Sarana Transportasiku Yang Malang


     Selama beberapa hari berangkat ke kantor menggunakan kerata listrik, SPB mulai melakukan perhitungan mengenai kenyamanan, kecepatan dan keselamatan dengan menggunakan transportasi kereta ini. Jujur SPB katakan bahwa berangkat kantor dengan menggunakan kereta listrik lebih berasa nyaman dan aman dibanding dengan menggunakan sepeda motor, terlebih di musim penghujan ini. Banyak pengalaman baru yang bisa didapat SPB selama beberapa hari ini dalam perjalanan dengan kereta. Misalnya bertemu teman-teman lama seperjuangan sewaktu bersekolah SMP, bertemu muka-muka baru dengan sifat-sifat baru dan sebagainya. Namun bukan itu faktor utamanya. Yang pasti dengan kereta banyak yang bisa ditawarkan.

     Beberapa waktu lalu, sebagian besar para penumpang kereta sempat mengeluhkan sistem jadwal baru keberatan kereta listrik yang berlaku sekarang. Mereka beranggapan bahwa sistem yang lama lebih nyaman dan cepat dibanding sekarang. Jujur, SPB tak terlalu paham dengan hal itu, karena selama ini SPB selalu berangkat ke kantor dengan menggunakan sepeda motor. Hanya dalam beberapa hari ini (mungkin sudah hampir lebih dua minggu-an) SPB menggunakann jasa transportasi kereta listrik lebih sering, itu juga dikarenakan sepeda motor SPB dalam tahap pemulihan setelah dilakukan operasi turun bero’…(turun mesin). Mereka bilang, bahwa sistem yang lama bisa membuat mereka lebih cepat sampai ke tempat tujuan.

     Info yang SPB dapat dari para penumpang kereta senior, dulu jadwal dan pembagian kereta listrik terdiri dari tiga jenis. Yaitu Kereta AC Ekspress, Kerete Ekonomi AC dan Kerete Ekonomi. Untuk jenis Kereta AC Ekspress, jadwal keberangkatan dan perjalanan kereta lebih nyaman dan cepat, karena kereta jenis ini hanya berhenti di beberapa stasiun besar saja sepanjang Bogor-Jakarta. SPB lebih suka menyebut kereta ini dengan kereta kaum borju (borjuis) Jika berangkat dari stasiun Bogor, maka pemberhentian selanjutnya hanya di stasiun Depok, Manggarai dan seterusnya disetiap stasiun layang sampai ke stasiun Kota. Waktu yang dibutuhkan dalam Perjalanan Bogor-Jakarta (Kota) dengan kereta jenis ini berkisar satu jam saja. Jalur rel untuk kereta jenis ini selalu diutamakan, artinya jika di depan ada kereta dari jenis lain (Ekonomi AC atau Ekonomi) maka kereta jenis lain ini harus mengalah memberikan jalan terlebih dahulu untuk kereta AC Ekspress ini. Terkadang kereta jenis ini mesti menunggu sampai 15 menit lamanya demi memberi kereta borju lewat lebih dahulu. Bayangkan, sudah nyaman dalam kereta berpenyejuk, tidak penuh, berbau harum (aroma parfum wanita pekerja kantoran dan lelaki metroseksual), tidak berisik (para penumpangnya terlihat seperti autis dan asik dengan gadget-nya masing-2), tidak ada penjual asongan, pengemis, ataupun seniman jalanan gak jelas dan yang pasti diberi keutamaan jalan. Copet dan pencuri seks (orang yang suka melakukan pelecehan seksual terhadap wanita) jarang berani beraksi disini, karena udah minder sama penumpangnya yang diem-diem autis. Enak sekali naik kereta jenis ini.

