Nambal Bak Mandi-Bagian Pertama


     Janji harus ditepati. Sebetulnya hari sabtu adalah me time yang gak bisa dan gak boleh diganggu. Tak seperti hari biasanya setelah shalat subuh selalu bersiap untuk aktivitas kantor, maka hari sabtu setalah shalat subuh adalah melanjutkan tidur episode ke dua. Terserah mau bangun jam berapa juga. Tapi sabtu ini lain, ada kerjaan yang sudah dijanjikan yang harus dikerjakan, menambal bak mandi yang bocor.

     Setengah malas harus melakukan pekerjaan yang tak biasa dilakukan, namun kalau tak dicoba bagaimana nanti jika bak mandinya bocor lagi, gak mungkin menunggu tukang bangunan hanya untuk sekedar menambak bak mandi. Dipikir pikir biarlah sebagai pembelajaran melakukan pekerjan yang bukan bidangnya.

     Jam 7 pagi diawali dengan memandikan belalang tempur (GL Max 125cc) karena memang sejak kehujanan kamis lalu belum sempat dicuci. butuh waktu sejam buat memandikannya. Tanah, minyak dan lumpur telah sempat mengeras di bagian bawah mesin belalang tempurku. Setelah mandi dan sarapan,  barulah giliran pergi ke toko bangunan. Semen putih sekilo dirasa cukup untuk menambal bak mandi. Kuas kecil dan kape jadi senjata pelengkap. okelah, eksperimen dimulai.

     Beberapa sendok semen putih diencerkan, kurang lebih se-encer susu kental manislah. Lalu dengan kuas kecil ramuan semen tadi disapukan disepanjang sambungan keramik, dengan harapan semen yang diencerkan tadi sempat masuk ke pori pori sambungan keramik. Setelah ditunggu sambil ngopi dan merokok juga sempet browsing, baru dibuatkan ramuan semen yang lebih kental. Dengan senjata kape, ramuan tadi direkatkan disepanjang sambungan. Gak disangka posisi menambal itu ternyata bikin kepala selalu berada diposisi bawah yang akhirnya bikin keliyengan juga. Belum lagi pinggang renta yang sudah tak tahan berlama lama dengan posisi membungkuk.

     Alhamdulillah, setelah memakan waktu tiga jam lebih (istirahatnya lebih banyak tentunya…) semua sambungan keramik tertutup juga akhirnya. Artinya sekarang tinggal menunggu kering. Ya sutralah, bak mandi akhirnya ditutupi dengan plastik agar tak ada percikan air yang masuk kedalam sat mandi dengan shower. Setelah membersihkan diri dan selesai Dzuhur langsung tepar, aaaaahhhh pinggang ini nikmat sekali dibaringkan. Tak butuh waktu lama nyawa dah pergi entah kemana, pulazzzzzz…

     Menjelang Maghrib tambalan bak saya periksa, meski terlihat sudah keras tapi masih belum yakin bisa di isi air, diputuskan di isi airnnya besok minggu aja agar semen nya benar-benar keras dan kuat. Gak sabar juga sih ingin mengetahui hasil karya sendiri apakah berhasil atau tidak. Tadi sempat diambil gambarnya tapi setelah melihat hasil pekerjaan yang gak ada kesan bagusnya sama sekali jadi malu buat ditempel disini. Maklumlah bukan tukang, tapi setidaknya bisa sedikit meredam suara kicauan “mamanya anak-anak”.

     Tapi akhirnya setelah melihat hasil kerjaanku, kicauannya kembali ramai…bagaimana tidak, semua sambungan keramiknya jadi terlihat aneh, tidak rata tidak ada unsur seni katanya…lagian kalau mau lihat pentas seni bukan di kamar mandi maliiiihhh……noh sana pergi ke Taman Ismail Marzuki. Belum pernah kan ngeliat Akuntan main semen…ya kayak gini ini deh hasilnya….jadi jangan dibilang gak ada unsur seni, justru ini unsur seninya udah tingkat dewa…bayangin Jhon…biasa melakukan seni lewat angka angka nah sekarang melakukan seni lewat semen…belum lagi mouse yang harus diganti kape…kertas kerja yang diganti dinding bak mandi…rumus straight line methode yang diganti dengan rumus ngitung campuran air dengan semen emang gak susah….kalo uang sampai recehan juga keliatan Eddy…nah kalo semen coba itung deh tuh berapa butir disetiap sendoknya…justru inilah yang dinamakan seni tingkat dewa…ternyata jadi penghianat ilmu itu gak enak ya…

     Ya sutralah…sambil nunggu tuh semen kering, aku bantuin istri yang lagi bikin kue buat pesenan besok deh…yang penting kicauannya berubah jadi desahan manja…tapi tunggu dulu…emang ada akuntan bikin kue…nah ini nih penghiatana ilmu yang kedua kalinya….emang ternyata seni itu ada dimana mana…ruarrrr binasa….

Iklan

2 comments on “Nambal Bak Mandi-Bagian Pertama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s