Saatnya Saya Menyerah


     Setelah dua minggu bertahan dengan GL Max Sakti menembus hujan badai pagi saat berangkat kerja dan sore menjelang malam sepulang kerja, katahan phisik, mental, emosional dan spiritual, akhirnya saya harus mengaku kalah oleh kekuatan alam yang tak terbantahkan. Sebetulnya sudah sejak seminggu lalu, ketika Jakarta di hujami oleh hujan lebat tak terkira selama nyaris 24 jam nonstop, phisik ini sudah melemah. tiga Jaket hujan yang tersedia, yang dipakai secara bergiliran setiap hari ternyata tak mampu mendukung kekuatan phisik untuk dapat selalu fit. Suplemen harian yang ditambahkan juga tak mampu mengembalikan kekuatan seperti semula. Terlebih sekarang Jakarta sudah mulai memasuki tahap siaga super 1 akan hadirnya banjir besar.

     Sejak senin saya memutuskan untuk meng-kandangkan dulu GL Max sakti untuk beberapa hari kedepan, setelah melihat peningkatan air sungai Ciliwung meningkat tajam. Dan puncaknya adalah hari ini. Kalibata, Kampung Melayu dan Jatinegara yang merupakan jalur utama saya berkendara saya terkena banjir. Beberapa teman kantor datang terlambat hari ini, namun Alhamdulillah saya masih bisa datang tepat waktu karena naik transportasi alternatif, yaitu kereta listrik.

     Resiko yang dihadapi selama hujan badai diperjalanan bukanlah hal yang main-main. Yang saya ketahui, jalan raya di Ibukota tak selamanya halus mulus, banyak lobang besar menganga dibeberapa ruas jalan. Bisa dibayangkan jika banjir atau genangan menutupi lobang. Pengendara tak akan tahu jika ada lobang jika tertutup air, jika tak waspada fatal akibatnya. Belum lagi usia pepohonan di sepanjang jalan ibukota yang saya nilai sudah cukup banyak berusia tua dan siap rubuh diterjang angin besar, papan reklame atau para pengendara yang ugal-ugalan dijalan licin. Saatnya saya berfikir positif, ini juga demi keselamatan jiwa diri sendiri. Jika memang merasa diri sudah tak bernyali menghadapi situasi seperti sekarang ini, maka sebaiknya mengalah saja untuk mengakuinya, toh mengalah demi kebaikan diri juga tak nista-nista amat…..hehe

     Okelah,…semua kembali pada diri masing-masing kita, karena hanya kita sendirilah yang tahu mana yang terbaik buat kita.

     Yah, semua kegiatan manusia ternyata tak selamanya bisa dilakukan tanpa ada gangguan. Gangguan alam terkadang bisa membuat efek yang sangat kompleks sifatnya. Dengan hanya diturunkannya hujan, semua bisa jadi wassalam.

      Tak selamanya manusia bisa selalu berjaya atas kemampuannya, ada saatnya kita harus mengalah dan mengaku kalah oleh kekuatan alam yang bagaimanapun manusia berusaha menghalangi namun tetap tak mampu juga menghadapi.

       Saatnya kita di-rehat-kan oleh tanda-tanda kekuasaan-Nya melalui alam, agar kita selalu ingat bahwa kita bukan siapa-siapa bagi-Nya, ini hanya sekedar peringatan kecil untuk semua, peringatan untuk agar kita selalu tunduk dan patuh kepada-Nya.

Jakarta, 16 Januari 2013

Memasuki Bandir Besar di Ibukota.

Iklan

2 comments on “Saatnya Saya Menyerah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s