Keadilan Menurut Anda Bagaimana…?


     Pagi ini hujan  kembali mendera Depok dan sekitarnya, SPB yang pada minggu sore telah mencuci Sang Maxi  dengan segenap jiwa dan sepenuh hati hingga Sang Maxi terlihat kinclong dan keren sekali, harus pasrah dan tunduk pada kehendak Sang Penguasa Alam yang telah memerintahkan hujan turun pagi itu. Dengan perasaan yang tak menentu dan pikiran kacau gundah gulana antara sayang dengan hasil memandikan Sang Maxi minggu sore dengan takut telat sampai ke kantor.

Googling di Google

      Sambil berjalan perlahan mengindari genangan air, SPB berfikir mungkin lebih enak kalo naik kereta aja, disamping baju tidak akan menjadi bau dan lembab karena jaket hujan, juga menghindari hari senin pagi yang sudah pasti lebih macet daripada hari biasanya, maka SPB berteguh hati untuk memutuskan hari ini naik kereta komuter line saja. Motor dititipkan ditempat penitipan motor seperti biasanya. Sudah hampir dua bulan sejak terakhir kali SPB naik kereta, baru sekarang SPB naik kereta lagi. Masih ada saja rasa canggung dan tidak percaya diri berdiri diantara kerumunan calon penumpang kereta saat menunggu kereta datang.

Google lagilah…

     Kereta datang tepat waktu. Tidak terlalu penuh, udara dingin lengsung menyeruak keluar dari dalam kereta, terasa nyuuusss di badan. Jaket Denim yang biasanya diterpa angin jalanan, kali ini diterpa dinginnya pendingin udara buatan manusia, namun setidaknya jaket ini masih tetap berfungsi sebagai pelindung tubuh SPB dari udara yang menerpa. Terasa dingin memang.

Sampe malu sama Google….

     Seperti biasa, penumpang kereta yang lebih banyak terdiri dari kaum autism, lebih asyik dengan dunianya sendiri. Earphone dengan berbagai bentuk, ukuran dan corak warna yang tersambung dengan MP3 player menempel erat pada telinga mereka. Membuat mereka asyik mengoyangkan kepalanya dengan santai mengikuti alunan lagu. Seakan tak peduli dengan sekelilingnya. Penumpang yang mendapat tempat duduk bisa memainkan gadget tambahan seperti tab, Ipod atau sejenisnya, namun kaum muda lebih suka menggunakannya sebagai sarana interaksi sosial di dunia maya atau sekedar bermain game berbeda dengan kaum yang lebih tua yang lebih mapan, mereka lebih fokus untuk membaca berita bisnis atau sekedar untuk mengetahui pergerakan harga saham. SPB perhatikan, kaum muda sekarang lebih berani bergaya dengan gadget-nya. Earphone dengan aneka model, merek dan corak warna membuat pemandangan jadi asyik dilihat. Beda sekali dengan jaman SPB muda dulu. Saat itu jika mau terlihat keren, kaum mudanya selalu membawa mini compo dipundak sambil jalan petantang petenteng (ada yang masih inget…??) belum lagi jika pakai walkman, earphone hitam besar layaknya pilot pesawat menempel erat menutupi sebagian besar wajahnya, dan saat memakainya pun ada rasa tak percaya diri yang sangat tinggi, terlebih jika ada yang memperhatikan. Beda jauh 360 derajatlah dengan jaman sekarang. Hanya saja gaya berpakaian yang kadang beda dari kaidah baku berpakaian tidak jauh beda dengan masa kini. Sama-sama nyeleneh tapi yang sekarang lebih asyik aja ngeliatnya.  Jaket, sweather, rompi tanpa lengan atau mantel panjang lebar mulai banyak jadi pilihan kaum muda penumpang Komuter Line saat ini, mungkin selain ingin membuat trend juga berfungsi sebagai peredam dinginnya udara buatan ini. Belum lagi topi sebagai penutup kepala juga banyak macamnya. Mungkin disini hanya SPB aja yang pakai jaket Denim ala cowboy jalanan yang dibeberapa bagiannya terdapat sobek-sobek dengan juntaian benang yang melambay-lambay karena jatuh atau karena terlalu banyak kena sikat. Tapi jujur, ketika SPB bandingkan saat melihat di kaca jendela kereta, gaya pakaian SPB yang hanya pakai denim ala cowboy dengan jaket ala mafia, rompi atau sweather keren mereka, SPB malah terlihat sangat…sangat seksi dan lebih jantan (macho) diantara mereka…hahahahahahahaha….(narsism nya kumat…)

Google lagi – Tebak SPB yang mana hayoooo….??

     Tak terasa kereta sudah sampai tujuan. Dari stasiun kereta Juanda, SPB memilih untuk berjalan menuju kantor, karena masih ada banyak waktu sebelum pukul 07.30 WIB.

