Hanya Teman


 Tiba-tiba saja dia bilang :”…Kita kan sudah lama jadi sahabat sejati, gimana sih loe..?!?”

        “…WTF, kalau kamu merasa kita adalah sahabat sejati, lalu dimana saja kamu berada disaat aku membutuhkan dan memiliki moment untuk kebersamaan kita…??

          Terlalu kasar dan terlalu ego memang kalimat yang saya buat diatas, namun kenyataan kadang tak pernah sesuai dengan harapan yang kita ingin. Persahabatan sejati bagiku sudah tutup buku.

       Sejak beberapa kali kejadian yang menyesakkan dan tak mengenakkan hati aku bersikeras tak pernah butuh dan tak boleh lagi ada sahabat sejati dalam kehidupanku. Saat ini aku hanya berusaha mencari sahabat yang sesuai watak dan gayaku. Alhamdulillah meskipun tak satupun jadi sahabat sejati, tapi pertemanan tanpa komitmen ini jauuuuuhh lebih baik dari sebelumnya. Kami bisa saling berbagi tanpa ada kompromi harus bagaimana setelahnya. Kami bisa saling menghormati dan menghargai sesuai dengan batas-batas yang normal, tanpa di-ikat oleh satu kepentingan yang membunuh kepentingan diri sendiri. Pertemanan yang seperti ini bagiku lebih baik dari sahabat sejati yang absurd, persahabatan sejati penuh komitmen yang membunuh kepentingan pribadi, persahabatan sejati yang penuh kompromi.

       Satu komitmen telah aku lalui, maka komitmen lain menunggu untuk ditepati. Baiklah, untukku satu komitmen yang telah aku lalui itu adalah ketika aku berkomitmen menikahi kekasih hatiku, sahabatku juga belahan jiwaku sejak Sekolah Menengah Atas setelah aku dua tahun bekerja. Alhamdulillah komitmen itu aku lalui dengan sukses. Maka komitmen selanjutnya adalah aku akan menjadi suami, menjadi ayah, menjadi sahabat yang baik hanya untuk anak dan istriku. Karena kebersamaanku dengan mereka adalah kebersamaan yang sejati sesungguhnya. Disinilah seharusnya komitmen dan kepentingan tidak saling bunuh. Komitmen sejati hanyalah pada keluarga bukan pada sahabat. Komitmen untuk keluarga tak akan membunuh kepentingan pribadi, karena disini tak kenal kompromi.

       Mungkin aku adalah orang yang unik. Aku tak mudah untuk cepat bergaul dengan orang asing. Aku butuh adaptasi lebih lama untuk mendalami seorang calon teman. Namun aku akan sangat akrab jika sudah bisa menerimanya sebagai teman layaknya saudara. Aku bisa sangat peduli mengenai apapun kepada teman akrab. Sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya pernah jatuh juga. Se-selektif-selektif-nya aku mencari teman, pada akhirnya tak sesuai harapan juga.

     Pada akhirnya memang kenyataan jua tak pernah sesuai dengan harapan yang diinginkan. Oke… sekarang aku hanya butuh teman sebanyak-banyaknya, 1 orang teman lebih sulit dicari daripada mencari 1000 musuh. Faktanya adalah, ketika semua yang katanya adalah sahabat sejati menyakitiku, aku hanya menemukan satu orang yang membuatku merasa layak disayangi , yaitu istri dan anakku.

Berteman jangan terlalu akrab, karena dia bisa menjadi pedang yang lebih tajam dari dirimu…  (terserah siih..)

dari Google

dari Google

 

Hoccus Foccus…


         Akibat kurang fokus dan tak teliti membaca disposisi jadi gini akibatnya :

     Sejak pagi saya sudah disibukkan dengan aktivitas rapat mingguan dan bertemu tamu guna membahas permasalahan yang harus diselesaikan. Tepat jam 12.10 WIB semua aktivitas saya selesai dengan sukses. Lelah dan konsentrasi mulai butuh recharge ulang. Disaat keluar ruang rapat, saya lihat sang Boss alias atasan saya  keluar dari ruang Dirut dengan tergopoh-gopoh dan memanggil sambil menyodorkan surat undangan untuk dihadiri segera pada pukul 13.30 WIB siang ini. Syuuuuttthh…jantung ini rasanya jatuh di kubangan gletser…dingin dan gak bisa ngomong apa-apa. Lelah ini kadang membuat saya merasa sedih…

     Okelah saya lihat jam sudah pukul 12.25 WIB, saya belum makan siang dan shalat dzuhur, setidaknya saya butuh 1 (satu) jam buat itu semua dan istirahat sejenak dengan segelas kopi. Namun rasanya hal itu tak bisa dipenuhi semua.