Dulu sering terlihat pemandangan seperti ini pada Kerete Listrik AC Ekspress Bogor-Depok-Jakarta

Saat kerete Borju dalam keadaan kosong, nyaman nian

     Untuk kereta jenis kelas II (KW II) yaitu Ekonomi AC, masih bisa dibilang lumayanlah. Berpenyejuk udara, aroma parfumnya kadang enak kadang gak enak tergantung keberuntungan indera penciuman anda, penumpangnya hanya sedikit yang autis karena gak semua bisa nyaman menggunakan gadget-nya terutama yang berdiri dan berdesakan, terkadang agak berisik karena semua strata penumpang bisa saja naik kereta jenis ini. Hanya saja kereta jenis ini tak memiliki keistimewaan perjalanan seperti kereta borju sebelumnya. Meskipun penjual asongan dan pengemis juga para seniman jalanan gak jelas dilarang mencari nafkah disini, namun keberadaan copet tak dipungkiri sudah pasti ada. Pelecehan seksual juga kadang sering terjadi meski terkadang ada juga yang menikmati dari pelecehan itu….(gak usah munafik yaaaa….). Kereta jenis ini selama perjalanannya selalu berhenti disetiap setasiun, dan waktu perjalanan bisa lebih lama dari kereta jenis yang pertama tadi.

Setidaknya seperti inilah gambaran Kereta Listrik AC Ekonomi saat itu

Mungkin seperti ini pada saat kosong, tapi itu jarang terjadi

     Dan terakhir, inilah kereta kaum para dhuafa kaum yang terpinggirkan, namun sebetulnya SPB lebih suka menyebutnya sebagai kereta para pejuang kereta para mujahid. Disini SPB melihat dari sisi yang berbeda, dimana sekelompok individu yang berada dalam keterbatasan ekonomi berjuang mencari nafkah demi keluarganya dengan jalan yang penuh tantangan. Dengan tiket seharga Rp. 1500,- yang menurut para kaum borju tidak berarti apa-apa dibanding nyawa sebagai taruhannya, namun buat sebagian individu ini sangat berarti. Jika dibandingkan dengan harga tiket kereta AC ekspress yang sebesar Rp. 11.000 dan tiket AC Ekonomi sebesar Rp. 6000 untuk sekali jalan, tentunya bagi kaum pejuang ini Rp. 1500 sudah merupakan harga termahal yang harus mereka tebus dengan tantangan yang juga tak sedikit nilainya. Bahkan bila bisa menyelamatkan Rp. 1500 untuk sekali jalan saja, mereka sudah sangat beruntung luar biasa. Namun memang bila dilihat dari sisi hak dan kewajiban serta kepatuhan dan keselamatan, maka pendapat SPB yang dilihat dari sisi yang berbeda tersebut tidak bisa diterima.

     Jujur SPB pernah juga naik kereta jenis ini beberapa tahun yang lalu bersama teman dan rasanya kapok untuk naik lagi. Kereta jenis ini tanpa penyejuk udara, kadang tanpa kipas angin tanpa lampu, tanpa jendela dan tanpa pintu. Penumpangnya siapa aja yang mau naik silahkan saja, kambing, ayam, bebek kadang juga ikut naik kereta ini, copet jangan ditanya setiap satu penumpang ada 5 copet. Sesaknya tak terperikan, anda bisa menggerakan jari kelingking tangan anda saja itu sudah sebuah anugerah terbesar buat anda, siapa yang memiliki lubang hidung besar maka anda akan selamat naik kereta jenis ini namun akan tersiksa dengan aroma yang gak jelas dan tak terdaftar dalam daftar indera penciuman anda. Belum lagi para pencari nafkah lain seperti pedagang asongan yang tak tahu diri mendorong-dorong gerobak dagangannya ditengah kesesakkan para pengemis yang bolak-balik hilir mudik dari gerbong ke gerbong, juga para seniman jalanan yang gak jelas kadang nyanyi gak menggunakan rasa seni atau sekedar ngebacot jual puisi gak jelas. Sungguh bukan gambaran alat transportasi yang layak, SPB bisa katakan demikian karena memang dari segi “kemanusiaan” kereta ini tidak layak dijadikan sebagai sarana transportasi publik. Kesan kumuh dan adu sakti terlihat jelas di kereta jenis ini. Mungkin pembaca sering juga melihat dalam perjalanan terlihat banyak penumpang yang naik keatas atap kereta demi bisa sampai ditujuan dengan cepat dan murah. Yang SPB tahu, sebagian besar meski tidak semuanya, banyak penumpang kereta jenis ini yang tidak membeli tiket namun lebih suka bayar langsung kemasinis, jadi jika masinis tidak menagih maka penumpangnya bisa naik gratis.

