Meja Kayu Untuk Ayah


     Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih.
Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh Ke bawah.

Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak. Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu,” ujar sang suami. “Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini.” Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Di sana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.

Sering saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Meski tak ada gugatan darinya. Tiap kali nasi yang dia suap, selalu ditetesi air mata yang jatuh dari sisi pipinya. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam. Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?”. Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu, untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Mereka makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama. Dan anak itu, tak lagi meraut untuk membuat meja kayu.

Sahabat, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan.
Mereka adalah peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap “bangunan jiwa” yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.

Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk merekalah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.

Jika anak hidup dalam kritik, ia belajar mengutuk.
Jika anak hidup dalam kekerasan, ia belajar berkelahi.
Jika anak hidup dalam pembodohan, ia belajar jadi pemalu.
Jika anak hidup dalam rasa dipermalukan, ia belajar terus merasa bersalah.
Jika anak hidup dalam toleransi, ia belajar menjadi sabar.
Jika anak hidup dalam dorongan, ia belajar menjadi percaya diri.
Jika anak hidup dalam penghargaan, ia belajar mengapresiasi.
Jika anak hidup dalam rasa adil, ia belajar keadilan.
Jika anak hidup dalam rasa aman, ia belajar yakin.
Jika anak hidup dalam persetujuan, ia belajar menghargai diri sendiri.
Jika anak hidup dalam rasa diterima dan persahabatan, ia belajar mencari cinta di seluruh dunia.

Betapa terlihat di sini peran orang tua sangat penting karena mereka diistilahkan oleh Khalil Gibran sebagai busur kokoh yang dapat melesatkan anak-anak dalam menapaki jalan masa depannya. Tentu hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan esok harus lebih baik dari hari ini dan tentu kita selalu berharap generasi yang akan datang harus lebih baik dari kita….

Cinta Tak Harus Dengan Bunga, Sayang…..


SEORANG ISTERI BERCERITA:

Suami saya adalah seorang yang sederhana, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di perasaan saya, ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.

Dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui,bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.

Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benarsensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan. Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian. “Mengapa?”, tanya suami saya dengan terkejut. “Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan,” jawab saya.

Suami saya terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak. Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya? Dan akhirnya suami saya bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk merubahpikiran kamu?” Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan,”Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam perasaan saya, saya akan merubah pikiran saya : “Seandainya, saya menyukaisetangkai bunga indah yg ada di tebing gunung. Kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamuakan mati. Apakah kamu akan memetik bunga itu untuk saya?” Dia termenung dan akhirnyaberkata, “Saya akan memberikan jawabannya besok.” Perasaan saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan coret-coretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan…… “Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya.” Kalimat pertama ini menghancurkan perasaan saya.

Saya melanjutkan untuk membacanya. “Kamu selalu pegal-pegal pada waktu ‘teman baik kamu’ datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kaki kamu yang pegal.”

“Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi ‘aneh’. Saya harus membelikan sesuatu yang dapat menghibur kamu di rumah atau meminjamkan lidah saya untuk menceritakan hal-hal lucu yang saya alami.”

“Kamu selalu terlalu dekat menonton televisi, terlalu dekat membaca buku, dan itu tidak baik untuk kesehatan mata kamu. Saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kuku kamu dan mencabuti uban kamu.”

“Tangan saya akan memegang tangan kamu, membimbing kamu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajah kamu.”

“Tetapi Sayang, saya tidak akan mengambil bunga indah yang ada di tebing gunung itu hanya untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air mata kamu mengalir.

“Sayang, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintai kamu lebih dari saya mencintai kamu. Untuk itu Sayang, jika semua yang telah diberikan tangan saya, kaki saya, mata saya tidak cukup buat kamu, saya tidak bisa menahan kamu untuk mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakan kamu.” Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk terus membacanya.

“Dan sekarang, Sayang, kamu telah selesai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkan saya untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri di sana menunggu jawaban kamu.” “Jika kamu tidak puas dengan jawaban saya ini, Sayang, biarkan saya masuk untuk membereskan barang-barang saya, dan saya tidak akan mempersulit hidup kamu. Percayalah, bahagia saya adalah bila kamu bahagia.”

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaan saya.

Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintai saya. Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari perasaan kita, karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu. Karena cinta tidak selalu harus berwujud “bunga”.

