Berbaurlah Dengan Kami….


     Sebetulnya ini bisa juga dibilang sebagai tulisan curahan isi hati, mengenai sistem protokoler di sebuah Kantor Kementerian terkenal di di Indonesia. Banyak prilaku para pihak-pihak pelaksana protokoler di setiap Kementerian terlihat sangat berlebihan. SPB disini tidak tahu, apakah memang seharusnya begitu, atau itu sudah merupakan sebuah kibijakan yang mutlak. Kalo memang menjadi sebuah kemutlakan, betapa menyedihkannya sistem yang diberlakukan oleh para pembuat keputusan protokoler untuk disetiap Kementerian.

     SPB akan memaklumi bila sistem protokoler yang diberlakukan bagi pemimpin negara dilaksanakan dengan cara yang sebenarnya, karena hal itu berpengaruh secara langsung terhadap pencitraan sang pemimpin itu sendiri dimata para koleganya yang juga para pemimpin negara. Gak mungkin kan, presiden kita menerima tamu seperti kita menerima tamu dirumah. Untuk itu diperlukan sebuah sistem yang terarah dan sistematis, yang jujur SPB sendiri tak tahu bagaimana cara kerjanya. Yang pasti sistem protokoler yang sempurna untuk pemimpin negara akan memberikan citra positif terhadap pemimpin negara itu sendiri. Mohon pencerahan kalo saya salah ya….

   Kembali ke soal curhat SPB hari ini. Pagi ini SPB bertandang kesebuah Kementerian yang sangat terkenal di pusat Jakarta. Gedung yang mentereng dan fasilitas keamanan yang terlihat ketat, dimana disetiap pintu masuk lobby dipasangi alat detektor bom atom dan bagi para tamu wajib melapor pada resepsionis (SPB mengartikan bahwa resepsionis adalah seseorang yang jago dan suka masak….karena dia menguasai semua resep masak-memasak, makanya disebut resepsionis. Kalau penyanyi disebut vokalis…CMIIW).

     Kawan sya  berkomentar, Systim Operating Procedure/SOP di Kementerian ini sangat aneh dan terlihat berlebihan, saya tanya kenapa ?…dia bilang, dulu kami para pejalan kaki dan pengendara sepeda bermotor bisa masuk kegedung melalui satu pintu gerbang yang sama didepan, namun sekarang yang boleh melewati pintu gerbang itu hanya yang mengendarai mobil saja. Para pejalan kaki yang tidak punya mobil harus lewat lorong samping gedung dengan menyeberangi parit. Kementerian ini mengorbankan tembok gedung untuk dibuatkan pintu kecil diperuntukkan bagi para pejalan kaki. SPB melihat ada kesan diskriminatif yang sangat mencolok disini, rasanya gak sopan sekali memperlakukan pegawainya seperti itu. SPB melihat banyak juga pegawai yang sudah berumur atau mungkin menjelang pensiun melangkah tertatih-tatih menaiki anak tangga menyeberangi parit berebut masuk dengan pegawai muda belia untuk mengejar absen digital agar tidak telat dan dipotong tunjangannya.

     Untuk pengendara sepeda motor, diharuskan masuk melewati pintu di paling belakang gedung Kementerian. Dimana untuk menuju pintu paling belakang itu juga harus melewati lorong kecil yang juga dilewati para pegawai naas yang tidak punya mobil. ini hal baru yang SPB rasakan di Kementerian ini.

     Ketika memasuki ruang lobby pun rasanya tidak nyaman sama sekali. Banyaknya petugas keamanan yang berseragam maupun tidak berseragam berkumpul diruang lobby. Masing-masing memegang Handy Talkie (HT) dengan gaya yang pura-pura digagah-gagah-kan dan diseram-seram-kan, sambil memelototi dengan rasa curiga pada setiap orang yang datang. SPB melihat setidaknya ada lebih dari 15 aparat keamanan yang berseragam dan tidak berseragam berkumpul disini dan terlihat seakan-akan sibuk sekali mondar mandir diruangan lobby yang tidak terlalu besar itu. Menurut kawan yang bekerja disini petugas keamanan ini lebih banyak yang outsourching sedangkan yang tidak berseragam dan memakai HT adalah gerombolan alay pencari muka dan para penjilat sepatu boss-boss yang lewat. Wajah mereka akan berubah menjadi berseri-seri dan terlihat ramah tamah dengan bahasa yang sangat sopan sophian menyapa para pembesar yang lewat, dan akan kembali dengan muka iblis-nya ketika memandang kami yang bukan pembesar.

