Hadiah Ulang Tahun Papa


Alhamdulillah…

       Setelah berkutat selama seminggu penuh dengan buku-buku pelajaran sejak awal semester hingga akhir semester, anak dara satu-satunya memberikan sebuah kejutan besar. Yeeeeiyyyy…akhirnya Kayla masuk ranking II setelah dikelas satu tahun lalu ada di ranking III. Alhamdulillah sekali lagi….dia bilang ini hadiah ulang tahun buat Papa…haaahhhh buat aku…? sungguh sebuah kejutan tak ternilai, penerimaan raport tak jauh berseling dengan tanggal kelahiranku, baiklah tak apa-apa…hadiah ini sudah cukup membuat bangga…terimakasih Kay.

     Perjuangan menuju angka II tak lepas dari perhatian istri yang kewarasannya diatas rata-rata. Sebetulnya buat aku pribadi, masa-masa ujian semester atau kenaikan kelas anak-anakku adalah masa masa tidak nyaman lahir batin. Istri yang kelewat batas dalam pelajaran sekolah anak-anak, akan semakin ekstreem dikala masa ujian. Tak ada televisi, tak ada sepeda, tak ada gadget, tak ada games dan tak ada jalan-jalan…kalo yang terkhir aku setuju sekali. Sehabis maghrib sampai dengan jam 10 malam adalah masa masa dikawah candradimuka sebelum masuk kemedan pertempuran esok harinya.

     Aku yang tak pernah ambil peranan dalam masa masa ini lebih banyak tak ikut campur dalam urusan teori teori tetek bengek mata pelajaran anak anak, masa masa ini adalah masa masa kekuasaan istri mengajari anaknya dengan gaya dia. Aku punya gaya yang berbeda dalam mengajari suatu pelajaran, aku tak bisa terikat oleh teori, aku lebih suka berjalan di praktek langsung atau belajar lewat cerita yang rasional. Kalo orang bilang “banyak jalan menuju Roma”….gaya beda hasil sama.

       Tak apalah, yang pasti dengan gaya manapun jika intinya untuk kemajuan dan kesuksesan kita bisa menggunakannya.

Terima kasih Kayla

Nambal Bak Mandi – Bagian Kedua


     

     Minggu lalu adalah menambal bak mandi episode pertama. Bisa dibilang kasil karya yang kemaren gagal total. Meski air memang lambat habisnya, namun tetap tambalan kemaren masih bocor dan ini sungguh tidak nyaman. Terlebih pada pagi hari dimana kesibukkan tingkat tinggi ada diwaktu ini. Ketika akan berhajad namun bak mandi kosong adalah sebuah kekesalan.

     Sabtu kemaren acara nambal bak mandi bagian kedua dilakukan. Kali ini dilakukan peng-ngetrikan, apalah bahasanya menurut ilmu bangunan aku tak tahu, yang pasti dsepanjang garis nat atau garis pemisah antara keramik aku ketrik dengan pahat perlahan lahan agar ada ruang terbuka untuk dimasuki semen.

     Setelah dibersihkan dari sisa sisa kotoran dan debu, peramuan semen dilakukan lagi. Kali ini campuran semen dan air diramu menjadi lebih kental, mirip kekentalannya dengan pasta gigi. Satu persatu garis pemisah saya lekatkan semen tadi. Hasilnya lumayan lebih rapi dari minggu lalu. Setelah semua tertutup rapi. bak mandi saya sterilkan dari percikan air, sata tutup dengan terpal plastik meja makan, dan saya mandatkan keseluruh keluarga agar terpal plastik ini akan dibuka pada minggu malam agar kekerasan semen menjadi maksimal.

     Alhamdulillah…setelah diisi air sampai penuh pada malam harinya, hingga Senin subuh tadi air bak tetap padfa posisi yang sama seperti pengisian pada malam harinya. Fiiiuuuuhhhh…kerja keras…*yaellllah yang begini disebut kerja keras…Sabtu kemaren membuahkan hasil yang positif…saya terpuasi…Alhamdulillah.

