Ketika Waktu Kami Mesti Berlalu (1)


       Oke, aku coba kembali mengingat-ingat romansa waktu kecil. Aku hanya ingin membandingkan saat masa kecil aku dengan saat masa kecil anak-anakku. Terlalu melankolis mungkin, tapi biar bagaimanapun kita masing-masing harus punya sejarah sendiri, disini sejarah aku dan anakku.

      Aku lahir di Jakarta tahun 1972. Masa-masa diawal pembagunan negara ini menuju repelita pertama setelah pergantian presiden Soekarno ke Presiden Soeharto sejak 1968-1073. Aku tinggal di daerah keras selatan Jakarta, Manggarai, tepat dibelakang stasiun dan bengkel kereta api Manggarai (dulu disebut Magessen). Setelah usai sekolah taman kanak-kanak di Menteng, tepatnya Jl. Tegal no. 10, jakarta, tahun 1978 kami sekeluarga hijrah ke daerah yang lebih baik, Depok II Tengah, Jawa Barat. Bapak melihat kehidupan sosial didaerah kelahiranku mulai tidak baik buat tumbuh kembangku. Terlebih lagi Bapak begitu senangnya ketika mendapatkan jatah rumah bagi PNS saat program Perumanahan Nasional yang dicanangkan Pemerintahan Soharto kala itu. Depok adalah percontohan kedua setelah Bekasi. Aku pernah menuliskan tentang perjalananku pertama kalinya ke Depok bersama Bapak (“Depok 1978”).

       Oke, setelah kami hijrah ke Depok suasana sangat berbeda dan sama sekali baru. Aku tinggal di Jalan Pajaga I. Sepanjang gang itu berderet rumah yang rapi dengan model yang sama. Jika hari siang panasnya cukup terik, namun ketika menjelang pukul 16.00 sore hawa dingin Jawa Barat mulai terasa, terlebih saat pagi hari. Disini aku belum punya teman seusiaku, aku masih bermain dengan adikku yang berbeda usia dua tahun dariku. Permainanku berasal dari alam. Kadang menangkap belalang atau jangkrik. Kadang memetik buah atau mencabut singkong di rumah tetangga yang belum berpenghuni. Atau kadang menangkap ikan-ikan kecil dan ketam di sungai jernih dekat mata air bersama Bapak kala air dari PDAM tak menyala. Sederhana memang, tapi buat kami kebahagiaan seperti itu sudah luar biasa.

     Menjelang bulan kedua ditempat baru, mulailah tetangga baru kami berdatangan. Bapak menyalami tetangga baru dan saling berkenalan. kadang dalam satu hari ada dua sampai tiga tetangga baru kami berdatangan. Ada beberapa keluarga baru yang kebetulan memiliki anak seusiaku. Bagi kami, seusia itu adalah usia mudahnya kami bersosialisasi secara instan dengan kawan baru. Hanya dengan bermodalkan jangkrik dalam plastik kami sudah cepat berbaur dan saling berkenalan, bahkan dalam hitungan menit kami sudah bermain bersama.

     Permainan jaman kami sangat sederhana, namun disitulah semua fungsi sayaraf motorik halus dan motorik kasar kami bertumbuh dan bekerja secara maksimal. Daya imajinasi kami liar membuncah menciptakan karya atau permainan baru bersama. Permainan favorit adalah “Petak Umpet”, karena bisa dimainkan hanya oleh dua atau tiga orang saja. Lalu kemudian “Petak Benteng” yang bisa dimainkan oleh minimal empat orang, selanjutnya “Galah Asin” atau “Gobak Sodor” atau kami lebih mudah menyebutnya “Galasin” yang biasanya dimaninkan oleh dua kelompok team terdiri dari empat orang atau lebih. Namun dibalik semua permainan favorit kami ada permainan yang favorit diantara yang favorit, yaitu bermain bola dikala hujan.