    Setelah makan ala kucing garong dan selesai shalat saya langsung mohon izin dengan kedua Boss besar untuk segera ke Bank Indonesia (BI) menghadiri rapat dimaksud.

       Siiip,  duduk nyaman di bluebird dan tinggal perintah ke lokasi yang diminta layaknya raja saya mulai baca ulang lagi, apa agenda rapat dan pembahasan yang akan dibahas di BI nanti. Ding Dong….Mata tua ini memandang tak yakin pada tanggal undangan yang tertera di surat undangan. Oke, hari ini adalah selasa tanggal 3 Maret 2015 dan saya baca berulang-ulang undangan itu untuk hari selasa tanggal 10 Maret 2015, artinya undangan ini berlaku untuk minggu depan alias bukan hari ini….Kamvvreeeetth….jadi buat apa gue ada di taksi mahal ini sekarang.

     Baiklah, …pak supir tolong antarkan saya kembali ke kantor saya pak, otak saya teringgal di meja kerja tadi…!!

     Oke sepanjang perjalanan balik saya berfikir untuk balas dendam saya Boss besar yang sompret sontoloyo itu telah yang memberikan disposisi “gendandapan” kepada saya tanpa basa basi dan tanpa uang transportasi juga….karena saya harus bayar taksi mahal ini hanya untuk sekedar jalan-jalan muterin lapangan banteng gak jelas gini….mending juga ngopi di starbuk…mahal ada nikmatnya. Siiip 50 Ribu melayang sia-sia buat 10 menit jalan-jalan naik taksi mahal.

       Tapi masih bersyukur saya belum sampai tempat tujuan, seandainya saya kesana pun mungkin bukan cuma otak yang ketinggalan tapi rasa malu yang tak terperikan…saya akan ternistakan di Bank Indonesia senista nistanya…bisa-bisa saya akan dianggap lebih rajin dari iblis yang selalu menggoda manusia setiap detiknya, bayangkan saya sudah datang rapat seminggu sebelumnya…mau nyari kavling apa…?!?

    Oke Plan A lapor Atasan Langsung :

(PB) : “Bu,…saya terpaksa kembali ke kantor…!

(Boss) : “…Loh kenapa Pak, bukannya tadi sudah ijin mau ke BI, jadi siapa yang pergi kesana buat wakil kita…??”

(PB) : “…Tak ada Bu…!”

Perbincangan lima menit dengan alasan yang sudah saya siapkan dan saya perhitungankan akibatnya pada akhirnya berhasil. Sang Boss terlihat memerah wajahnya karena saya bantah terus dan saya bersikeras untuk tetap di kantor. Sampai sang Boss akhirnya bicara perlahan : “…ada apa dengan pak Hery, kok tak seperti biasanya begini…?” oke saya langsung jawab : “…Bu, saya sebisa mungkin akan datang tepat waktu sesuai jadwal undangan, tapi saat ini saya tak bisa tepat waktu dan saya tak mau…karena memang undangannya bukan buat hari ini Bu…tapi buat minggu depan…!”

(Boss) : “…Jadi…??? …..sempet lama terdiam (Blank akut) ya sudahlah” Perbincangan kembali melunak dan akhirnya jadi tertawa terpingkal-pingkal setelah saya jelaskan. Beres plan A sukses mallliiiihhh…

       Sekarang Plan B, lapor kepada sang pendisposisi :

Perbincangannya sama sih gak berubah, hanya saya dramatisir lebih mendalam seakan-akan saya menolak tugas Boss Besar. Perbincangan makin panas dan mimik Pak Boss sudah berubah drastis.

(Pak Boss) : “…kamu punya masalah apa sama saya sampai-sampai kamu menolak hadir sesuai disposisi saya…?!?”

(PB) : “…Masalahnya undangan ini bukan buat hari ini Pak, tapi buat minggu depan…!!”

(Pak Boss) : “…Jadi…???”

(PB) : “…ya gitu deh…”  pak Boss sempet lemot sebentar kemudian tertawa terbahak-bahak…

Oke…oke Pak Boss minta maaf karena tak teliti baca disposisi undangan buat saya dan akan mengganti biaya terbuang sia-sia tersebut, gak perlu sih karena akhirnya malah diajak makan bareng sepulang kerja…siaplah kalo diajak kuliner malam-malam…Jakarta Memang yahuuud.

 Fokus memang perlu tapi teliti juga lebih perlu.

Yang terpenting saya bisa lihat tabiat para Boss yang baiiiiiik hati ini saat marah, Plan A dan Plan B saksesss…

Don’t try this at office

Fiiuuuhhhh….


