Lemari Gantung (Bagian-4)


 

     Baiklah, sekarang saya ulas sedikit tentang lemari tempel.

     Setelah lemasi sepatu dan meja tv selesai dibuat dengan sukses, ternyata masih menyisakan bahan material yang lumayan cukup untuk membuat lemari tempel. Semula lemari ini hanya untuk  tempat perkakas mandi kendaraan saja, seperti sikat, kain lap, sabun dan sebagainya. Namun setelah dihitung-hitung ternyata sisa material masih cukup untuk dibuatkan lemari sebagai penyimpan helm. Bahkan dibawahnya dibuatkan juga untuk mengantung jaket hujan dan payung. Great…!

     Saya tak sempat lihat sang tukang menghitung dan menggambarkan skema lemari dimaksud, karena saat saua beranglkat kerja pagi hari belum sempat bertemu dan sepulang kerja ternyata lemari gantung sudah jadi dan tergantung dengan manisnya di samping mesin pengatur udara. Alhamdulillah…

     Saya sempat menggambil gambarnya pada malam hari sepulang kerja, jadi mungkin gambarnya agak buram, maklum ponsel pintar ini model lama yang hanya punya megapixel kecil, jadi mohon maklum aja yah….

Begini penampakannya.

LG

LG1

LG2

LG3

Bagaimana menurut teman-teman ?

Masih ada beberapa rencana kami untuk membuat lemari buku, meja kerja dan meja belajar anak sederhana, semoga masih ada waktu bertemu dengan tukang ini.

Terimakasih.

Rak Sepatu (Bagian-1)


     Hari Sabtu minggu lalu ada sedikit renovasi untuk teras depan rumah. Teras yang semula cukup untuk berlabuhnya dua buah motor sekarang terasa sempit. Sudah setengah tahun ini anggota keluarga bertambah satu. Setelah datangnya dua ekor hamster yang imut dan montok-montok, Allah memberikan satu keluarga baru lagi yang selama ini di-idam-idamkan, sebuah mobil keluarga. Alhamdulillah cobaan Tuhan untuk hambanya memang tak bisa diduga-duga. Semoga berkah, Aamiiin…

     Teras untuk kedua motor hampir selesai di bangun. Nantinya teras lama dipakai untuk berlabuhnya mobil keluarga dan teras baru untuk motor. Kami hanya tinggal mencari perabot rumah tangga tambahan lainnya. Rak sepatu dan meja televisi yang lebih lebar. Rak sepatu dibutuhkan karena selama ini kami meletakkannya begitu saja sepatu atau sendal kami di depan teras. Ada kalanya sepatu dan sendal kami terlindas rota kendaraan. Kami ini sepatu dan sendal kami terlihat lebih rapi dan disimpan ditempat yang semestinya. Sedangkan meja televisi dibutuhkan karena meja TV terdahulu sudah tak kuat lagi menopang beban TV dan perlatan audio video pendukung, kami ingin mencari meja TV yang lebih lebar dan lebih kuat.

     Minggu pagi saya dan istri coba melihat-lihat perabot furniture di toko furniture terakreditasi B untuk mencari yang kami butuhkan. Oke harganya tidak manusiawi. Untuk rak lemari sepatu empat lantai tertera angka 1799k dengan bahan serbuk kayu yang dipadatkan, artinya itu bukan kayu lapis atau kayu papan. Aku dah bosan dengan mutu kayu daur ulang jenis ini. Tak bisa menahan beban seukuran televisi dalam jangka waktu lama dan tak tahan tetesan air. Yang lebih menyebalkan adalah kayu jenis ini tak bisa diperbaiki jika ada bagian yang terlepas.

Rak sepatu Informa

     Berlanjut kepencarian meja televisi. Ada satu meja sederhana model minimalis tanpa laci yang cocok buat rumah kami yang juga minimalis sadis (cuma butuh ngesot buat ke dapur, ke kamar mandi, ke ruang tamu. ke kamar tidur dan ke teras depan rumah). Angka yang tertera 1299k…terimakasih toko furniture terakrediasi B kamu berhasil membuat segala daya upaya saya dalam mencari harta bertahun tahun tak berarti sama sekali karena melihat meja ini….terimakasih…!!!.

meja TV Informa

     Penuh rasa kecewa dan sakit hati …maklumlah sakit hati untuk membeli dua perabot itu kami harus mengeluarkan rupiah sebesar 3089k, atau memang kami nya aja yang gak mampu kaliya.

