Saatnya Saya Menyerah 2


 

   Kalau kemarin saya menulis tentang kepasrahan dan ke-menyerah-an saya atas ketidakberanian menggunakan sepeda motor menuju kantor dan pulang kantor dikarenakan cuaca ekstrem yang sedang terjadi di Jakarta selama beberapa minggu lalu, hari ini saya menulis tentang kepasrahan dan ke-menyerah-an saya atas moda transportasi yang sangat saya andalkan sebagai alat transportasi. Kereta Listrik.

     Dua minggu yang lalu saya memutuskan untuk mengganti sementara moda transportasi saya dari semula naik GL Max sakti dengan menggunakan moda tranportasi kereta listrik. Saya cukup berhasil mencari solusi saat dimana saya menyerah melihat kondisi cuaca ekstrem yang terjadi di Jakarta beberapa minggu lalu. Saya cukup tenang ketika masih bisa sampai kantor tepat waktu dengan kereta, dan saya bisa nyaman ketika para pengendara motor lain harus berjibaku dijalan dengan halangan angin dan curah hujan yang dasyat pada pagi dan sore hari. Saya masih sehat hingga detik terakhir  hari Rabu kemarin.

     Tapi ternyata hujan yang menguyur Puncak, Bogor, Depok dan Jakarta sendiri pada malam kamis membuat ketenangan dan kenyamanan saya kembali terusik. Ditandai kereta yang telat datang pada kamis pagi dan lambatnya kereta berjalan sempet menjadi pertanyaan saya dalam hati. Ini pasti ada apa-apanya….

     Dinginnya pendingin udara dalam kereta membuat saya sempat menggigil, entah mungkin karena sebelumnya saya terkena hujan waktu menuju stasiun atau memang kondisi tubuh sudah ada tanda-tanda menurun. Firasat buruk makin kuat ketika memasuki stasiun manggarai kereta sempat tertahan hampir selama 1 jam. Ditambah lagi wilayah sekitar Tebet dan Bukit Duri yang sempat terlihat dari kereta sudah mulai tergenang air setinggi betis. Diluar hujan makin deras, AC didalam kereta semakin dingin.

      Firasat buruk benar-benar terjadi. Memasuki stasiun Manggarai, Kepala Stasiun memngumumkan bahwa kereta tak bisa melanjutkan perjalanan sampai tujuan, dengan kata lain kereta hanya sampai di stasiun Manggarai. Matilah Awak. Jam sudah menunjukkan 08.55 WIB. Seharusnya saya sudah sampai pada pukul 07.15 WIB dikantor. Hujan Makin deras. Saya pasrah tak bisa melanjutkan perjalanan ke Kantor. Berita terakhir dari televisi (HP yang ada televisinya) Jakarta dinyatakan banjir total. Cerita selanjutnya bisa pembaca saksikan ditelevisi…hehe.

     Untuk kali yang kedua saya menyerah dengan moda transportasi.

Kalo daerah ring satu aja sudah begini, bagaimana daerah yang lain...?(gambar ngambil dari Google)

Kalo daerah ring satu aja sudah begini, bagaimana daerah yang lain…?
(gambar ngambil dari Google)

Saatnya Saya Menyerah


     Setelah dua minggu bertahan dengan GL Max Sakti menembus hujan badai pagi saat berangkat kerja dan sore menjelang malam sepulang kerja, katahan phisik, mental, emosional dan spiritual, akhirnya saya harus mengaku kalah oleh kekuatan alam yang tak terbantahkan. Sebetulnya sudah sejak seminggu lalu, ketika Jakarta di hujami oleh hujan lebat tak terkira selama nyaris 24 jam nonstop, phisik ini sudah melemah. tiga Jaket hujan yang tersedia, yang dipakai secara bergiliran setiap hari ternyata tak mampu mendukung kekuatan phisik untuk dapat selalu fit. Suplemen harian yang ditambahkan juga tak mampu mengembalikan kekuatan seperti semula. Terlebih sekarang Jakarta sudah mulai memasuki tahap siaga super 1 akan hadirnya banjir besar.

     Sejak senin saya memutuskan untuk meng-kandangkan dulu GL Max sakti untuk beberapa hari kedepan, setelah melihat peningkatan air sungai Ciliwung meningkat tajam. Dan puncaknya adalah hari ini. Kalibata, Kampung Melayu dan Jatinegara yang merupakan jalur utama saya berkendara saya terkena banjir. Beberapa teman kantor datang terlambat hari ini, namun Alhamdulillah saya masih bisa datang tepat waktu karena naik transportasi alternatif, yaitu kereta listrik.

