Sebuah Re-Writer : Depok 1978


 

     Depok di tahun 1978, tahun dimana untuk pertama kalinya aku diajak Bapakku untuk melihat calon rumah kami di Perumnas Depok II Tengah yang rencananya akan kami tempati tahun depan. Kala itu usiaku genap 6 tahun, masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak di kawasan elite Menteng Jakarta Selatan, tepatnya di Jalan Tegal 10, sekarang lebih dikenal dengan SD Menteng 02 pagi Del Peru. Perjalanan kami mulai dengan menaiki kereta api ke arah Bogor, meski pada saat itu kereta rel listrik (KRL) sudah ada dan masih sangat nyaman untuk para penumpang, tapi Bapakku memilih naik kereta api diesel buatan Jerman dengan lokomotif berwarna hijau. Yang aku tahu orang sering menyebutnya kereta langsam. Penumpangnya adalah para buruh, petani atau pedagang. Kereta itupun juga sangat nyaman, meski bangkunya hanya terbuat dari rajutan kayu rotan, tapi kami bisa memilih duduk bebas dimana kami mau.

     Kereta ini bermasalah dengan panjang gerbongnya, biasanya KRL terdiri dari hanya delapan gerbong, tapi kereta langsam ini kadang terdiri dari sepuluh hingga dua belas gerbong, sebagai permakluman bahwa kereta ini menjadi alat transportasi yang efesien bagi penumpang yang berasal dari daerah Sukabumi dan Bogor yang hendak menjual hasil ladang atau peternakanya ke Jakarta. Sehingga terkadang bila berhenti di satu stasiun, gerbong paling akhir masih menghalangi jalan diperlintasan kereta api, terutama di stasiun Depok Baru. Apalagi saat itu jalur kereta api Jakarta Bogor hanya ada satu jalur saja, sehingga harus dipakai secara bergantian. Satu lagi, naik kereta ini kami bisa tidak dikenakan tiket, alias gratis. Mungkin itu yang di inginkan Bapakku, naik kereta gratis dari Jakarta ke Depok. Walau terkadang masih ada masinis yang menagih tiket tapi itu jarang sekali. Satu persatu stasiun kami lalui, sepanjang perjalanan yang kami lihat hanya kebun atau tanah lapang yang sepi dan tak terurus, masih banyak terdapat kebun jambu batu atau yang dikenal dengan jambu klutuk dan pohon rambutan dengan buah yang lebat, kadang ada beberapa gembala kerbau, kambing atau sapi di sana. Maklum saja tahun 1978 sepanjang Jakarta Bogor masih belum terlihat pembangunan seperti sekarang, tapi jujur, kondisinya aku pikir malah lebih baik dari sekarang.

       Didalam kereta yang kami temui hanyalah beberapa pedagang asongan yang menjajakan makanan khas daerahnya, misalnya di stasiun Pasar Minggu akan ada pedagang buah atau asinan/manisan jambu air manis yang dibungkus plastik atau es buah pepaya yang dibekukan. Mungkin sekarang kita tidak akan menemukan jenis jajanan seperti itu lagi di kereta api yang sekarang. Harganya juga cukup murah, dengan Rp. 25,- kami bisa mendapatkan dua bungkus manisan jambu air, lalu dengan Rp. 30,- kami bisa membeli dua gelas tuak, air manis dari perasan nira yang didinginkan dengan es didalam sebuah tabung bambu yang besar. Hmmm….rasanya segar sekali, sekarang kalo kita mencari pedagang itu rasanya sampai kita botak tujuh kali gak akan bisa menemukannya. Sesampai distasiun Depok, aku merasa bahwa tempat ini primitif sekali, suasananya sungguh-sungguh asri, bahasa yang digunakan masih menggunakan bahasa Sunda Bogor. Stasiunnya sudah sangat kuno, dengan jam dinding bulat besar yang menempel tepat dipintu masuk stasiun.

stasiun-depok-lama

                                             (Gambar diatas dan dibawah diunggah dari Mbah Google)

