang kalian memiliki sesuatu. Sesuatu pemahaman yang baik bagaimana mengendalikan perasaan.”
Jangan meminta orang lain mencintai kita, sebelum kita bisa mencintai diri sendiri.
Cinta yang diterima sejatinya akan sebanding dengan cinta yang diberikan. Cintai lebih jika ingin dicintai lebih.
Itu aja sih cinta versi Aku
00.56 WIT,  Pantai-Kuta, 1 Januari 2017

-sangpriabiru-

Padamu


Aku tidak tahu pasti kapan cinta itu hadir. 

Dan mengapa harus ada cinta…

Seperti katamu yang bertanya; kapan detik pertama kehidupan dimulai? 

Aku tak mampu me-reka-nya…Kehidupan yang kutahu pada awalnya adalah ketika kau hadir di depanku, menghadirkan sebuah rasa penuh makna yang akhirnya terbungkus menjadi cinta.

Lalu mengapa harus ada cinta…

Aku hanya merasa bahwa cinta harus ada untuk meng-genap-kan perjalanan kita, entah bagaimana caranya…

Kemudian aku tahu satu hal yang pasti

Bahwa aku dikemudian masa harus membuat bahtera dan mempercayakan satu dayung padamu untuk ikut kau kayuh

Lalu bersama kita lajui bahtera yang aku buat disetiap  detik waktu yang akan selalu kita lukis dengan warna rindu…

Aku yang … Padamu

Jakarta, 10 Januari 2017

-sangpriabiru-