     Sampai rumah, tukang yang sedang merenovasi sempet bingung, kenapa kami pulang cepat sekali, apakah barang yang dicari sudah ketemu ? kami ceritakan semuanya. Dia cuma senyum, lalu bilang kalau mau bikin meja dan rak sepatu seperti itu dia juga bisa. Sempat gak percaya dan meremehkan. Lalu dia bilang lagi, kalau saya hanya butuh liat google untuk cari model perabot yang cocok biar nanti dia yang buat.

     Tak butuh waktu lama lihat google, saya temukan model rak sepatu lima lantai dengan dua pintu penutup dan satu laci besar dibawah untuk menyimpan peralatan serta model meja televisi datar dengan 3 laci dan ruang bukaan untuk peralatan audio video pendukung. Oke…penghitungan material dilakukan.

Dibutuhkan 3 lembar kayu lapis tebal seharga @250k, selembar kayu lapis tipis, pelapis kayu warna coklat dan putih, Lem kayu, paku, handle, roda dan sebagainya. Kalau ditotal jenderal semua bahan kebutuhan yang diperlukan adalah sebesar 1400k. Oke aku akan lihat hasil karya yang akan dia buat dengan bahan bahan material pilihan tersebut, yang nota bene material tersebut jauh lebih bagus dari yang informa jual.

     Jumat pagi tanggal 7 Februari 2015 dibuat pertama kali adalah lemari sepatu, tampilan sore hari untuk sementara sebelum dipasangi handle dan dibuatkan laci bawah adalah sebagai berikut :

IMG_20150207_153849

Untuk hasil akhir setelah finishing akan saya sampaikan pada tulisan berikutnya.

     Melihat tampilan sementara ini ada rasa puas dan senang atas hasil yang dia buat, semoga untuk meja televisinya juga sesuai selera kami, dan akan kami sampaikan pada tulisan berikutnya.

Maaf Mbak, Saya Sudah Punya Rumah Sakit Sendiri…


     Selasa hingga rabu kemaren ponsel saya disibukkan oleh beberapa penawaran perusahaan asuransi, saya heran kenapa tiba-tiba dua hari kemerin banyak perusahaan asuransi menwarkan jasanya kepada saya, yang lebih mengherankan lagi dari mana mereka mendapatkan nomor ponsel saya, padahal selama ini saya tak pernah berurusan dengan yang namanya urusan aplikasi kartu kredit atau apapun.

Selasa

Jam 10.24.

Perusahaan Asuransi A (PA-A) : “Selamat pagi menjelang siang, apakah saya benar sedang berbicara dengan Pak Hery…?

Saya : “Ya betul, ada apa…ini dari mana,…ada yang bisa saya bantu…blablabla…”

PA-A : “Oh kalau begitu kebetulan sekali…begini Pak, kami dari perusahaan Asuransi Blablabla…bermaksud Bla bla bla….” begitu terus berbicara tanpa bisa disela…hingga akhirnya menawarkan produk unggulan mereka….

Saya : “Maaf selama ini saya telah menggunakan asuransi dari blablabla….blablabla….dst” dan saya stop pembicaraan dengan menolak secara halus tawaran mereka…sukses !

Jam 11.15.

PA-B : “Selamat siang, mohon dibantu Pak, apa saya benar sedang berbicara dengan Bapak Hery blablabla…(dengan fasihnya menyebut nama lengkap dengan gelar dan tempat bekerja…sadizzzz)

Saya : “Ya betul, ada apa…ini dari mana,…ada yang bisa saya bantu…blablabla…”

PA-A : “Oh kalau begitu kebetulan sekali…begini Pak, kami dari perusahaan Asuransi Blablabla…bermaksud Bla bla bla….” begitu terus berbicara tanpa bisa disela…hingga akhirnya menawarkan produk unggulan mereka….

