Rinduku Pada Tutut Sawah


     Sudah hampir 10 tahunan sejak SPB menikah, sejak itu pula SPB melupakan makanan yang menjadi santapan favorite disaat libur atau senggang. Dulu Ibu sering membuatkan SPB makanan ringan yang kata anak-anak muda jaman sekarang adalah makanan kelas ekstrem, padahal sungguh bagi SPB makanan ini adalah makanan ringan yang biasa disantap oleh anak-anak kampung tahun 70-80an. Kebetulan saat usia anak-anak (jaman SD), SPB tinggal di daerah pinggiran ibukota, tepatnya Depok II Tengah, kota yang dulu disebut orang Jakarta adalah tempatnya jin buang anak karena lokasinya yang sangat jauh dari ibukota, bahkan banyak yang bilang juga bahwa jin gak mau buang anak di Depok karena saking jauhnya. Depok saat itu masih dipenuhi sawah yang luas membentang hijau royo-royo, sungai kecil beraliran air bening masih banyak dijumpai, rawa-rawa atau situ-situ kecil banyak dimanfaatkan untuk memancing dan mandi anak-anak, bahkan mata air dan pancuran dari tebing-tebing menjadi tempat favorite kami berbasuh. Tapi kali/sungai ciliwung di bawah jembatan Panus adalah tempat favorite untuk berenang dan uji mental, selain lebih luas airnya juga masih terbilang bening untuk saat itu.

Dari Google

     Kegemaran kami saat anak-anak adalah mencari keong sawah, atau yang orang Depok bilang tutut sawah. Setiap pulang berenang disungai biasanya kami melewati area persawahan yang luas. Banyak terdapat udang air tawar  (baca kisah Eksperimen-Eksperimen Konyol : “Atlet Renang dan Udang Sawah”), ketam, ikan cupang sawah, katak dan tutut sawah. Kami bisa pulang membawa berkilo-kilo tutut sawah dalam wadah tas plastik atau kain sarung.  Jika sampai dirumah, tutut itu dibagi sama rata dan biasanya ibu-ibu kami yang memasaknya untuk kami. Kami akan menyantapnya bersama-sama sambil bersenda gurau disore hari. Pada saat mengolahpun, kami selalu membantu ibu kami untuk memecahkan bagian belakang tutut sawah agar mudah saat disantap nanti.  Sekali masak tutut sawah biasanya ibu akan menggunakan panci yang paling besar yang kami miliki, mungkin bisa lebih dari 3 atau 5 kilo sekali masak. Namun kami sekeluarga menyukai makanan ini. Sensasi makan tutut sawah bersama teman-teman kini sudah terlupakan seiring pertumbuhan dan kesibukan diri kami masing-masing. Terlebih setelah kami menikah dan meninggalkan rumah orang tua masing-masing menempuh hidup mandiri. Dan, sekarangpun Depok sudah mengalami banyak perubahan yang signifikan. Sawah, situ, air pancuran dan sungai yang dulu terhampar luas menghijaukan pandangan dan menyejukkan hati, kini lenyap berganti dengan angkuhnya tembok perumahan kaum borjuis dan toko-toko modern.

Dari Google

     Kemarin, sepulang kerja, SPB menemukan semangkuk besar makanan yang sudah lama SPB idam-idam-kan, tutut sawah. Tubuh yang semula lelah dan penat, seketika itu juga menjadi berbinar-binar dan sehat seperti semula. Rasa lelah dan penat tak dirasa lagi. Sempat termanggu dan takjub, kenapa juga makanan ini ada disini dan sejak kapan istriku mau memasakkan makanan kegemaranku saat kecil ini ? seribu juta tanda tanya dan rasa takjub bertabrakan satu sama lain. Gak percaya dan tak mungkin. atau ibuku kah yang membuatkannya untukku, tapi aku tak yakin, karena tampilan dan aromanya berbeda dengan racikan ibuku (ibuku adalah peracik makanan terbaik yang aku miliki dan aku hapal semua rasa racikan ibuku….).

Jepretan Sendiri

     Aku tanya sama anak-anak mereka juga tak tahu. Sambil menunggu istriku selesai mandi aku panaskan kembali tutut sawah itu sejenak. Betul saja, bukan istriku atau ibuku yang membuatnya, tapi itu kiriman dari tetangga sebelah yang katanya juga dapat kiriman dari kampung halaman. Mungkin tetangga sebelah mempunyai kerinduan yang sama denganku atas makanan ini. Mencari sensasi yang pernah hilang. Tanpa banyak cincong makanan itu aku santap,  diantara keturunanku hanya Kayla yang terlihat suka dan ikut menikmati makanan ini. Semula dia ragu untuk mencoba, tapi setelah melihat aku begitu nikmat memakannya, dia ikut juga mencoba. Setelah mencoba beberapa tutut, kini dia malah minta satu piring, dan Alhamdulillah habis separuhnya.