Dari Google

Dari Google

     Namun resiko yang dihadapi sangat besar. Kami tidak takut petir atau suara halilintar yang menggelegar, yang kami takutkan adalah Ibu yang menunggu di depan pintu dengan sapu ditangan. Kalau Ibu sudah murka maka bisa-bisa tak dapat makan malam atau tak dapat uang jajan, belum lagi paha kami yang merah terkena pukulan sapu. Biasanya kami berfikir lebih cerdik demi menghindari murka Ibu. Jika kami bermain bola dikala hujan, maka biasanya kami bermain telanjang tubuh atau hanya dengan menggunakan cawat. Pakaian kami simpan dalam tas plastik lalu letakkan di tempat aman, setelah hujan berhenti kami bisa mandi dikali untuk berbasuh dari kotoran dan lumpur ditubuh setelah bersih pakaian kami yang masih kering akan menyelamatkan kami dari murka Ibu. Paling-paling Ibu cuma bertanya dari mana, biasanya kami akan jawab kami berteduh di mushala, beres. Bermain bola sambil hujan-hujanan dan berenang disungai kami dapat, murka Ibu lewat.

Dari Google       Dari Google

Dari Google

       Permainan adakalanya disesuaikan juga dengan kondisi dan situasinya. Pada saat bulan ramadhan permainan olah pisik yang mainstream biasanya kami tinggalkan sejenak, kecuali dimainkan pada sore menjelang berbuka atau setelah shalat tarawih. Entahlah permainan nyang satu ini disebut apa, tapi dulu kami menyebutnya permainan sarung terbang. Gampang dan menyenangkan, kedua ujung sarung diselipkan atau diikat pada celana dan dua ujungnya lagi kita pegang erat, kemudian kita berlari dengan cepat agar angin yang terjebak di dalam sarung membuat sarung mengembang. Biasanya menjelang berbuka puasa di depan Mushala kami bermain seperti ini sambil menunggu berbuka bersama dan shalat mahgrib berjamaah di mushala. Indah…

images (1)

Dari Google

       Sedangkan setelah shalat tarawih, kami biasanya menuju ke tanah lapang untuk melihat atau bermain “Bleguran” permainan “Meriam Bambu”, ini permainan yang paling seru. Bambu yang diberi lubang kecil sebagai penyulut pada ujung pokok bambu, kemudian bisa diisi karbit atau minyak tanah (karbit lebih dasyat) sedangkan ujung Bambu disumpal dengan kertas basah atau apalah, selanjutnya lubang kecil disulut api, maka suara dentumannya dan lontaran kertas basahnya membuat kami seakan-akan sedang berperang. Seru…..

Dari Google

Dari Google

Seandainya bisa, aku ingin kembali menikmati permainan ini bersama kawan-kawanku lagi. Namun setelah hampir setengan putaran bumi ini aku kehilangan banyak teman kecil. Meski orang tua kami masih tinggal ditempat yang sama, namum kami anak-anaknya telah terpisah oleh jarak dan waktu. Kami hanya bisa bertemu saat hari raya Iedul Fitri, biasanya disitu romansa kami hidup lagi.

Buat kami saat itu bahagia sederhana sekali…

Bagimana dengan anak-anak kami saat ini…?

Apakah permainan mereka sama dengan kami diwaktu kecil…?

