“Teh Botol Sosro”….Antara Hak dan Harapan


   Weekend kemaren sengaja SPB mengajak anak istri jalan-jalan keluar rumah untuk sekedar melihat-lihat  pemandangan alam perkotaan yang selalu sumpek sama kemacetan dan polutan serta radikal bebas yang tidak baik bagi kesehatan. Meskipun cuma naik motor tapi anak-anak sepertinya senang aja di ajak jalan-jalan. Syukurnya cuaca saat itu bisa dibilang adem meski tidak bisa dibilang sejuk, tapi cukup enaklah buat sekedar jalan-jalan sore. Matahari tertutup awan tebal, angin cukup kuat berhembus dan anehnya  jalan raya relatif sepi sore ini, entah kenapa. SPB hanya berfikir, besok senin adalah hari pertama UAN untuk Anak SMP, maka kemungkinan orang tua para pelajar tersebut melarang anaknya keluar jalan-jalan atau bahkan karena ingin menghormati anaknya yang akan ujian nasional, mereka rela tidak pergi ke mana-mana sore itu. Padahal, jika hari libur seperti ini, disore hari jalan Magonda Depok pasti macet berat.

Google

Google

     Puas berjalan-jalan tanpa tujuan seperti anak klabing (Clubing) atau kelayaban bingung, SPB putuskan untuk sejenak beristirahat dan mengajak anak-anak makan mie ramen. Tapi karena males untuk masuk ke Mall, kami putuskan untuk makan Mie Ayam yang katanya dari Jepang, di kedai pinggir jalan Margonda. Murah meriah dan nyaman. Sambil menunggu pesanan, mata SPB melihat iklan yang ditayangkan sebuah televisi swasta. Iklan promosi berhadiah minuman botol yang dicintai sejuta umat, teh botol sosro. Hmmmmm…cukup mengiurkan hadiah yang ditawarkan sosro pada kemasan tutup botolnya jika anda beruntung. Ada seribu galaxy tab dan jutaan minum gratis ditempat…Wah bagus kalo begitu…..kebetulan kami juga haus dan ingin minum teh botol dingin….pasti sejuk, sambil berharap dapat Tab dan minum gratis……

Ngubek-ngubek dari google

ngubek-ngubek dari google

        Teh botol sosro adalah minuman favorite kami sekeluarga. Rasa dan aromanya yang pas, cocok untuk lidah kebanyakan orang Indonesia, makanya meski banyak pesaing yang datang, teh botol sosro tetap perkasa ada.

     Kalo kita teliti dan pelajari bagaimana mungkin kita sebagai konsumen sosro bisa ada kemungkinan 100%  dapat hadiah yang ditawarkan seperti dalam iklan tersebut. Sebagai contoh langsung adalah saat SPB memesan 4 buah teh botol sosro dingin di tempat SPB makan saat ini, SPB dan keluarga menerima teh botol yang sudah terbuka tutupnya, lalu bagaimana SPB tahu bahwa disalah satu tutup botol itu terdapat hadiah yang di idam-idamkan oleh konsumen seperti SPB ini, karena tutup botolnya secara langsung sudah di boikot oleh pemilik kedai mie ayam…! Mungkin para pembaca yang juga penikmat teh botol sosro juga punya pengalaman serupa, ambil contoh jika sedang touring atau travelling dan beristirahat sambil mampir di resto, warteg atau kedai pinggir jalan, tentunya akan pesan minuman. Dan ada kemungkinan memesan teh botol sosro dingin…maka jreeeeeeennnggg…teh botol dingin akan tersedia sudah tanpa tutupnya. Lalu kemana tutupnya….?? sudah pastilah di boikot sama pemilik rumah makan itu. Bahkan warung grobok pinggir jalanpun bisa dengan leluasa memboikot tutup botol yang kita beli…hebat ya.

google maning...

google maning

     Sekarang kita bicara tentang hak dan harapan. Jika kejadinnya seperti yang SPB tulis di atas, apakah kita masih punya hak untuk memenangkan promosi berhadiah yang ditawarkan teh botol sosro…? kalau dianggap masih ada hak-nya, kenapa kita tidak di perlihatkan isi dari tulisan di balik tutup botol, malah secara ajaib tutup botol berubah wujud jadi sedotan. Lalu apa yang kita harapkan sebagai pecinta teh botol sosro dari promosi yang ditawarkan pihak sosro kepada kita selaku konsumen pencintanya…? padahal inilah kesempatan kita sebagai pecinta teh botol sosro mendapatkan apresiasi dari pihak sosro. Rasanya tak elok jika kita harus bawa alat pembuka botol sendiri dan membuka sendiri teh botol yang kita pesan di sebuah resto atau tempat makan yang bisa menyulap tutup botol jadi sedotan, hanya karena ada hak dan harapan kita pada tutup botolnya….Gak mungkin juga kan kita harus beli sampai ber-krat-krat teh botol sosro agar kita bisa membuka sendiri tutup botolnya dengan sebongkah harapan….IRONI.

