Memiliki Ukuran Besar itu Terkadang Menyusahkan…Sumpah…!


 

     Ada ungkapan “Ukuran Bukan Masalah” dan “Besar Adalah Indah” terkadang bisa benar dalam situasi tertentu. Namun, bagi saya sendiri secara pribadi ukuran sangat menentukan sebuah kinerja. Ukuran yang besar atau tepatnya “yang lebih besar dari standar” tentunya akan memberikan dampak yang cukup signifikan bagi perasaan dan emosi seseorang, tak terkecuali saya secara pribadi. Terlebih jika bisa digunakan sebagaimana mestinya dan tidak menimbulkan masalah yang berarti.

      Sudah lama saya menyadari bahwa “yang lebih dari standar” itu bisa mendatangkan kepercayaan diri dan kenikmatan atau dalam konteks ini saya lebih suka menyebutnya dengan “ke-asyik-an” tersendiri. Oleh sebab itu saya sering berdebat dengan sesama teman kantor mengenai masalah ukuran yang satu ini. Saya berpendapat bahwa yang lebih besar itu lebih mantap dan lebih disukai. Namun, ada juga sahabat yang berpendapat bahwa ukuran yang lebih kecil itu lebih lincah dalam bermanufer dan galak. Yang memiliki ukuran standar berpendapat bahwa yang ukuran standar lebih sesuai dan lebih aman digunakan. Memang saya tak bisa bersifat arogan dalam hal ini. Kami memiliki pendapat dan alasan yang berbeda satu sama lain dalam hal ini, terlebih jika dikaitkan dengan “kepemilikan” dan “manfaat” masing-masing. Namun setelah kejadian sampai dengan minggu kemarin, pendapat saya akan ukuran yang lebih besar dari standar ternyata tak selamanya benar.

     Sudah seharian sejak Sabtu pagi saat jam bengkel buka sampai dengan sore hari waktu menjelang bengkel tutup, di lokasi tempat tinggal sekitaran Depok-UI-Lenteng Agung, saya sangat kewalahan mencari ban dalam ukuran yang lebih besar dari standar. Ban motor ane ukuran lingkaran velg adalah 18 dengan ukuran ban luar 110/80. Karena suatu hal, jum’at sore sepulang kerja ban belakang motor terkena logam panjang sepanjang 10 Cm…gak tanggung-2…10 Cm dan langsung bengkok didalam sehingga membuat sayatan pada ban dalam yang akibatnya tak bisa ditambal lagi. Perjalan ke rumah masih penuh perjuangan…kejadian ini terjadi setelah melewati underpass Pasar Minggu.

     Beberapa bengkel pinggir jalan malam itu tak menyediakan ban dalam dengan ukuran sebesar itu. Melelahkan mesti mendorong motor mencari bengkel yang menyediakan ban dalam sesuai ukuran. Rata-rata bengkel hanya memiliki ukuran 17 dan 14. Mungkin buat bebek atau matic. Sekalipun ada untuk kaliber 18, namun ukurannya tak sesuai ban luar.

     Sudahlah, malam semakin larut sebagian besar bengkel sudah tutup. Harus ada yang dikorbankan disini, aku atau roda motor ini. Aku pilih mengorbankan roda saja, biarlah besok bisa sekalian setel velg kalau memang bengkok yang pasti aku bisa segera sampai rumah dan istirahat.

     Minggu pagi pencarian ban dalam berlanjut ke daerah jalan raya bogor, alhamdulillah…akhirnya ukuran yang sesuai dan pas dengan selera ditemukan juga. Saya harus menebusnya dengan harga Rp. 37.000 merek swallow. Jujur, dua hari mengendarai metic istri rasanya pantat ini kapalan. Ternyata metic itu memiliki pegas yang tidak bersahabat alias sangat keras. Entahlah itu hanya perasaan saja atau karena tak biasa. Yang pasti odong-odong metic itu telah berjasa membantuku mencari ban dalam.

     Ternyata pendapat salah seorang sahabat yang memiliki ukuran standar lebih banyak sedikit benarnya, “Lebih sesuai dan lebih aman digunakan” …..tapi tetap saja buat aku pribadi, ukuran yang lebih dari standar lebih membuat percaya diri dan asyik digunakan…..ada yang mau nambahin….hehehe.

pisang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s