Belajar Dari Wayang


  Ini sebetulnya sebuah karya Pertama tulisan satu paket dari Sang Sahabat bersamaan dengan judul “Terima kasih….! (Dari Jiwa Yang Galau)“, namun karena suatu hal aku terpaksa memproteksi karya Sang Sahabat tersebut sebelum aku mendapatkan izin darinya untuk dipublikasikan dalan blogku ini. Tak mengapa, masih banyak hari untuk dapat membujuknya.

Hello mas Hery, as I told you, herewith I sent you my writing which is involving you. I would like to put it on my blog, one day if I have more spare time to create one, if you don’t mind.

Most of the story is actually about my life, but you have given more less influence which I admit that it brings enlightment into my point of view.

But, I suggest you not to upload it to your blog because I would feel uncomfortable. However, you may upload the other one which title is “Bercermin pada Kumbakarna” if you would like to. OK, have a nice read, thank you for sparing your time and being such a nicely wise brother of mine.

Bercermin Pada Kumbakarna

     Kisah Kumbakarna saya dapatkan dari sebuah majalah bernama Cempala edisi lama, mungkin tahun 1997. Saya lupa edisi persisnya, yang jelas salah satu artikelnya menampilkan wejangan Almarhum Soeharto, Presiden di masa itu, untuk mengambil hikmah dari cerita pewayangan untuk menjadi pribadi manusia Indonesia yang arif, cinta tanah air, dan berani.

      Kumbakarna sendiri bukan orang, melainkan raksasa putra ketiga pasangan Dewi Sukesi dengan Resi Wisrawa. Kedua kakaknya juga berwujud raksasa dan raksesi (saya baru tahu kalau raksasa juga ada padanan kata untuk laki-laki dan perempuan) yaitu Rahwana dan Sarpakenaka.Wujud mereka yang raksasa diakibatkan karena kedua orang tuanya tidak mampu menahan gejolak hasrat ketika mendalami sebuah ilmu kanuragan. Sedangkan putra keempat Resi, Gunawan Wibisana, merupakan manusia sempurna nan tampan dan berbudi luhur. Resi Wisrawa sebelumnya telah berkeluarga dan memiliki anak yang menjadi raja. Saya lupa nama anak dan kerajaannya karena bukan itu yang menjadi fokus perhatian saya.

      Anak Resi yang menjadi raja tersebut sebenarnya meminta Resi meminang Dewi Sukesi, puteri raja Alengka, untuk menjadi permaisurinya. Namun ternyata sang Resi malah jatuh cinta dan menikahi Dewi Sukesi. Puteranya marah dan pada akhirnya berhasil membunuh Resi Wisrawa, ayah kandungnya. Dewi Sukesi memerintahkan keempat puteranya bertapa di Gunung Rahmuka (sepertinya begitu namanya) agar memperoleh kesaktian guna membalas dendam kematian ayah mereka.

      Rahwana, yang juga bernama Dasamuka, begitu ambisius ingin menjadi sosok yang paling berkuasa dan tak tertandingi. Ia mengorbankan satu demi satu kepala miliknya dan dikabulkan oleh para dewa ketika hendak mengorbankan kepalanya yang kesepuluh (hii…ga kebayang kalo beneran bentuknya seperti apa ya?). Sarpakenaka juga melakoni tapa untuk memperoleh kekuasaan. Namun, Kumbakarna yang wujudnya juga raksasa berfikirlain. Ia tidak menginginkan kekuasaan dan kesaktian. Ia pergi bertapa hanya untuk menyenangkan hati ibunya, mematuhi perintah orang tua. Ketika para dewa menanyakan apa keinginannya, pada awalnya Kumbakarna berkata ia tidak memiliki keinginan apa-apa. Tapi para dewa memaksanya, tidakkah ia ingin kekuasaan dan kesaktian seperti kakak-kakaknya?

      “Tidak”, katanya. “Kekuasaan hanya akan membuat kita jadi penindas, kesaktian hanya akan membuat kita lupa diri dan dendam hanya akan menghancurkan kita”. Namun setelah didesak oleh para dewa untuk meminta sesuatu sebagai ganjaran dari tapanya, akhirnya Kumbakarna meminta nggayuh utami – kesempurnaan hidup – yang saya terjemahkan sebagai hidup dengan lurus, mati masuk surga.

      Dewa mengabulkan permintaannya. Semasa hidupnya, ia juga memiliki kesaktian dan kelurusan hati untuk senantiasa memberi nasihat kepada Rahwana yang sudah mewarisi takhta Alengka. Ketika Rahwana menculik Dewi Sinta, ia bertengkar hebat dengan Rahwana dan bertekad tidak akan melawan pasukan negeri Pancawati yang dipimpin oleh Hanoman demi ambisi kakaknya. Namun, demi melihat begitu banyak rakyatnya yang telah menjadi korban dan kerusakan parah di negerinya, akhirnya Kumbakarna maju mempertaruhkan nyawa demi membela negaranya Alengka dan mati terkena panah Rama dan Laksmana.Sukmanya menggantung dan harus melalui reinkarnasi ke dalam tubuh Bima untuk melengkapi darmanya demi nggayuh utami.

      Ambisi. Mudah-mudahan benang merah yang ingin saya ambil tidak jadi pudar dalam cerita di atas. Seperti kata Ali bin Abi Thalib ra, “Hikmah adalah mutiara seorang muslim yang hilang. Di mana pun kamu mendapatkannya, meski dari mulut seekor anjing, maka ambillah”.

     Rongga dada saya penuh dengan ambisi. Ingin rumah nyaman, kendaraan layak, fasilitas kesehatan yang menenangkan, kedudukan di lingkungan terhormat, materi, materi, materi. Saya jadi sering sedih kalau ada sahabat yang punya ini tapi saya belum, punya itu tapi saya ga mampu. Sesak, pusing, capek. Saya sering istighfar namun sepertinya saya sudah menjadi pribadi bebal.

      Ketika saya membaca kisah Kumbakarna yang raksasa tapi memilih nggayuh utami sebagai permintaan doanya, saya merasa ditegur. Kenapa saya tidak meminta hal yang sama, yang justru akan membawa saya kepada ketenangan hidup. Saya tidak pernah suka cerita wayang sebelumnya karena tidak mengerti bahasanya. Saya juga tidak lantas menjadikan kisah pewayangan sebagai pedoman hidup. Tapi, ketika saya merasa terketuk saya mati-matian mencoba untuk juga nggayuh utami versi saya : legowo menerima kenyataan, bersyukur atas karunia Allah, dan tetap ikhtiar untuk memberatkan timbangan amal saya. Jika muncul bisikan kekesalan di hati dan kekecewaan atas sesuatu yang saya hadapi, bayangan Kumbakarna lalu melintas. Ia yang hanya ada dalam legenda dan berwujud raksasa, yang seharusnya ambisius dan angkara, memilih sesuatu yang sangat manusiawi – yang manusia sering emoh memintanya. Saya malu, seharusnya saya lebih manusia dari dia yang raksasa. Astaghfirullah.

Property Of Puji A. Sarbini.

Iklan

2 comments on “Belajar Dari Wayang

    • Judulnya kalo gak salah ya Ramashinta…tapi swear aku juga belum pernah baca buku itu, yang pernah aku baca kisah Mahabarata…thanks udah mampir ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s