Rasamu Tak Senikmat Dulu


Dikesendirianku pada malam ini

Kulihat kau tergolek pasrah tak bergerak disampingku

Diam….tak mengairahkan, meski auramu membuncah-buncah dihatiku

 

Ketikaku mulai berhasrat kembali padamu, namun jari jemari ini tak kuasa tuk lagi mengapaimu

Kaupun masih tetap terdiam menunggu jamahanku… aku masih tak berani untuk lagi menyentuhmu

Sesekali kucoba membangkitkan kembali rasa yang lama t’lah terpendar, mencoba tuk kembali “marasai”-mu…

Tak mampu…aku tak lagi mampu atasmu….kau t’lah lama kuabaikan tanpa rasa

 

Kau semakin menggoda dalam diammu, kau membangkitkan bara rasa yang telah lama kulupa…

Hasratku semakin kupacu…kurindu tuk nikmati dirimu.

Ku telah kau bangitkan. Maka terimalah kembali takdirmu atasku

 

Ku mulai sentuh dirimu dengan usapan yang dulu…tapi kau masih diam menunggu lebih dari sekedar kusentuh….

Aku mulai terbangkitkan oleh sebuah rasa itu….

Aku menjamahmu semakin dalam….semakin tubuhmu dalam genggamanku.

Tanganku telah kau buat gemetar memendam rasa, semakin beringas menggenggamu, merengkuhmu…

Hasrat tak lagi terbedung….diketerdiamanmu kulepas perlahan jubah dirimu. Kau masih seputih dulu….masih semulus dahulu

Halusmu…Harummu…Lembutmu…tak pernah kulupa. Masih seperti dulu…

 

Telanjang kini kau dalam genggamanku, siap kulumat dalam kuluman bibirku. Aku terpedaya lagi olehmu.

Saat jari jemari ini memutar-mutar terarah dititik tubuhmu

Kau tetap diam tak bergerak, atau mungkinkah kau juga menikmati kerinduanku..?

Kusemakin tak terkendali, semakin dalam ku tenggelam. Semakin dalam kumasuki dirimu

 

Kunyalakan bara api terbesarku diujung titik dirimu…kau sedikit bergemeretak meski tak mengelinjang

Kuhirup dirimu semakin dalam…semakin kuat…hingga kutahu bahwa diriku sudah berada dibatas dalammu

Tubuhmu semakin  membara bersama-sama dalam helaan satu tarikan nafasku

Dan kita dapati yang pertama….

 

Tak ada yang menarik dalam hembusan orgasmeku yang pertama sejak kucumbu lagi dirimu…

Demikianpun dengan orgasme-orgasme selanjutnya…kau semakin anta….dingin…tak bersensasi…

Meski kuulangi sampai berkali-kali dalam dirimu…kau tetap tak lagi terasa nikmat bagiku

Tak seperti dahulu….ya tak seperti dulu

Sungguh…..kini rasamu tak senikmat dulu.

 

Maafkan aku jika harus mematikanmu dan membuangmu kedalam asbak diujung meja itu.

 

 

Bunga Milik Ibu


     

     Sejak Bapak pensiun 5 tahun yang lalu, ibu menjadi punya banyak waktu untuk mengurus tanaman kesukaannya, bunga. Sekarang bermacam jenis bunga yang dipelihara ibu ada dipekarangan rumah. Dulu yang aku tahu ibu suka sekali dengan bunga mawar, melati dan anggrek, sehingga sampai saat ini aku tahu sekali bagaimana cara merawat ketiga jenis bunga itu, karena aku juga suka membantunya merawat bunga pada saat sepulang atau liburan sekolah. Dari ketiga bunga yang disebutkan diatas, aku lebih menyukai anggrek. Bagiku bunga ini begitu anggun dan pendiam, gak neko-neko, dalam artian, dia tidak perlu menebar pesona dengan aroma harum yang menyengat seperti melati demi memanggil kumbang, namun keharuman itu tak bertahan lama atau tak perlu menebar pesona dengan cara merekah semaksimal mungkin seakan-akan “menjual diri” laksana bunga mawar namun disisi lain menawarkan ancaman yang mengerikan. Anggrek bagiku adalah bunga yang tumbuh dengan kesederhanaannya, tak perlu media tanah yang kaya akan nutrisi atau mineral dari humus, cukup dalam media serabut atau arang bahkan pasir, meski dalam kesederhanaan media seperti itu, bunga anggrek dapat tampil lebih lama dibanding bunga yang lain. Pendiam dan penyendiri, seakan cerminan gambaran diriku.

