Berjalan Tanpamu


     Perjalanan hari kedua naik kereta cukup menyenangkan. Sementara Sang Maxi tak bisa menemaniku karena cidera klep makanya dia harus istirahat dalam perawatan bengkel dan aku tak bisa bersamamu untuk beberapa saat. Aku terpaksa berangkat ke kantor dengan kereta listrik. Kereta tidak terlalu padat pagi ini, tidak seperti hari pertama kemarin. Perjalanan lancar sampai tujuan dengan tepat waktu, syukurlah, artinya aku masih punya waktu untuk sekedar berjalan kaki dari stasiun Juanda menuju arah lapangan Banteng. Jam menunjukkan pukul 07.05 WIB, masih banyak waktu menuju 07.30 WIB jam masuk kantor yang tidak boleh telat sedetikpun, karena jika telat sedetik saja maka sudah bisa dipastikan gajiku akan terpotong o,5%.

     Pagi ini Jakarta cukup sejuk, setelah kemarin dan semalaman disiram hujan dan angin dingin. Matahari bersinar secukupnya dan sedikit sopan meski masih ada awan mendung berarak diatas Jakarta, aku tak berharap pagi ini turun hujan. Aku mulai menikmati langkah kaki selangkah demi selangkah. Jarak yang akan aku tempuh dari stasiun Juanda sampai Kantor ada sekitar 1-2 kilo meter. Cukup jauh buatku, terlebih selama ini untuk jarak yang hanya 100 meter menuju warung belakang rumah, aku terbiasa naik motor. Jadi setidaknya aku harus  mencoba lagi membiasakan kodrat sang kaki untuk berjalan mengantarkan tuannya.

Masjid Istiqlal-Jakarta

     Pemandangan pertama selepas mata memandang adalah Masjid Istiqlal, Masjid terbesar di Indonesia. Sejauh usiaku diperputaran waktu bumi ini, aku hanya 3 kali melakukan ibadah shalat di Masjid kebanggaan kaum muslim se-Indonesia ini. Pertama kali adalah karena ajakan teman sewaktu kuliah yang ingin beristirahat karena  kelelahan mencari buku materi ekonomi akuntansi untuk bahan kuliah di seputaran loakan Pasar Senen. Sambil beristirahat kami sempatkan shalat Ashar disini. Kedua ketika aku bersama mantan pacarku yang sekarang jadi istriku, menyempatkan shalat dan beristirahat setelah seharian lelah mencari lokasi daftar ulang untuk mengikuti tes selanjutnya sebagai Pegawai Negeri Sipil di sekitaran Medan Merdeka Selatan. Ketiga adalah ketika shalat jum’at untuk pertama kalinya setelah aku diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil di Medan Merdeka selatan.  Pagi ini Istiqlal terlihat sejuk dan bersih, mungkin karena guyuran hujan semalam. Menurut sejarah pendiriannya, dulu ide pembangunan masjid tercetus setelah empat tahun proklamasi kemerdekaan yaitu pada tahun 1950, KH. Wahid Hasyim yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Agama RI dan H. Anwar Tjokroaminoto dari Partai Syarikat Islam. Pemancangan tiang pertama dilakukan oleh Presiden Ir. Soekarno pada tanggal 24 Agustus 1961 bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, disaksikan oleh ribuan ummat Islam. Karena situasi politik yang tidak kondusif, pembangunan Masjid ini agak tersendat. Tujuh belas tahun kemudian, Masjid Istiqlal selesai dibangun. Dimulai pada tanggal 24 Agustus 1961, dan diresmikan penggunaannya oleh Presiden Soeharto pada tanggal 22 Februari 1978, ditandai dengan prasasti yang dipasang di area tangga pintu As-Salam. Uniknya, sebelum dibangun, maket masjid ini dirancang oleh Fredrerich Silaban yang memenangkan sayembara pembuatan maket Masjid, dan dia bukan berasal dari umat muslim tapi berasal dari umat nasrani.

