11 Tahunmu….


Tak ada yang bisa papa berikan lebih pada hari kelahiranmu yang terulang pada hari ini.  Sebait do’a dan sepenggal petuah bijak dari seorang ayah, mungkin sudah menjadi klise dalam kehidupanmu selama sebelas tahun ini…begitu terus dalam setiap perulangan tahunmu nak…tak ada yang dilebih-lebihkan tak akan dikurangi.

Bersyukurlah…

Bersabarlah…

Dan tetap semangat untuk menjadi manusia yang lebih hebat dari Papa…

Tas hitam itu sebetulnya tidak papa beli untukmu. Itu hadiah dari Tuhan untukmu lewat sesuatu yang tidak Papa duga. Sampai detik kemarin Papa belum berkesempatan untuk membelikan apa yang sudah papa janjikan padamu. Sungguh Tuhan punya rencana lain atas tas itu…Berterima kasihlah pada-Nya.

Oleh karenanya bersyukurlah, karena rizki dari-Nya terkadang datang dari tempat yang tidak kita duga.

Sudah dua bulan sebelum perulangan harimu, engkau meminta pada Papa untuk dibelikan tas baru untuk sekolahmu pada hari teristimewamu. Dan selama dua bulan kemarin hingga di hari istimewamu Papa tak berkesempatan mengabulkan pintamu, namun engkau tetap bersabar atasku Nak….hingga Tuhan harus turun tangan membantu Papa mengabulkan pintamu.

Oleh karena sabarmu Tuhan memberikan yang terbaik untukmu

 Tas itu bukan hanya sebatas wadah. Ada tanggung jawab berat yang harus kau emban dimasa depanmu Nak…lebih berat dari  tas dan isinya saat dimana kau mencari bekal akan hidupmu. Tuhan memberikan cobaan atasmu dengan beratnya tas itu, dengan harapan engkau bisa mengatasi masa depanmu yang lebih berat dari tas itu dan isinya kelak.

Oleh karena itu tetaplah engkau bersemangat dalam belajarmu, agar engkau bisa menjadi manusia lyang ebih hebat dari Papa…

Selamat Ulang Tahun anakku

Ryan Maghriza Alufillisy Herdianto  (10 Mei 2001)

 Kelak, jadilah papa yang selalu bisa berkesempatan memenuhi permintaan  bagi anak-anakmu …..

Menatap Masa Depan

Ultraman Versus Luna Maya


     Sebetulnya ini cuma dagelan dari sebuah cerita keseharian anak-anakku yang terinspirasi oleh tokoh-tokoh pujaan mereka, media yang mendukung selalu terpenuhi untuk meng-apresiasi-kan keinginan mereka atas tokoh pujaannya. Anakku Ryan (7 th), adalah putra pertama kami yang tergila-gila dengan semua tokoh Ultraman, dari Ultraman Gaia, Tiga, Ace, Leo, Nexus dan semacamnya. Sampai-sampai dia berjanji nanti kalo sudah besar dan punya uang banyak mau pergi ke Jepang hendak ber foto bersama Ultraman. Naif ya, tapi itulah daya imajinasi anak-anak yang baru bisa dia ungkapkan dalam bahasa verbal . Aku hanya bisa meng-amin-kan saja.

     Kayla (2 th). Inilah putri keduaku yang berjenis kelamin perempuan tapi tingkah lakunya bagaikan anak laki-laki. Panjat teralis jendela dan lompat-lompat antar kursi adalah hobbinya, aku gak tau kenapa dia berani melakukan hal tersebut, padahal aku sendiri adalah seorang pria yang mengalami phobia ketinggian. Berkali-kali terjatuh namun tak ada kata jera, kepalanya lebih keras dari batu. Dia tak kenal Luna Maya, yang dia kenal adalah grup band The Cangcuters. Lewat grup band inilah dia menamai bonekanya dengan nama Luna Maya. Lagu Wanita Racun Dunia-nya The Cangcuters menjadi lagu favoritenya, dari sebuah bait lagu itulah dia mengenal nama Luna Maya. Tapi jangan salah, meski dia menamai bonekanya dengan Luna Maya, tapi tokoh pujaannya adalah tetap The cangcuters, Hebat.  Lalu kenapa aku menulis cerita tentang Ultraman Versus Luna Maya ? bukannya Ultraman Versus The Cangcuters?

