Ketika Waktu Kami Mesti Berlalu (1)


       Oke, aku coba kembali mengingat-ingat romansa waktu kecil. Aku hanya ingin membandingkan saat masa kecil aku dengan saat masa kecil anak-anakku. Terlalu melankolis mungkin, tapi biar bagaimanapun kita masing-masing harus punya sejarah sendiri, disini sejarah aku dan anakku.

      Aku lahir di Jakarta tahun 1972. Masa-masa diawal pembagunan negara ini menuju repelita pertama setelah pergantian presiden Soekarno ke Presiden Soeharto sejak 1968-1073. Aku tinggal di daerah keras selatan Jakarta, Manggarai, tepat dibelakang stasiun dan bengkel kereta api Manggarai (dulu disebut Magessen). Setelah usai sekolah taman kanak-kanak di Menteng, tepatnya Jl. Tegal no. 10, jakarta, tahun 1978 kami sekeluarga hijrah ke daerah yang lebih baik, Depok II Tengah, Jawa Barat. Bapak melihat kehidupan sosial didaerah kelahiranku mulai tidak baik buat tumbuh kembangku. Terlebih lagi Bapak begitu senangnya ketika mendapatkan jatah rumah bagi PNS saat program Perumanahan Nasional yang dicanangkan Pemerintahan Soharto kala itu. Depok adalah percontohan kedua setelah Bekasi. Aku pernah menuliskan tentang perjalananku pertama kalinya ke Depok bersama Bapak (“Depok 1978”).

       Oke, setelah kami hijrah ke Depok suasana sangat berbeda dan sama sekali baru. Aku tinggal di Jalan Pajaga I. Sepanjang gang itu berderet rumah yang rapi dengan model yang sama. Jika hari siang panasnya cukup terik, namun ketika menjelang pukul 16.00 sore hawa dingin Jawa Barat mulai terasa, terlebih saat pagi hari. Disini aku belum punya teman seusiaku, aku masih bermain dengan adikku yang berbeda usia dua tahun dariku. Permainanku berasal dari alam. Kadang menangkap belalang atau jangkrik. Kadang memetik buah atau mencabut singkong di rumah tetangga yang belum berpenghuni. Atau kadang menangkap ikan-ikan kecil dan ketam di sungai jernih dekat mata air bersama Bapak kala air dari PDAM tak menyala. Sederhana memang, tapi buat kami kebahagiaan seperti itu sudah luar biasa.

     Menjelang bulan kedua ditempat baru, mulailah tetangga baru kami berdatangan. Bapak menyalami tetangga baru dan saling berkenalan. kadang dalam satu hari ada dua sampai tiga tetangga baru kami berdatangan. Ada beberapa keluarga baru yang kebetulan memiliki anak seusiaku. Bagi kami, seusia itu adalah usia mudahnya kami bersosialisasi secara instan dengan kawan baru. Hanya dengan bermodalkan jangkrik dalam plastik kami sudah cepat berbaur dan saling berkenalan, bahkan dalam hitungan menit kami sudah bermain bersama.

     Permainan jaman kami sangat sederhana, namun disitulah semua fungsi sayaraf motorik halus dan motorik kasar kami bertumbuh dan bekerja secara maksimal. Daya imajinasi kami liar membuncah menciptakan karya atau permainan baru bersama. Permainan favorit adalah “Petak Umpet”, karena bisa dimainkan hanya oleh dua atau tiga orang saja. Lalu kemudian “Petak Benteng” yang bisa dimainkan oleh minimal empat orang, selanjutnya “Galah Asin” atau “Gobak Sodor” atau kami lebih mudah menyebutnya “Galasin” yang biasanya dimaninkan oleh dua kelompok team terdiri dari empat orang atau lebih. Namun dibalik semua permainan favorit kami ada permainan yang favorit diantara yang favorit, yaitu bermain bola dikala hujan.

Dari Google

Dari Google

     Namun resiko yang dihadapi sangat besar. Kami tidak takut petir atau suara halilintar yang menggelegar, yang kami takutkan adalah Ibu yang menunggu di depan pintu dengan sapu ditangan. Kalau Ibu sudah murka maka bisa-bisa tak dapat makan malam atau tak dapat uang jajan, belum lagi paha kami yang merah terkena pukulan sapu. Biasanya kami berfikir lebih cerdik demi menghindari murka Ibu. Jika kami bermain bola dikala hujan, maka biasanya kami bermain telanjang tubuh atau hanya dengan menggunakan cawat. Pakaian kami simpan dalam tas plastik lalu letakkan di tempat aman, setelah hujan berhenti kami bisa mandi dikali untuk berbasuh dari kotoran dan lumpur ditubuh setelah bersih pakaian kami yang masih kering akan menyelamatkan kami dari murka Ibu. Paling-paling Ibu cuma bertanya dari mana, biasanya kami akan jawab kami berteduh di mushala, beres. Bermain bola sambil hujan-hujanan dan berenang disungai kami dapat, murka Ibu lewat.

Dari Google       Dari Google

Dari Google

       Permainan adakalanya disesuaikan juga dengan kondisi dan situasinya. Pada saat bulan ramadhan permainan olah pisik yang mainstream biasanya kami tinggalkan sejenak, kecuali dimainkan pada sore menjelang berbuka atau setelah shalat tarawih. Entahlah permainan nyang satu ini disebut apa, tapi dulu kami menyebutnya permainan sarung terbang. Gampang dan menyenangkan, kedua ujung sarung diselipkan atau diikat pada celana dan dua ujungnya lagi kita pegang erat, kemudian kita berlari dengan cepat agar angin yang terjebak di dalam sarung membuat sarung mengembang. Biasanya menjelang berbuka puasa di depan Mushala kami bermain seperti ini sambil menunggu berbuka bersama dan shalat mahgrib berjamaah di mushala. Indah…

images (1)

Dari Google

       Sedangkan setelah shalat tarawih, kami biasanya menuju ke tanah lapang untuk melihat atau bermain “Bleguran” permainan “Meriam Bambu”, ini permainan yang paling seru. Bambu yang diberi lubang kecil sebagai penyulut pada ujung pokok bambu, kemudian bisa diisi karbit atau minyak tanah (karbit lebih dasyat) sedangkan ujung Bambu disumpal dengan kertas basah atau apalah, selanjutnya lubang kecil disulut api, maka suara dentumannya dan lontaran kertas basahnya membuat kami seakan-akan sedang berperang. Seru…..

Dari Google

Dari Google

Seandainya bisa, aku ingin kembali menikmati permainan ini bersama kawan-kawanku lagi. Namun setelah hampir setengan putaran bumi ini aku kehilangan banyak teman kecil. Meski orang tua kami masih tinggal ditempat yang sama, namum kami anak-anaknya telah terpisah oleh jarak dan waktu. Kami hanya bisa bertemu saat hari raya Iedul Fitri, biasanya disitu romansa kami hidup lagi.

Buat kami saat itu bahagia sederhana sekali…

Bagimana dengan anak-anak kami saat ini…?

Apakah permainan mereka sama dengan kami diwaktu kecil…?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s