Dan inilah gambaran Kereta Listrik Ekonomi, kereta para pejuang

     Sungguh memalukan memang, disaat para wakil rakyat yang nota bene adalah wakil kita dalam mengambil sikap dan keputusan demi kesejahteraan rakyat asik dengan mobil pribadi mewahnya, sementara rakyat yang seharusnya mereka urus keperluannya berjibaku dengan cara yang tidak manusiawi. Entahlah SPB mau bilang apa…..

    Bagaimana menurut anda…?

N.B.: Tenang….ternyata kita tidak sendirian dalam hal transportasi kereta, di India ada yang lebih tidak manusiawi dari kita….lalu sekarang bagaimana…?

Oya, semua gambar dicari dan di copas dari hasil googling di google.

Kapan Indonesia punya yang begini ya……

N.G.I.M.P.I……

Cerita Kucing Dan Anjing


     SPB sebenarnya gak habis pikir dan kadang rada gak setuju lagi kalau masih ada orang yang bilang, …”mereka tiap harinya selalu bertengkar seperti anjing dan kucing….”. Dan kayaknya SPB juga mulai heran sama kejadian-kejadian alam yang rasanya sekarang makin aneh dan udah gak sejalan dengan “kaidah-kaidah jaman dulu”, contohnya seperti photo yang SPB dapet ini.

     Dahulu orang selalu bilang kalo anjing sama kucing seumur-umur sampai dunia kiamat 4 kali gak bakalan bisa jadi temen atau sahabat, tapi nyatanya……ya sutralah, mungkin mereka yang sekarang udah sadar diri kalo terus bertengkar itu gak ada manfaatnya atau mereka udah gantian jadi penonton atas diri kita yang sekarang tiap harinya selalu gontok-gontokan satu sama lain hanya demi berebut kekuasan, mempertahankan pendapat yang gak bermutu. membela yang bayar, dan lain-lain sebangsanya. Padahal kalo mau jujur, sebenarnya permusuhan antara anjing sama kucing yang pernah jadi mitos itu bukan dikarenakan ingin berebut kuasa atau jabatan, tapi karena salah paham atas “bahasa tubuh” yang mereka ciptakan sendiri. Kenapa gue bilang begitu…..ini adalah tesis yang pernah gue lakukan secara acak terhadap beberapa ekor kucing dan anjing yang ada disekitar perjalanan pergi dan pulang SPB, meski hasilnya belum bisa dipertanggungjawabkan, namun setidaknya ada gambaran bahwa bahasa tubuh yang mereka ciptakan satu sama lain sejatinya bukan untuk bermusuhan.

     Begini, bagi orang yang pernah memelihara kucing apalagi dipelihara sejak lahir, maka ada kemungkinan dia akan sedikit banyak mengetahui prilaku piaraannya itu. bagaimana jika dia lapar, marah atau mau sekedar melepas hasrat seksualnya. Ada bahasa tubuh bagi kucing yang SPB tahu dan hapal apa maksud dan maunnya sikucing, pada suatu saat dimana kucing dalam keadaan ingin dimanja atau ingin bercanda adalah dengan menunjukkan bahasa tubuh dimana ekor akan melipat kebawah badannya atau setidaknya menjulur terarah kebawah, dan jika dalam keadaan marah atau terancam maka ekornya akan berdiri tegak dan kaku.

Lain halnya dengan anjing, dari pengalaman SPB dijalan, anjing jika sedang ingin bercanda atau ingin bermanja dengan majikannya menunjukkan bahasa tubuh dengan menaikkan ekornya keatas, sedangkan jika dalam keadaan terancam , anjing akan menunjukkan bahasa tubuh dengan melipat ekornya kedalam tubuhnya.