    

     Dari semula, Ryan selalu bermain sendiri dengan boneka robot Ultramannya. Banyak jenis yang dia miliki, tapi saat itu yang dia miliki adalah miniatur Ultraman dalam ukuran kecil-kecil. Suatu saat, Kayla aku belikan boneka baru yang ukurannya jauh lebih besar dari boneka yang dimiliki Ryan. Kayla yang berwatak jahil dan usil selalu mengganggu kakaknya dengan menjadikan boneka Luna Maya itu sebagai monster musuhnya Ultraman. Tentu saja ukuran boneka kayla yang tak sebanding itu dengan mudah dapat memporak-porandakan pasukan Ultraman. Sang kakak seringkali tidak bisa menerima kekalahan bonekanya dari boneka adiknya. Gangguan menjadi sering muncul dari Monster Luna Maya jikala Ryan beraksi bermain dengan Ultramannya. Kadang peristiwa kakak-adik itu seringkali menimbulkan tanggisan diantara kedua belah pihak. Tangisan seorang kakak yang dipermalukan oleh sang adik karena bonekanya selalu diporak-porandakan ketika bermain dan tangisan sang adik yang kepalanya dipukul atau dipentung pakai sepatu karena kenakalannya. begitu terus hampir tiap hari berulang-ulang. Hingga pada suatu waktu, aku terpaksa membelikan Ryan boneka Ultraman yang ukurannya sebanding dengan Monster Luna Maya. Pertempuran menjadi seimbang. dalam artian, tak ada lagi dua orang kakak beradik yang menangis berbarengan dalam satu hari, yang ada adalah tangisan seorang adik yang kalah bertarung boneka karena boneka Monster Luna Maya-nya sekarang dapat dengan mudah dilempar sang kakak jauh-jauh. Begitu terus hampir setiap hari, berulang-ulang.

     Solusi yang aku pakai untuk menghindari hal yang berulang-ulang dan membosankan tersebut adalah dengan menikahkan Ultraman dengan Monster Luna maya. Acara resepsinya cukup meriah, Martabak bangka dan Dunkin Donut jadi sajiannya. Para tamunya adalah pasukan dari kubu Monster Luna Maya (boneka-bonekanya kayla yang lucu dan imut-imut) dan pasukan dari kubu Ultraman (mainan Ryan yang terdiri dari para robot dan hewan-hewan). Sekarang tragedi berdarah antara Ultraman dan Monster Luna Maya berakhir sudah. Bahkan sekarang Monster Luna Maya sudah punya anak (gak tanggung-tanggung, anaknya ada 27, yang terdiri dari boneka-boneka kecil milik Kayla dan robot-robot kecil milik Ryan). Yang ada sekarang adalah acara masak-memasak, mencuci, mengasuh anak-anak dan pergi ke pasar. Persis dan mirip sekali dengan kehidupan aku dalam keluargaku. Tapi untung aku gak punya anak sampai 27 orang !!!.

Koleksi Ultraman Ryan

Anakku, Jagoanku…


Sejak kecil aku dibekali nasehat oleh ibuku untuk selalu menjadi orang yang sabar. Sabar dalam segala bentuk. Terkadang ibu juga menasehatiku untuk selalu bisa mengalah. Juga dalam segala hal. Jujur saja, diantara dua nasehat ini aku lebih bisa menguasai rasa mengalah dibandingkan rasa bersabar. Ibu tahu akan sifatku yang memang tak suka membuat keributan, mengacau atau berkelahi sekalipun. Namun ibu juga tahu apa yang akan terjadi bila aku sudah terbakar emosi yang berlebih dan tak bisa aku tahan, maka jika aku harus berkelahi maka aku akan berkelahi dengan siapapun yang telah membuat harga diri dan hatiku menjadi tak nyaman. Meski dalam perkelahian itu aku kalah, namun setidaknya aku punya harga diri yang tak bisa dipermainkan oleh siapapun. Dengan demikian siapapun yang pernah berkelahi dengan aku akan tahu sifatku setelah itu. Bahkan terkadang dari perkelahian tersebut, musuh besar bisa menjadi seorang sahabat karib yang tak terpisahkan. Ibu selalu bilang, mengalah bukan berarti kalah, jika kita dalam posisi yang benar, namun situasi tak mendukung kita untuk menikmati kebenaran itu maka sebaiknya kita mengalah. Dengan mengalah, kita bisa menghindari berbagai macam hal yang mungkin malah membuat kita semakin susah dikemudian hari. Aku setuju, sampai saat ini nasehat itu aku terapkan. Ibu juga mengajariku untuk tidak menjadi orang yang pendendam. Sifat dendam bukan hanya menyakitkan hati orang lain namun juga menyakiti hati dan diri sendiri. Jika ada yang bertanya, ketika kau disakiti apa tak ada rasa untuk membalas menyakiti ? Ada…kataku, tapi aku tak mau…lalu bagaimana kau mengatasi semua itu ? aku jawab,…dengan bersabar….Dengan bersabar ?….sampai kapan….?! Sampai waktu yang tak terbatas, kataku….bukankah sabar itu tak berbatas ? disini aku merasa diriku sangat suci dengan mengutamakan kesabaran dalam segala hal, namun sekali lagi jujur aku katakan, aku lebih bisa menguasai rasa mengalah dibanding bersabar, lalu kemana sifat sabar yang selalu aku agungkan ? jawabnya, aku simpan sampai batas waktu dimana harga diri dan rasa tak nyaman mulai mengerogoti diriku. Bingung…jangan bingung, aku sudah katakan aku tidak bisa menjaga sabar sehebat aku menjaga rasa mengalah…kenapa begitu…? Karena akun pernah berkelahi…!!