     Menurut kawanku, sering terjadi konflik antara petugas keamanan outsourching dengan para pegawai kantor karena perlakuannya yang terkadang arogan dan tidak bersimpatik. Mereka kadang menegur dengan gaya militer jika melihat ada pegawai yang tidak memperlihatkan kartu identitas karena tertutup jaket saat absen pagi. Seharusnya mereka sudah hapal siapa saja yang bekerja disini, toh setiap hari mereka  selalu bertemu muka. Kaku sekali memang.

     Hal yang cukup mengejutkan terjadi dan menjadi perhatian SPB teramat sangat. Ketika kami memasuki lift untuk menuju ruang kerja kawan dilantai 16 dan pintu sudah hampir tertutup, tiba-tiba dengan gaya laksana superman, seorang petugas alay menahan pintu lift kami dan dengan serta merta meminta kami yang berada didalam lift untuk segera keluar. Ada apa kataku ?….Mohon keluar Pak ! Ketua sudah datang dan lift akan digunakan beliau…!. Geram sekali aku tapi kawanku dan para pegawai lainnya diam saja, meski SPB tahu dari raut wajah kecewa mereka. Untuk menunggu lift dibutuhkan waktu kurang lebih 5 menit, ketika sudah dapat malah disuruh keluar.

     Sambil menunggu lift lainnya, SPB menunggu seperti apa wajah Ketua pemilik kekuasaan tertinggi gedung ini, namun sampai lift berikutnya datang sang ketua yang ditunggu tak terlihat. Menurut kawan, hal itu sudah biasa terjadi. kalau ketua datang gak ada yang boleh pakai lift itu apalagi naik bersama-sama satu lift, bisa-bisa dipelototi oleh para alay sepanjang perjalanan dilift. Anjriiiiiiit….!!!

   SPB merenung, seperti inikah wajah para penguasa kita sebenarnya. ini baru menjabat sebagai ketua di salah satu instansi Kementerian, lalu bagaimana jika sudah menjadi yang lebih tinggi lagi. SPB kecualikan Presiden disini. Tak bisakah berbaur dan berbagi bersama atas lift yang akan digunakan, toh kalian disini kan adalah satu team dalam artian tugas kerja, kenapa harus ada jarak antara pegawai bawah dengan pegawai atas…?

     Syukurlah, ditempat SPB bekerja, dari jajaran staff sampai para pejabatnya saling asah, asih dan asuh. Tak ada diskriminasi terhadap pegawai yang punya mobil atau yang tidak punya mobil. Semua boleh masuk lewat pintu yang sama dengan syarat berpakaian seragam, rapi dan  memiliki serta memperlihatkan kartu identitas pegawai, namun tetap harus melewati alat detektor (sepertinya alat ini sudah wajib ada disetiap gedung besar)  dan jika tamu atau pegawai yang tertinggal kartu identitasnya maka harus tetap melapor pada petugas keamanan yang akan dilayani dengan sopan yang ikhlas. Gak perlu pake tatapan iblis dan gaya alay. Tak ada larangan naik lift yang manapun, bahkan jika boss besar kebetulan naik bersama beliau mau diajak ngobrol dan saling melempar sapa bahkan ikut bercanda dan tertawa, tak ada kawalan para alay yang bersedia melotot sampe mata kering buat nakutin orang atau ngusir-ngusir orang yang sudah lama antre nunggu lift. Apa susahnya berbaur…toh semula anda juga bukan siapa-siapa, karena lebih beruntung saja anda jadi seperti ini. Percayalah, berbaur dengan para pegawai akan memberikan sensasi kedekatan yang berbeda dan gak ada ruginya kan..?!

   Sepulang perjalanan dari kantor teman, SPB mengambil kesimpulan ngawur. Pertama, diskriminasi pintu masuk itu cuma sebagai sarana kesombongan belaka,  kenapa…? SPB berfikir, masak gedung mentereng seperti ini masih ada pegawai yang jalan kaki gak panteslah….jadi cuma yang pakai mobil aja yang boleh masuk pintu gerbang utama agar dilihat khalayak ramai bahwa gedung ini diisi oleh orang-orang kaya hebat bermobil…..untuk kesimpulan lainnya SPB gak bisa tuliskan disini, karena akan menyakitkan hati.

Maaf kawan, mungkin lain waktu kamu saja yang datang ke kantorku…agar jika kamu sudah menjadi “siapa” kamu bisa menerapkan SOP yang ada dikantorku. Terima kasih atas pelajaran hari ini.

kalo ada yang mau berkomentar silahkan saja….kita berbaur aja disini ya…

N.B.: gak mau pake gambar….takut …!!!

Iklan

4 comments on “Berbaurlah Dengan Kami….

    • Seharusnya mereka memang memberi contoh tauladan yang baik ya Mas Bro’ biar bisa jadi panutan generasi penerusnya…bukankah padi semakin berisi semakin merunduk…? makasih udah mampir Mas Bro’….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s