Sarana Transportasiku Yang Malang


     Selama beberapa hari berangkat ke kantor menggunakan kerata listrik, SPB mulai melakukan perhitungan mengenai kenyamanan, kecepatan dan keselamatan dengan menggunakan transportasi kereta ini. Jujur SPB katakan bahwa berangkat kantor dengan menggunakan kereta listrik lebih berasa nyaman dan aman dibanding dengan menggunakan sepeda motor, terlebih di musim penghujan ini. Banyak pengalaman baru yang bisa didapat SPB selama beberapa hari ini dalam perjalanan dengan kereta. Misalnya bertemu teman-teman lama seperjuangan sewaktu bersekolah SMP, bertemu muka-muka baru dengan sifat-sifat baru dan sebagainya. Namun bukan itu faktor utamanya. Yang pasti dengan kereta banyak yang bisa ditawarkan.

     Beberapa waktu lalu, sebagian besar para penumpang kereta sempat mengeluhkan sistem jadwal baru keberatan kereta listrik yang berlaku sekarang. Mereka beranggapan bahwa sistem yang lama lebih nyaman dan cepat dibanding sekarang. Jujur, SPB tak terlalu paham dengan hal itu, karena selama ini SPB selalu berangkat ke kantor dengan menggunakan sepeda motor. Hanya dalam beberapa hari ini (mungkin sudah hampir lebih dua minggu-an) SPB menggunakann jasa transportasi kereta listrik lebih sering, itu juga dikarenakan sepeda motor SPB dalam tahap pemulihan setelah dilakukan operasi turun bero’…(turun mesin). Mereka bilang, bahwa sistem yang lama bisa membuat mereka lebih cepat sampai ke tempat tujuan.

     Info yang SPB dapat dari para penumpang kereta senior, dulu jadwal dan pembagian kereta listrik terdiri dari tiga jenis. Yaitu Kereta AC Ekspress, Kerete Ekonomi AC dan Kerete Ekonomi. Untuk jenis Kereta AC Ekspress, jadwal keberangkatan dan perjalanan kereta lebih nyaman dan cepat, karena kereta jenis ini hanya berhenti di beberapa stasiun besar saja sepanjang Bogor-Jakarta. SPB lebih suka menyebut kereta ini dengan kereta kaum borju (borjuis) Jika berangkat dari stasiun Bogor, maka pemberhentian selanjutnya hanya di stasiun Depok, Manggarai dan seterusnya disetiap stasiun layang sampai ke stasiun Kota. Waktu yang dibutuhkan dalam Perjalanan Bogor-Jakarta (Kota) dengan kereta jenis ini berkisar satu jam saja. Jalur rel untuk kereta jenis ini selalu diutamakan, artinya jika di depan ada kereta dari jenis lain (Ekonomi AC atau Ekonomi) maka kereta jenis lain ini harus mengalah memberikan jalan terlebih dahulu untuk kereta AC Ekspress ini. Terkadang kereta jenis ini mesti menunggu sampai 15 menit lamanya demi memberi kereta borju lewat lebih dahulu. Bayangkan, sudah nyaman dalam kereta berpenyejuk, tidak penuh, berbau harum (aroma parfum wanita pekerja kantoran dan lelaki metroseksual), tidak berisik (para penumpangnya terlihat seperti autis dan asik dengan gadget-nya masing-2), tidak ada penjual asongan, pengemis, ataupun seniman jalanan gak jelas dan yang pasti diberi keutamaan jalan. Copet dan pencuri seks (orang yang suka melakukan pelecehan seksual terhadap wanita) jarang berani beraksi disini, karena udah minder sama penumpangnya yang diem-diem autis. Enak sekali naik kereta jenis ini.

Dulu sering terlihat pemandangan seperti ini pada Kerete Listrik AC Ekspress Bogor-Depok-Jakarta

Saat kerete Borju dalam keadaan kosong, nyaman nian

     Untuk kereta jenis kelas II (KW II) yaitu Ekonomi AC, masih bisa dibilang lumayanlah. Berpenyejuk udara, aroma parfumnya kadang enak kadang gak enak tergantung keberuntungan indera penciuman anda, penumpangnya hanya sedikit yang autis karena gak semua bisa nyaman menggunakan gadget-nya terutama yang berdiri dan berdesakan, terkadang agak berisik karena semua strata penumpang bisa saja naik kereta jenis ini. Hanya saja kereta jenis ini tak memiliki keistimewaan perjalanan seperti kereta borju sebelumnya. Meskipun penjual asongan dan pengemis juga para seniman jalanan gak jelas dilarang mencari nafkah disini, namun keberadaan copet tak dipungkiri sudah pasti ada. Pelecehan seksual juga kadang sering terjadi meski terkadang ada juga yang menikmati dari pelecehan itu….(gak usah munafik yaaaa….). Kereta jenis ini selama perjalanannya selalu berhenti disetiap setasiun, dan waktu perjalanan bisa lebih lama dari kereta jenis yang pertama tadi.

