Thanks For Everything…


IMG_20150304_144616

 

       Sedih kalau ingat perjuangan saat ingin bergabung dalam instansi pemerintahan ini. Perjuangan lahir batin dijaman akhir Pemerintahan Orde Baru. Saat itu sedang di gaungkan Indonesia bersih di semua lingkungan Departemen Pemerintahan. Khusus untuk instansi Departemen Keuangan saat itu (Periode 1994-1999) masih dibawah Bapak Menteri Mar’ie Muhammad. Beliau saat itu dikenal sebagai “Mr. Clean” karena beliau juga yang mengeraskan Gaung Indonesia Bersih di Departemen Pemerintahan.

       Lima belas tahun sepuluh bulan, tepat sejak tahun 1998, tahun tahun awal digaungkannya era reformasi oleh para mahasiswa, aku diterima dengan sukses di Departemen Keuangan ini, aku diterima sebagai staff di Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam). Saat itu aku berkantor di Gedung Bursa Efek Jakarta (sekarang Bursa Efek Indonesia) lantai 24. Di gedung nan megah ini hanya kami satu-satunya instansi pemerintahan yang ada. berbaur dengan kaum borjuis Jakarta dengan segala kemewahan dan ke-serba ada-an yang mumpuni. Sedangkan kami adalah para pekerja pemerintahan dengan standar gaji yang mengerikan. Saat itu yang aku dapat adalah rasa bangga bisa masuk dalam lingkungan salah satu Departemen Elite tanpa mengeluarkan uang sepeser-pun, aku hanya mengeluarkan uang untuk membuat surat lamaran dan perlengkapannya, tanpa calo, tanpa sogokkan tanpa tekanan. Asli kemampuan diri sendiri.

       Pertengahan tahun 1997 setelah menganggur hampir dua tahun sejak kelulusanku dengan titel sarjana ekonomi akuntansi, aku coba mengikuti apa yang selalu diminta Ibuku, jadilah Pegawai Negeri Sipil seperti Bapak, katanya. Aku adalah seorang yang keras hati untuk tujuan pribadi. Dulu aku sesumbar bahwa aku harus bisa bekerja di sebuah Bank. Sejak lulus sarjana, puluhan surat lamaran aku sebarkan di sepanjang wilayah bisnis elite Jakarta. Rasuna Said, Gatot Soebroto, MH Thamrin dan Jenderal Sudirman gak mau diluar itu. Namun dari sekian puluh lamaran dan sekian puluh panggilan dan wawancara tak ada satu pun yang menerima aku. Bahkan hingga sampai beberapa kali wawancara akhir di negosiasi gaji aku pun tak lulus. Aku tak minta gaji besar-besar saat itu, aku hanya menawarkan diri ini dengan gaji 1,5 juta sebulan. Putus asa dan frustasi rasanya selama itu. Setiap kali aku gagal raut wajah ibu biasa saja.