Bulan Kami di 2 November


         
           Aku memang bukan lelaki yang romantis. Perjalanan asmaraku berjalan normal seperti kehidupan kebanyakan orang, tak pernah ada belaian manja dirambut untuk sang kekasih, tak ada ucapan-ucapan mesra atau kata menghalus memanja saat kami berkencan, tak ada peristiwa-peristiwa istimewa yang bisa saya lakukan untuk sang kekasih atau pasanganku disaat yang istimewa, tak ada hadiah coklat atau buket bunga idaman, juga tak pernah ada untaian-untaian kata rayu mendayu melankolis dalam secarik kertas warna merah jambu dihari-hari istimewanya. Biasa saja…dan aku menikmati kebiasaan yang biasa ini dalam kehidupan asmaraku sedari awal kami merangkai janji dan bersumpah sehidup semati hingga sampai saat Allah mempercayaiku mempercayai kami  dengan menghadiahi kami sepasang anak yang Alhamdulillah sehat-sehat, pintar-pintar, lucu dan juga nakal. Lengkap satu paket.
 
mawar
          Tak ada juga tempat-tempat istimewa bagi kami. Bagiku, tempat yang sunyi, tenang dan jauh dari hinggar bingar keramaian adalah sudah sangat lebih dari cukup. Aku adalah pria penyuka keheningan. Berbeda dengan kekasihku pujaan hatiku, kesukaannya akan travelling dan keramaian dan serba hinggar bingar sosialitanya, sering membuatku tersiksa. Kami tak pernah memaksakan tempat favorite kami satu sama lain agar bisa diterima, tak pernah. Yang dia tahu, bahwa aku pasti akan memilih suasana desa terpencil atau camping digunung dilokasi yang tidak semestinya dibanding suasana pantai. Dan aku hanya tahu, bahwa tempat favorite pasanganku adalah suatu tempat dimana harus terdapat  3 orang atau lebih. Artinya semua tempat bisa dia sukai dimanapun atau apapun.  
 
       Istriku seringkali mengeluhkan sikap dan sifatku. Terkadang dia mengharapkan sesuatu yang istimewa dihari yang istimewa, tapi nyatanya aku hanya bersikap biasa saja. Meski aku tahu kapan hari-hari istimewa kami terjadi, namun tetap saja aku bersikap seolah tidak ada yang perlu diistimewakan. Yang aku tahu pada hari-hari itu biasanya istriku membuat sesuatu yang berbeda dari biasanya. Misalnya membuatkan makanan kesukaanku atau mengenakan pakaian yang menurutku “berlebihan” bila hanya untuk dirumah.  Aku tahu, sikap istriku yang demikian adalah ungkapan perasaannya dihari istimewanya dan dia pun mengharapkan sesuatu yang juga berbeda dari aku, tapi tetap saja aku masih bersikap bodoh.       Besok, tanggal 2 November adalah tanggal teristimewa buat kami berdua. Ditanggal itulah sebuah awal dari antiklimaksnya seorang laki-laki, aku, mengungkapkan perasaan hati yang sesungguhnya melalui lisan ini, mulut ini, lidah ini terhadap lawan jenis. Ditanggal itu, aku pertama kali merasa jadi seorang lelaki sejati, lelaki yang untuk pertama kalinya berhasil melalui ujian terberat dalam awal dikehidupan selanjutnya, lelaki yang ingin belajar bertanggung jawab,  menjadi lelaki tangguh. 

Aku harus mengucapkannya dengan terpatah-patah dan dengan hantaman emosi yang tidak beraturan di hati yang bergejolak tak beraturan, diluar batas kemampuan hati dan otak untuk meredamnya, dengan tetesan air mata yang tidak disadari keluar bukan karena sedih tapi karena ketegangan berat di sanubari terdalam, dikekeluan lidah yang tak bertulang mengalir 10 kata yang teruntai dalam sebuah kalimat bombastis yang seakan-akan efeknya bisa mengacaukan peredaran garis rotasi bumi dan planet-planet di Galaksi Bima Sakti. “….Aku suka sama kamu, mau gak kamu jadi pacar aku…..”. Hanya sepuluh kata….ya sepuluh kata….tapi untuk mengucapkan dalam sebuah kalimat pendek dan cepat aku membutuhkan waktu hampir 3 tahun..!!! dan itupun tidak bisa aku ucapkan dengan baik dan benar….aku harus mengulang sampai 3 kali untuk dapat mengucapkan kalimat itu dengan baik dan benar….!!! (saat itu calon istriku hanya bilang “…Apa..?”  sampai dua kali. Setelah itu kami hanya terdiam, tak ada kata sepatahpun, tatapan mata kami sudah tak seperti biasanya lagi, kuping merah dan panas membara, hati  terjatuh sampai batas pijakan tapak kaki terbawah, otak kramp sampai titik prosesor terendah, nafas se-akan-akan tidak melawati jalur yang sesungguhnya, jantung dan paru-paru seakan tak hanya butuh oksigen untuk berdegup normal tapi juga butuh polutan lain, disinilah untuk pertama kalinya susunan metabolisme tubuh bergerak tak beraturan dan tidak bekerja dengan semestinya. Galau…Kacau…