Saya : “Maaf selama ini saya telah menggunakan asuransi dari blablabla….blablabla….dst” dan saya stop pembicaraan dengan menolak secara halus tawaran mereka…sukses !

Jam 13.30. – Jam 14.55 – Jam 15.40 (ini dari asuransi pendidikan dan pensiun) terkahir jam 16.47. (ini menjelang pulang padahal…)- semuanya merupakan copy paste dari pembicaraan diatas…nyaris serupa…gak enak juga kali nulis berulang ulang hal yang sama…cape miduuuunnn…

Rabu

Jam 08.44 – dari PA – X —pembicaraan sama

Jam 10.51 – dari PA – Y—sama juga—-terus sampai jam menunjukkan pukul 16.50.

Karena kesal dan kebetulan penelpon dua terakhir adalah dari perusahaan yang sama PA-A dan PA-X tapi saya ingat mereka hanya ganti jenis kelamin, jika pertama adalah pria penelpon kedua adalah wanita…capeeek deh

Jam 16.51 PA-A :

PA-A : “Selamat sore Pak, maaf jika saya menggangu waktu Bapak (emang iya…ini lagi beberes siap siap pulang tauuuk…) mohon dibantu ya Bapak, apakah saya benar sedang berbicara dengan Pak Hery…?

Saya : “Ya betul, ada apa…ini dari mana,…ada yang bisa saya bantu…blablabla…”

PA-A : “Oh kalau begitu kebetulan sekali…begini Pak, kami dari perusahaan Asuransi Blablabla…bermaksud Bla bla bla….” begitu terus berbicara tanpa bisa disela…hingga akhirnya menawarkan produk unggulan mereka….

Saya : “Maaf sejak kemaren banyak yang menawarkan asuransi serupa…tapi maaf saya sampai saat ini belum tertarik dengan tawaran tersebut…jadi mungkin lain kali saja ya Mbak…blablabla….blablabla….dst”

Tapi untuk petugas wanita ini ada semangat pantang menyerah rupanya, dengan keahliannya dia terus menawarkan produknya sampai sedatail mungkin dengan iming iming kelebihan yang akan didapat, dari rumah sakit terkenal, biaya yang ditanggung, anggota keluarga yang diikutkan dsb-nya dst-nya…

Karena waktu sudah menjelang pulang dan Jakarta terkenal dengan kemacetannya di jam pulang kerja dan rasa kesal dengan pembicaraan yang tak bisa disela dan tak mau kompromi akhirnya saya jawab…

Saya : “Mbak mohon maaf sebelumnya, tadi mbak menawarkan rumah sakit blablabla…asal mbak tahu rumah sakit yang mbak tawarkan adalah rumah sakit milik keluarga besar saya Mbak, dimana pemegang sahamnya adalah Ayah saya atas nama Blablabla… (nama pemegang saham saya googling di google…hehe) dan Dokter Dokter yang bekerja disana adalah sebagian besar dari keluarga saya juga #nyebutin nama dokter terkenal di RS itu satu persatu…(googling lagi…) hingga secara otomatis saya bisa masuk rumah sakit itu kapan saja dan tanpa biaya sepeser-pun sekehendak hati saya…karena semula saya sudah bilang kalau saya belum tertarik dengan asuransi kesehatan, karena saya sudah punya rumah sakit sendiri Mbak…bahkan saya pribadi sudah tahu persis siapa rekanan dari perusahaan Mbak yang menjadi admin untuk konektifitas di RS ini…nyebutin nama-nama direktur  PA-A satu persatu dengan jelas (lagi lagi googling cuuuyyy…) atau jika perlu saya akan menghubungi salah satu Direktur Mbak di nomor blablabla…(ini gak tahu no hp siapa yang saya sebutin…bodo amat…EGP…) jadi mohon maaf dan terimakasih atas infonya…

PA-A : “Kalau begitu baik dan terimakasih pak…selamat sore…” #telpon langsung ditutup dengan agak keras…hehehe

Kita perlu sedikit inovatif menghadapi orang orang seperti itu…sedikit berbual bual tak apalah…toh apa mereka juga tak berbual bual terhadap kita…yang pasti saya sendiri sebetulnya memang sudah memiliki asuransi sendiri yang diberikan oleh kantor, dan itu adalah asuransi terbaik yang diberikan kantor kepada karyawannya…jadi cukuplah satu asuransi namun bisa digunakan diseluruh Indonesia tanpa ditolak…semoga…

Ada yang pernah ngalami…?