     Memang mungkin bener kata orang tua, kalau anak perempuan akan lebih condong mirip dan mengikuti gaya ayahnya dalam beberapa hal. Kayla adalah titisan diriku. Dia tidak kebanyakan cingcong seperti kakaknya yang laki-laki yang aku lihat lebih condong mengikuti mama-nya. Dalam soal makanan yang ekstrem dia bisa dikategorikan “GUE BANGET”. Bagimana tidak, jika ayahnya suka ceker dan kepala ayam maka dia juga suka, ketika ayahnya suka makan belut dia juga suka, ketika ayahnya makan keong dia juga, semua makanan yang aku suka kelihatannya dia juga suka. Hanya saja ketika ayahnya sangat takut pada laba-laba maka dia juga sangat takut pada laba-laba (aku adalah spiderphobia kelas berat….).

Kayla dan Tutut

     Terbayar lunas kini kerinduanku atas makanan masa kecilku, nikmat sekali. Cara memakannyapun aku tak lupa, hanya saja racikannya jauh berbeda dengan racikan ibuku. Nantilah jika aku pulang kerumah ibu, aku coba cari tutut sawah ini di pasar tradisional dan aku akan meminta ibu meraciknya untukku. Tak disangka rinduku pada tutut sawah juga membawa rinduku pada ibu. Aku mesti menyempatkan waktu untuk berkunjung pulang kerumah, rumah masa kecilku.

Dari Google

N.B. : Kuambil Ponsel, kuhubungi nomor ibuku…Alhamdulillah beliau sehat wal afiat…Terima kasih Allah…Kau telah sayangi, jaga , rawat  dan sehatkan ibu dan ayahku…..

Beban Mental Pada Selembar Stiker


     

     Sebenarnya sudah cukup lama saya mendapat kiriman “kado” dari seorang sahabat blogger yang menjadi salah satu inspirasi saya diantara blogger-blogger lain dalam menulis bebas untuk sebuah blog. Beliau tidak terpaku pada satu jurusan penulisan saja yang kadang juga dibahas di blog lain, saya melihat Beliau menulis dengan apa adanya, tentang kesehariannya, tentang perjalanan dengan motornya, tentang kebudayaannya (ini yang menarik buat saya), tentang curhatannya kadang menulis juga tentang kemarahannya. Komplit dari beragam aspek.

     Kado yang berupa lembaran stiker semula memang saya minta dengan sedikit memaksa untuk diantar ke alamat rumah saya. Saya memintanya langsung lewat surel (surat elektronik). Dengan harap-harap cemas saya menunggu balasan surel dari beliau atas permintaan saya. Dan Alhamdulillah surel saya dibalas dengan jawaban yang positif. Terimaksaih sangad Pak.

     Sejak kiriman itu sampai kerumah saya, saya bingung mau saya tempel dimana ini barang….Kalo saya tempel di lemari kayaknya gak bisa Go Publik nih, kalo ditempel di komputer rasanya kok ya percuma karena setiap browsing pasti blog-nya beliau dan blogger-blogger lucu lainnya dipanteng terus, mau ditempel di motor rasanya beban mentalnya sangat berat. Kenapa berat menurut saya….?

     Alasannya adalah : Selama ini SPB adalah seorang pengendara sepeda motor harian yang pergi dan pulang kerja pasti naik motor. Meski SPB itu bukan “biker beneran” tapi SPB selalu berusaha untuk menjadi pengendara motor yang sopan, handal, bisa dipercaya, bertanggungjawab, baik hati, tidak sombong dan pandai menabung. Hanya saja SPB berfikir realistis, jalan raya Jakarta adalah sebuah kawah candradimuka bagi sebagian besar pengemudi kendaraan, apapun jenisnya termasuk sepeda motor.      

