Dimalam Pada 30 Kpj


     

     Jakarta 9 Juli 2011 yang lalu, sekitar pukul 21.45 WIB, sepulang aku dari rapat konsinyering di bilangan mangga dua, aku sengaja ingin menikmati perjalanan malam Jakarta dengan GLMAX kesayanganku. Aku sengaja memacu kecepatan laju sepeda motorku dengan kecepatan kisaran 20-30 kpj saja. Tak seperti biasanya, dimana aku selalu menikmati perjalanan pulang malam dengan sepeda motor diatas kecepatan 80-100 kpj saat sepulang konsinyering pada malam hari. karena pada situasi seperti itu jalan Jakarta relatif sudah sepi, namun entah, kenapa malam ini seperti ada sesuatu yang ingin aku rasakan di perjalanan malam Jakarta. Terlebih lagi besok hari adalah hari libur, aku jadi bisa lebih santai menikmati hari bersama keluarga esok hari.

    Jakarta malam itu serasa dingin aku rasakan, tapi mungkin rasa dingin itu disebabkan aku yang memang terlalu lama berada didalam ruangan berpenyejuk udara dan mungkin juga karena tidak mengisi perut dengan makan malam yang cukup. Jujur saja, makanan hotel selalu tidak cocok dengan metabolisme tubuhku yang memang rada kampungan, jika ada gado-gado atau ketoprak mungkin aku akan memilih makanan itu dibanding dengan melahap steak atau lasagna atau bahkan nasi goreng made in hotel yang bagiku rasanya menjadi aneh setelah diracik oleh koki hotel. Jadi makan malam itu aku hiasi perutku hanya dengan beberapa makanan ringan seperti puding dan beberapa potong kentang goreng yang ternyata rasanya juga menjadi tidak wajar, plus segelas kopi hangat dan beberapa batang rokok. Bagiku bila sudah terkena kopi dan rokok, metabolisme tubuhku akan berada dalam kondisi yang sangat prima sekali, Astaghfirullah aku telah terserang addictive tak berguna yang memang nikmat sekali.

     Sepanjang trotoar jalan Otista raya, banyak kulihat sekumpulan tunawisma yang beristirahat. Diemperan toko yang aku tahu diwaktu siang hari selalu penuh dengan aktifitas jual beli, malam itu terlihat dipenuhi dengan aktifitas para tunawisma yang beristirahat. Pikiranku melayang pada keberuntungan diri yang sampai saat ini Alhamdullillah tidak seperti mereka. Meski kehidupanku sendiri belum terlalu “indah”, dimana sampai saat ini aku masih berada pada level bertahan untuk hidup, namun disatu sisi teman seperjuangan lain sudah bisa menikmati hdup, tapi setidaknya aku masih beruntung dan sangat bersyukur bisa memiliki tempat tinggal yang layak untuk keluargaku. Meski hanya sekedar rumah petak sederhana, tapi aku bisa terlindungi dari cuaca panas, hujan dan udara kotor jalanan. Aku tak bisa membayangkan jika aku, istriku dan anakku harus beristirahat dengan cara seperti mereka. Bising kendaraan bermotor, asap, debu dan berbagai polutan yang tidak sehat sudah pastilah terhirup oleh mereka setiap malamnya. Aku teringat pada nasib kedua anakku yang lebih beruntung dibanding anak-anak jalanan, mungkin saat ini mereka sedang terlelap dalam mimpi indah berselimutkan kain hangat dan lembut dikamarnya masing-masing, tidak seperti anak-anak di emperan toko itu yang berselimutkan asap dan debu jalanan, anakku mungkin tidur dengan do’a dan nyanyian lembut nina bobo bundanya, sedangkan mereka tertidur dengan alunan bising kendaran motor yang tak bermoral. Sungguh ironi yang nyata buat mereka. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa.