 Rasa yang berbeda baru SPB rasakan sore hari di stasiun Juanda ketika hendak pulang kerumah. Dua bulan yang lalu, SPB selalu naik kereta ke arah Stasiun Kota terlebih dulu jika ingin mendapatkan tempat duduk. Namun sore itu SPB tidak diijinkan oleh petugas jaga stasiun untuk ke stasiun Kota terlebih dahulu. Manurut petugas jaga, jika telah membeli tiket untuk jurusan Depok, tidak boleh digunakan untuk menuju stasiun Kota. SPB sempat berdebat dengan petugas jaga, bukankah dulu tak ada larangan untuk ke stasiun Kota terlebih dahulu demi mendapatkan tempat duduk ?.  Petugas jaga berdalih, jika semua penumpang Depok yang naik dari stasiun Juanda harus ke stasiun Kota terlebih dahulu agar bisa mendapatkan tempat duduk, maka tidak adil bagi penunmpang yang telah menunggu di stasiun kota, karena mereka pasti tak bisa mendapatkan tempat duduk. Alasanya demi keadilan….SPB masih belum bisa terima, karena SPB punya pendapat lain tentang keadilan.

Google – Adil Itu Tidak Njomplang…!!

     Bagi SPB, keadilan itu adalah “ketika seseorang menginginkan sesuatu maksud atau tujuan yang ingin dicapai, kemudian orang tersebut berusaha dengan segenap jiwa dan kemampuannya demi mencapai keinginan/sesuatu tersebut, hingga akhirnya orang tersebut berhasil mencapainya, maka bagi SPB hasil yang didapat orang tersebut adalah suatu keadilan yang disesuaikan dengan keinginan dan kemampuannya”.

   Jadi dengan kata lain, SPB ingin berusaha “adil” dengan bahasa yang seperti SPB jabarkan diatas, apakah SPB salah ? SPB ingin  mendapatkan tempat duduk dalam kereta dalam perjalanan pulang, maka SPB berusaha dengan segenap jiwa dan kemampuan yang ada untuk terlebih dahulu menuju stasiun Kota demi mendapatkan keinginan itu, lalu ketika SPB berhasil mencapai apa yang diinginkan tersebut, Apakah SPB telah mendapatkan keadilan…? Lalu jika keinginan SPB tersebut di tolak mentah-mentah oleh petugas jaga, apakah petugas jaga tersebut sudah berbuat keadilan ..? Keadilan untuk siapa…? Keadilan untuk penumpang di stasiun kota-kah…? lalu apakah keadilan bisa didapat tanpa adanya usaha…? apakah penumpang di stasiun kota sudah berbuat adil…?

   Haha…pasti pembaca bingung, tapi SPB tidak, karena ini pendapat SPB atas rasa adil….

Ada yang mau nambahin ? atau punya pendapat lain tentang rasa “adil”…..monggo dishare tanpa caci maki ya….hehehe gak pake cemberut…

Google – Jangan Cemberut….

Iklan

8 comments on “Keadilan Menurut Anda Bagaimana…?

    • Kalo Lagi sepi Kereta komuter line Jakarta memang mirip kereta di jepang,…lah wong memang keretanya dari jepang…hehehe
      oke tetap semangat deh…thanks dah mampir…

  1. Ketika seorang Calon Presiden menginginkan sesuatu maksud atau tujuan yang ingin dicapai, kemudian si Capres tersebut berusaha dengan segenap jiwa dan kemampuannya (termasuk “membeli” suara, menggunakan uang dan fasilitas negara untuk kampanye, dan bertrik licik lainnya) demi mencapai keinginan/sesuatu tersebut, hingga akhirnya si Capres tersebut berhasil mencapainya (menjadi Presiden) apakah itu juga suatu keadilan? Mungkin bagi dia, apakah adil juga buat rakyat? 😀

    • mungkin ini adil menurut pemikiran sang “Capres” tapi tidak adil buat rakyat…sama seperti adil yang saya jabarkan menurut saya, setelah ber-introspeksi diri dalam beberapa kali perjalanan naik kereta, dan kebetulan mendapat komentar dari Bro’ Novi, saya berpendapat bahwa adil yang seharusnya dilakukan adalah adil yang sebenar-benarnya tanpa ada maksud buruk sekecilpun. Seperti yang disayaratkan dalam syari’at islam (menurut agama kita ya Bro’..) yang mengatakan bahwa :

      “Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil, berbuat kebajikan dan memberi kepada kaum kerabat. Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl : 90) dan juga ayat ini :

      “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, biarpun terhadap diri kalian sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabat kalian. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kalian memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjaan.” (QS. An-Nisâ` : 135)

      Hehehe…makasih Bro’ atas masukkannya…:)
      Semoga Allah melindungi kita semua dari penyimpangan, Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s