Pedagang Nasi Goreng Yang Licik


          Mungkin lebih dari 90% orang di Jakarta pernah membeli nasi goreng dipinggir jalan, bahkan menjadi langganan sepulang kerja untuk mempir sebentar mengisi perut ditengah perjalanan. Meski tidak setiap saat makan nasi goreng karena memang makanan favorite pinggir jalan saya adalah ketoprak, terkadang manyempatkan juga untuk mampir jika dilihat banyak antrian di kedai nasi goreng pinggir tertentu, ya sekedar ingin menghilangkan penasaran “Se-enak apakah nasi goreng ini hingga sampai antri seperti itu”.

     Sebetulnya, jika kita mau perhatikan, antrian dari belasan hingga puluhan orang konsumen tersebut, merupakan suatu kesempatan bagi penjualnya untuk berbuat curang dalam hal penyajian masakannya. Memang nilai kecurangannya tidak terlalu signifikan jika dilihat secara material, namun jika kita adalah seseorang yang mengutamakan sesuatunya seimbang antara “hak” dan “kewajiban”, maka hal atas kecurangan tersebut akan terlihat tidak nyaman dimata dan di hati. Sungguh, meski hanya karena sebutir telur hal ini akan berpengaruh besar terhadap “Going Concern” sang pedagang nasi goreng.

      Seperti yang saya alami jum’at malam lalu, sepulang kerja saya menyempatkan untuk mampir dikedai nasi goreng sekitaran Lenteng Agung. Sedari siang tadi saya memang kehilangan mood untuk makan nasi atau apapun. Pesta rujak buah dan asinan betawi di kantor adalah penyebabnya. Maklum pelaksana party-nya adalah wanita, terlebih para big boss dari semuat Direktorat saat jum’at kemaren ada acara keluar kota. Kapan lagi bikin party meski hanya setengah hari. Okelah gak usah ngomongin party, cerita berlanjut ke-rasa lapar yang tiba-tiba mendera  ditengah perjalanan. Selesai menunaikan ibadah shalat maghrib di Komplek BIN Pasar Minggu, saya mulai berburu kedai makan dipinggir jalan. Disepanjang jalan berjajar bermacam pedagang siap saji, namun mata tertuju pada salah satu kedai nasi yang tidak terlalu penuh, ada sekitar 5 pembeli yang sedang antri. Okelah, disini saja dengan harapan tidak terlalu lama menunggu dan cepat selesai memenuhi hasrat biologis. Sambil menunggu giliran gadget ditangan jadi solusi mengusir penat.

Gambar adalah ilustrasi yang diambil dari Google

Gambar adalah ilustrasi yang diambil dari Google

      Tiba giliran pesanan saya dibuat nasi goreng kambing pedas yang kebetulan berbarengan dengan suami istri yang juga mampir untuk membeli nasgor. Sang istri memperhatikan sang penjual yang siap memasak pesanan kita. Tiba-tiba saja saya dengan sang wanita berucap :…“ini nasi gorengnya untuk berapa porsi Bang…?”…Sang penjual berkata :…“Sekalian Bu, untuk tiga porsi…kebetulan menunya sama…”.  Sang wanita berkata lagi : …”Kalau untuk tiga porsi, kenapa telurnya hanya satu…semestinya khan tiga butir Bang…!?”… Sang penjual berkata lagi :…“Biar cepat bu, yang ngantri banyak nih…”. Mendengar jawaban sang penjual si wanita terlihat kurang senang, saya pun menjadi tidak nyaman ketika hak saya dan juga hak suami istri itu dirampas dengan cara yang tidak baik, terlebih alasannya tidak masuk akal. Ini adalah kecurangan publik yang disajikan secara terang-terangan. Tanpa disangka sang pria yang bersamanya berkata :…“Kalau begitu jatah sisa dua telur kami di goreng dadar saja dan dibagi tiga Bang…”. Sang penjual rasanya tidak peka terhadap empati yang disampaikan, dia malah berkata :…“kalau di goreng dadar lagi beda harga Pak…!?!”.   Sang Pria berdiri dari tempat duduknya dan terlihat berang, lalu berkata :…“Kamu ini gimana sih, kami membeli dua porsi nasi goreng kambing dengan harga dua porsi nasi goreng kambing…lalu kalau kami  membayar kewajiban dua porsi untuk itu, maka kami juga punya hak atas menu lengkap dua porsi itu pula…ini tidak, kamu hanya menggunakan satu telur untuk tiga porsi nasi…kalau begini caranya kamu bukan pedagang jujur…ini licik namanya…!!”. 

       Wah…ini sudah tidak kondusif lagi situasinya, terlebih pembeli yang antri juga berkomentar mendukung sang suami istri. Memang seharusnya begitu, sejatinya pembeli dan penjual sama-sama untung dimana keuntungan yang didapat harus disepakati terlebih dahulu, tidak ada kecurangan walau setitikpun, karena hal itu akan merusak akad perjanjian jual beli. Jadi jika kita sepakat akan membayar penuh barang yang akan kita beli, maka penjual juga harus memberikan barang dagangannya secara penuh sesuai dengan kesepakatan yang telah disepakati. Dalam satu porsi nasi goreng kambing salah satunya harus disertai satu butir telur sebagai pelengkap sajian, maka jika ada tiga porsi nasi goreng kambing, sejatinya harus ada tiga butir telur sebagai sajian pelengkapnya,…setuju ..?. Seandainya dalam tiga porsi nasi goreng kambing hanya menyertakan satu butir telur saja maka transaksi ini disebut gagal dan menggugurkan akad atau etika jual beli. Saya bukan ahli ekonomi apalagi dalam hal jual beli, tapi setidaknya apa yang dilakukan oleh sang penjual tadi adalah sebuah kesalahan dan ini akan berdampak pada Going Concern usahanya.

Gambar adalah ilustrasi yang diambil dari Google

Gambar adalah ilustrasi yang diambil dari Google

     Akhirnya sang pedangang mengalah (aku pikir bukan mengalah…tapi membayar kesalahan) dengan menggoreng lagi tiga butir telur yang didadar dan disajikan kepiring kita masing-masing sebagai sajian pelengkapnya. Dan suami istri itu bersedia membayar lebih untuk satu butir telur yang dicampur untuk tiga porsi tadi. Akhirnya saya yang bingung…saya membayar kewajiban saya dengan harga satu porsi nasi goreng kambing, namun saya mendapatkan hak saya dengan porsi satu nasi goreng kambing  plus sepertiga jumlah satu telur dibagi tiga…halllllaaaaahhhhh…sebegitu repotnya…kalau begini siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan…?

    Sudahlah…perut ini sudah lapar dan aroma kambing itu jujur menggugah selera makan saya, yang penting saya sudah bernego dengan sang suami istri itu namun mereka rela untuk satu butir telur itu, ya sudahlah terima kasih banyak ya….

     Sampai rumah tepat 20.05 WIB, mandi, berbincang dengan anak istri lalu istirahat….Hoooooaaaaaahhhhh…mimpi indah.

Lenteng Agung, 12 April 2013, pukul  19.15 WIB

Iklan

9 comments on “Pedagang Nasi Goreng Yang Licik

    • Ada kemungkinan seperti itu…kalau menurut pembeli yang lain, katanya suka ngurangin jatah telur kalau ada yang beli borongan…Kasihan juga…okelah thanks ya udah mampir lagi

    • Alhamdulillah ya…tapi perlu juga di coba mbak beli nasi goreng sekaligus untuk 3 porsi lalu perhatikan…Tapi insya Allah hanya satu aja yang begitu ya mbak…Terima kasih udah mampir…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s