     Beberapa tahun yang lalu, banyak saya jumpai tanaman baru dari jenis-jenis yang tidak saya kenal sebalumnya. Saya merasa heran bunga baru dengan tampilan yang tidak menarik bisa memiliki harga yang cukup mencengangkan.  Tapi syukurlah, ibu tak pernah tergoda ataupun tertarik dengan bunga-bunga aneh yang tak punya daya tarik tapi memiliki harga selangit. Dan sekarang, rasanya popularitas bunga yang aneh tersebut lambat laun hilang ditelan seleksi alam. Banyak orang yang kembali merawat tanaman murah meriah namun memiliki manfaat dan tampilan yang menyedapkan mata.

     Dari sekian banyak tanaman hias yang dimiliki ibu, aku sangat menyukai kamboja jepang yang dibonsai, aku tak mengerti mengapa juga orang jepang mau membonsai pohon yang bagi kebanyakan orang Indonesia adalah tanaman dari jenis pohon hantu-hantuan alias pohon yang ditanam disekitar pemakaman umum. Bahkan saya sempat lihat ada pohon yang sangat dikramatkan di Indonesia juga di bonsai, pohon beringin. Bapak dulu sempat memilikinya, tapi  aku menjadi tak tega dengan pohon beringin yang kata penjualnya telah berusia 7 tahun tapi tetap tak bisa tinggi, karena ditanam dalam media pot kecil dan dengan lilitan kabel-kabel kecil menjulur disetiap rantingnya. Mungkin karena hal-hal itulah yang menyebabkan pohon itu tak bisa bertumbuh dan berkembang lebih tinggi dari 30 Cm.

   Waktu itu hati nuraniku tersayat, pohon itu tetaplah makhluk hidup, tapi dikebiri paksa hingga menderita. Hingga pada suatu saat aku mencurinya dari Bapak, pohon itu aku bawa kesekolah diam-diam tanpa diketahui bapak, aku lepaskan kabel-kabel yang ada disetiap rantingnya, aku tanam dia ditanah yang luas ditempat tersembunyi agar bisa tumbuh sebagaimana mestinya tanpa diganggu. Bapak bingung bukan kapalang, kemana pohon beringin bonsai kesayangannya itu. Aku pura-pura ikut prihatin atas hilangnya pohon beringin bonsai milik Bapak.

     Tak terasa waktu sudah berjalan dua setengah tahun sejak pohon itu aku pindahkan ke kebun sekolah, hingga sampai aku lulus pohon itu sudah menjadi setinggi kurang lebih satu setengah meter dengan daun yang hijau, lebat dan segar. Waktu Bapak mengembil raport kelulusanku, Bapak sempat melirik ke pohon beringin tersebut, sambil berucap…”wah…nanti kalau pohon itu sudah besar, pasti sekolahanmu akan jadi teduh deh Her…” Aku hanya diam, tapi setidaknya bapak tak tahu kalau itu adalah pohon beringinnya yang mulai berubah wujud ke alam yang lebih sempurna. Aku menganggap ini adalah salam perpisahan antara saya, bapak dan pohon beringinnya untuk selama-lamanya. Aku cukup senang bapak sudah bisa melihat beringinnya untuk yang terakhir kali meski dia tidak tahu.

     Sampai suatu saat, beberapa tahun kemudian, ketika aku kembali ke sekolah SMA ku untuk meminta melegalisir STTB dan NEM, aku menyempatkan diri untuk melihat kembali pohon beringin yang aku tanam dulu, tapi ternyata pohon itu sudah tak ada. Ketika aku tanya pada penjaga sekolah yang tinggal disitu, pohon itu ternyata sudah dipindah ke lapangan bola diluar sekolah, dan ternyata memang betul, pohon itu masih tetap berdiri makin besar dan makin kokoh bahkan mungkin masih bertambah besar sampai kini, karena sejak 18 tahun yang lalu, aku tak pernah lagi datang ke sekolah SMA ku. semoga saja pohon itu tumbuh semakin besar dan semakin kokoh sehingga bisa meneduhi lapangan sekitarnya dan meneduhi  orang-orang yang beristirahat setelah bemain bola.