Stadela

      Inilah adalah salah satu stasiun kereta api buatan Belanda yang masih berdiri hingga akhir 1985. Bapakku mengajak aku untuk mampir dulu di warung tauge rebus, tepat disamping stasiun. Disitu juga terdapat warung gado-gado, toko dodol Depok, serabi, tahu Bogor dan macam-macam lagi. Dikedai tauge rebus itu terdapat tulisan “Tauge rebus oncom bumbu tauco asli Bogor” (aku terus saja mengingat tulisan itu sampai berkali-kali, mungkin karena saat itu aku belum pandai membaca). Dan baru kali itu juga saya tahu seperti apa bentuk dan rasanya, karena baru pertama makan makanan yang berbumbu tauco aku merasa agak mual, aku tahu harga seporsinya saat itu Rp. 25,- sangat murah, berisi tauge, oncom, mie kuning, tahu dan krupuk tanpa rasa berwarna merah dengan bumbu pasta racikan tauco dan apalah namanya. Sekarang sudah jarang yang berjualan seperti itu lagi. Makanan jenis itu sudah hilang dan kalah pamor dan gengsi oleh makanan-makanan cepat saji atau malah oleh makanan gorengan yang sekarang semakin banyak beredar.

     Setelah selesai makan kami mencari angkutan yang menuju Perumnas Depok II. Saat itu jarang sekali angkot seperti sekarang, yang banyak bertebaran adalah kendaraan jenis oplet atau austin dan delman. Oplet yang pernah saya tahu adalah kendaraan yang sebagian besar body-nya terbuat dari kayu dengan jendela terbuat dari terpal atau plastik, dengan kursi penumpang sejajar kiri kanan seperti angkot sekarang. Sedangkan Austin berukuran lebih besar dengan kursi penumpang menghadap kedepan, mirip dengan angkutan luar kota Bogor-Sukabumi, mungkin kalo sekarang kita mengenal dengan jenis Mitsubishi L-300. Untuk naik kendaraan itu kita harus sabar menunggu sampai penuh, padahal saat itu bisa dihitung berapa penumpang yang mau naik mobil, rata-rata mereka lebih suka berjalan kaki, dimana situasi udara dan cuaca Depok tahun itu masih bisa dibilang sejuk, bahkan untuk ukuran kami yang dari Jakarta udara Depok pukul 11.00 WIB siang masih terasa dingin, sungguh. Nikmat sekali. Pohon-pohon beringin, bambu, rambutan, angsana dan beragam jenis pohon buah masih banyak bertebaran meneduhi sepanjang jalan Margonda dan Tole iskandar. Bahkan bila melalui jalan Tole iskandar menuju Perumnas, kita akan disuguhi pemandangan yang teduh, dimana banyak pohon bambu yang tebal dan rimbun saling bersentuhan antara kedua sisi jalan, sehingga seakan-akan kita memasuki goa saja layaknya.

     Terlebih ketika akan melewati jembatan panus, jalan yang meliuk-liuk turun naik terasa mengasyikan. Sungai ciliwung saat itu masih terlihat bening, banyak orang yang memanfaatkannya untuk mencuci dan mandi. Suatu saat aku akan ceritakan nikmatnya mandi dikali ciliwung di tahun 1979.Karena Bapak tidak mau terlalu lama menunggu kami sepakat untuk naik delman saja, tawar menawar harga terjadi dan bapak setuju dengan ongkos Rp. 125,- sampai tujuan, itu dikarenakan hanya kami saja yang menaiki delman itu, padahal bila normal delman itu bisa mengangkut 6 orang penumpang. Saya sangat menikmati perjalanan dengan delman, terlebih ketika jalan menurun dan berkelok-kelok, sepanjang jalan banyak bertaburan buah rambutan, kecapi, buah buni (buah ini sekarang sangat sulit ditemukan atau bahkan mungkin sudah punah) atau bahkan buah nangka yang dibiarkan matang membusuk dipohonnya karena tak ada yang memetik, sayang sekali. Saya berteriak-teriak gembira ketika delman melintasi jembatan panus (Jembatan yang dibuat pada masa kolonial Belanda) dimana disungai ciliwung saya melihat anak-anak dan para orang tua beraktifitas dengan kegiatannya.

     Harmonisasi kehidupan pedesaan sangat terasa, damai sekali hatiku saat itu. Sepanjang perjalanan Bapak dan kusir saling bertukar cerita, akrab sekali, sedangkan aku tak bisa diam, sesekali tanganku mencoba meraih buah rambutan masak yang menjulur kejalan, dan ketika melewati “gua” pohon bambu aku merangsek kepelukkan Bapak, takut sekali, suara serangga dan desiran angin yang menerpa daun bambu seakan menciptakan suasana horor, sepi, dingin dan menyeramkan. Kusir delman hanya tersenyum saja. Oya saat itu masih banyak kerbau, sapi, kambing dan bebek yang di gembalakan sepanjang pinggir jalan, aku jadi takjub, mungkin karena di Jakarta tak ada pemandangan seperti itu.