     Well….ini bulan kedua sejak tanggal 1 Januari 2015 saya berhenti total merokok. Alhamdulillah mental sudah lebih kuat, tak ada keinginan untuk merokok yang menggebu-gebu seperti saat hari-hari pertama lalu. Sekarang bukan masalah lagi tak ada rokok disaku baju. Tak ada masalah tak merokok setelah makan. Tak masalah ngobrol bersama teman tanpa ditemani rokok. Kopi pun sekarang saya kurangi, bahkan dalam beberapa hari ini saya hanya minum kopi satu cangkir saja. Teh Hijau sebagai penggantinya.

       Permasalahan baru timbul selama bulan kedua berhenti merokok. Dulu selagi masih merokok, jika waktu senggang atau menonton tv (TV kami dan TV anak-anak berada dalam ruang yang terpisah) saya selalu ditemani rokok dan kopi. Sampai berapa jam-pun saya menonton saya akan tetap betah walau hanya ditemani rokok dan kopi. Begitu juga jika sedang santai bersama teman teman tetangga, kami sanggup ngobrol sampai larut malam tanpa diselingi makan asalkan ada rokok dan kopi. Tapi sekarang Sob…timbangan dalam dua bulan naik drastis sampai lebih dari 6 kilogram…!!! sompreeeet…terutama didaerah perut….ya Salllaaaammmm….

       Gimana gak naik drastis…sekarang kalo nonton TV selalu ditemani cemilan, entah itu keripik, kacang, gorengan, coklat, martabak, nasi goreng, roti dan laen laennyalah. Jika sedang di meja kerja pun selalu ada cemilan, apapun bentuknya apapun namanya apapun rasanya asalkan bisa dimakan.

       Beberapa hari kemaren mulai kewalahan ketika memakai celana. Rasanya ada yang perlu diperbaiki, semula saya pikir bahannya ciut atau ristletting-nya somplak…ternyata oh ternyata….ya sudahlah, kemaren sudah pesan ke tukang jahit untuk bikin tiga stel celana baru dengan ukuran nambah lebar di seputaran perut sebanyak 4 Cm….bayangkan 4 Cm Sob…

       Jujur, penampakan perut yang makin membuncit membuatku tidak nyaman. Meski ada yang bilang kalau perut buncit adalah lambang kesuksesan kaum pria dalam kemapanan. Iiiiissshhh….mencari kebenaran dalam menolak kemaluan…hallllahh…

     Sekarang perlu ada niatan baru yang harus lebih kuat dari niatan berhenti merokok kemarin. Yaitu niatan ber-olah raga teratur. Bisa gak yaaahhh….tapi kalau sudah kuat tekad harus nekat, berhenti merokok saja bisa masak olah raga teratur aja gak bisa….demi pemerataan di seputaran perut harus ada yang disiksa…okelah…

GANBATE….!!!

Sepenting Apa Dirimu…?!


 

     Well….ini tentang sebuah “kebiasaan” dari sifat seseorang yang selalu ingin atau terbiasa dilayani laksana raja yang terkadang tak sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.

     Jam makan siang sudah datang. Saya sengaja keluar ruangan untuk mencari makan siang bersama berombolan teman-teman  betawi Koplaks. Hari ini kebetulan tidak hujan, beberapa hari belakangan ini kami minta bantuan jasa dari para Cleanning service/Office Boy untuk membelikan kami makan siang. Bukan karena malas atau ingin dilayani seperti raja, sehari-hari kami selalu makan bersama-sama, namun karena beberapa hari kebelakang Jakarta selalu di guyur hujan, kami jadi malas untuk keluar ruangan. Jadi tak salah rasanya beberapa hari lalu kami minta bantuan CS/OB untuk membelikan makan siang kami, lagipula mereka senang juga bisa dapat tips dari jasa yang telah diberikan.

      Kedai sate kambing dan soto tangkar langganan kami terlihat penuh hari ini. Namun masih ada sisa kursi yang kebetulan pas dengan jumlah kami, oke tak apalah meski agak didalam yang penting bisa makan disini. Pesanan sudah kami layangkan. Seperti biasa 40 tusuk sate kambing bumbu kacang dan lima porsi sop kambing tulang muda. Kami harus menunggu giliran dua grup pelanggan lagi yang harus dilayani. Fine…sambil menunggu kami bercengkrama dan bercanda ala Betawi.