     Pemandangan kedua adalah Gereja Katedral Indonesia yang lokasinya persis di seberang Masjid Istiqlal. Dalam perjalanan dengan kaki ini aku harus fokus pada jalan Jakarta yang selalu padat dengan kendaraan, terlebih aku berjalan tepat disamping jalur Trans Jakarta (busway) yang terkadang sopirnya gak bisa ngalah sama pejalan kaki walau hanya untuk sekedar memperlambat laju bis agar tidak mengagetkan pejalan kaki. Menurut sejarah yang saya baca, Gereja Katedral ini dirancang dengan gaya neo-gothic Eropa dan dimulai oleh Pastor   Antonius Dijkmans dan peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Provicaris Carolus Wennejker. Pekerjaan ini kemudian dilanjutkan oleh Cuypers Hulswit ketika Dijkmans tidak bisa melanjutkannya, dan kemudian diresmikan dan diberkati pada 21 April 1901 oleh Mgr. Edmundus Sybradus Luypen, SJ, Vikaris Apostolik Jakarta. (kalo tertarik bisa baca sejarahnya di Google)

     Setelah dengan susah payah menyebrang jalan, akhirnya aku sampai di lapangan Banteng yang dahulu dikenal dengan lapangan IKADA, tempat Pak Karno pidato di depan rakyat dibawah todongan senapan penjajah (penjajahnya Belanda atau Jepang ya…lali aku…)

Lapangan ini cukup nyaman untuk berolah raga. Ada tiga lapangan sepak bola meski bukan ukuran internasional, 2 lapangan basket dan volli dan trek untuk jogging atau jalan kaki. Pagi ini lapangan banteng masih basah, tak banyak yang berolah raga disini. Yang paling mengetarkan hati adalah jalur pejalan kaki disepanjang lapangan banteng ini…sungguh teduh dan sejuk. Jalur pejalan kaki seakan-akan berada dalam goa karena pohon-pohon disisi jalan yang berdaun lebat dan rindang saling bertemu diatas menutupi jalan.

Oya,…disebelah lapangan banteng adalah Gedung Pos Besar Jakarta, bangunan peninggalan jaman belanda yang masih kokoh berdiri. Bangunan ini terletak di Jalan Pos, No 1 Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Menurut sejarah yang saya baca juga, dibangun pada sekitar pertengahan abad ke-19 dan merupakan Kantor Pos pertama di Jakarta. Pada bagian atas dari sebuah bangunan “PTT” tertulis singkatan dari “Post Telegraph Telepon”. Penunjukan untuk bangunan PTT berlangsung sampai tahun-tahun awal kemerdekaan Indonesia. Selama revolusi fisik nama kantor ini diubah menjadi Kantor Pos dan Telegraph Pasar Baru dan yang lazim dikenal sebagai Pos dan Kantor Cable Pasar Baru. Pada tahun 1963 ini nama gedung Ibukota Post Bangunan atau Kantor Pos Ibukota Jakarta Raya. Pada 23 November 1961 Post Transfer Kredit dan Cek Kantor didirikan dengan kantor di gedung ini sampai hari ini bertuliskan nama Pos dan Transfer Kredit Kantor Jakarta. Arsitektur Belanda spesifik jelas terlihat saat istirahat dan gelas dekoratif di bagian depan gedung. Sekilas tampak seperti pembangunan Stasiun Kereta Api Jakarta Kota. Atapnya terbuat dari dukungan lembaran besi dengan posting besi datar, membuat bentuk kurva tinggi seperti platform Stasiun Kereta Api. Dalam totalitas, gedung ini tidak mengalami perubahan fisik dan masih sangat kuat. Bagian depan bangunan yang ditinggikan, sekarang digunakan sebagai Kantor Telegraph Pasar Baru.

Gedung Kantor Pos Besar Jakarta

     Perjalananku berakhir ketika mulai memasuki pintu gerbang belakang kantorku yang terletak di jalan Medan Merdeka Selatan. Mungkin sebagian besar pembaca sudah tahu dari penampakan gedung tua bersejarah ini tempat aku mencari nafkah untuk keluargaku. Sudah hampir 13 tahun aku mengabdikan diri bagi negeri sebagai Pegawai negeri Sipil. Banyak tudingan miring mengenai tempat aku mencari nafkah disini, tapi biarlah itu pendapat individu lain, tapi setidaknya sampai saat ini saya bekerja dengan tulus ikhlas lillahi ta’ala dan dengan niatan baik buat keluarga, Amin.

     Dan di gedung berlantai 16 inilah aku bekerja, Gedung Soemitro Djojohadikoesumo.

My Potofolio

Iklan

2 comments on “Berjalan Tanpamu

    • Iya memang indah menikmati Jakarta, dengan syarat cuaca berawan, sedikit mendung namun tidak hujan…dijamin jalan-jalan dengan cara manual akan lebih nikmat jika tidak ada matahari yang terik…terima kasih udah mampir ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s