   Perjalananku terhenti tepat dilampu merah Cawang, bawah jembatan bypass. Samar-samar aku mendengar suara tangisan lemah disampingku. Mataku menangkap pemandangan yang memiriskan hati siapapun, seorang ibu yang berusaha mendiamkan anakknya yang menangis tersedu-sedu dalam gendongannya, sedangkan seorang lelaki duduk termenung disamping gerobak bututnya. Samar-samar juga aku mendengar suara sang anak yang ingin minum susu. Mungkin malam itu dia merasa lapar. Samar-samar juga aku dengar suara sang ibu yang menyuruh lelaki yang sedang terduduk untuk membeli susu atau makanan, aku tak tahu apa yang dibicarakan mereka saat itu, suara bising kendaraan selintas menggangu pendengaranku, tapi yang pasti aku mengartikan bahwa dari pembicaraan dan bahasa tubuhnya menandakan sang lelaki tak memiliki uang untuk membeli susu, sementara sang anak masih merintih dalam tangisannya. Lampu menunjukkan warna hijau, memaksa aku untuk segera jalan. Hatiku galau, banyak pikiran yang berkecamuk diotakku. Dimalam seperti ini masih saja ada makhluk tuhan yang belum bisa menikmati istrirahatnya dalam damai, anak kecil itu. Anak yang aku taksir usianya sekitar 3 atau 4 tahun itu merengek dalam gendongan ibunya minta susu, sementara orangtuanya mungkin tak memiliki uang sepersenpun malam itu untuk membelikannya susu atau sekedar makanan kecil penghilang lapar. Aku kembali teringat kepada kedua anakku, mungkin Ryan dan Kayla tertidur pulas malam ini dalam keadaan perut kenyang setelah makan malam, namun bagaimana nasib mereka jika hal itu tak pernah mereka rasakan, atau bagaimana jika anak yang merengek itu adalah Ryan dan Kayla dalam usia yang sama, astaghfirullah. Sontak aku berhenti saat itu, pikiranku kembali pada keluarga dilampu merah tersebut. Aku kuatkan niat untuk sekedar membantu mereka, tanpa pikir panjang lagi aku buka dompetku, masih terdapat uang sebesar Rp. 41.000. Pikiranku galau, antara mempertahankan uang ini atau segera membantu mereka. Aku tak mau berdebat lagi dengan pikiran jahat. Aku segera mencari warung yang masih buka dipinggir jalan, aku beli beberapa bungkus susu instan seharga Rp. 2000-an dan dua botol air mineral seukuran 2 liter dan beberapa bungkus roti murahan seharga Rp. 1000. Habis sudah uangku sebanyak Rp. 20.000. Masih tersisa Rp. 21.000. Aku juga sekalian membeli 2 bungkus nasi goreng seharga Rp. 14.000 untuk kedua orangtuanya malam itu. Aku hanya menyisakan uang dalam dompet sebesar Rp. 7.000. Sudahlah, aku niatkan dengan ikhlas semuanya. Tanpa banyak pikir aku segera kembali menuju lampu merah dimana mereka berada. Tangisan sang anak masih terdengar meski sudah agak melemah suaranya, mungkin sudah lelah menangis. Aku berhenti diantara mereka, kuserahkan apa yang telah aku beli tadi dan segera meninggalkan tempat itu tanpa banyak cincong, aku tak mau lebih lama lagi melihat kesusahan mereka, aku tak tega. Semoga saja apa yang aku berikan berguna buat mereka meski hanya untuk malam itu, semoga.

N.B : Ilustrasi gambar aku culik dari google

    Dalam perjalanan pulang aku mulai berpikir, apa yang bisa aku lakukan dengan uang sisa sebesar Rp. 7.000 ? tanggal 1 masih ada beberapa hari kedepan, makan siangku di kantor ? biaya bensin ? rokok ? ahhhh….semakin banyak berkecamuk segala pikiran atas semua itu. Aku berfikir realistis saja, hari ini adalah untuk hari ini, biarlah hari depan nanti kita lihat apa yang terjadi kemudian, niatku sungguh ingin menolong jadi tak perlu lagi harus ragu atau menyesal karena itu, insya Allah ada rejeki lain yang datang kepadaku.

Dan syukur Alhamdullillah hingga sampai tulisan ini dibuat, aku tak mendapatkan kesusahan atas semua yang telah aku lakukan.

N.B :

Aku hanya berusaha untuk menggambarkan situasi Jakarta dikala malam hari dengan segala  aktifitas kejadian yang terjadi saat itu dan masih terjadi hingga saat ini, sungguh !..tak ada maksud lain.

Iklan

2 comments on “Dimalam Pada 30 Kpj

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s