Cerita Kucing Dan Anjing


     SPB sebenarnya gak habis pikir dan kadang rada gak setuju lagi kalau masih ada orang yang bilang, …”mereka tiap harinya selalu bertengkar seperti anjing dan kucing….”. Dan kayaknya SPB juga mulai heran sama kejadian-kejadian alam yang rasanya sekarang makin aneh dan udah gak sejalan dengan “kaidah-kaidah jaman dulu”, contohnya seperti photo yang SPB dapet ini.

     Dahulu orang selalu bilang kalo anjing sama kucing seumur-umur sampai dunia kiamat 4 kali gak bakalan bisa jadi temen atau sahabat, tapi nyatanya……ya sutralah, mungkin mereka yang sekarang udah sadar diri kalo terus bertengkar itu gak ada manfaatnya atau mereka udah gantian jadi penonton atas diri kita yang sekarang tiap harinya selalu gontok-gontokan satu sama lain hanya demi berebut kekuasan, mempertahankan pendapat yang gak bermutu. membela yang bayar, dan lain-lain sebangsanya. Padahal kalo mau jujur, sebenarnya permusuhan antara anjing sama kucing yang pernah jadi mitos itu bukan dikarenakan ingin berebut kuasa atau jabatan, tapi karena salah paham atas “bahasa tubuh” yang mereka ciptakan sendiri. Kenapa gue bilang begitu…..ini adalah tesis yang pernah gue lakukan secara acak terhadap beberapa ekor kucing dan anjing yang ada disekitar perjalanan pergi dan pulang SPB, meski hasilnya belum bisa dipertanggungjawabkan, namun setidaknya ada gambaran bahwa bahasa tubuh yang mereka ciptakan satu sama lain sejatinya bukan untuk bermusuhan.

     Begini, bagi orang yang pernah memelihara kucing apalagi dipelihara sejak lahir, maka ada kemungkinan dia akan sedikit banyak mengetahui prilaku piaraannya itu. bagaimana jika dia lapar, marah atau mau sekedar melepas hasrat seksualnya. Ada bahasa tubuh bagi kucing yang SPB tahu dan hapal apa maksud dan maunnya sikucing, pada suatu saat dimana kucing dalam keadaan ingin dimanja atau ingin bercanda adalah dengan menunjukkan bahasa tubuh dimana ekor akan melipat kebawah badannya atau setidaknya menjulur terarah kebawah, dan jika dalam keadaan marah atau terancam maka ekornya akan berdiri tegak dan kaku.

Lain halnya dengan anjing, dari pengalaman SPB dijalan, anjing jika sedang ingin bercanda atau ingin bermanja dengan majikannya menunjukkan bahasa tubuh dengan menaikkan ekornya keatas, sedangkan jika dalam keadaan terancam , anjing akan menunjukkan bahasa tubuh dengan melipat ekornya kedalam tubuhnya.

Coba sekarang mohon ditelaah, apa jadinya jika anjing dan kucing bertemu tanpa sengaja disimpangan jalan, tentunya awal pertama mereka akan terkejut, jika ada yang latah pasti salah satunya akan bilang…”copot…copot…copot…”. Disini, jika yang menjadi pihak terancam adalah kucing, maka secara otomatis ekornya akan berdiri tegak keatas, tapi sayang…anjing salah pengertian, disangkanya sang kucing mengajaknya bercanda maka digongonglah sang kucing, kalo diterjemahkan dalam bahasa manusia gongongan itu mungkin akan berbunyi begini…”ahh…sang kucing sudah tak sabar ingin bercanda denganku…”, makanya sang anjing langsung mengejar sang kucing dengan harapan sang kucing mau diajak main kejar-kejaran, disatu sisi kucing gak tau maksud si anjing, akhirnya sambil terkencing-kencing sang kucing jadi ikut-ikutan lari. Sambil ngejar kucing , anjing yang kena kencing kucing akan mengonggong yang artinya adalah…”Ah curang luh…pake bawa senjata air segala…bilang dong kalo mau main tembak-tembakan….”, guk…guk..guk..!

     Sekian dan terima kasih.

N.B.: Semua gambar di unggah dari Google.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s