Setidaknya seperti inilah gambaran Kereta Listrik AC Ekonomi saat itu

Mungkin seperti ini pada saat kosong, tapi itu jarang terjadi

     Dan terakhir, inilah kereta kaum para dhuafa kaum yang terpinggirkan, namun sebetulnya SPB lebih suka menyebutnya sebagai kereta para pejuang kereta para mujahid. Disini SPB melihat dari sisi yang berbeda, dimana sekelompok individu yang berada dalam keterbatasan ekonomi berjuang mencari nafkah demi keluarganya dengan jalan yang penuh tantangan. Dengan tiket seharga Rp. 1500,- yang menurut para kaum borju tidak berarti apa-apa dibanding nyawa sebagai taruhannya, namun buat sebagian individu ini sangat berarti. Jika dibandingkan dengan harga tiket kereta AC ekspress yang sebesar Rp. 11.000 dan tiket AC Ekonomi sebesar Rp. 6000 untuk sekali jalan, tentunya bagi kaum pejuang ini Rp. 1500 sudah merupakan harga termahal yang harus mereka tebus dengan tantangan yang juga tak sedikit nilainya. Bahkan bila bisa menyelamatkan Rp. 1500 untuk sekali jalan saja, mereka sudah sangat beruntung luar biasa. Namun memang bila dilihat dari sisi hak dan kewajiban serta kepatuhan dan keselamatan, maka pendapat SPB yang dilihat dari sisi yang berbeda tersebut tidak bisa diterima.

     Jujur SPB pernah juga naik kereta jenis ini beberapa tahun yang lalu bersama teman dan rasanya kapok untuk naik lagi. Kereta jenis ini tanpa penyejuk udara, kadang tanpa kipas angin tanpa lampu, tanpa jendela dan tanpa pintu. Penumpangnya siapa aja yang mau naik silahkan saja, kambing, ayam, bebek kadang juga ikut naik kereta ini, copet jangan ditanya setiap satu penumpang ada 5 copet. Sesaknya tak terperikan, anda bisa menggerakan jari kelingking tangan anda saja itu sudah sebuah anugerah terbesar buat anda, siapa yang memiliki lubang hidung besar maka anda akan selamat naik kereta jenis ini namun akan tersiksa dengan aroma yang gak jelas dan tak terdaftar dalam daftar indera penciuman anda. Belum lagi para pencari nafkah lain seperti pedagang asongan yang tak tahu diri mendorong-dorong gerobak dagangannya ditengah kesesakkan para pengemis yang bolak-balik hilir mudik dari gerbong ke gerbong, juga para seniman jalanan yang gak jelas kadang nyanyi gak menggunakan rasa seni atau sekedar ngebacot jual puisi gak jelas. Sungguh bukan gambaran alat transportasi yang layak, SPB bisa katakan demikian karena memang dari segi “kemanusiaan” kereta ini tidak layak dijadikan sebagai sarana transportasi publik. Kesan kumuh dan adu sakti terlihat jelas di kereta jenis ini. Mungkin pembaca sering juga melihat dalam perjalanan terlihat banyak penumpang yang naik keatas atap kereta demi bisa sampai ditujuan dengan cepat dan murah. Yang SPB tahu, sebagian besar meski tidak semuanya, banyak penumpang kereta jenis ini yang tidak membeli tiket namun lebih suka bayar langsung kemasinis, jadi jika masinis tidak menagih maka penumpangnya bisa naik gratis.

Dan inilah gambaran Kereta Listrik Ekonomi, kereta para pejuang

     Sungguh memalukan memang, disaat para wakil rakyat yang nota bene adalah wakil kita dalam mengambil sikap dan keputusan demi kesejahteraan rakyat asik dengan mobil pribadi mewahnya, sementara rakyat yang seharusnya mereka urus keperluannya berjibaku dengan cara yang tidak manusiawi. Entahlah SPB mau bilang apa…..

    Bagaimana menurut anda…?

N.B.: Tenang….ternyata kita tidak sendirian dalam hal transportasi kereta, di India ada yang lebih tidak manusiawi dari kita….lalu sekarang bagaimana…?

Oya, semua gambar dicari dan di copas dari hasil googling di google.

Kapan Indonesia punya yang begini ya……

N.G.I.M.P.I……

Iklan

2 comments on “Sarana Transportasiku Yang Malang

    • Naik kereta di Indonesia siap aja mengeluh Bro’…harus punya niat dan mental yang kuat kalo mau nyoba rasa “ketidak-nyamanan”…sensasinya pasti beda jauh kalo kita naik taxi atau kendaraan pribadi…silahkan aja di coba Bro’…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s