Cinta Versi Aku


Romantis itu nggak perlu ngasih bunga mawar…
Gak perlu juga bikin tulisan muter muter gak jelas disurat kalo intinya cuma buat gantiin kalimat “aku cinta kamu”…

Ngasih kado apalagi cuma coklat…

Gandeng tangan…Peluk peluk didepan umum…Jalan jalan ke taman bunga ala film-film India…

Makan malam berdua pakai lilin kecil warna merah jambu…

Kayaknya gak perlu juga harus gitu

Buat Aku, saat dia paham siapa diriku dan aku mengerti siapa dirinya, udah lebih dari cukup buat kami untuk memaknai cinta…
*Nyuruh dia mandi dan bikin kopi aja udah cukup romantis dari pada nggak sama sekali*
“Cinta hanyalah segumpal perasaan dalam hati. Sama halnya dengan gumpal perasaan senang, gembira, sedih, sama dengan kau suka makan bakso yang pedas, suka main game yang jadul tapi ngeselin, suka utak atik mesin , dan semacamnya. Bedanya, kita selama ini terbiasa mengistimewakan gumpal perasaan yang disebut cinta. 
Kita beri dia porsi lebih penting, kita besarkan, kita pupuk, lalu terus menggumpal membesar. Coba saja kau cuekin, kau lupakan, maka gumpal cinta itu juga dengan cepat layu seperti kau bosan makan bakso dan teman temannya tadi”.
Cinta sejati selalu datang pada saat yang tepat, waktu yang tepat, dan tempat yang tepat. Ia tidak pernah tersesat sepanjang kalian memiliki sesuatu. Sesuatu pemahaman yang baik bagaimana mengendalikan perasaan.”
Jangan meminta orang lain mencintai kita, sebelum kita bisa mencintai diri sendiri.
Cinta yang diterima sejatinya akan sebanding dengan cinta yang diberikan. Cintai lebih jika ingin dicintai lebih.
Itu aja sih cinta versi Aku
00.56 WIT,  Pantai-Kuta, 1 Januari 2017

-sangpriabiru-

Padamu


Aku tidak tahu pasti kapan cinta itu hadir. 

Dan mengapa harus ada cinta…

Seperti katamu yang bertanya; kapan detik pertama kehidupan dimulai? 

Aku tak mampu me-reka-nya…Kehidupan yang kutahu pada awalnya adalah ketika kau hadir di depanku, menghadirkan sebuah rasa penuh makna yang akhirnya terbungkus menjadi cinta.

Lalu mengapa harus ada cinta…

Aku hanya merasa bahwa cinta harus ada untuk meng-genap-kan perjalanan kita, entah bagaimana caranya…

Kemudian aku tahu satu hal yang pasti

Bahwa aku dikemudian masa harus membuat bahtera dan mempercayakan satu dayung padamu untuk ikut kau kayuh

Lalu bersama kita lajui bahtera yang aku buat disetiap  detik waktu yang akan selalu kita lukis dengan warna rindu…

Aku yang … Padamu

Jakarta, 10 Januari 2017

-sangpriabiru-