Bunga Milik Ibu


     

     Sejak Bapak pensiun 5 tahun yang lalu, ibu menjadi punya banyak waktu untuk mengurus tanaman kesukaannya, bunga. Sekarang bermacam jenis bunga yang dipelihara ibu ada dipekarangan rumah. Dulu yang aku tahu ibu suka sekali dengan bunga mawar, melati dan anggrek, sehingga sampai saat ini aku tahu sekali bagaimana cara merawat ketiga jenis bunga itu, karena aku juga suka membantunya merawat bunga pada saat sepulang atau liburan sekolah. Dari ketiga bunga yang disebutkan diatas, aku lebih menyukai anggrek. Bagiku bunga ini begitu anggun dan pendiam, gak neko-neko, dalam artian, dia tidak perlu menebar pesona dengan aroma harum yang menyengat seperti melati demi memanggil kumbang, namun keharuman itu tak bertahan lama atau tak perlu menebar pesona dengan cara merekah semaksimal mungkin seakan-akan “menjual diri” laksana bunga mawar namun disisi lain menawarkan ancaman yang mengerikan. Anggrek bagiku adalah bunga yang tumbuh dengan kesederhanaannya, tak perlu media tanah yang kaya akan nutrisi atau mineral dari humus, cukup dalam media serabut atau arang bahkan pasir, meski dalam kesederhanaan media seperti itu, bunga anggrek dapat tampil lebih lama dibanding bunga yang lain. Pendiam dan penyendiri, seakan cerminan gambaran diriku.

     Beberapa tahun yang lalu, banyak saya jumpai tanaman baru dari jenis-jenis yang tidak saya kenal sebalumnya. Saya merasa heran bunga baru dengan tampilan yang tidak menarik bisa memiliki harga yang cukup mencengangkan.  Tapi syukurlah, ibu tak pernah tergoda ataupun tertarik dengan bunga-bunga aneh yang tak punya daya tarik tapi memiliki harga selangit. Dan sekarang, rasanya popularitas bunga yang aneh tersebut lambat laun hilang ditelan seleksi alam. Banyak orang yang kembali merawat tanaman murah meriah namun memiliki manfaat dan tampilan yang menyedapkan mata.

     Dari sekian banyak tanaman hias yang dimiliki ibu, aku sangat menyukai kamboja jepang yang dibonsai, aku tak mengerti mengapa juga orang jepang mau membonsai pohon yang bagi kebanyakan orang Indonesia adalah tanaman dari jenis pohon hantu-hantuan alias pohon yang ditanam disekitar pemakaman umum. Bahkan saya sempat lihat ada pohon yang sangat dikramatkan di Indonesia juga di bonsai, pohon beringin. Bapak dulu sempat memilikinya, tapi  aku menjadi tak tega dengan pohon beringin yang kata penjualnya telah berusia 7 tahun tapi tetap tak bisa tinggi, karena ditanam dalam media pot kecil dan dengan lilitan kabel-kabel kecil menjulur disetiap rantingnya. Mungkin karena hal-hal itulah yang menyebabkan pohon itu tak bisa bertumbuh dan berkembang lebih tinggi dari 30 Cm.

   Waktu itu hati nuraniku tersayat, pohon itu tetaplah makhluk hidup, tapi dikebiri paksa hingga menderita. Hingga pada suatu saat aku mencurinya dari Bapak, pohon itu aku bawa kesekolah diam-diam tanpa diketahui bapak, aku lepaskan kabel-kabel yang ada disetiap rantingnya, aku tanam dia ditanah yang luas ditempat tersembunyi agar bisa tumbuh sebagaimana mestinya tanpa diganggu. Bapak bingung bukan kapalang, kemana pohon beringin bonsai kesayangannya itu. Aku pura-pura ikut prihatin atas hilangnya pohon beringin bonsai milik Bapak.

     Tak terasa waktu sudah berjalan dua setengah tahun sejak pohon itu aku pindahkan ke kebun sekolah, hingga sampai aku lulus pohon itu sudah menjadi setinggi kurang lebih satu setengah meter dengan daun yang hijau, lebat dan segar. Waktu Bapak mengembil raport kelulusanku, Bapak sempat melirik ke pohon beringin tersebut, sambil berucap…”wah…nanti kalau pohon itu sudah besar, pasti sekolahanmu akan jadi teduh deh Her…” Aku hanya diam, tapi setidaknya bapak tak tahu kalau itu adalah pohon beringinnya yang mulai berubah wujud ke alam yang lebih sempurna. Aku menganggap ini adalah salam perpisahan antara saya, bapak dan pohon beringinnya untuk selama-lamanya. Aku cukup senang bapak sudah bisa melihat beringinnya untuk yang terakhir kali meski dia tidak tahu.

     Sampai suatu saat, beberapa tahun kemudian, ketika aku kembali ke sekolah SMA ku untuk meminta melegalisir STTB dan NEM, aku menyempatkan diri untuk melihat kembali pohon beringin yang aku tanam dulu, tapi ternyata pohon itu sudah tak ada. Ketika aku tanya pada penjaga sekolah yang tinggal disitu, pohon itu ternyata sudah dipindah ke lapangan bola diluar sekolah, dan ternyata memang betul, pohon itu masih tetap berdiri makin besar dan makin kokoh bahkan mungkin masih bertambah besar sampai kini, karena sejak 18 tahun yang lalu, aku tak pernah lagi datang ke sekolah SMA ku. semoga saja pohon itu tumbuh semakin besar dan semakin kokoh sehingga bisa meneduhi lapangan sekitarnya dan meneduhi  orang-orang yang beristirahat setelah bemain bola.

     Sekarang adalagi pohon kamboja bonsai milik ibu, apakah nasibnya akan sama seperti pohon beringin bonsai milik bapak ? sepertinya tidak, aku tahu betul ibu sangat menyayangi pohon ini, begitu bangganya ibu bercerita padaku jika ada orang yang memuji bunganya. Aku tak tega menyakiti hati dan perasaan ibu bila pohon kamboja bonsai itu menjadi tidak bonsai lagi, lagipula ibu adalah orang yang harus aku dahulukan dalam segala hal, karena aku anak lelaki yang tetap menjadi “milik” ibu sampai diakhir hayat kehidupan ibu. Makanya aku jamin tragedi pohon beringin bonsai milik Bapak tak akan terjadi pada pohon kamboja bonsai milik ibu. Untuk Bapak, maafkan aku. Untuk Ibu, aku menyayangimu.

        

               Love forever….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s