Coba sekarang mohon ditelaah, apa jadinya jika anjing dan kucing bertemu tanpa sengaja disimpangan jalan, tentunya awal pertama mereka akan terkejut, jika ada yang latah pasti salah satunya akan bilang…”copot…copot…copot…”. Disini, jika yang menjadi pihak terancam adalah kucing, maka secara otomatis ekornya akan berdiri tegak keatas, tapi sayang…anjing salah pengertian, disangkanya sang kucing mengajaknya bercanda maka digongonglah sang kucing, kalo diterjemahkan dalam bahasa manusia gongongan itu mungkin akan berbunyi begini…”ahh…sang kucing sudah tak sabar ingin bercanda denganku…”, makanya sang anjing langsung mengejar sang kucing dengan harapan sang kucing mau diajak main kejar-kejaran, disatu sisi kucing gak tau maksud si anjing, akhirnya sambil terkencing-kencing sang kucing jadi ikut-ikutan lari. Sambil ngejar kucing , anjing yang kena kencing kucing akan mengonggong yang artinya adalah…”Ah curang luh…pake bawa senjata air segala…bilang dong kalo mau main tembak-tembakan….”, guk…guk..guk..!

     Sekian dan terima kasih.

N.B.: Semua gambar di unggah dari Google.

Karena Nila Setitik, Rusak Angkot Se-Organda


     Maraknya kejahatan dan kriminalitas dalam angkutan umum tampaknya kian tumbuh subur. Dalam beberapa bulan terakhir ini kita disuguhkan berita-berita baik di media televisi, radio, koran bahkan dunia maya yang menyayat hati terhadap korban-korban kejahatan dalam angkutan umum perkotaan atau yang sering kita sebut sebagai angkot. Kejahatan yang dilakukan beragam cara dan modus. Yang paling sering terjadi adalah penodongan atau perampokan dalam angkot oleh sekelompok anggota kejahatan, namun sekarang sedang marak kejahatan perkosaan dalam angkot yang dilakukan oleh sekelompok orang tertentu.

     Tak dapat dipungkiri, kejahatan yang sering terjadi terkadang dilakukan oleh pihak-pihak yang terorganisir. Ada kerjasama antara sopir angkot dengan sekelompok orang yang melakukan tindakan kejahatan. Tak mustahil, sopir angkot adalah juga merupakan salah satu dari anggota sindikat kejahatan tersebut. Tindakan kriminalitas sepertinya tak pandang waktu, biasanya terjadi pada waktu malam hari, namun sekarang  pagi dan siang haripun tindakan kriminal  itu kadang terjadi. Korbannyapun tak pandang gender, laki-laki dan wanita bisa menjadi korban.

     Dalam tayangan salah satu televisi swasta beberapa hari lalu, SPB sempat menyaksikan modus operandi yang dilakukan oleh sindikat kejahatan tersebut. Cukup menyentak hati dan sangat mengejutkan. Kerjasama antara sopir angkot dengan pelaku kejahatan sangat rapi dan terorganisir, bahkan sopir angkot dan pelaku kejahatan bisa dikatakan masih ada ikatan saudara, sungguh terlalu keturunan keluarga ini, selama hidupnya turun temurun makan uang haram hasil kejahatan. Tak dapat disalahkan, perkembangan teknologi yang semakin maju ternyata bisa memberikan andil yang luar biasa juga terhadap tingkat penyalahgunaan kejahatan. Telepon seluler menjadi sarana yang diandalkan oleh para sindikat dalam melakukan kejahatannya. Mohon maaf SPB tak bisa menceritakan secara detail modus operandi yang dilakukan oleh sindikat tersebut, dengan fasilitas kecanggihan teknologi dunia maya, sang pembaca bisa mencarinya sendiri di internet, hehehe.

     Disatu sisi, sopir angkot yang bukan merupakan anggota sindikat secara langsung akan terkena imbasnya. Menurut pengakuan sopir angkot asli yang ditayangakan televisi kemarin, sopir angkot “asli” merasa pendapatannya berkurang sementara setoran terhadap majikan tak berubah, belum lagi biaya bahan bakar yang harus ditanggung sendiri, kalau sudah susah mencari penumpang lagi seperti ini, bagaimana mereka dapat menafkahi keluarganya dengan layak. Perlu diwaspadai juga, hal dari susahnya mendapatkan uang untuk menutupi kebutuhan hidup, akan bisa berdampak negatif. Sekarang lebih banyak calon penumpang angkot yang lebih memilih naik motor daripada naik angkot yang notabene sekarang tidak bisa dijamin keamanannya.  Mereka berfikir positif buat diri mereka, daripada bayar angkot selama sebulan sebesar Rp. 350.000/bln tapi banyak ancaman kejahatan diluar stress karena macet (jika biaya sehari pergi pulang dengan angkot Rp. 15.000 dikalikan 25  hari kerja) lebih baik ambil kredit  motor dengan anggsuran yang sama tiap bulannya.