Sebuah kalimat yang sebetulnya tak akan mempunyai arti dan makna apa-apa bagi yang tak memiliki perasaan cinta tulus suci murni tarhadap calon pasangannya, tapi akan mempunyai efek yang bombastis jika diucapkan oleh seseorang yang mempunyai “rasa” pada calon kekasihnya. Siapa yang mau menyangkal…???   siapapun yang pernah jatuh cinta dari lubuk hati yang terdalam, maka untuk mengucapkan 10 kata yang terangkai dalam kalimat ini kepada kekasih pujaan hatinya sama seperti sukarnya berjalan diatas lapisan es beku laksana kaca yang dilumuri minyak goreng….!!!.

Tanggal itu adalah hari dimana aku mengungkapkan perasaanku pada wanita yang sekarang menjadi istriku. Kalimat yang aku ucapkan dengan pertaruhan harga diri sebagai lelaki dewasa, kalimat yang aku ucapkan dengan persiapan yang paling panjang dalam hidupku, kalimat yang membuat dunia kami seakan berhenti berputar dalam beberapa menit, kalimat yang membuat aku yang pada akhirnya menjadikan aku sebagai seorang lelaki yang bertanggung jawab sampai detik ini, kalimat yang menyatukan hati kami satu sama lain hingga sebisa mungkin abadi di keabadian nyata alam firdaus.

Selamat hari jadi yang ke-24 kita, Istriku….semoga masih banyak waktu untuk bisa membahagiakanmu dilain waktuku….anggap saja kekuranganku ini sebagai waktuku yang tertunda dalam memberikan apa yang kau mau….meski entah sampai kapan bisa kubayarkan janjiku….

N.B: Thanks to : 1. Allah yang menciptakan waktu, bumi, Adam dan Hawa, 2. Guns N Roses yang mengilhami cinta kami, 2. Gubuk mie ayam di SMAN 99. 3. Hujan yang membuat kami harus berteduh di gubuk mie ayam,  4. rasa cinta yang ada dimasing-masing diri manusia.

Berhubung cinta sejati itu mutlak hanya bisa dimiliki oleh Allah semata, maka aku hanya bisa mencintaimu dengan cara dan kemampuanku sebagai manusia biasa…semoga berkenan….Amin.

Family

          

Aku, Ayah dan Kunang-Kunang


Nyari Di Google

     Malam ini tubuhku terasa remuk redam. Kegiatan dan aktivitas dikantor yang lebih padat dari waktu biasanya membuat susunan metabolisme tubuhku berantakan tak siap menerima perubahan yang drastis terjadi. Jadwal keluar kantor untuk mendatangi kantor cabang  secara langsung menyiksa emosiku, terlebih jalan raya Jakarta yang tak pernah mengenal batas peri kemanusia-an.

     Tadi siang Ibuku menelponku. Katanya akan mengunjungi kami dan cucunya. Sudah hampir sebulan memang kami tak sempat mengunjungi Ayah dan Ibu di Depok. Dan sehabis waktu ashar tadi mereka sudah sampai dirumahku.

