Cerita Soal Jembatan Penyeberangan…


Jika harus memilih untuk menyeberang jalan, mungkin sebagian besar orang termasuk saya akan memilih menyeberang jalan dengan cara yang tidak melelahkan dan cepat dilakukan. Meskipun semua tahu bahaya dan resiko yang ditanggung tidak main-main, cacat fisik atau bahkan nyawa taruhannya. Terlebih di jalan raya Jakarta. Dalam hal ini Dinas Perhubungan (CMIIW) sudah berusaha untuk memfasilitasi sarana dan marka jalan bagi pengendara ataupun pejalan kaki. Seperti pembuatan jembatan penyebrangan, zebracross atau lampu bagi penyeberang jalan.

Namun tidak dipungkiri bahwa masih banyak para pejalan kaki yang memilih untuk menyeberang tanpa menggunakan jembatan penyeberangan. Banyak alasan yang menjadikan mereka dan mungkin juga saya untuk memilih menyeberang tanpa menggunakan sarana penyeberangan yang disediakan. Saya punya alasan yang klise, pertama, capek kalo harus nanjak dulu untuk menyeberang, kedua, gak nyaman rasanya kalo harus berbagi tempat dengan kaki lima yang berdagang di jembatan penyeberangan bahkan tukang ojek, ketiga, rasa tidak aman ketika harus menyeberang dimana banyak sekumpulan orang gak jelas nongkrong di jembatan penyeberangan (preman, pengamen dan pengemis kadang ada juga banci yang lagi arisan), keempat, saya memiliki phobia ketinggian dan menjadi berkeringat dan berdebar-debar ketika melihat kebawah. belum lagi efek lain yang ditimbulkan dari menyeberang tidak ditempatnya seperti, kemacetan dan kesemrawutan. Namun terlepas dari semua alasan saya tadi, MENYEBERANG BUKAN DITEMPATNYA ADALAH SEBUAH KESALAHAN BESAR…!.

Dari Google Mungkin bagi sebagian besar orang, alasan saya yang pertama adalah merupakan alasan terbesar bagi mereka juga, CAPEK KALAU HARUS NANJAK DULU…apalagi kalau nanjaknya sambil bawa barang belanjaan berkilo-kilo, bareng orangtua pulak, bawa anak pulak, belum lagi kalau menyeberangnya di tengah hari bolong…panas cuy…oiya perlu di ingat, di Jakarta itu mataharinya satu orang dua…jadi bisa dibayangkan betapa panasnya kota Jakarta. Memang sudah ada banyak penyeberangan yang menggunakan atap penyeberangan, tapi biasanya lokasinya ada disekitaran ring satu dan dua saja, sekitaran Istana Negara, jalan Jenderal Sudirman, Kuningan, Gatot Subroto atau di sekitaran gedung-gedung pemerintahan. Bahkan ada beberapa jembatan yang dilengkapi dengan fasilitas lift yang sejatinya hanya digunakan bagi penyeberang cacat fisik, bagus juga.

Jembatan dengan lift

 Seandainya Dinas Perhubungan mau bekerjasama dengan Batman, mungkin bisa meciptakan sebuah jebakan yang ampuh bagi penyeberang jalan dan ini juga buat kebaikan bagi si peneyeberang jalan itu sendiri termasuk saya. Tapi sebetulnya cara ini bisa dilakukan bagi Dinas Perhubungan tanpa campur tangan Batman.

Semua gambar diunduh dari google

Semua gambar diunduh dari google

 Dari alasan saya yang pertama yang juga menjadi alasan favorite sebagian besar para penyeberang jalan, sebetulnya bisa dianalisa bahwa sebagian orang kita itu adalah pemalas….! bahkan demi kebaikan diri sendiripun mereka malas dan lebih memilih resiko yang lebih besar. Bayangkan saja, demi tidak  mau nanjak dulu saat menyeberang, keselamatan nyawa diabaikan. Disini mestinya Dinas Perhubungan harus merubah sistem penyeberangan yang telah ada. Dari harus nanjak dulu diganti dengan harus turun dulu. Artinya jembatan penyeberangan yang telah ada diganti dengan lorong penyeberangan, dimana saat menyeberang sang penyeberang tidak harus nanjak dulu tapi harus turun dulu. Inilah kuncinya, orang kita itu harus dikasih enak dulu atau tepatnya lebih suka memilih enak dulu dan untuk selanjutnya terserah nanti.

Google juga

Google juga

Saya jamin, alasan pertama akan dilupakan, dan beberapa alasan lain juga bisa dieliminasi. Semoga saja nanti kedepannya semua jembatan penyeberangan akan berganti menjadi lorong penyeberangan, apalagi kalo semua lorong penyeberangan dilengkapi dengan fasilitas yang standar, seperti ada pendingin udara, toilet, tempat sampah, kios-kios dagangan, perpustakaan, multimedia gratis, restauran, cafe, butik, bioskop, spasauna, pijat, hotel kalau perlu ada lapangan futsal-nya, gak pake panas dan jantung berdebar-debar karena ketinggian….pasti gak ada penyeberang jalan yang punya alasan aneh-aneh lagi, selain nyawa aman tentram nempel ditubuh, peraturan bisa ditaati dengan benar, jiwa dan raga pun juga nyaman dengan fasilitas yang ada di lorong penyeberangan…

 Jadi gak perlulah ada jebakan Batman.

Batman

 Ada yang sependapat atau ada yang mau komentar, monggo silahkan…..

Iklan

2 comments on “Cerita Soal Jembatan Penyeberangan…

  1. miris y mas.. tnda tngkt edukasi n kedewasaan msyrakt msh blm merata. kdng tngkt edukasi mnntukan pola pkir n kesadaran mayrakt khusuny trhdp fasilitas publik trmsuk jg pra pedagang y bnyk menggangg fasilitas publik.

    smg pmrintah trs mmbenahi infrastruktur publik, pnegakan kedisiplinan n edukasi bg msyrkr.

    • Setuju tuh…sampai saat ini masih belum bagus sosialisasinya, prasarananya juga belum maksimal…semoga ditahun mendatang lebih baik. thanks udah mampir lagi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s