Nambal Bak Mandi – Bagian Kedua


     

     Minggu lalu adalah menambal bak mandi episode pertama. Bisa dibilang kasil karya yang kemaren gagal total. Meski air memang lambat habisnya, namun tetap tambalan kemaren masih bocor dan ini sungguh tidak nyaman. Terlebih pada pagi hari dimana kesibukkan tingkat tinggi ada diwaktu ini. Ketika akan berhajad namun bak mandi kosong adalah sebuah kekesalan.

     Sabtu kemaren acara nambal bak mandi bagian kedua dilakukan. Kali ini dilakukan peng-ngetrikan, apalah bahasanya menurut ilmu bangunan aku tak tahu, yang pasti dsepanjang garis nat atau garis pemisah antara keramik aku ketrik dengan pahat perlahan lahan agar ada ruang terbuka untuk dimasuki semen.

     Setelah dibersihkan dari sisa sisa kotoran dan debu, peramuan semen dilakukan lagi. Kali ini campuran semen dan air diramu menjadi lebih kental, mirip kekentalannya dengan pasta gigi. Satu persatu garis pemisah saya lekatkan semen tadi. Hasilnya lumayan lebih rapi dari minggu lalu. Setelah semua tertutup rapi. bak mandi saya sterilkan dari percikan air, sata tutup dengan terpal plastik meja makan, dan saya mandatkan keseluruh keluarga agar terpal plastik ini akan dibuka pada minggu malam agar kekerasan semen menjadi maksimal.

     Alhamdulillah…setelah diisi air sampai penuh pada malam harinya, hingga Senin subuh tadi air bak tetap padfa posisi yang sama seperti pengisian pada malam harinya. Fiiiuuuuhhhh…kerja keras…*yaellllah yang begini disebut kerja keras…Sabtu kemaren membuahkan hasil yang positif…saya terpuasi…Alhamdulillah.

     Terrnyata, kegagalan yang pertama membuat saya memiliki pengalaman yang membuat saya berfikir sedikit lebih keras…*ya ampuuun ngerjain begini aja pakai berfikir keras….dan mereka reka apa yang harus dilakukan agar hasilnya bisa lebih baik dari kemaren…ya akhirnya dengan metode “ngetrik” itulah kutemukan jalan yang lurus…Halllllaaahhh….dan hasilnya …tarrrraaaa…bak mandi tidak bocor lagi…terima kasih Tuhan atas segala yang telah Engkau sematkan didalam tempurung kepala ini…terima kasih atas sisa sisa kilobyte ruang kosong yang masih Kau berikan didalam otakku…dan terimakasih atas ilmu yang telah Kau berikan untukku…semoga aku makin menghargai otak lemot ini dan masih tetap mau menggunakannya meski kecepatannya sudah sering bikin sakit kepala….Alhamdulillah…

 

 

Nambal Bak Mandi-Bagian Pertama


     Janji harus ditepati. Sebetulnya hari sabtu adalah me time yang gak bisa dan gak boleh diganggu. Tak seperti hari biasanya setelah shalat subuh selalu bersiap untuk aktivitas kantor, maka hari sabtu setalah shalat subuh adalah melanjutkan tidur episode ke dua. Terserah mau bangun jam berapa juga. Tapi sabtu ini lain, ada kerjaan yang sudah dijanjikan yang harus dikerjakan, menambal bak mandi yang bocor.

     Setengah malas harus melakukan pekerjaan yang tak biasa dilakukan, namun kalau tak dicoba bagaimana nanti jika bak mandinya bocor lagi, gak mungkin menunggu tukang bangunan hanya untuk sekedar menambak bak mandi. Dipikir pikir biarlah sebagai pembelajaran melakukan pekerjan yang bukan bidangnya.