     Jam menunjukkan pukul 20.45 WIB. Masih ada penat dan lelah disekujur tubuh. Aku dan ayah duduk diteras depan rumah. Kami hanya terdiam. Ayah memang sudah terlihat sangat tua. Beliau hanya termenung menatap keluar rumah. Aku sibuk dengan koran yang sejak pagi belum sempat aku baca. Sebetulnya aku ingin sekali beristirahat. Tapi aku terpaksa menemani ayah sambil membaca koran. Kami masih terdiam dalam ke-termenungan dan ke-penatan.

Lagi-lagi Google

     Tiba-tiba melintas dihadapan kami se-ekor kunang-kunang yang terbang berputar-putar mengelilingi taman. Cahayanya menarik perhatian ayah.

“…Apa itu…? kata ayah.

“…Kunang-kunang…”, jawabku singkat tanpa menatapnya.

“…Apa itu…? Kata Ayah lagi.

“…itu kunang-kunang…” jawabku lagi dengan agak keras.

Kali ini kunang-kunang terbang semakin mendekat kearah kami, kemudian hinggap diatas batu pualam dalam kolam.

“…Apa itu…? tanya ayahku untuk yang ketiga kali.

“…itu kunang-kunang ayah, KUNANG_KUNANG…!!”, jawabku lebih keras sambil tetap menatap koran.

“…Apa itu….?’ tanyanya lagi

“Ayah, kenapa sih bertanya seperti itu berulang-ulang ?, Sudah beberapa kali aku jawab itu KUNANG_KUNANG !! Tak bisakah ayah mengerti?” bentakku.

Ayah lalu bangun dari duduknya dan beranjak pergi meninggalkanku.

“Ayah…, ayah mau kemana?” kataku mulai melunak tapi dengan nada masih kesal. Ayah hanya melambaikan tangannya, mengisyaratkan aku untuk duduk saja.

Dari Google juga

     Sampai beberapa waktu berlalu, ayahku tak juga keluar menemuiku. Jam menunjukkan pukul 21.32 WIB, aku masuk kedalam rumah. Ternyata Ayah duduk tertidur diruang keluarga. Matanya terlihat basah. Sebuah buku kecil lusuh berwarna coklat kulit terselip dipangkuannya. Halamannya terbuka, ada beberapa bait tulisan sambung terlihat jelas dalam guratan tinta berwarna hitam yang telah memudar.

“Malam ini tepat menginjak tiga tahun usia anak pertamaku. Meski lelah dan penat sepulang kerja, tetap kusempatkan bersamanya duduk dibangku teras depan rumah kami untuk merayakan hari ulang tahunnya. Dihadapan kami melintas terbang se-ekor kunang-kunang. Anakku bertanya kepadaku. “…Ayah, apa itu…? dia bertanya sebanyak limabelas kali. Akupun menjawabnya sebanyak limabelas kali pula. “…Itu Kunang-kunang, nak…”, jawabku. Dan aku memeluknya setiap kali kujawab pertanyaan yang sama darinya, lagi, lagi dan lagi tanpa ada rasa kesal dan marah atasnya. Hanya ada rasa cinta yang mendalam untuk putra kecil pertamaku yang tanpa dosa”.

 Jakarta, 7 Juni 1975.

Ternyata ini catatan jurnal ayah atas tumbuh kembangku saat itu. Aku hanya terdiam, termanggu tak terasa air mataku mulai membasahi mataku, kuasa ku menangis sambil kupeluk erat Ayahku….

“…Ayah, maafkan anakmu…”.

Googling di Google

Jakarta, 7 Juni 2011.

Malam Rabu, tepat malam hari ulang tahunku yang ke-39 tahun.

N.B.: Didedikasikan untuk Bapakku yang telah menjadikan aku hingga seperti ini. Terinspirasi oleh kisah-kisah renungan terhadap kasih sayang ayah di blog-blog punya tetangga sebelah, thanks for all.