     Seorang pengendara yang bijaksana akan mengerti tata tertib perlalulintasan, baik itu mengenai pengetahuan dan tatacara berkendara juga meliputi ego dan kesabaran yang tiada batas. Sayangnya, SPB bukanlah termasuk orang yang bijaksana 100%. Terkadang masih suka srantal-sruntul gak karuan, kadang masih suka “neriaki” pengendara lain, kadang juga gak peduli sama penyeberang jalan. Tapi percayalah, semua itu karena ada sebabnya. Srantal-sruntul dilakukan kalau lagi telat ngejar absen masuk kantor agar gak dipotong gajinya diakhir bulan, neriaki pengendara lain karena pengendara itu merasa jalan raya  seakan-akan milik mbah-nya, udah pelan jalan ditengah gak mau dilewati tapi SPB paling sering neriaki supir angkot yang suka se-enak udel mengendarai kendaraannya, suka gak peduli sama penyeberang jalan karena terkadang penyeberang jalan suka slononk boy se-enaknya tanpa liat kiri kanan dan menyebrerang bukan ditempatnya, paling benci kalau yang menyeberang itu banci, udah klamar-klemer gayanya melambay pake gaya genit-genit dan kemayu segala…jijay bajay.

     Itulah beberapa alasan yang membuat SPB sebenarnya takut memasang stiker di motor kesayangan SPB. Spontanitas mata adalah melihat dan membaca apa yang dia lihat (masih ada gak ya pengendara yang buta huruf…?), jika secara spontan seseorang melihat stiker yang menempel di Sang Maxi-ku, orang akan membacanya “…Oooo jadi itu yang punya Blog Jaranwesi…”, padahal bukan aku yang punya blog. Nah ketika saat itu SPB lagi sruntulan orang akan langsung men-cap bahwa blogger jaranwesi adalah biker yang sruntulan dan gak sopan…berabe khan menjelekkan reputasi orang. Ini nih beban mental yang berat padahal maksud hati ingin mempromosikan  “…ini loh blog yang lucu dan patut dibaca.…”.

     Tapi akhirnya dengan segenap jiwa raga SPB putuskan stiker itu tetap SPB pasang pada sepeda motor GLMAX dengan menggenggam sepenuh hati tanggungjawab mental yang ada. Karena menurut SPB sebuah stiker bernama dan berlogo sesuatu yang ada, yang tertera pada kendaraan adalah membawa juga tanggung jawab atas nama stiker tersebut. Semoga tidak terjadi sesuatu, karena SPB turut termotivasi juga secara tidak langsung untuk menjadi seorang pengendara motor yang semakin baik, syukur-syukur bisa dianggap sebagai “biker beneran” hehehehe…..

     Akhirnya dengan segenap perasaan, saya mohon ijin dan mengucapkan terima kasih atas kiriman kado stiker “jaranwesi.wordpress.com” yang dikirimkan oleh Bapak Bambang dari Desa Bandongan, Jawa Tengah, dan sekiranya Pak Bambang membaca blog saya dan tidak setuju jika stikernya saya tempel di motor saya, maka dengan segenap hati saya akan melepas stiker tersebut dan meletakkan pada tempat yang layak.

N.B.: Keep Blogger Hood

Bersinmu Mengejutkan Kami….!!!


     Sungguh perjalanan malam sabtu sepulang kerja dengan Kereta komuter kemaren bikin SPB cekikikan sendiri sampe sekarang. Bagaimana tidak….ketika suasana sepi di dalam kereta komuter pada jam 2o.55-an, badan lelah, mata mengantuk, kondisi dalam kereta sangat mendukung untuk tidur, terlebih air conditioner berjalan mulus dan membuat mata makin meredup menjadi 1,5 watt. Sebagian penumpang sudah terlelap sebagian lain masih asik ber-autis-ria dengan gadget-nya dan sebagian lagi dalam kondisi leyeh-leyeh menikmati perjalanan nyaman.

     Tiba-tiba saja terdengar suara bersin yang massa Alloh….menggelegar sekali…!!! SPB sendiri sampai terucap Innalillahi karena terkejut, Bapak yang tidur disamping saya sampai terlonjak kaget dan terlihat bingung…ada apa ya…pikirnya. Belum lagi ibu-ibu dan mbak-mbak yang latah yang langsung mengeluarkan latahan andalannya masing-masing…ada yang sopan sophian ada juga yang bukan sopan sophian…..

     Ada satu celetukan dari salah satu penumpang yang bikin SPB sampai terkekeh-kekeh sepanjang perjalanan dan membuat penumpang satu gerbong itu jadi ikut mesem-mesem…celetukkannya sepertinya biasa saja…namun memang imajinasi SPG terlewat berlebihan dan sampai sekarang imanjinasi itu terus bermain diawang-awang…..

     Celetukkannya adalah :…..”bersin sih bersin pak. tapi jangan sampe keluar api kayak gitu dong…bikin kaget aja…”

Bayangkan…! keluar api….!! makhluk apa coba yang kalau bersin keluar api….!!! SPB yakin, naga sekalipun jika bersin tak akan mengeluarkan api….

Bukan main efek dari sebuah celetukan….