Pembuka botol model manual-Google

Pembuka Botol Model manual-Google

    Makanya sambil makan mie ayam, aku, istriku dan anakku ngedumel gak jelas mendapatkan pelayanan pesan antar teh botol oleh pelayan kedai…hahahahahaha….lalu mau apa lagi…..??   Atau mungkin ada saran dari pembaca….silahkan di share, tapi jangan sampe lewat tanggal 31 Agustus 2012 ya…hahaha

Tetap Semangka....!!-Google

Tetap Semangka....!!-Google

Sahabat…!?!…Ternyata…..


     Sebuah pertemanan akan begitu indah jika selamanya dibalut oleh rasa ikhlas dan saling menghargai. Sejatinya itu yang memang harus kita beri dan kita dapat dari sebuah pertemanan yang sejati. Namun ternyata apa yang kita impikan dari indahnya sebuah pertemanan yang saling berbalut  ikhlas itu tak mudah bisa kita raih.

     Sudah hampir 3 tahun aku tak bersua dengan sahabat lama seperjuangan yang dulu sama-sama memulai hidup baru di suatu tempat kerja di bilangan Jakarta Pusat. Sejak pertama kali bertemu saat tes dan akhirnya dipertemukan dalam wawancara akhir hingga kami sama-sama diterima di kantor yang sekarang ini, kami selalu bersama. Karena dia anak rantau yang baru menginjakan kaki di Jakarta, maka dengan sepenuh hati SPB mencoba selalu membantunya dalam beberapa hal, termasuk dalam urusan transportasi berangkat dan pulang kerja.

     Saat itu (kisaran tahun 1998-an) SPB masih mengendarai motor bebek Honda Grand Astrea dalam melakukan segala aktifitas. Dari mulai kuliah, mencari pacar, hilir mudik bersama teman-teman kampus, lontang-lantung mencari pekerjaan hingga akhirnya mengantarkan SPB pulang pergi kerja. Sungguh berjasa motor pemberian Bapak saat itu.

     Motor inilah yang turut membantu sang sahabat baru dalam aktifitas pertama bekerjanya di Jakarta. Bersamanya kami selalu beraktifitas bersama, berangkat dan pulang kerja, mencari suasana baru Jakarta, travelling ecek-ecek meski cuma ke puncak atau kemanapun. Hingga akhirnya aku bisa membeli motor baru dengan CC yang lebih besar sedikit, Honda GLMAX 125 CC yang sampai sekarang tetap aku optimalkan sebagai sarana transportasi yang murah, kuat dan mudah dalam perawatan.

     Beberapa tahun kami bersama, hingga pada suatu saat kami harus dipisahkan oleh rolling tugas yang berbeda tempat. That’s okey…selama masih dalam satu lingkup perusahaan kami masih tetap bisa bersama suatu waktu. Tepat hampir tiga tahun setelah lama kami tak bertemu, ditempat yang tak diduga kami dipertemukan tanpa disengaja. Di sebuah lobby mall di kawasan senen, Jakarta Pusat kami bertemu. saat itu hujan deras sedang lucu-lucunya di Jakarta. Aku baru saja selesai membetulkan jam tangan yang rusak disana. Menyenangkan sekali bertemu sahabat lama, ngobrol tentang pekerjaan dan sebagainya. Setengah jam berlalu, jam menunjukkan pukul 12.45 WIB, jatah istirahat kantor hampir selesai namun  hujan belum ada tanda-tanda reda. Aku ajak sahabatku untuk kembali ke kantor bersama, karena kebetulan kita satu arah. “…Kita naik angkot saja….” kataku, karena memang aku tak bawa motor saat itu, tapi dia menolak. Katanya “…nanti aja, aku tunggu hujannya berhenti dulu…”. “…aku juga naik angkot, tapi kalo masih hujan biasanya macet, aku gak betah….”, katanya lagi. Okelah, aku berangkat lebih dulu.

    Kebetulan SPB dapat duduk didepan bersama supir, beberapa belas menit dalam perjalan yang memang macet, tanpa sengaja mata SPB melihat sosok yang sangat dikenal di dalam sebuah mobil City Car terbaru  keluaran Jepang. ternyata Sang Sahabat yang tadi aku ajak bareng ….sambil menghembuskan asap rokok asyik sekali menikmati hidupnya. Entah apa rasanya hati yang berkecamuk saat itu….susah diungkapkan dengan kata-kata. sang sahabat ternyata…..ya sudahlah.

