Sepenting Apa Dirimu…?!


 

     Well….ini tentang sebuah “kebiasaan” dari sifat seseorang yang selalu ingin atau terbiasa dilayani laksana raja yang terkadang tak sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.

     Jam makan siang sudah datang. Saya sengaja keluar ruangan untuk mencari makan siang bersama berombolan teman-teman  betawi Koplaks. Hari ini kebetulan tidak hujan, beberapa hari belakangan ini kami minta bantuan jasa dari para Cleanning service/Office Boy untuk membelikan kami makan siang. Bukan karena malas atau ingin dilayani seperti raja, sehari-hari kami selalu makan bersama-sama, namun karena beberapa hari kebelakang Jakarta selalu di guyur hujan, kami jadi malas untuk keluar ruangan. Jadi tak salah rasanya beberapa hari lalu kami minta bantuan CS/OB untuk membelikan makan siang kami, lagipula mereka senang juga bisa dapat tips dari jasa yang telah diberikan.

      Kedai sate kambing dan soto tangkar langganan kami terlihat penuh hari ini. Namun masih ada sisa kursi yang kebetulan pas dengan jumlah kami, oke tak apalah meski agak didalam yang penting bisa makan disini. Pesanan sudah kami layangkan. Seperti biasa 40 tusuk sate kambing bumbu kacang dan lima porsi sop kambing tulang muda. Kami harus menunggu giliran dua grup pelanggan lagi yang harus dilayani. Fine…sambil menunggu kami bercengkrama dan bercanda ala Betawi.

     Grup pertama adalah segerombolan 4 orang wanita berpenampilan Borjouis. Banyak permintaan yang dilayangkan sesuai dengan keinginan dan selera masing-masing orang. Padahal seperti biasanya ditempat seperti ini dalam kondisi seperti ini (makan siang) amat susah melayangkan pesanan sesuai keinginan pribadi. Bagi para pelanggan yang terbiasa makan disini selalu melayangkan pesanan tanpa permintaan khusus. Jika ingin soto ya bilangnya minta soto, jika minta sate kambing bumbu kecap atau kacang ya pesannya sate kambing dengan bumbu dimaksud. Tak ada pelanggan disini yang pesan sate kambing dengan permintaan khusus seperti misalnya dagingnya harus yang muda semua, atau tanpa gajih, atau dagingnya harus daging daerah paha, atau sebagainya atau yang lainnya. Yang ada adalah pesanan instan cukup bilang : “… sate kambing bumbu kacang 20 tusuk nasi putih satu…” sudah cukup begitu saja, maka pesanan akan sampai dengan selamat dan nyaman.

     Gerombolan ini sejak pesan pertama sudah minta macam-macam. Sotonya jangan pakai bawang, jangan pakai jeruk nipis, jangan pakai sambel, jangan pakai garam, jangan ada tulang, jangan pakai emping, jangan pakai kecap, jangan pakai babat, jangan pakai wortel, jangan pakai apaaallllaaaaahhhh….masing-masing personal pesan dengan layanan pesan khusus dan membabi buta, tanpa mempedulikan apakah pelayan kedai itu sanggup mengingat permintaan mereka, terlebih siang itu pelanggan sangat banyak. Belum lagi pesanan satenya harus begini harus begitu. Minumannya juga, jangan begini jangan begitu. Remmmmpppooooonnnggg….

      Betul juga, saat pesanan yang mereka pesan tak sesuai dengan permintaan mereka, mereka ribut dan menyalahkan pelayan kedai, sampai-sampai minta disajikan kembali sesuai permintaan mereka. Hadoooooohhhhh….haloooowww ini jam makan siang sudah mau selesai ini…tapi kami belum dapat pesanan kami. pelayan agak bingung harus bagaimana, secara pesanan yang lain juga masih menumpuk. Gerombolan itu bersikeras di sesuaikan dengan pesanannya. Wuaaaannndddjrrriiittt….lalu kapan pesanan kami dan pelanggan yang lain akan selesai…??

       Emosi panas siang hari ditambah perut lapar dan bosan menunggu, sontak saya teriak ke pelayan kedai :

“…..Mas !!, pesanan ibu-ibu yang salah pesan itu semua bawa kesini,… biar kami yang makan…kelamaan nih…!!!” 

       Teman lain menimpali :

“…Iya Mas, mending layani dulu pelanggan yang udah jadi langganan disini lebih dulu, nanti kalo semua sudah selesai baru pesanan ibu-ibu ini menyusul belakangan biar gak salah lagi…”

      Demi mendengar banyak pelanggan lain yang komplain, gerombolan itu terdiam. Lalu sambil ngedumel ada aja yang berseloroh :

“…Enak aja di minta duluan, kita sudah lama pesen kok…”

“…Enak aja manggil kita ibu-ibu…emangnya gak liat apa…”

“…Kalo ngomong yang sopan kenapa, kita kan juga pelanggan yang harus dilayani…”

“…yaudah sini Mas, lain kali dengerin pesenan kita dong…”

     Akhirrul kata, gerombolan itu mau juga memakan makanan yang menurut mereka salah pesan dan tak sesuai keinginan mereka. Pelayan kedai jadi lega dan bisa melayani pelanggan yang lain lebih cepat. Sambil cekikikan kami lihat mereka makan dengan lahap dan seakan-akan tak ada masalah dengan makanan yang menurut mereka salah pesan, bahkan soto, sop dan sate nya pun tak tersisa begitu juga dengan minumannya. Dan mereka keluar kedai juga dengan rasa lega kok…aneh ya sebenarnya….apa yang mereka nikmati dari rasa “ingin dilayani” padahal tanpa ada rasa itu pun mereka bisa menikmati makanan dengan baik…Apakah ini sebagai sebuah keinginan yang lain dimana mereka ingin dianggap “penting” oleh orang lain….ataukah seperti orang kebanyakan bilang kalau orang yang seperti itu adalah orang yang ingin menutupi kelemahannya dengan melemahkan orang lain…entahlah yang pasti 40 tusuk sate kambing bumbu kacang dan 5 mangkuk sop kambing tulang muda sudah didepan mata menunggu untuk dibantai….seraaang…!!!

“…Mas…!! bawangnya mana…?”

“…Mas…!! sambelnya mana…?’

“….Mas…!! Minumnya mana….?”

“….Mas…ngutang dulu ya Mas…”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s