“Robbi firli, waliwalidaiyya warhamhuma kama Robbayani Soghirro”.

Rinduku Pada Tutut Sawah


     Sudah hampir 10 tahunan sejak SPB menikah, sejak itu pula SPB melupakan makanan yang menjadi santapan favorite disaat libur atau senggang. Dulu Ibu sering membuatkan SPB makanan ringan yang kata anak-anak muda jaman sekarang adalah makanan kelas ekstrem, padahal sungguh bagi SPB makanan ini adalah makanan ringan yang biasa disantap oleh anak-anak kampung tahun 70-80an. Kebetulan saat usia anak-anak (jaman SD), SPB tinggal di daerah pinggiran ibukota, tepatnya Depok II Tengah, kota yang dulu disebut orang Jakarta adalah tempatnya jin buang anak karena lokasinya yang sangat jauh dari ibukota, bahkan banyak yang bilang juga bahwa jin gak mau buang anak di Depok karena saking jauhnya. Depok saat itu masih dipenuhi sawah yang luas membentang hijau royo-royo, sungai kecil beraliran air bening masih banyak dijumpai, rawa-rawa atau situ-situ kecil banyak dimanfaatkan untuk memancing dan mandi anak-anak, bahkan mata air dan pancuran dari tebing-tebing menjadi tempat favorite kami berbasuh. Tapi kali/sungai ciliwung di bawah jembatan Panus adalah tempat favorite untuk berenang dan uji mental, selain lebih luas airnya juga masih terbilang bening untuk saat itu.

Dari Google

     Kegemaran kami saat anak-anak adalah mencari keong sawah, atau yang orang Depok bilang tutut sawah. Setiap pulang berenang disungai biasanya kami melewati area persawahan yang luas. Banyak terdapat udang air tawar  (baca kisah Eksperimen-Eksperimen Konyol : “Atlet Renang dan Udang Sawah”), ketam, ikan cupang sawah, katak dan tutut sawah. Kami bisa pulang membawa berkilo-kilo tutut sawah dalam wadah tas plastik atau kain sarung.  Jika sampai dirumah, tutut itu dibagi sama rata dan biasanya ibu-ibu kami yang memasaknya untuk kami. Kami akan menyantapnya bersama-sama sambil bersenda gurau disore hari. Pada saat mengolahpun, kami selalu membantu ibu kami untuk memecahkan bagian belakang tutut sawah agar mudah saat disantap nanti.  Sekali masak tutut sawah biasanya ibu akan menggunakan panci yang paling besar yang kami miliki, mungkin bisa lebih dari 3 atau 5 kilo sekali masak. Namun kami sekeluarga menyukai makanan ini. Sensasi makan tutut sawah bersama teman-teman kini sudah terlupakan seiring pertumbuhan dan kesibukan diri kami masing-masing. Terlebih setelah kami menikah dan meninggalkan rumah orang tua masing-masing menempuh hidup mandiri. Dan, sekarangpun Depok sudah mengalami banyak perubahan yang signifikan. Sawah, situ, air pancuran dan sungai yang dulu terhampar luas menghijaukan pandangan dan menyejukkan hati, kini lenyap berganti dengan angkuhnya tembok perumahan kaum borjuis dan toko-toko modern.

Dari Google

     Kemarin, sepulang kerja, SPB menemukan semangkuk besar makanan yang sudah lama SPB idam-idam-kan, tutut sawah. Tubuh yang semula lelah dan penat, seketika itu juga menjadi berbinar-binar dan sehat seperti semula. Rasa lelah dan penat tak dirasa lagi. Sempat termanggu dan takjub, kenapa juga makanan ini ada disini dan sejak kapan istriku mau memasakkan makanan kegemaranku saat kecil ini ? seribu juta tanda tanya dan rasa takjub bertabrakan satu sama lain. Gak percaya dan tak mungkin. atau ibuku kah yang membuatkannya untukku, tapi aku tak yakin, karena tampilan dan aromanya berbeda dengan racikan ibuku (ibuku adalah peracik makanan terbaik yang aku miliki dan aku hapal semua rasa racikan ibuku….).