     Seandainyapun aku tahu engkau membawa mobil, tak ada sebersitpun aku harus memaksa minta diantar engkau sahabat…tak usahlah berdalih bahwa engkau juga naik angkot sama sepertiku….aku sadar mobil bagusmu tak cocok dinaiki oleh diriku….

     Dilampu merah mata kami bertatapan, karena aku tepat ada disisi kanannya…hanya lambaian tangan yang kuberikan tanpa ekspresi…aku tak melihat kau membalas lambaian tanganku seperti dulu ketika kita berpisah saat kau turun dari motorku…yang kulihat hanya tatapan terkejut tanpa ekspresi darimu….entah apa artinya….

     Sampai bertemu lagi di waktu yang lain…sahabat.

Tugas Yang Berakhir


     Sudah hampir 3 tahun safety shoes merek King’s warna hitam ini menemani perjalananku dalam hal mencari nafkah dan bermotor ria bersama keluarga. Dalam lingkup cuaca yang ekstrem serta kondisi jalan Jakarta yang keras, sepatu ini bisa dijadikan andalan dalam bermotor. Terkadang sepintas terlihat formil, maka tak jarang pula sepatu baja ini masuk gedung megah seperti hotel atau kantor-kantor mentereng seputar Sudirman Kuningan, meski kadang sepatu ini tak menolak dan tetap asyik di ajak offroad sampai ke Kalimantan. Namun banyak kondisi yang kadang membuat kita harus ekstra hati-hati sebelum menurunkan kaki ke aspal jalanan untuk sekedar berhenti di lampu merah atau karena kemacetan parah di kala berkendara roda dua. Situasi dan kondisi sesama pemakai jalan yang tak menentu termasuk pengendara motor lain yang kadang suka srantal sruntul mencari celah jalan, kadang juga bisa membuat kaki kita terancam keselamatannya.

Dari Google

Dari Google

     Alhamdulillah, berkat perlindungan Allah lewat safety shoes ini, keselamatan kaki SPB selama berkendara bisa dikatakan tanpa kendala yang berarti, Meski begitu tetap saja safety ridding tetap diutamakan oleh pribadi masing-masing. Dan jangan sombong, karena pakai safety shoes maka merasa yakin tak akan mendapat bencana, jauhkan pikiran seperti ini ya Bro’…

    Banyak cerita suka duka atas sepatu ini selama perjalanan di dua setengah tahun terakhir. Dari pertama kali menggunakan, SPB sudah merasa jatuh hati dan cocok di kaki. Meski awalnya terasa berat dan kaku, tapi sepatu ini ternyata cukup fleksibel dalam pemakaiannya. Dengan kulit yang tebal namun elastis membalut plat baja di depan ujung sepatu, membuat pemakai sepatu ini lebih percaya diri dalam menempuh perjalanan bersama si roda dua.  Terlindas roda sedan, Bajaj dan sesama pemotor sudah sering dirasa. Bahkan terkadang kalau emosi sedang tidak stabil, terutama terhadap pengemudi angkot, bajaj atau apapun (kecuali kendaraan aparat), sepatu ini SPB gunakan untuk menendang pintu sebagai pelampiasan. Tapi jujur, hal ini SPB lakukan jika prilaku pengendara tersebut dirasa cukup membahayakan bagi pengemudi lain. Setidaknya sebagai peringatan jika ucapan tak bisa didengar maka dentuman ujung sepatu pada body kendaraan mungkin lebih bisa didengar. Saran SPB,  jangan lakukan hal tersebut tanpa alasan yang jelas.

Almarhum

Almarhum

    Sekarang tugas sepatu ini harus berakhir. Dipertengahan minggu kedua bulan April 2012, saat Jakarta dilanda hujan deras tiga hari berturut-turut sepatu ini menemui ajalnya. Sol sepatu sobek dan jebol, air dengan mudahnya masuk kedalam dan membasahi kaki SPG yang memang sebelum jebolpun sudah basah kuyup oleh air hujan. Sudah seminggu ini SPB belum dapat penggantinya, toko tempat SPB membeli dulu sudah habis stok untuk ukuran 43, sementara SPB tidak merasa cocok dengan merek lain meski sama-sama  safety shoes. Agak susah memang mencari model yang sama seperti dulu.

     Tak apalah, disabarkan saja, SPB sudah pesan untuk jenis yang panjang/tinggi ukuran 43 warna hitam, namun sampai sekarang belum dihubungi penjualnya. Untuk sementara sepatu formil yang biasa dipakai untuk dikantor terpaksa jadi korban perjalanan harian, hehehe…yang pasti kali ini mesti ekstra hati-hati…tak ada plat baja diujung sepatu yang bisa melindungi jari kaki dari lindasan bajaj, sedan dan sepeda motor…apalagi buat nendang pintu angkot yang sopirnya sontoloyo….eman-eman sepatunya Bro’….

Sepatu Ngantor

Sepatu Ngantor