     Hal ini akan berpengaruh sangat signifikan terhadap persepsi masyarakat atas angkutan perkotaan yang ada selama ini. Mereka akan berfikiran bahwa, sekarang sudah tidak aman lagi naik angkutan umum, baik itu bis, kereta apalagi angkutan kota kecil-kecil lainnya. lalu apa yang harus dilakukan Organda….? (jujur organda itu apa sih….???). Mereka akan berfikir, sekaranglah saatnya memiliki kendaraan pribadi yang bisa mengantarkan sampai tujuan dengan murah meriah, aman dan nyaman yang sifatnya relatif. Lalu pilihan akan jatuh pada sepeda motor, karena untuk membeli mobil tak semudah membeli motor.

         Dari dampak yang men-domino inilah akan timbul efek samping yang dampaknya bisa sangat serius. Misalnya :

  1. Semakin banyaknya pengendara motor di jalan raya maka akan semakin padat jalan raya tersebut kemcetan tak terhindarkan akan makin parah. kecelakaan lalulintas gak akan bisa menurun, bertambah mungkin, karena banyak pengendara motor yang sekedar bisa naik motor akan bertaburan dijalan, terutama kaum hawanisme.
  2. Bahan bakar minyak akan lebih cepat terserap ke masyarakat pengendara, terutama premium dan pemerintah akan kelabakan memberikan subsidi tambahan untuk premium. Motor semakin banyak, tapi angkutan kota tak berkurang. Pembatasan bahan bakar gak berlaku untuk motor, atau jangan-jangan pemilik mobil mewah akan pindah ke motor juga, demi menghindari pertamax yang gak turun-turun harganya.
  3. Polusi udara dan suara sudah dipastikan memberikan dampak negatif yang lebih besar buat lingkungan, karena pohon-pohon sekitar pinggir jalan ditebangi oleh orang-orang biadab untuk pelebaran jalan yang gak berpengaruh terhadap kemacetan secara  signifikan.
  4. Dan lain-lain sebangsanya.

     Belum lagi dampak lanjutan yang lebih parah lagi yang akan datang menghampiri yang sifatnya sporadis dan SPB yakin dampak ini sifatnya akan mengarah pada hal-hal yang bersifat negatif. salah satunya adalah Kepunahan masal angkutan kota akan terprediksi secara pasti, jika banyak masyarakat yang beralih ke sepeda motor. kalau angkot sudah punah, lalu bagaimana dengan organda….?? yang pasti mereka akan nganggur duuuoooonnnnkkkk…..!!!. Pengangguran akibat dari efek kepunahan angkot akan bertambah, sementara kebutuhan hidup semakin menggurita. Kehidupan yang keras dan sukar akan membuat manusia berfikir inovatif dan kreatif demi mendapatkan kenikmatan dalam sekejap atau demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk mendapatkan kenikmatan atau kebutuhan hidup dalam waktu sekejap biasanya dilakukan oleh orang yang tidak sabar. Orang yang tidak sabar akan melakukan hal (menghalalkan segala cara) apa saja demi memenuhi kebutuhannya. Orang yang menghalalkan segala cara bisanya bukan orang baik-baik. lalu….silahkan teruskan sendiri.

     Ini baru salah satu contoh dampak negatif yang diakibatkan oleh sindikat kejahatan yang melibatkan sopir angkot, lalu bagaimana dampak negatif lainnya yang dilakukan sindikat kejahatan yang melibatkan polisi, tentara, guru, dokter, hakim, jaksa, tukang sayur, pengemis, pedagang kaki lima, tukang cukur, tukang somay, tukang jamu, dukun, banci, mekanik,  para biker alay, pejabat, ulama, atau orang-orang besar lainnya…?  cuma Allah yang bisa jawab.

    Lalu apa komentar anda….?!?

