Menunggu Yang Tak Pasti


   

  Minggu kemarin adalah hari terakhir liburan sekolah. Hari ini, Senin, Juli 1989 adalah hari pertama kembali masuk sekolah. Aku kelas II SMA sekarang. Hari pertama seperti biasa belum ada aktivitas ajar mengajar yang signifikan. Kami hanya mencari informasi dimana kelas kami sekarang, siapa teman baru kami sekarang, siapa wali kelas kami sekarang dan lalu berusaha mencari posisi kursi yang strategis. Aku tak terlalu suka duduk didepan meskipun tak jadi masalah buatku, aku biasanya memilih di baris ketiga atau kedua. Kursi paling belakang adalah posisi yang paling aku benci sejak Sekolah Taman Kanak-Kanak. Pesan Ibu adalah “jika ingin pintar, duduklah di kursi paling depan”  dan itu tergiang terus saat mencari posisi kursi diruang kelas. Tapi kepintaran bukan dari posisi kursi, namun dari kapasitas otak masing-masing individu. Meskipun selalu duduk dibaris terdepan dan selalu belajar mati-matian, aku tak pernah sekalipun masuk 10 besar, bahkan untuk mencapai 15 besar aku butuh perjuangan setengah mati. Nilaiku selalu jeblok di matematika dan fisika. Nilai 6 diraport adalah perjuangan penuh darah dan nanah. Tapi untuk pelajaran yang berbasis hapalan aku bisa dibilang mumpuni. PMP, BIOLOGI, GEOGRAFI, PSPB, AKUNTANSI, BAHASA INGGRIS dan AGAMA nilaiku alhamdulillah cemerlang, tapi matematika dan fisika cukup 6 saja tak pakai koma, itupun aku pikir adalah nilai belas kasihan guru karena aku yakin sebetulnya aku tak mampu mencapai angka 6. Kendala traumatimatis.

     Di papan mading tertera penempatan kelasku di kelas II ini. Aku masuk kelas IISOS2, artinya aku kelas dua dan di jurusan sosial urutan dua. Ada 4 urutan untuk kelas sosial, 3 Kelas Fisika, 3 kelas biologi dan 1 kelas bahasa. Aku berharap di kelas sosial ini ada peningkatan mutu nilai dan berharap teman-temanku yang sakti mandraguna tak ada dikelas ini. Oke, baguslah harapan sesuai kenyataan. Tiga sahabat terbaik di kelas satu dulu juga masuk kelas ini. Empat raja kembali bertahta tak terpisahkan. Kami adalah pasukan cowok lugu, cowok pemalu, cowok kuper, cowok lurus, cowok penakut dan segala sesuatu yang sifatnya negatif ada di kami. Kami sebetulnya sekumpulan cowok lucu, namun entah kenapa cuma kami sendiri yang bisa menilai bahwa kami itu lucu. Suatu saat akan ada cerita tentang kami.

     Ada nama nama asing yang aku baca di mading. Kebanyakan aku hanya tahu nama samaran mereka, nama alias yang kadang diberikan berdasarkan bentuk pisik, lokasi tinggal, perbuatan bodoh atau bahkan nama orang tua. Seperti  I Ketut yang dipanggil rompal karena bentuk gigi yang tak beraturan, Heri yang dipanggil Ewunk karena tinggal dibantaran kali Ciliwung, Sunaidi yang dipanggil pacul karena saat ospek dulu mau-mau-nya disuruh bawa pacul, atau Johny yang dipanggil Rahmat karena dia satu satunya orang keturunan Cina yang nama bapaknya memiliki nama pribumi. Dan aku sendiri di panggil Babeh, entah kenapa aku dipanggil Babeh, katanya sih karena aku mirip Rano Karno, bahkan saking miripnya, Rano Karno kalah mirip sama aku. Yah begitulah.

    Dan ada satu yang mengejutkan kami ber-empat adalah bunga sekolah kelas bidadari kelas para dayang yang jadi incaran para senior dan kaum cowok, ternyata  juga termasuk dalam kelas kami. Kami cuma saling pandang dan berbicara lewat telepati, kemudian tertawa terbahak-bahak. Entah tertawa senang, mencemooh atau tertawa heran. Yang aku tahu bidadari ini dulu pernah sesumbar kalau dia tak masuk kelas fisika lebih baik pindah sekolah, kelas selain fisika adalah kelas para recehan, namun nyatanya sekarang ada dikelas kami. Termakan karma, ingin menyamar atau mencari kesempatan seperti aku agar mendapat peningkatan nilai mutu ? entahlah yang pasti salah seorang teman sangat berbinar binar matanya penuh nafsu birahi. Itu bukan sesuatu yang aku harapkan, aku masih berharap seseorang yang aku kenal tanpa sengaja, seseorang yang sempat membuat semangat hidup bersekolah kembali membuncah, seseorang yang bisa membuat aku senyam senyum sendiri, seseorang yang saat di mushala membuat otak mesumku berkibar tak tentu arah, seseorang yang memiliki betis indah putih merona juga ada dalam kelasku. Kelas para raja.

     Hari ini seseorang itu tak ada dalam pencarian mata liarku. Parahnya aku juga tak tahu siapa nama seseorang itu. Jadi sia-sia rasanya mencari seseorang itu berdasarkan nama-nama yang tertera di mading. Bodoh. Siang makin meninggi, lapar kian meradangi perut kami, mie ayam Bram dipojok kantin jadi sasaran tempat kami melampiaskan kebutuhan biologis. Sambil menatapi para teman yang terlihat antusias atas kelas barunya atau bahkan ada yang kecewa dengan penempatannya, aku bahkan tak merasakan sensasi yang mereka rasakan. Biasa saja karena sensasi yang aku harapkan belum terjadi dan aku tak tahu apakah akan terjadi. Aku hanya menunggu seseorang itu, tak perlu pula harus sekelas, yang aku butuh hari ini adalah bisa menatapnya dihari pertama sekolah di kelas II. Semoga. 

 

Based on “Buku Harian Binal” catatan jaman SMA Juli 1989

 

 

 

 

 

 

Iklan

2 comments on “Menunggu Yang Tak Pasti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s