Jepretan Sendiri

     Aku tanya sama anak-anak mereka juga tak tahu. Sambil menunggu istriku selesai mandi aku panaskan kembali tutut sawah itu sejenak. Betul saja, bukan istriku atau ibuku yang membuatnya, tapi itu kiriman dari tetangga sebelah yang katanya juga dapat kiriman dari kampung halaman. Mungkin tetangga sebelah mempunyai kerinduan yang sama denganku atas makanan ini. Mencari sensasi yang pernah hilang. Tanpa banyak cincong makanan itu aku santap,  diantara keturunanku hanya Kayla yang terlihat suka dan ikut menikmati makanan ini. Semula dia ragu untuk mencoba, tapi setelah melihat aku begitu nikmat memakannya, dia ikut juga mencoba. Setelah mencoba beberapa tutut, kini dia malah minta satu piring, dan Alhamdulillah habis separuhnya.

     Memang mungkin bener kata orang tua, kalau anak perempuan akan lebih condong mirip dan mengikuti gaya ayahnya dalam beberapa hal. Kayla adalah titisan diriku. Dia tidak kebanyakan cingcong seperti kakaknya yang laki-laki yang aku lihat lebih condong mengikuti mama-nya. Dalam soal makanan yang ekstrem dia bisa dikategorikan “GUE BANGET”. Bagimana tidak, jika ayahnya suka ceker dan kepala ayam maka dia juga suka, ketika ayahnya suka makan belut dia juga suka, ketika ayahnya makan keong dia juga, semua makanan yang aku suka kelihatannya dia juga suka. Hanya saja ketika ayahnya sangat takut pada laba-laba maka dia juga sangat takut pada laba-laba (aku adalah spiderphobia kelas berat….).

Kayla dan Tutut

     Terbayar lunas kini kerinduanku atas makanan masa kecilku, nikmat sekali. Cara memakannyapun aku tak lupa, hanya saja racikannya jauh berbeda dengan racikan ibuku. Nantilah jika aku pulang kerumah ibu, aku coba cari tutut sawah ini di pasar tradisional dan aku akan meminta ibu meraciknya untukku. Tak disangka rinduku pada tutut sawah juga membawa rinduku pada ibu. Aku mesti menyempatkan waktu untuk berkunjung pulang kerumah, rumah masa kecilku.

Dari Google

N.B. : Kuambil Ponsel, kuhubungi nomor ibuku…Alhamdulillah beliau sehat wal afiat…Terima kasih Allah…Kau telah sayangi, jaga , rawat  dan sehatkan ibu dan ayahku…..

Ultraman Versus Luna Maya


     Sebetulnya ini cuma dagelan dari sebuah cerita keseharian anak-anakku yang terinspirasi oleh tokoh-tokoh pujaan mereka, media yang mendukung selalu terpenuhi untuk meng-apresiasi-kan keinginan mereka atas tokoh pujaannya. Anakku Ryan (7 th), adalah putra pertama kami yang tergila-gila dengan semua tokoh Ultraman, dari Ultraman Gaia, Tiga, Ace, Leo, Nexus dan semacamnya. Sampai-sampai dia berjanji nanti kalo sudah besar dan punya uang banyak mau pergi ke Jepang hendak ber foto bersama Ultraman. Naif ya, tapi itulah daya imajinasi anak-anak yang baru bisa dia ungkapkan dalam bahasa verbal . Aku hanya bisa meng-amin-kan saja.