N.B.: Semua gambar nyari trus di copas dari Google

Berjalan Tanpamu


     Perjalanan hari kedua naik kereta cukup menyenangkan. Sementara Sang Maxi tak bisa menemaniku karena cidera klep makanya dia harus istirahat dalam perawatan bengkel dan aku tak bisa bersamamu untuk beberapa saat. Aku terpaksa berangkat ke kantor dengan kereta listrik. Kereta tidak terlalu padat pagi ini, tidak seperti hari pertama kemarin. Perjalanan lancar sampai tujuan dengan tepat waktu, syukurlah, artinya aku masih punya waktu untuk sekedar berjalan kaki dari stasiun Juanda menuju arah lapangan Banteng. Jam menunjukkan pukul 07.05 WIB, masih banyak waktu menuju 07.30 WIB jam masuk kantor yang tidak boleh telat sedetikpun, karena jika telat sedetik saja maka sudah bisa dipastikan gajiku akan terpotong o,5%.

     Pagi ini Jakarta cukup sejuk, setelah kemarin dan semalaman disiram hujan dan angin dingin. Matahari bersinar secukupnya dan sedikit sopan meski masih ada awan mendung berarak diatas Jakarta, aku tak berharap pagi ini turun hujan. Aku mulai menikmati langkah kaki selangkah demi selangkah. Jarak yang akan aku tempuh dari stasiun Juanda sampai Kantor ada sekitar 1-2 kilo meter. Cukup jauh buatku, terlebih selama ini untuk jarak yang hanya 100 meter menuju warung belakang rumah, aku terbiasa naik motor. Jadi setidaknya aku harus  mencoba lagi membiasakan kodrat sang kaki untuk berjalan mengantarkan tuannya.

Masjid Istiqlal-Jakarta

     Pemandangan pertama selepas mata memandang adalah Masjid Istiqlal, Masjid terbesar di Indonesia. Sejauh usiaku diperputaran waktu bumi ini, aku hanya 3 kali melakukan ibadah shalat di Masjid kebanggaan kaum muslim se-Indonesia ini. Pertama kali adalah karena ajakan teman sewaktu kuliah yang ingin beristirahat karena  kelelahan mencari buku materi ekonomi akuntansi untuk bahan kuliah di seputaran loakan Pasar Senen. Sambil beristirahat kami sempatkan shalat Ashar disini. Kedua ketika aku bersama mantan pacarku yang sekarang jadi istriku, menyempatkan shalat dan beristirahat setelah seharian lelah mencari lokasi daftar ulang untuk mengikuti tes selanjutnya sebagai Pegawai Negeri Sipil di sekitaran Medan Merdeka Selatan. Ketiga adalah ketika shalat jum’at untuk pertama kalinya setelah aku diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil di Medan Merdeka selatan.  Pagi ini Istiqlal terlihat sejuk dan bersih, mungkin karena guyuran hujan semalam. Menurut sejarah pendiriannya, dulu ide pembangunan masjid tercetus setelah empat tahun proklamasi kemerdekaan yaitu pada tahun 1950, KH. Wahid Hasyim yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Agama RI dan H. Anwar Tjokroaminoto dari Partai Syarikat Islam. Pemancangan tiang pertama dilakukan oleh Presiden Ir. Soekarno pada tanggal 24 Agustus 1961 bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, disaksikan oleh ribuan ummat Islam. Karena situasi politik yang tidak kondusif, pembangunan Masjid ini agak tersendat. Tujuh belas tahun kemudian, Masjid Istiqlal selesai dibangun. Dimulai pada tanggal 24 Agustus 1961, dan diresmikan penggunaannya oleh Presiden Soeharto pada tanggal 22 Februari 1978, ditandai dengan prasasti yang dipasang di area tangga pintu As-Salam. Uniknya, sebelum dibangun, maket masjid ini dirancang oleh Fredrerich Silaban yang memenangkan sayembara pembuatan maket Masjid, dan dia bukan berasal dari umat muslim tapi berasal dari umat nasrani.