       Hingga suatu hari ibu menyuruhku untuk membuat lamaran di Departemen Keuangan berdasarkan informasi dari Oom-ku. Okelah untuk sekedar memuaskan hati ibu aku buat lamaran seadanya dengan tulisan tangan, toh ini memang sudah rencanaku agar aku tak diterima diawal administrasi. Surat sudah aku kirim berbarengan dengan lamaran ke Bank Indonesia, Departemen Luar Negeri, Badan Pemeriksa Keuangan dan beberapa Bank swasta nasional. Bank Indonesia aku gagal diawal, bukan rejeki padahal ini satu-satunya lembaga pemerintahan yang aku minat, oke. Deplu hanya sampai tahap III saat wawancara, aku sengaja bikin ulah lagian kenapa juga tanteku harus bilang ke pewawancara kalau aku ini keponakannya. Aku bilang tak menguasai satupun bahasa asing apalagi saat itu Deplu mewajibkan minimal menguasai dua bahasa asing.  Aku bisa Inggris meski pasive dan ini bukan suatu halangan untuk aku bisa masuk ke Deplu. Tapi caranya itu yang tak aku suka. Aku ingin masuk secara bersih, itu saja. Oke Deplu gagal dan memang aku tak minat. BPK, ini surprise banget bisa wawancara sampai tahap III, pewawancara adalah Dosen akuntansi ku di kampus yang juga dosen penguji skripsi. Okelah saat sidang disertasi skripsi aku adalah satu satunya mahasiswa yang di uji tanpa satu pertanyaan pun. Lucu….memang lucu. Saat itu ketika menunggu giliran sidang ada satu mahasiswa yang tergagap gagap menjawab ujian sidang, aku dipanggil maju kedepan diminta membatu dia menjawab. Aku bantu dia dengan jawaban yang membuat dosen setuju, Sampai tiga kali aku diminta membantunya menjawab dan tiga kali pula dosen setuju dengan jawabanku. Well…saat aku dipanggil sidang sesungguhnya sang dosen cuma bilang…: “sudah kamu pulang sana, tak ada yang saya tanyakan…” Buku skripsi saya di lingkari huruf B olehnya, sambil bilang :…”yang membuat saya tak memberi A ke kamu adalah karena rambut kamu belum dipotong…”  Huannnnjjrriiieeettt…saat itu lagi musim rambut metal, rambutku panjang sepunggung karena aku aktif di Band. Bank swasta tak satupun ada panggilan. Sedangkan Depkeu aku harus berjibaku untuk memilih BPK atau Depkeu saat wawancara akhir di waktu yang berbarengan. Okelah aku pilih Depkeu, karena aku tak mau ada unsur Deplu di BPK.

     Saat ikut ujian pertama di Depkeu kami yang terdiri dari puluhan ribu orang diseluruh Indonesia di uji bersamaan. Aku mendapat tempat test pertama di Istora Senayan. Suasananya mirip saat nonton Metallica. Penuh dan wawut wawutan. Aku ditemani pacar tercinta sejati sejak SMA. Aku sungguh tak berminat dan ingin pulang. Tapi pacarku menangis kesal katanya dia udah ambil cuti sehari dari kerja hanya untuk memberikan semangat dan do’a ke aku. Dan dia mengingatkan pesan Ibu agar aku berjuang sekuat tenaga. Welll…demi mereka aku mengalah. Test pertama aku ikuti sekehendak hatiku aja tanpa beban, dengan harapan jawaban ini salah semua. Selama satu bulan sejak test pertamaku, aku lihat Ibu makin kuat ibadah malam. Pengumuman pertama di koran kompas namaku ada. Test kedua dan seterusnya hingga lulus kami dikonsentarsikan di Kampus STAN. Dan akhirnya aku menyadari bahwa aku yang selalu berusaha  sekuat tenaga tak ingin menjadi PNS akhirnya tak kuasa menolak do’a dan keinginan Ibu yang memohon langsung pada sang pencipta setiap sepertiga malam untuk kebaikan anaknya, Ya Allah maafkanlah ketidaktahuan dan ke-tidak berdayaan-ku ini….

         Oke kehidupan dimulai disini dengan gaji 80% CPNS adalah sebesar Rp. 380.000 setiap bulan, jauh dari harapanku yang ingin gaji sebesar Rp. 1,5 juta. Ngeri ngeri sedap juga sih kalo ingat memorial kala itu. Untungnya  IMF tradisional masih sanggup mensupport dana mengerikan ini setiap bulannya. Bapak selalu memberikan dana tambahan disaat tanggal 10 keatas setiap bulannya sampai aku 100%.