     Grup pertama adalah segerombolan 4 orang wanita berpenampilan Borjouis. Banyak permintaan yang dilayangkan sesuai dengan keinginan dan selera masing-masing orang. Padahal seperti biasanya ditempat seperti ini dalam kondisi seperti ini (makan siang) amat susah melayangkan pesanan sesuai keinginan pribadi. Bagi para pelanggan yang terbiasa makan disini selalu melayangkan pesanan tanpa permintaan khusus. Jika ingin soto ya bilangnya minta soto, jika minta sate kambing bumbu kecap atau kacang ya pesannya sate kambing dengan bumbu dimaksud. Tak ada pelanggan disini yang pesan sate kambing dengan permintaan khusus seperti misalnya dagingnya harus yang muda semua, atau tanpa gajih, atau dagingnya harus daging daerah paha, atau sebagainya atau yang lainnya. Yang ada adalah pesanan instan cukup bilang : “… sate kambing bumbu kacang 20 tusuk nasi putih satu…” sudah cukup begitu saja, maka pesanan akan sampai dengan selamat dan nyaman.

     Gerombolan ini sejak pesan pertama sudah minta macam-macam. Sotonya jangan pakai bawang, jangan pakai jeruk nipis, jangan pakai sambel, jangan pakai garam, jangan ada tulang, jangan pakai emping, jangan pakai kecap, jangan pakai babat, jangan pakai wortel, jangan pakai apaaallllaaaaahhhh….masing-masing personal pesan dengan layanan pesan khusus dan membabi buta, tanpa mempedulikan apakah pelayan kedai itu sanggup mengingat permintaan mereka, terlebih siang itu pelanggan sangat banyak. Belum lagi pesanan satenya harus begini harus begitu. Minumannya juga, jangan begini jangan begitu. Remmmmpppooooonnnggg….

      Betul juga, saat pesanan yang mereka pesan tak sesuai dengan permintaan mereka, mereka ribut dan menyalahkan pelayan kedai, sampai-sampai minta disajikan kembali sesuai permintaan mereka. Hadoooooohhhhh….haloooowww ini jam makan siang sudah mau selesai ini…tapi kami belum dapat pesanan kami. pelayan agak bingung harus bagaimana, secara pesanan yang lain juga masih menumpuk. Gerombolan itu bersikeras di sesuaikan dengan pesanannya. Wuaaaannndddjrrriiittt….lalu kapan pesanan kami dan pelanggan yang lain akan selesai…??

       Emosi panas siang hari ditambah perut lapar dan bosan menunggu, sontak saya teriak ke pelayan kedai :

“…..Mas !!, pesanan ibu-ibu yang salah pesan itu semua bawa kesini,… biar kami yang makan…kelamaan nih…!!!” 

       Teman lain menimpali :

“…Iya Mas, mending layani dulu pelanggan yang udah jadi langganan disini lebih dulu, nanti kalo semua sudah selesai baru pesanan ibu-ibu ini menyusul belakangan biar gak salah lagi…”

      Demi mendengar banyak pelanggan lain yang komplain, gerombolan itu terdiam. Lalu sambil ngedumel ada aja yang berseloroh :

“…Enak aja di minta duluan, kita sudah lama pesen kok…”

“…Enak aja manggil kita ibu-ibu…emangnya gak liat apa…”

“…Kalo ngomong yang sopan kenapa, kita kan juga pelanggan yang harus dilayani…”

“…yaudah sini Mas, lain kali dengerin pesenan kita dong…”

     Akhirrul kata, gerombolan itu mau juga memakan makanan yang menurut mereka salah pesan dan tak sesuai keinginan mereka. Pelayan kedai jadi lega dan bisa melayani pelanggan yang lain lebih cepat. Sambil cekikikan kami lihat mereka makan dengan lahap dan seakan-akan tak ada masalah dengan makanan yang menurut mereka salah pesan, bahkan soto, sop dan sate nya pun tak tersisa begitu juga dengan minumannya. Dan mereka keluar kedai juga dengan rasa lega kok…aneh ya sebenarnya….apa yang mereka nikmati dari rasa “ingin dilayani” padahal tanpa ada rasa itu pun mereka bisa menikmati makanan dengan baik…Apakah ini sebagai sebuah keinginan yang lain dimana mereka ingin dianggap “penting” oleh orang lain….ataukah seperti orang kebanyakan bilang kalau orang yang seperti itu adalah orang yang ingin menutupi kelemahannya dengan melemahkan orang lain…entahlah yang pasti 40 tusuk sate kambing bumbu kacang dan 5 mangkuk sop kambing tulang muda sudah didepan mata menunggu untuk dibantai….seraaang…!!!

“…Mas…!! bawangnya mana…?”

“…Mas…!! sambelnya mana…?’

“….Mas…!! Minumnya mana….?”