     Pemandangan kedua adalah Gereja Katedral Indonesia yang lokasinya persis di seberang Masjid Istiqlal. Dalam perjalanan dengan kaki ini aku harus fokus pada jalan Jakarta yang selalu padat dengan kendaraan, terlebih aku berjalan tepat disamping jalur Trans Jakarta (busway) yang terkadang sopirnya gak bisa ngalah sama pejalan kaki walau hanya untuk sekedar memperlambat laju bis agar tidak mengagetkan pejalan kaki. Menurut sejarah yang saya baca, Gereja Katedral ini dirancang dengan gaya neo-gothic Eropa dan dimulai oleh Pastor   Antonius Dijkmans dan peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Provicaris Carolus Wennejker. Pekerjaan ini kemudian dilanjutkan oleh Cuypers Hulswit ketika Dijkmans tidak bisa melanjutkannya, dan kemudian diresmikan dan diberkati pada 21 April 1901 oleh Mgr. Edmundus Sybradus Luypen, SJ, Vikaris Apostolik Jakarta. (kalo tertarik bisa baca sejarahnya di Google)

     Setelah dengan susah payah menyebrang jalan, akhirnya aku sampai di lapangan Banteng yang dahulu dikenal dengan lapangan IKADA, tempat Pak Karno pidato di depan rakyat dibawah todongan senapan penjajah (penjajahnya Belanda atau Jepang ya…lali aku…)

Lapangan ini cukup nyaman untuk berolah raga. Ada tiga lapangan sepak bola meski bukan ukuran internasional, 2 lapangan basket dan volli dan trek untuk jogging atau jalan kaki. Pagi ini lapangan banteng masih basah, tak banyak yang berolah raga disini. Yang paling mengetarkan hati adalah jalur pejalan kaki disepanjang lapangan banteng ini…sungguh teduh dan sejuk. Jalur pejalan kaki seakan-akan berada dalam goa karena pohon-pohon disisi jalan yang berdaun lebat dan rindang saling bertemu diatas menutupi jalan.

Oya,…disebelah lapangan banteng adalah Gedung Pos Besar Jakarta, bangunan peninggalan jaman belanda yang masih kokoh berdiri. Bangunan ini terletak di Jalan Pos, No 1 Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Menurut sejarah yang saya baca juga, dibangun pada sekitar pertengahan abad ke-19 dan merupakan Kantor Pos pertama di Jakarta. Pada bagian atas dari sebuah bangunan “PTT” tertulis singkatan dari “Post Telegraph Telepon”. Penunjukan untuk bangunan PTT berlangsung sampai tahun-tahun awal kemerdekaan Indonesia. Selama revolusi fisik nama kantor ini diubah menjadi Kantor Pos dan Telegraph Pasar Baru dan yang lazim dikenal sebagai Pos dan Kantor Cable Pasar Baru. Pada tahun 1963 ini nama gedung Ibukota Post Bangunan atau Kantor Pos Ibukota Jakarta Raya. Pada 23 November 1961 Post Transfer Kredit dan Cek Kantor didirikan dengan kantor di gedung ini sampai hari ini bertuliskan nama Pos dan Transfer Kredit Kantor Jakarta. Arsitektur Belanda spesifik jelas terlihat saat istirahat dan gelas dekoratif di bagian depan gedung. Sekilas tampak seperti pembangunan Stasiun Kereta Api Jakarta Kota. Atapnya terbuat dari dukungan lembaran besi dengan posting besi datar, membuat bentuk kurva tinggi seperti platform Stasiun Kereta Api. Dalam totalitas, gedung ini tidak mengalami perubahan fisik dan masih sangat kuat. Bagian depan bangunan yang ditinggikan, sekarang digunakan sebagai Kantor Telegraph Pasar Baru.

Gedung Kantor Pos Besar Jakarta

     Perjalananku berakhir ketika mulai memasuki pintu gerbang belakang kantorku yang terletak di jalan Medan Merdeka Selatan. Mungkin sebagian besar pembaca sudah tahu dari penampakan gedung tua bersejarah ini tempat aku mencari nafkah untuk keluargaku. Sudah hampir 13 tahun aku mengabdikan diri bagi negeri sebagai Pegawai negeri Sipil. Banyak tudingan miring mengenai tempat aku mencari nafkah disini, tapi biarlah itu pendapat individu lain, tapi setidaknya sampai saat ini saya bekerja dengan tulus ikhlas lillahi ta’ala dan dengan niatan baik buat keluarga, Amin.

     Dan di gedung berlantai 16 inilah aku bekerja, Gedung Soemitro Djojohadikoesumo.