     Kayla (2 th). Inilah putri keduaku yang berjenis kelamin perempuan tapi tingkah lakunya bagaikan anak laki-laki. Panjat teralis jendela dan lompat-lompat antar kursi adalah hobbinya, aku gak tau kenapa dia berani melakukan hal tersebut, padahal aku sendiri adalah seorang pria yang mengalami phobia ketinggian. Berkali-kali terjatuh namun tak ada kata jera, kepalanya lebih keras dari batu. Dia tak kenal Luna Maya, yang dia kenal adalah grup band The Cangcuters. Lewat grup band inilah dia menamai bonekanya dengan nama Luna Maya. Lagu Wanita Racun Dunia-nya The Cangcuters menjadi lagu favoritenya, dari sebuah bait lagu itulah dia mengenal nama Luna Maya. Tapi jangan salah, meski dia menamai bonekanya dengan Luna Maya, tapi tokoh pujaannya adalah tetap The cangcuters, Hebat.  Lalu kenapa aku menulis cerita tentang Ultraman Versus Luna Maya ? bukannya Ultraman Versus The Cangcuters?

    

     Dari semula, Ryan selalu bermain sendiri dengan boneka robot Ultramannya. Banyak jenis yang dia miliki, tapi saat itu yang dia miliki adalah miniatur Ultraman dalam ukuran kecil-kecil. Suatu saat, Kayla aku belikan boneka baru yang ukurannya jauh lebih besar dari boneka yang dimiliki Ryan. Kayla yang berwatak jahil dan usil selalu mengganggu kakaknya dengan menjadikan boneka Luna Maya itu sebagai monster musuhnya Ultraman. Tentu saja ukuran boneka kayla yang tak sebanding itu dengan mudah dapat memporak-porandakan pasukan Ultraman. Sang kakak seringkali tidak bisa menerima kekalahan bonekanya dari boneka adiknya. Gangguan menjadi sering muncul dari Monster Luna Maya jikala Ryan beraksi bermain dengan Ultramannya. Kadang peristiwa kakak-adik itu seringkali menimbulkan tanggisan diantara kedua belah pihak. Tangisan seorang kakak yang dipermalukan oleh sang adik karena bonekanya selalu diporak-porandakan ketika bermain dan tangisan sang adik yang kepalanya dipukul atau dipentung pakai sepatu karena kenakalannya. begitu terus hampir tiap hari berulang-ulang. Hingga pada suatu waktu, aku terpaksa membelikan Ryan boneka Ultraman yang ukurannya sebanding dengan Monster Luna Maya. Pertempuran menjadi seimbang. dalam artian, tak ada lagi dua orang kakak beradik yang menangis berbarengan dalam satu hari, yang ada adalah tangisan seorang adik yang kalah bertarung boneka karena boneka Monster Luna Maya-nya sekarang dapat dengan mudah dilempar sang kakak jauh-jauh. Begitu terus hampir setiap hari, berulang-ulang.

     Solusi yang aku pakai untuk menghindari hal yang berulang-ulang dan membosankan tersebut adalah dengan menikahkan Ultraman dengan Monster Luna maya. Acara resepsinya cukup meriah, Martabak bangka dan Dunkin Donut jadi sajiannya. Para tamunya adalah pasukan dari kubu Monster Luna Maya (boneka-bonekanya kayla yang lucu dan imut-imut) dan pasukan dari kubu Ultraman (mainan Ryan yang terdiri dari para robot dan hewan-hewan). Sekarang tragedi berdarah antara Ultraman dan Monster Luna Maya berakhir sudah. Bahkan sekarang Monster Luna Maya sudah punya anak (gak tanggung-tanggung, anaknya ada 27, yang terdiri dari boneka-boneka kecil milik Kayla dan robot-robot kecil milik Ryan). Yang ada sekarang adalah acara masak-memasak, mencuci, mengasuh anak-anak dan pergi ke pasar. Persis dan mirip sekali dengan kehidupan aku dalam keluargaku. Tapi untung aku gak punya anak sampai 27 orang !!!.

Koleksi Ultraman Ryan