     Terrnyata, kegagalan yang pertama membuat saya memiliki pengalaman yang membuat saya berfikir sedikit lebih keras…*ya ampuuun ngerjain begini aja pakai berfikir keras….dan mereka reka apa yang harus dilakukan agar hasilnya bisa lebih baik dari kemaren…ya akhirnya dengan metode “ngetrik” itulah kutemukan jalan yang lurus…Halllllaaahhh….dan hasilnya …tarrrraaaa…bak mandi tidak bocor lagi…terima kasih Tuhan atas segala yang telah Engkau sematkan didalam tempurung kepala ini…terima kasih atas sisa sisa kilobyte ruang kosong yang masih Kau berikan didalam otakku…dan terimakasih atas ilmu yang telah Kau berikan untukku…semoga aku makin menghargai otak lemot ini dan masih tetap mau menggunakannya meski kecepatannya sudah sering bikin sakit kepala….Alhamdulillah…

 

 

Nambal Bak Mandi-Bagian Pertama


     Janji harus ditepati. Sebetulnya hari sabtu adalah me time yang gak bisa dan gak boleh diganggu. Tak seperti hari biasanya setelah shalat subuh selalu bersiap untuk aktivitas kantor, maka hari sabtu setalah shalat subuh adalah melanjutkan tidur episode ke dua. Terserah mau bangun jam berapa juga. Tapi sabtu ini lain, ada kerjaan yang sudah dijanjikan yang harus dikerjakan, menambal bak mandi yang bocor.

     Setengah malas harus melakukan pekerjaan yang tak biasa dilakukan, namun kalau tak dicoba bagaimana nanti jika bak mandinya bocor lagi, gak mungkin menunggu tukang bangunan hanya untuk sekedar menambak bak mandi. Dipikir pikir biarlah sebagai pembelajaran melakukan pekerjan yang bukan bidangnya.

     Jam 7 pagi diawali dengan memandikan belalang tempur (GL Max 125cc) karena memang sejak kehujanan kamis lalu belum sempat dicuci. butuh waktu sejam buat memandikannya. Tanah, minyak dan lumpur telah sempat mengeras di bagian bawah mesin belalang tempurku. Setelah mandi dan sarapan,  barulah giliran pergi ke toko bangunan. Semen putih sekilo dirasa cukup untuk menambal bak mandi. Kuas kecil dan kape jadi senjata pelengkap. okelah, eksperimen dimulai.

     Beberapa sendok semen putih diencerkan, kurang lebih se-encer susu kental manislah. Lalu dengan kuas kecil ramuan semen tadi disapukan disepanjang sambungan keramik, dengan harapan semen yang diencerkan tadi sempat masuk ke pori pori sambungan keramik. Setelah ditunggu sambil ngopi dan merokok juga sempet browsing, baru dibuatkan ramuan semen yang lebih kental. Dengan senjata kape, ramuan tadi direkatkan disepanjang sambungan. Gak disangka posisi menambal itu ternyata bikin kepala selalu berada diposisi bawah yang akhirnya bikin keliyengan juga. Belum lagi pinggang renta yang sudah tak tahan berlama lama dengan posisi membungkuk.

     Alhamdulillah, setelah memakan waktu tiga jam lebih (istirahatnya lebih banyak tentunya…) semua sambungan keramik tertutup juga akhirnya. Artinya sekarang tinggal menunggu kering. Ya sutralah, bak mandi akhirnya ditutupi dengan plastik agar tak ada percikan air yang masuk kedalam sat mandi dengan shower. Setelah membersihkan diri dan selesai Dzuhur langsung tepar, aaaaahhhh pinggang ini nikmat sekali dibaringkan. Tak butuh waktu lama nyawa dah pergi entah kemana, pulazzzzzz…

     Menjelang Maghrib tambalan bak saya periksa, meski terlihat sudah keras tapi masih belum yakin bisa di isi air, diputuskan di isi airnnya besok minggu aja agar semen nya benar-benar keras dan kuat. Gak sabar juga sih ingin mengetahui hasil karya sendiri apakah berhasil atau tidak. Tadi sempat diambil gambarnya tapi setelah melihat hasil pekerjaan yang gak ada kesan bagusnya sama sekali jadi malu buat ditempel disini. Maklumlah bukan tukang, tapi setidaknya bisa sedikit meredam suara kicauan “mamanya anak-anak”.