HAHAHAHAHAHAHAHA……ampuuuuuuuuuuuuuun

N.B.: Semua gambar dari Google loh ya….

Berbaurlah Dengan Kami….


     Sebetulnya ini bisa juga dibilang sebagai tulisan curahan isi hati, mengenai sistem protokoler di sebuah Kantor Kementerian terkenal di di Indonesia. Banyak prilaku para pihak-pihak pelaksana protokoler di setiap Kementerian terlihat sangat berlebihan. SPB disini tidak tahu, apakah memang seharusnya begitu, atau itu sudah merupakan sebuah kibijakan yang mutlak. Kalo memang menjadi sebuah kemutlakan, betapa menyedihkannya sistem yang diberlakukan oleh para pembuat keputusan protokoler untuk disetiap Kementerian.

     SPB akan memaklumi bila sistem protokoler yang diberlakukan bagi pemimpin negara dilaksanakan dengan cara yang sebenarnya, karena hal itu berpengaruh secara langsung terhadap pencitraan sang pemimpin itu sendiri dimata para koleganya yang juga para pemimpin negara. Gak mungkin kan, presiden kita menerima tamu seperti kita menerima tamu dirumah. Untuk itu diperlukan sebuah sistem yang terarah dan sistematis, yang jujur SPB sendiri tak tahu bagaimana cara kerjanya. Yang pasti sistem protokoler yang sempurna untuk pemimpin negara akan memberikan citra positif terhadap pemimpin negara itu sendiri. Mohon pencerahan kalo saya salah ya….

   Kembali ke soal curhat SPB hari ini. Pagi ini SPB bertandang kesebuah Kementerian yang sangat terkenal di pusat Jakarta. Gedung yang mentereng dan fasilitas keamanan yang terlihat ketat, dimana disetiap pintu masuk lobby dipasangi alat detektor bom atom dan bagi para tamu wajib melapor pada resepsionis (SPB mengartikan bahwa resepsionis adalah seseorang yang jago dan suka masak….karena dia menguasai semua resep masak-memasak, makanya disebut resepsionis. Kalau penyanyi disebut vokalis…CMIIW).

     Kawan sya  berkomentar, Systim Operating Procedure/SOP di Kementerian ini sangat aneh dan terlihat berlebihan, saya tanya kenapa ?…dia bilang, dulu kami para pejalan kaki dan pengendara sepeda bermotor bisa masuk kegedung melalui satu pintu gerbang yang sama didepan, namun sekarang yang boleh melewati pintu gerbang itu hanya yang mengendarai mobil saja. Para pejalan kaki yang tidak punya mobil harus lewat lorong samping gedung dengan menyeberangi parit. Kementerian ini mengorbankan tembok gedung untuk dibuatkan pintu kecil diperuntukkan bagi para pejalan kaki. SPB melihat ada kesan diskriminatif yang sangat mencolok disini, rasanya gak sopan sekali memperlakukan pegawainya seperti itu. SPB melihat banyak juga pegawai yang sudah berumur atau mungkin menjelang pensiun melangkah tertatih-tatih menaiki anak tangga menyeberangi parit berebut masuk dengan pegawai muda belia untuk mengejar absen digital agar tidak telat dan dipotong tunjangannya.

     Untuk pengendara sepeda motor, diharuskan masuk melewati pintu di paling belakang gedung Kementerian. Dimana untuk menuju pintu paling belakang itu juga harus melewati lorong kecil yang juga dilewati para pegawai naas yang tidak punya mobil. ini hal baru yang SPB rasakan di Kementerian ini.

     Ketika memasuki ruang lobby pun rasanya tidak nyaman sama sekali. Banyaknya petugas keamanan yang berseragam maupun tidak berseragam berkumpul diruang lobby. Masing-masing memegang Handy Talkie (HT) dengan gaya yang pura-pura digagah-gagah-kan dan diseram-seram-kan, sambil memelototi dengan rasa curiga pada setiap orang yang datang. SPB melihat setidaknya ada lebih dari 15 aparat keamanan yang berseragam dan tidak berseragam berkumpul disini dan terlihat seakan-akan sibuk sekali mondar mandir diruangan lobby yang tidak terlalu besar itu. Menurut kawan yang bekerja disini petugas keamanan ini lebih banyak yang outsourching sedangkan yang tidak berseragam dan memakai HT adalah gerombolan alay pencari muka dan para penjilat sepatu boss-boss yang lewat. Wajah mereka akan berubah menjadi berseri-seri dan terlihat ramah tamah dengan bahasa yang sangat sopan sophian menyapa para pembesar yang lewat, dan akan kembali dengan muka iblis-nya ketika memandang kami yang bukan pembesar.