     Jam 7 pagi diawali dengan memandikan belalang tempur (GL Max 125cc) karena memang sejak kehujanan kamis lalu belum sempat dicuci. butuh waktu sejam buat memandikannya. Tanah, minyak dan lumpur telah sempat mengeras di bagian bawah mesin belalang tempurku. Setelah mandi dan sarapan,  barulah giliran pergi ke toko bangunan. Semen putih sekilo dirasa cukup untuk menambal bak mandi. Kuas kecil dan kape jadi senjata pelengkap. okelah, eksperimen dimulai.

     Beberapa sendok semen putih diencerkan, kurang lebih se-encer susu kental manislah. Lalu dengan kuas kecil ramuan semen tadi disapukan disepanjang sambungan keramik, dengan harapan semen yang diencerkan tadi sempat masuk ke pori pori sambungan keramik. Setelah ditunggu sambil ngopi dan merokok juga sempet browsing, baru dibuatkan ramuan semen yang lebih kental. Dengan senjata kape, ramuan tadi direkatkan disepanjang sambungan. Gak disangka posisi menambal itu ternyata bikin kepala selalu berada diposisi bawah yang akhirnya bikin keliyengan juga. Belum lagi pinggang renta yang sudah tak tahan berlama lama dengan posisi membungkuk.

     Alhamdulillah, setelah memakan waktu tiga jam lebih (istirahatnya lebih banyak tentunya…) semua sambungan keramik tertutup juga akhirnya. Artinya sekarang tinggal menunggu kering. Ya sutralah, bak mandi akhirnya ditutupi dengan plastik agar tak ada percikan air yang masuk kedalam sat mandi dengan shower. Setelah membersihkan diri dan selesai Dzuhur langsung tepar, aaaaahhhh pinggang ini nikmat sekali dibaringkan. Tak butuh waktu lama nyawa dah pergi entah kemana, pulazzzzzz…

     Menjelang Maghrib tambalan bak saya periksa, meski terlihat sudah keras tapi masih belum yakin bisa di isi air, diputuskan di isi airnnya besok minggu aja agar semen nya benar-benar keras dan kuat. Gak sabar juga sih ingin mengetahui hasil karya sendiri apakah berhasil atau tidak. Tadi sempat diambil gambarnya tapi setelah melihat hasil pekerjaan yang gak ada kesan bagusnya sama sekali jadi malu buat ditempel disini. Maklumlah bukan tukang, tapi setidaknya bisa sedikit meredam suara kicauan “mamanya anak-anak”.

     Tapi akhirnya setelah melihat hasil kerjaanku, kicauannya kembali ramai…bagaimana tidak, semua sambungan keramiknya jadi terlihat aneh, tidak rata tidak ada unsur seni katanya…lagian kalau mau lihat pentas seni bukan di kamar mandi maliiiihhh……noh sana pergi ke Taman Ismail Marzuki. Belum pernah kan ngeliat Akuntan main semen…ya kayak gini ini deh hasilnya….jadi jangan dibilang gak ada unsur seni, justru ini unsur seninya udah tingkat dewa…bayangin Jhon…biasa melakukan seni lewat angka angka nah sekarang melakukan seni lewat semen…belum lagi mouse yang harus diganti kape…kertas kerja yang diganti dinding bak mandi…rumus straight line methode yang diganti dengan rumus ngitung campuran air dengan semen emang gak susah….kalo uang sampai recehan juga keliatan Eddy…nah kalo semen coba itung deh tuh berapa butir disetiap sendoknya…justru inilah yang dinamakan seni tingkat dewa…ternyata jadi penghianat ilmu itu gak enak ya…

     Ya sutralah…sambil nunggu tuh semen kering, aku bantuin istri yang lagi bikin kue buat pesenan besok deh…yang penting kicauannya berubah jadi desahan manja…tapi tunggu dulu…emang ada akuntan bikin kue…nah ini nih penghiatana ilmu yang kedua kalinya….emang ternyata seni itu ada dimana mana…ruarrrr binasa….