     Tapi akhirnya setelah melihat hasil kerjaanku, kicauannya kembali ramai…bagaimana tidak, semua sambungan keramiknya jadi terlihat aneh, tidak rata tidak ada unsur seni katanya…lagian kalau mau lihat pentas seni bukan di kamar mandi maliiiihhh……noh sana pergi ke Taman Ismail Marzuki. Belum pernah kan ngeliat Akuntan main semen…ya kayak gini ini deh hasilnya….jadi jangan dibilang gak ada unsur seni, justru ini unsur seninya udah tingkat dewa…bayangin Jhon…biasa melakukan seni lewat angka angka nah sekarang melakukan seni lewat semen…belum lagi mouse yang harus diganti kape…kertas kerja yang diganti dinding bak mandi…rumus straight line methode yang diganti dengan rumus ngitung campuran air dengan semen emang gak susah….kalo uang sampai recehan juga keliatan Eddy…nah kalo semen coba itung deh tuh berapa butir disetiap sendoknya…justru inilah yang dinamakan seni tingkat dewa…ternyata jadi penghianat ilmu itu gak enak ya…

     Ya sutralah…sambil nunggu tuh semen kering, aku bantuin istri yang lagi bikin kue buat pesenan besok deh…yang penting kicauannya berubah jadi desahan manja…tapi tunggu dulu…emang ada akuntan bikin kue…nah ini nih penghiatana ilmu yang kedua kalinya….emang ternyata seni itu ada dimana mana…ruarrrr binasa….

Khilaf Adalah Ingatan Yang Tertunda…Mohon Maaf


 

Alhamdulillah…pertama itu yang bisa saya ucapkan atas kejadian ini. Tak disangka tak dikira tulisan SPB untuk judul “Lucunya Bahasa Stiker” mendapat sebuah komen yang mengingatkan SPB pada sebuah kesalahan fatal. Ke Khilafan yang semestinya tak boleh terjadi pada seorang Blogger amatiran kelas kupu-kupu terbang seperti saya ini. Berkarya boleh saja sebebasnya namun tetap harus ada etika. Nah ini yang SPB lupa alias Khilaf.

Semestinya, dalam sebuah tulisan akan lebih menarik jika disertai gambar sebagai pendukung tulisan tersebut. Namun Kali ini gambar penyerta tulisan yang saya buat tidak saya sertakan pemiliknya atau darimana gambar itu diambil. Sehingga pada hari ini ada komen yang masuk yang kebetulan adalah pemilik dari salah satu gambar yang saya sertakan dalam tulisan saya. Kaget dan mengaku salah sudah pasti. Dan lewat tulisan ini sekali lagi saya memohon maaf atas ke khilafan saya dalam pemuatan gambar tersebut kepada Saudara Hudan.

Dari sini saya mesti harus lebih ekstra hati hati dalam pemuatan gambar penyerta, terima kasih atas tegurannya Saudara Hudan, sekali lagi saya mohon maaf.

IMG_20131114_082649 IMG_20131114_082711 IMG_20131114_083620

Dewi Fortuna Untuk Kayla…


  Liburan minggu lalu adalah liburan yang menyenangkan buat Kayla. Liburan menjelang UKK (Ujian Kenaikan Kelas) masih seminggu lagi. Banyak waktu yang bisa digunakan menjelang kenaikan kelas, selain menemaninya belajar untuk membahas lagi pelajaran-pelajaran awal kami juga menyempatkan waktu untuk refresing yang bermanfaat.