     Menurut kawanku, sering terjadi konflik antara petugas keamanan outsourching dengan para pegawai kantor karena perlakuannya yang terkadang arogan dan tidak bersimpatik. Mereka kadang menegur dengan gaya militer jika melihat ada pegawai yang tidak memperlihatkan kartu identitas karena tertutup jaket saat absen pagi. Seharusnya mereka sudah hapal siapa saja yang bekerja disini, toh setiap hari mereka  selalu bertemu muka. Kaku sekali memang.

     Hal yang cukup mengejutkan terjadi dan menjadi perhatian SPB teramat sangat. Ketika kami memasuki lift untuk menuju ruang kerja kawan dilantai 16 dan pintu sudah hampir tertutup, tiba-tiba dengan gaya laksana superman, seorang petugas alay menahan pintu lift kami dan dengan serta merta meminta kami yang berada didalam lift untuk segera keluar. Ada apa kataku ?….Mohon keluar Pak ! Ketua sudah datang dan lift akan digunakan beliau…!. Geram sekali aku tapi kawanku dan para pegawai lainnya diam saja, meski SPB tahu dari raut wajah kecewa mereka. Untuk menunggu lift dibutuhkan waktu kurang lebih 5 menit, ketika sudah dapat malah disuruh keluar.

     Sambil menunggu lift lainnya, SPB menunggu seperti apa wajah Ketua pemilik kekuasaan tertinggi gedung ini, namun sampai lift berikutnya datang sang ketua yang ditunggu tak terlihat. Menurut kawan, hal itu sudah biasa terjadi. kalau ketua datang gak ada yang boleh pakai lift itu apalagi naik bersama-sama satu lift, bisa-bisa dipelototi oleh para alay sepanjang perjalanan dilift. Anjriiiiiiit….!!!

   SPB merenung, seperti inikah wajah para penguasa kita sebenarnya. ini baru menjabat sebagai ketua di salah satu instansi Kementerian, lalu bagaimana jika sudah menjadi yang lebih tinggi lagi. SPB kecualikan Presiden disini. Tak bisakah berbaur dan berbagi bersama atas lift yang akan digunakan, toh kalian disini kan adalah satu team dalam artian tugas kerja, kenapa harus ada jarak antara pegawai bawah dengan pegawai atas…?

     Syukurlah, ditempat SPB bekerja, dari jajaran staff sampai para pejabatnya saling asah, asih dan asuh. Tak ada diskriminasi terhadap pegawai yang punya mobil atau yang tidak punya mobil. Semua boleh masuk lewat pintu yang sama dengan syarat berpakaian seragam, rapi dan  memiliki serta memperlihatkan kartu identitas pegawai, namun tetap harus melewati alat detektor (sepertinya alat ini sudah wajib ada disetiap gedung besar)  dan jika tamu atau pegawai yang tertinggal kartu identitasnya maka harus tetap melapor pada petugas keamanan yang akan dilayani dengan sopan yang ikhlas. Gak perlu pake tatapan iblis dan gaya alay. Tak ada larangan naik lift yang manapun, bahkan jika boss besar kebetulan naik bersama beliau mau diajak ngobrol dan saling melempar sapa bahkan ikut bercanda dan tertawa, tak ada kawalan para alay yang bersedia melotot sampe mata kering buat nakutin orang atau ngusir-ngusir orang yang sudah lama antre nunggu lift. Apa susahnya berbaur…toh semula anda juga bukan siapa-siapa, karena lebih beruntung saja anda jadi seperti ini. Percayalah, berbaur dengan para pegawai akan memberikan sensasi kedekatan yang berbeda dan gak ada ruginya kan..?!

   Sepulang perjalanan dari kantor teman, SPB mengambil kesimpulan ngawur. Pertama, diskriminasi pintu masuk itu cuma sebagai sarana kesombongan belaka,  kenapa…? SPB berfikir, masak gedung mentereng seperti ini masih ada pegawai yang jalan kaki gak panteslah….jadi cuma yang pakai mobil aja yang boleh masuk pintu gerbang utama agar dilihat khalayak ramai bahwa gedung ini diisi oleh orang-orang kaya hebat bermobil…..untuk kesimpulan lainnya SPB gak bisa tuliskan disini, karena akan menyakitkan hati.

Maaf kawan, mungkin lain waktu kamu saja yang datang ke kantorku…agar jika kamu sudah menjadi “siapa” kamu bisa menerapkan SOP yang ada dikantorku. Terima kasih atas pelajaran hari ini.

kalo ada yang mau berkomentar silahkan saja….kita berbaur aja disini ya…

N.B.: gak mau pake gambar….takut …!!!