     Sekarang adalagi pohon kamboja bonsai milik ibu, apakah nasibnya akan sama seperti pohon beringin bonsai milik bapak ? sepertinya tidak, aku tahu betul ibu sangat menyayangi pohon ini, begitu bangganya ibu bercerita padaku jika ada orang yang memuji bunganya. Aku tak tega menyakiti hati dan perasaan ibu bila pohon kamboja bonsai itu menjadi tidak bonsai lagi, lagipula ibu adalah orang yang harus aku dahulukan dalam segala hal, karena aku anak lelaki yang tetap menjadi “milik” ibu sampai diakhir hayat kehidupan ibu. Makanya aku jamin tragedi pohon beringin bonsai milik Bapak tak akan terjadi pada pohon kamboja bonsai milik ibu. Untuk Bapak, maafkan aku. Untuk Ibu, aku menyayangimu.

        

               Love forever….

Dimalam Pada 30 Kpj


     

     Jakarta 9 Juli 2011 yang lalu, sekitar pukul 21.45 WIB, sepulang aku dari rapat konsinyering di bilangan mangga dua, aku sengaja ingin menikmati perjalanan malam Jakarta dengan GLMAX kesayanganku. Aku sengaja memacu kecepatan laju sepeda motorku dengan kecepatan kisaran 20-30 kpj saja. Tak seperti biasanya, dimana aku selalu menikmati perjalanan pulang malam dengan sepeda motor diatas kecepatan 80-100 kpj saat sepulang konsinyering pada malam hari. karena pada situasi seperti itu jalan Jakarta relatif sudah sepi, namun entah, kenapa malam ini seperti ada sesuatu yang ingin aku rasakan di perjalanan malam Jakarta. Terlebih lagi besok hari adalah hari libur, aku jadi bisa lebih santai menikmati hari bersama keluarga esok hari.

    Jakarta malam itu serasa dingin aku rasakan, tapi mungkin rasa dingin itu disebabkan aku yang memang terlalu lama berada didalam ruangan berpenyejuk udara dan mungkin juga karena tidak mengisi perut dengan makan malam yang cukup. Jujur saja, makanan hotel selalu tidak cocok dengan metabolisme tubuhku yang memang rada kampungan, jika ada gado-gado atau ketoprak mungkin aku akan memilih makanan itu dibanding dengan melahap steak atau lasagna atau bahkan nasi goreng made in hotel yang bagiku rasanya menjadi aneh setelah diracik oleh koki hotel. Jadi makan malam itu aku hiasi perutku hanya dengan beberapa makanan ringan seperti puding dan beberapa potong kentang goreng yang ternyata rasanya juga menjadi tidak wajar, plus segelas kopi hangat dan beberapa batang rokok. Bagiku bila sudah terkena kopi dan rokok, metabolisme tubuhku akan berada dalam kondisi yang sangat prima sekali, Astaghfirullah aku telah terserang addictive tak berguna yang memang nikmat sekali.

     Sepanjang trotoar jalan Otista raya, banyak kulihat sekumpulan tunawisma yang beristirahat. Diemperan toko yang aku tahu diwaktu siang hari selalu penuh dengan aktifitas jual beli, malam itu terlihat dipenuhi dengan aktifitas para tunawisma yang beristirahat. Pikiranku melayang pada keberuntungan diri yang sampai saat ini Alhamdullillah tidak seperti mereka. Meski kehidupanku sendiri belum terlalu “indah”, dimana sampai saat ini aku masih berada pada level bertahan untuk hidup, namun disatu sisi teman seperjuangan lain sudah bisa menikmati hdup, tapi setidaknya aku masih beruntung dan sangat bersyukur bisa memiliki tempat tinggal yang layak untuk keluargaku. Meski hanya sekedar rumah petak sederhana, tapi aku bisa terlindungi dari cuaca panas, hujan dan udara kotor jalanan. Aku tak bisa membayangkan jika aku, istriku dan anakku harus beristirahat dengan cara seperti mereka. Bising kendaraan bermotor, asap, debu dan berbagai polutan yang tidak sehat sudah pastilah terhirup oleh mereka setiap malamnya. Aku teringat pada nasib kedua anakku yang lebih beruntung dibanding anak-anak jalanan, mungkin saat ini mereka sedang terlelap dalam mimpi indah berselimutkan kain hangat dan lembut dikamarnya masing-masing, tidak seperti anak-anak di emperan toko itu yang berselimutkan asap dan debu jalanan, anakku mungkin tidur dengan do’a dan nyanyian lembut nina bobo bundanya, sedangkan mereka tertidur dengan alunan bising kendaran motor yang tak bermoral. Sungguh ironi yang nyata buat mereka. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa.