My Potofolio

Sang Maxi 125


     Pagi ini ada sedikit masalah yang menghinggapi Motor GLMAX 125cc andalanku dalam mencari nafkah. Sebetulnya sudah bulan kedua masalah kompresi mesin motor ini aku rasakan. Biasanya setelah diservice kondisi motor enak dan seperti tak ada masalah, namun menuju minggu ketiga atau akhir bulan, mesin terasa bermasalah. Tarikan gak ada, tenaga gak maksimal, mesin menjadi overheating, boros (signifikan sekali borosnya), putaran mesin gak bisa langsam seperti biasanya. Selama ini mekanik andalan di AHASS selalu bilang gak apa-apa kok pak….tapi nyatanya menjelang minggu ketiga kondisi motor seperti yang sudah saya jabarkan diatas. Sebelumnya sudah saya prediksikan kalo keadaan ini disebabkan adanya masalah pada klep. Mungkin memang harus di skir atau memang harus ada yang diganti. Tapi yang pasti kehilangan kompresi pada saat menjelajah jalan Jakarta yang selalu padat merayap sangat menyiksa diri, mesin yang selalu tiba-tiba mati sendiri jadi masalah, tarikan yang berat dan selalu harus menekan setengah kopling serta memutar gas dalam putaran yang tinggi agar mesin tak mati (ini yang membuat overheat dan boros bensin), membuat jari jemari tangan pria setengah baya ini menjadi “kemeng” atau semuten. Menderita total.

Kotor belum mandi

     Pada akhir tahun 2011 (24-Des-2011) saya coba masuk bengkel AHASS lain atas rekomendasi teman anak motokross. Mekanik baru ini masih muda, tubuhnya gempal tapi sangat lincah dan enak diajak ngobrol. Gayanya santai, gaul tapi sopan sama yang tua. Setelah memeriksa Sang Maxi, komentarnya adalah…harus turun mesin setengah. Weehhh…tepat dugaanku, kalau gak di skirklep ada kemungkinan ganti klep. Yang pasti masalahnya ada pada klep. Banyak masukkan yang dia beri ke saya dan beberapa alternatif yang mencerahkan yang tidak saya dapatkan pada mekanik saya yang terdahulu.

     Dia menyarankan di coba dulu selama sebulan ini motor dipakai seperti biasa dan jika nanti pada minggu ketiga ternyata kompresi tetap hilang maka mau tak mau harus dilakukan turun mesin setengah untuk skir klep atau ganti klep atau apalah nanti, mana yang lebih dulu. Dan untuk sementara dia hanya menganti pin penyetel klep atas (jujur aku lupa namanya dan gak tau apa fungsinya) yang bentuknya seperti mur dengan baut ditengahnya yang panjangnya sekitar 3cm seharga Rp. 16.000,-. Setelah diganti dan klep disetel ulang, motor enak sekali dipakai. untuk minggu pertama dan kedua tak ada masalah dengan motor, kecepatan bisa diajak 110-120 kpj ditrek lurus sepi. Malah sempat bermain-main dengan Byson dan athlette temen seperjalanan dengan percaya diri tinggi.

     Tapi menjelang akhir minggu ketiga penyakitnya kumat lagi. Saat pagi hari mesin susah hidup, kick starter terasa ringan namun terasa ngempos. Meskipun mesin hidup tapi harus dengan putaran stasioner yang tinggi, artinya jika gas dilepas maka mesin pasti mati/gak bisa langsam.

     Tadi pagi terpaksa naik kereta. Sang Maxi dititipkan ke penitipan motor, karena ditengah perjalanan sudah “lumpuh layuh” alias tak ada tenaganya meski putaran gas di bejek sampe puooolll….cuma bikin polusi suara dan udara aja. Sempat sedih dan kesal campur jadi satu. Mungkinkah ini gejala motor sudah mulai minta “jajan” kebengkel….atau memang sudah saatnya di upgrade ke kelas yang lebih tinggi. Sepertinya opsi kedua bukan pilihan, sang maxi masih layak pakai, hanya saja sekarang saatnya dia sakit dan butuh perawatan ekstra. Lagipula aku masih sayang padanya. Dan rasanya dia bisa disembuhkan…semoga saja.

     Kalo pembaca punya masukan silahkan di share ya…buat masukanku, terutama yang pernah atau juga memakai GL MAX 125cc.