     Resiko yang dihadapi selama hujan badai diperjalanan bukanlah hal yang main-main. Yang saya ketahui, jalan raya di Ibukota tak selamanya halus mulus, banyak lobang besar menganga dibeberapa ruas jalan. Bisa dibayangkan jika banjir atau genangan menutupi lobang. Pengendara tak akan tahu jika ada lobang jika tertutup air, jika tak waspada fatal akibatnya. Belum lagi usia pepohonan di sepanjang jalan ibukota yang saya nilai sudah cukup banyak berusia tua dan siap rubuh diterjang angin besar, papan reklame atau para pengendara yang ugal-ugalan dijalan licin. Saatnya saya berfikir positif, ini juga demi keselamatan jiwa diri sendiri. Jika memang merasa diri sudah tak bernyali menghadapi situasi seperti sekarang ini, maka sebaiknya mengalah saja untuk mengakuinya, toh mengalah demi kebaikan diri juga tak nista-nista amat…..hehe

     Okelah,…semua kembali pada diri masing-masing kita, karena hanya kita sendirilah yang tahu mana yang terbaik buat kita.

     Yah, semua kegiatan manusia ternyata tak selamanya bisa dilakukan tanpa ada gangguan. Gangguan alam terkadang bisa membuat efek yang sangat kompleks sifatnya. Dengan hanya diturunkannya hujan, semua bisa jadi wassalam.

      Tak selamanya manusia bisa selalu berjaya atas kemampuannya, ada saatnya kita harus mengalah dan mengaku kalah oleh kekuatan alam yang bagaimanapun manusia berusaha menghalangi namun tetap tak mampu juga menghadapi.

       Saatnya kita di-rehat-kan oleh tanda-tanda kekuasaan-Nya melalui alam, agar kita selalu ingat bahwa kita bukan siapa-siapa bagi-Nya, ini hanya sekedar peringatan kecil untuk semua, peringatan untuk agar kita selalu tunduk dan patuh kepada-Nya.

Jakarta, 16 Januari 2013

Memasuki Bandir Besar di Ibukota.

Musim Yang Membuat Lelah…


     Sudah sebulan ini hampir tiap malam pulang kerja, perhatian saya jadi selalu tertuju pada tetangga sebelah rumah yang rajin mencuci motor barunya setiap malam. Rasanya sungguh kasihan dan terlihat melelahkan. Meski dalam hati tetap mengapresiasi sikapnya terhadap harta kesayangan yang dimilikinya.

     Jadi teringat masa-masa kuliah dulu ketika pertama kali dibelikan sepeda motor bebek Honda Grand. Gak sudi rasanya ada noda debu apalagi percikan noda kotor dimotor. Terlebih ketika saat akan pulang bersama sang kekasih pujaan, rasanya motor itu harus selalu terlihat kinclong agar “gak malu-malu-in” saat berboncengan bersama.

     Rasa kesal dan lelah makin terasa ketika berbarengan dengan musim hujan. Hampir tiap pulang kuliah saya pasti mencuci motor agar pada pagi harinya motor tetap terlihat kinclong dan siap menjemput kekasih hati pada pagi hari guna berangkat ke kampus bersama.

     Itu kisah dulu, kala motor masih baru. Tapi kini, perhatian terhadap motor dikalahkan dengan rasa lelah, terlebih sang kekasih pujaan hati sudah tak ada dan berganti status menjadi istri tercinta. Hehehe….istri selalu mewanti-wanti…”cucinya nanti aja sekalian hari Sabtu Mas, gak usah dicuci tiap hari…bikin capek aja deh…lagian ini musim hujan kali..”.

     Nasihat yang pintar. Toh jujur meski saya ingin motor saya terlihat selalu bersih, namun rasa lelah sepulang kerja dan usia yang sudah tak seheboh dulu menjadi alasan kuat mengikuti pesan istri tercinta. Mungkin dia juga tahu kondisiku tak sehebat dulu…hehehehe.

     Saya jadi berfikir, mungkin sebaiknya jika ingin membeli motor baru jangan pada saat di musim hujan seperti sekarang ini. Jujur akan sangat melelahkan jadinya kalau harus selalu mencuci motor barunya karena “sayang”. Tapi itu adalah hak. Terserah sih…..