Hal serupa juga aku tanamkan pada anak lelakiku, Ryan Mgahriza Alufillisy Herdianto. Nama yang indah bukan ?. Aku seringkali menasehati Ryan untuk tidak selalu bertindak gegabah terhadap segala hal. Aku tahu banyak tentang sifat anak ini. Banyak bicara, terkadang tak pernah terpikirkan olehnya apa akibat dari bicaranya tersebut. Agak protektive, keras kepala, dan sedikit pendendam. Aku berusaha untuk dapat menyempatkan banyak waktu untuk dapat selalu berdua dengannya. Banyak petuah-petuah yang aku ajarkan, tentang kesabaran, mengalah, tak boleh dendam, jangan banyak bicara dan sebagainya dan sebagainya. Dari kedekatan tersebut aku bisa tahu bahwa Ryan memiliki teman yang tak baik prilakunya disekolahnya. Sering mengganggu di sekolah bahkan ketika didalam mobil jemputan sekalipun, tidak hanya mencemooh dengan kata-kata yang menyakitkan hati, bahkan seringkali juga menyakiti secara pisik. Tapi sekuat tenaga aku menasehati Ryan untuk selalu bersabar dan mengalah. Tetap baik kepadanya adalah cara yang bagus untuk bisa merubah sifatnya, kataku. Tapi semakin hari Ryan semakin banyak mengeluh, temannya tak punya rasa menghormati sesama teman. Rasa persahabatan yang diperlihatkan Ryan tak digubris, dianggapnya Ryan adalah anak lemah yang pantas untuk disakiti. Sempat aku minta istriku untuk melaporkan kepada pihak sekolah atas prilaku anak tersebut, namun hanya untuk beberapa hari saja dia berlaku baik. Hari berikutnya Ryan kembali mengeluh.


Aku tak tahan juga mendengar keluh kesahnya menangani masalahnya, hal tersebut mengingatkanku pada sejarah kelam masa sekolah dasarku dulu, persis sama. Hanya saja, saat itu aku membela harga diri aku dan adikku. Suatu saat aku akan ceritakan sejarah silamku yang penuh kelam. Suatu hari aku ajak Ryan bicara serius tentang temannya. Aku tanya, apakah anaknya seumuran denganmu ? tidak jawabnya, dia kelas 5 Pa…katanya. Apa Ryan berani jika berkelahi dengannya ? Berani ! dengan tegas dia jawab. Dari sini aku sudah bersyukur bahwa selama ini Ryan tidak bertindak gegabah diluar kendalinya, artinya dia sudah mengerti atas segala nasehatku…Tapi Pa…dia punya 2 teman yang juga suka mengganggu Ryan ,…katanya. Wah ini agak berabe…aku tak pernah berkelahi secara keroyokan jadi aku tak punya pengalaman untuk hal ini. Aku ambil keputusan, jika anak itu tidak benar-benar menyakiti atau merendahkan harga diri, Ryan harus tetap mengalah, tapi jika mereka menyakiti secara berlebih dan Ryan merasa terganggu karenanya, maka jika ryan harus berkelahi dan memang untuk berani berkelahi, maka lakukanlah….!!!, tak usah takut kalah….!! Kalah dan menang urusan belakangan…yang penting Ryan punya harga diri. Begitu petuah saktiku untuknya. Dia hanya diam termanggu, sesekali menganggukkan kepala dengan diam, tapi aku tahu dimulutnya tersembunyi senyuman kecil disudut bibirnya, aku tahu arti senyuman itu.

Nasehatku dia pegang baik-baik. Sampai hingga pada suatu saat, aku mendapat laporan dari istriku bahwa Ryan tadi pulang sekolah menangis karena berkelahi dengan teman yang sering mengganggunya. Aku sedikit khawatir, namun istriku bilang, Ryan hanya mengalami lebam biru di lengan dan dadanya. Namun ketiga lawannya mengalami luka jontor biru lebam di bibir dan matanya. Salah satu diantaranya mengalami luka berdarah dibibirnya. Hebat !…pikirku….satu lawan tiga….!!. Esoknya mereka dipanggil kepala sekolah, namun Ryan punya banyak saksi kuat bahwa bukan dia yang memulai perkelahian, syukurlah anakku tak kena sangsi. Yang aku tahu sekarang anak-anak pengganggu itu tak lagi berbuat nakal terhadap Ryan. Entah karena sangsi dari kepala sekolah atau karena sudah tahu siapa Ryan sebenarnya. Tapi yang pasti Ryan telah membuat aku bangga dan percaya padanya. Ryan telah menjadi anak lelaki sejati untuk umurnya, persis seperti diusiaku saat lalu.

Sekarang tak ada lagi yang menggangu Ryan, setiap hari Sabtu aku biasakan untuk dapat mengantar dan menjemputnya sekolah. Aku perhatikan dia tak punya lagi permasalahan dengan teman-temannya. Itulah anakku, Ryan Maghriza Alufillisy Herdianto.

Ryan….Papa menyayangimu.