     Edisi Prajab dilalui dengan sepenuh hati dimana kegembiraan, kesedihan, kesusahan, kengerian dan penderitaan menjadi satu disini. Makan daging alot, nasi setengah matang, sayur encer dan logistik apa adanya menjadi santapan selama 2 minggu di kamp militer Condet. Waktu yang dibatasi dengan alasan disiplin membuat kita harus melakukannya secara berbarengan, Makan, tidur, belajar, olahraga bahkan mandipun kami harus berbarengan, lupakan rasa malu atau kamu tak mandi sama sekali. Bayangkan jika tak mandi kala seharian penuh kita bergulat oleh peluh dalam didikan semi militer. Lama -lama mandi bersama ini malah menjadi ajang pamer para lelaki…hahahahahaha, oke siaaaap….!! Prajab adalah salah satu persyaratan bagi CPNS yang akan diangkat menjadi PNS, pendidikan semi militer dimana tempaan fisik dan mental dihajar disini, katanya agar kita kuat menghadapi hidup.

       Pertengahan 1998 aku 100% PNS dengan gaji sebesar Rp. 480.000 setiap bulan aku tak berharap muluk-muluk punya apa. Aku makin hidup bersahaja kalo gak bisa disebut ngirit mapuss…aku harus menabung untuk menikahi pacarku. Aku sudah janji akan menikahinya setelah 2 tahun aku menjadi PNS dan punya tabungan yang cukup. Alhamdulillah semuanya tercapai disini, tak ada yang bisa dipungkiri bahwa semua yang aku lakukan disini adalah semata-mata karena ada turut campurnya Allah hingga aku menjadi seperti sekarang.

       Setelah 15 tahun sepuluh bulan aku mengabdi sepenuh hati dan kemampuan terbaikku, dan ilmu birokrasi yang semakin banyak yang aku dapat serta tali kekeluargaan yang luar biasa terikat erat di Departemen ini (sekarang disebut Kementerian), kini saatnya aku harus mengambil satu keputusan yang berat, keluar dari Kementerian Keuangan atau tepatnya mengundurkan diri sebagai Pegawai Negeri Sipil. Bukan tanpa alasan sebenarnya aku dan kami semua keluar dari Kementerian Keuangan. Karena adanya satu klausula dalam undang undang Bank Indonesia atas pembentukan Otoritas Jasa Keuangan guna melakukan pengawasan terhadap Perbankan dan Pasar Modal, maka Bapepam harus dihilangkan dan berdiri kembali dibawah naungan Otoritas Jasa Keuangan.

     Sempat ada pertentangan dengan keluarga saat itu, ketika diberlakukan opsi mau tetap di Kementerian atau mau ikut OJK. Jika ikut OJK belum ada kepastian mengenai masa depan (ini penting karena aku seorang sebagai penggerak ekonomi keluarga) sedangkan jika tetap di Kementerian tak ada jaminan aku akan tetap di Jakarta, bisa saja aku di mutasikan keluar Jawa. Untuk hal ini aku tak siap dikala usia sudah tak muda lagi dan harus jauh dari anak-anak, maka keputusan bulat aku keluar dari Kementerian Keuangan.

      Selamat berpisah Kementerian tercintaku terimakasih atas segalanya untuk-ku.

IMG_20150306_133628

N.B.:

Aku bersyukur bisa diterima sebagai PNS kala itu tahun 1998 adalah tahun politik panas buat Indonesia. Banyak perusahaan swasta nasional yang ambruk bangkrut dan berguguran, termasuk bank-bank yang sempat aku datangin saat wawancara dulu. PHK tanpa pesangon adalah hal biasa saat itu, demo politik mahasiswa dan politikus bergelora dan ada setiap saat. Situasi keamanan tidak kondusif, dimana puncaknya rejim Soeharto runtuh dan Indonesia berada pada titik chaos tingkat tinggi. Aku baru beberapa bulan bekerja dan dengan jelas jadi penikmat sejarah saja. Entah apa jadinya jika Do’a ibu tak terkabulkan Allah, mungkin saat ini aku bukan sebagai yang sekarang, Alhamdulillah…

 

Iklan

2 comments on “Thanks For Everything…

  1. perjuanganny jd jobs hunter mengingatkan saya pd diri sndiri n adik sya mz.. mmng klo trllu ambisius pngin jd PNS ato BUMN rasany kok gatot mulu. Kishny bener2 nginspiratif..
    Slamat n sukses bekarya di OJK.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s