“….Mas…ngutang dulu ya Mas…”

Thanks Mates…!


     Tak terasa sudah hampir 2 tahun sejak saya di promosikan ditempat baru dimana pada awalnya saya dihadapkan dengan situasi dan kondisi kerja yang berbeda, namun karena saya memiliki partner kerja yang bisa saling mengerti antara hak dan kewajiban, tugas dan tanggungjawab serta kebebasan dan kepatuhan, maka situasi dan kondisi yang semula saya anggap sebagai sebuah tantangan berat berubah menjadi sebuah kinerja yang luar biasa hasilnya.

     Saya memiliki dua staff wanita, keduanya memiliki nilai positif yang berbeda satu sama lain. Mereka sangat bisa saya andalkan dalam membantu saya membuat keputusan. Mereka keduanya lulusan strata satu akuntansi dari Universitas terkemuka di tanah air, Universitas Indonesia. Mereka berdua juga sempat menikmati suka duka di Kantor Akuntan Publik terkemuka sebelum bergabung bersama di kantor ini, PwC dan Deloitte. Dua nama yang cukup memberikan value lebih dalam ilmu ke-Akuntansi-an. Aku juga seorang akuntan, tapi akuntan abal-abal, ilmuku tak se-sakti mereka, jadi kayaknya gak penting juga kalo aku bahas gelarku disini.

     Selama kebersamaan kami, aku tak pernah memberikan tekanan dalam bekerja, karena aku yakin mereka sudah paham apa yang harus mereka kerjakan, karena memang dikeseharian kami tak pernah lepas dari yang namanya Laporan Keuangan. Aku memberikan mereka kebebasan dalam berkarya namun tetap berpegang pada peraturan yang telah ditetapkan. Aku mempercayai mereka sangat, maka apresiasi yang mereka berikan adalah menyelesaikan tugas tugas yang telah diberikan sesuai dengan tenggat waktu. Kolaborasi yang aneh menurut mata teman temanku. Dimana bagi mereka posisi seperti aku adalah posisi yang memiliki kewenangan penuh atas anak buah. Tapi itu tidak bagiku. Bagiku, ketika teammates-ku bisa bekerja dengan nyaman tanpa tekanan maka hasil dan apresiasi yang mereka berikan akan luar bisa hasilnya. Dari hal-hal kecil seperti memberi perintah kerja atau hal-hal besar dalam membuat  keputusan hasil kerja, saya sebisa mungkin melakukannya dengan pendekatan yang sederhana. Intinya kita tetap santai dan nyaman dalam bekerja namun hasil yang dibuat bisa kita pertanggungjawabkan.

     Tapi semuanya akan berubah mulai minggu depan. Saya dipindahkan ke Divisi lain yang posisinya saat ini kosong dengan bidang industri kerja yang berbeda namun dengan pola yang 100% sama. Dan sayangnya, saya harus di-pisah-kan dengan teammates yang selama ini sudah sangat cocok dalam bekerja. Bagi saya ini sebuah “pisahan” yang sangat traumatis. Tak mudah membuat sebuah kecocokan dalam team kerja yang seperti ini. Bagi saya ini sangat berat, entahlah buat mereka. Ditempat yang baru saya juga akan mendapatkan dua teammates wanita. Saya harus memulainya dari awal untuk membentuk kembali cara kerja yang sesuai dengan watak saya dan watak mereka. Membangun kembali kepercayaan terhadap team baru, menciptakan suasana kerja yang bersahabat, saling mengisi kekurangan dan memberi kelebihan satu sama lain pastilah butuh waktu dan tenaga. Tak apalah biar waktu nanti yang akan menjawabnya.

     Buat Shinta dan Riri, terimakasih atas kerjasama kita selama ini, terima kasih atas kepercayaan yang kalian berikan kepada saya atas langkah langkah yang saya ambil buat team, terimakasih atas kenyamanan dan pemenuhan atas hak dan kewajiban diantara kita, terima kasih atas segalanya, semoga dibawah kepemimpinan yang baru nanti kalian bisa lebih baik lagi berkarya dan berbakti. Dan mohon maaf atas segala kesalahan kesalahan yang pernah saya buat saat bekerja dalam team, mohon maaf juga jika saya tak bisa memberikan yang terbaik buat kalian. Mohon support dan doa kalian buat aku yahh…agar aku bisa selalu bekerja dengan gaya yang seperti ini.

N.B.:

“Tahun depan kalian berdua di promosikan untuk beasiswa Strata 2 di Australia, gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya ya, selamat…!  

Aku tak bisa bantu dalam bentuk materiil, tapi dukungan dan doa-ku buat kalian berdua Mates…!!

shirin