Ketika memasuki jalan Sentosa Raya, saya mulai melihat banyak perumahan baru yang berjajar rapi sepanjang mata memandang, jalannya rata dan halus dengan aspal yang hitam mengkilap namun disini terasa gersang, itu mungkin karena pohon yang ditebangi dalam masa pembangunan belum lagi tumbuh. Hanya ilalang dan semak berduri yang banyak tumbuh di halaman rumah yang belum ditempati. Masih terdapat beberapa rumah asli penduduk Depok yang tak terkena proyek pembangunan, di setiap rumah aku melihat pasti ada satu ekor kuda dan gerobaknya. BapaK bilang bahwa saat itu penduduk Depok banyak yang bekerja sebagai kusir delman atau petani dan peternak ayam atau kambing. Ooo..begitu rupanya, pantas saja banyak sekali aku temui kuda di Depok saat itu.

Sepanjang jalan saya selalu bertanya pada Bapak apa tulisan-tulisan yang ada ditiang-tiang sepanjang jalan sentosa Raya, Bapak menjelaskan bahwa itu adalah nama jalan yang menandai di setiap gang jalan, ada nama jalan Flamboyan, Jalan Beringin, jalan Waru, Jalan Merdeka Raya, Jalan Serimpi, Jalan Dadap dan lain-lainnya. Rumah kami di jalan Pajaga I dan harus memasuki jalan Raya Angin Mamiri terlebih dahulu untuk sampai kesana. Saat itu pertama kali saya melihat calon rumah baru kami yang akan kami tempati hingga sampai saat ini. Rumah sederhana dengan tembok dari batu bata putih, halaman tanpa pagar, dua buah jendela kaca dengan ventilasi udara yang sangat sederhana terbuat dari kayu, beratap asbes putih, berlantai semen tanpa keramik dua pintu dan satu rumah dibagi dua. Selokan pembuangan air yang kecil di depan rumah rapi menjulur dari ujung ke ujung gang yang bermuara pada selokan berukuran lebih besar. Tumbuhan semak berduri tumbuh tak beraturan, demikian juga dengan ilalang yang menutupi pekarangan rumahku. Belum ada kabel listrik dan belum ada saluran air. Banyak terdapat serangga yang sebelumnya belum pernah saya lihat di Jakarta, ada belalang sembah yang di Jakarta disebut dengan cangcorang (sekarang saya tahu ternyata jurus andalan yang di pakai Bruce lee berasal dari makhluk hijau bermata belo bertangan panjang dan kurus tapi mengerikan ini), Ada sarang burung gereja dengan beberapa butir telur diatas ventilasi udara rumah kami saat itu, aku menangis dan memohon pada Bapak untuk mengambilkannya, namun Bapak menolak.

Setelah kami puas melihat-lihat situasi perumahan yang masih baru itu, Bapak mengajakku pulang. Tentu saja saya senang sekali, karena saat itu aku sudah mencapai taraf “bosan” yang luar biasa, karena sepi dan terasa panas disiang hari. Selama hampir 3 jam disana kami hanya menemui pedagang es cincau saja yang ada, itu belum cukup untuk menutupi rasa lapar yang mendera perutku. Kami pulang dengan berjalan kaki menuju jalan Angin Mamiri, disana mungkin akan ada kendaraan oplet atau austin yang lewat untuk menuju stasiun Depok Lama, meski aku berharap bahwa aku lebih senang jika pulang dengan naik delman lagi. Hampir sejam kami menunggu di pinggir jalan Sentosa Raya yang panas dan berdebu sampai kemudian datang kendaraan yang dimaksud. Belum lima menit didalam kendaraan aku tertidur pulas di pelukkan Bapak, mungkin rasa lelah yang mendera menjadikan aku cepat sekali tertidur, terlebih lagi oplet berjalan sangat lambat dengan desir angin sepoi-sepoi dari jendela terpalnya yang terbuka menambah kantukku kian menjadi. Aku sudah tak ingat apa-apa lagi sampai aku tersadar ketika mendengar pluit kereta api yang akan membawaku kembali ke Jakarta, di dalam kereta api aku tetap tertidur, pulas membawa mimpi atas sungai ciliwung, buah rambutan. seramnya pohon bambu, cangcorang dan telur burung gereja yang sampai saat ini tak pernah aku miliki.

oplet

                                                                 (Gambar Oplet diunggah dari Google)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s