   Perjalananku terhenti tepat dilampu merah Cawang, bawah jembatan bypass. Samar-samar aku mendengar suara tangisan lemah disampingku. Mataku menangkap pemandangan yang memiriskan hati siapapun, seorang ibu yang berusaha mendiamkan anakknya yang menangis tersedu-sedu dalam gendongannya, sedangkan seorang lelaki duduk termenung disamping gerobak bututnya. Samar-samar juga aku mendengar suara sang anak yang ingin minum susu. Mungkin malam itu dia merasa lapar. Samar-samar juga aku dengar suara sang ibu yang menyuruh lelaki yang sedang terduduk untuk membeli susu atau makanan, aku tak tahu apa yang dibicarakan mereka saat itu, suara bising kendaraan selintas menggangu pendengaranku, tapi yang pasti aku mengartikan bahwa dari pembicaraan dan bahasa tubuhnya menandakan sang lelaki tak memiliki uang untuk membeli susu, sementara sang anak masih merintih dalam tangisannya. Lampu menunjukkan warna hijau, memaksa aku untuk segera jalan. Hatiku galau, banyak pikiran yang berkecamuk diotakku. Dimalam seperti ini masih saja ada makhluk tuhan yang belum bisa menikmati istrirahatnya dalam damai, anak kecil itu. Anak yang aku taksir usianya sekitar 3 atau 4 tahun itu merengek dalam gendongan ibunya minta susu, sementara orangtuanya mungkin tak memiliki uang sepersenpun malam itu untuk membelikannya susu atau sekedar makanan kecil penghilang lapar. Aku kembali teringat kepada kedua anakku, mungkin Ryan dan Kayla tertidur pulas malam ini dalam keadaan perut kenyang setelah makan malam, namun bagaimana nasib mereka jika hal itu tak pernah mereka rasakan, atau bagaimana jika anak yang merengek itu adalah Ryan dan Kayla dalam usia yang sama, astaghfirullah. Sontak aku berhenti saat itu, pikiranku kembali pada keluarga dilampu merah tersebut. Aku kuatkan niat untuk sekedar membantu mereka, tanpa pikir panjang lagi aku buka dompetku, masih terdapat uang sebesar Rp. 41.000. Pikiranku galau, antara mempertahankan uang ini atau segera membantu mereka. Aku tak mau berdebat lagi dengan pikiran jahat. Aku segera mencari warung yang masih buka dipinggir jalan, aku beli beberapa bungkus susu instan seharga Rp. 2000-an dan dua botol air mineral seukuran 2 liter dan beberapa bungkus roti murahan seharga Rp. 1000. Habis sudah uangku sebanyak Rp. 20.000. Masih tersisa Rp. 21.000. Aku juga sekalian membeli 2 bungkus nasi goreng seharga Rp. 14.000 untuk kedua orangtuanya malam itu. Aku hanya menyisakan uang dalam dompet sebesar Rp. 7.000. Sudahlah, aku niatkan dengan ikhlas semuanya. Tanpa banyak pikir aku segera kembali menuju lampu merah dimana mereka berada. Tangisan sang anak masih terdengar meski sudah agak melemah suaranya, mungkin sudah lelah menangis. Aku berhenti diantara mereka, kuserahkan apa yang telah aku beli tadi dan segera meninggalkan tempat itu tanpa banyak cincong, aku tak mau lebih lama lagi melihat kesusahan mereka, aku tak tega. Semoga saja apa yang aku berikan berguna buat mereka meski hanya untuk malam itu, semoga.

N.B : Ilustrasi gambar aku culik dari google

    Dalam perjalanan pulang aku mulai berpikir, apa yang bisa aku lakukan dengan uang sisa sebesar Rp. 7.000 ? tanggal 1 masih ada beberapa hari kedepan, makan siangku di kantor ? biaya bensin ? rokok ? ahhhh….semakin banyak berkecamuk segala pikiran atas semua itu. Aku berfikir realistis saja, hari ini adalah untuk hari ini, biarlah hari depan nanti kita lihat apa yang terjadi kemudian, niatku sungguh ingin menolong jadi tak perlu lagi harus ragu atau menyesal karena itu, insya Allah ada rejeki lain yang datang kepadaku.

Dan syukur Alhamdullillah hingga sampai tulisan ini dibuat, aku tak mendapatkan kesusahan atas semua yang telah aku lakukan.

N.B :

Aku hanya berusaha untuk menggambarkan situasi Jakarta dikala malam hari dengan segala  aktifitas kejadian yang terjadi saat itu dan masih terjadi hingga saat ini, sungguh !..tak ada maksud lain.