     Kebetulan Mamanya anak-anak menemukan informasi mengenai lomba menggambar, melukis dan mewarnai yang diadakan Toko Buku Gramedia selama liburan sekolah. Kay terlihat antusias. Dari sekian lomba yang ditawarkan, dia memilih ikut mewarnai gambar saja. Gak bisa berharap banyak dari keikutsertaanya dalam lomba ini. Kami hanya ingin memberi pembelajaran agar anak kami berani tampil didepan publik tanpa ditemani orangtuanya.

Gambar

     Pendaftaran jatuh pada saat yang sangat sempit dihari akhir, hari sabtu. Panitia Gramedia menyatakan kami datang terlambat sehari setelah pendaftaran yang ditutup pada hari jum’at sore pukul 17.00 WIB. Mimik Kay berubah drastis mendengar penjelasan panitia gramedia. Alhamdulillah karena melihat antusias Kay, panitia mencoba menghubungi panitia Pusat Pelaksana Lomba. Alhamdulillah sekali lagi, Kay bisa didaftarkan sebagai peserta terakhir sebelum jam 12.00 siang. Tepat pukul 11.35 WIB Kay mendapat nomor urut B-102, dua nomor terakhir dari 100 peserta lomba mewarnai tingkat B (anak usia 5-8 tahun), kebetulan ada satu anak yang senasib dengan Kay dihari yang sama saat pendaftaran.

     Minggu 26 Mei 2013 pagi pelaksanaan lomba dimulai. Para orangtua menjauh dari arena lomba. Kami hanya bisa mengawasi dari kejauhan. Semua fasilitas didapat dari panitia. Lomba dimulai pukul 08.30 s/d 10.30 WIB. Ternyata Kay memenuhi harapan kami. Tidak merengek seperti anak peserta lain yang minta ditemani, bahkan kami bisa meninggalkannya untuk sarapan pagi dikedai Ramen (biar keren dibilang ramen, padahal cuma makan mie ayam pribumi hehe…) lantai dasar Gramedia.

Gambar

     Gambar

Pukul 10.30 WIB lomba ditutup. Selesai gak selesai harap dikumpul. Gambar Kay gak buruk-buruk amat meski gak bisa dibilang bagus. Lumayanlah, yang penting dia percaya diri dan berani melakukan sesuatu tanpa didampingi kami. Goodjob sis’.

Gambar

     Pengumuman di umumkan pukul 11.00 WIB. Harap-harap cemas Kay menunggu. Tak banyak bicara hanya setia menunggu. Beberapa pemenang sudah diumumkan. Tak ada harapan untuk Kay. Sampai akhirnya dia berujar, “Pa…Kay tak menangpun tak apalah…tapi kalo bisa Kay mau dapat Doorprise-nya aja…”. Wah ini permintaan yang berat…kami tak bisa iyakan cuma bilang…”ya,… Insya Allah…berdo’a aja ya…”.

    Pemenang Doorprise sudah bertaburan dari seperangkat alat sekolah sampai alat permainan. Hanya dua hadiah tersisa. Otoped dan sepeda BMX 20″. Kay makin tak tenang ketika panitia mengambil kartu no urut peserta dua terakhir. Dari beberapa nomor yang diambil panitia, semuanya hangus karena peserta sudah pulang. Hingga pada ambilan ke lima panitia menyebut no urut Kay…”B-102…”. Kay terlihat sumringgah. Alhamdulillah sebuah otoped dia dapat.

      Panitia memanggil nama Kay. Dengan gagah bak pahlawan menang perang dia maju menuju panggung kemenangannya. Sendirian. karena masalah gadget yang sensitif pada layar kacanya, saya hanya sempat menggambil satu gambar Kay di panggung. Tak apalah.

Gambar

     Keberuntungan sedang memihak pada kami, khususnya Kay. Alhamdulillah permintaan dia Allah juga yang mengabulkannya. Thanks God…!

Depok, Gramedia 26 Mei 2013

Hadiah pertama dari sekian kali keikutsertaannya dalam lomba usia anak-anak.