Etika, Hati Nurani dan Otak


     Sebagai seorang yang bekerja dengan selalu menggunakan kendaraan bermotor roda dua, adakalanya saya mengalami berbagai macam peristiwa yang kadang sangat menyebalkan, memalukan, menggelikan sekaligus menyedihkan. Dalam beberapa hal penyebab seseorang pengendara kadang bersikap konyol dan memalukan, salah satunya adalah suhu udara. Suhu udara ternyata mempunyai peranan penting dalam “meng-ekplorasi” emosi manusia, terutama bagi para pengendara motor yang lebih sering disebut sebagai Biker. Aku juga merasakan, perbedaan suhu udara ternyata juga secara sengaja dan tidak sengaja sempat mempengaruhi aku dalam etika berkendara di jalan. Memang masih banyak faktor yang sejatinya turut mendukung cuaca dalam mempengaruhi emosi para bikers, misalnya supir angkot yang kadang gak pake etika waktu mau berenti didepan kita, juga para penyebrang jalan sontoloyo yang meskipun udah disediakan sarana aman untuk menyebrang jalan, masih aja berbuat bodoh, main slonong boy sambil mengacungkan ibu jari minta jalan ditengah kepadatan jalan atau cepatnya kendaraan berlalu lalang, atau ada juga biker/carer lain yang dengan gagahnya berjalan pelan di jalur tengah tapi gak mau didahului, ini yang paling aku benci udah bodoh, pelan eh ngotot gak mau didahului, hehehehe….akhirnya aku jadi sering terpancing emosi.

     Situasi emosi akan makin tak terkendali jika semua pendukung yang gak bisa disebutin satu-satu itu dirasakan pada saat matahari ada dua buah di langit, alias di siang hari pada saat musim kemarau (tengah hari robek…bukan tengah hari bolong lagi…). Isi kepala rasanya cekaot-cekot, udah sumpek ngeliat suasana Jakarta yang selalu macet, supir angkot/biskota yang gak pernah mau pake ilmu etika, penyeberang jalan sontoloyo, sesama biker yang juga kadang gak pake etika ditambah lagi panas sinar matahari yang secara gak sopan main poles isi kepala orang sampai mendidih gak karuan…huffffff….cape deh.

     Berbicara tentang etika, kadang aku sebagai pengguna jalan terutama sebagai biker (sejak kapan aku disebut biker…? Ngayal.com) dihadapkan pada dua pilihan yang selalu bertentangan dengan hati nurani, kenapa ? Aku coba memberikan gambaran dari pertentang yang dimaksud diatas.

     Dalam suatu tayangan di media televisi yang aku tonton, suatu kali pernah menayangkan beberapa tips menghindari kajahatan bagi para pemakai kendaraan mobil pribadi di jalan raya. Modus operandi dari kejahatan dijalan raya sangat beragam, ada yang sengaja menebar paku untuk membuat ban kendaraan kempes, menabrakan diri kepada kendaraan yang lewat bahkan ada yang secara terang-terangan merampok secara langsung. Dalam uraian di media televisi disebutkan, jangan pernah percaya terhadap seseorang yang katanya mau membantu masalah anda dijalan dalam bentuk apapun. Dimedia tersebut diberikan anjuran agar tidak mengindahkan (mengacuhkan) seseorang yang tiba-tiba mengetuk kaca kendaraan dan mengatakan sesuatu, terutama bila yang mengetuk kaca tersebut adalah pengendara motor. Dalam hati aku merasa miris, kenapa selalu pengendara motor yang mendapatkan konotasi negatif dalam kejahatan jalan raya.

     Aku punya pengalaman yang sangat mengelikan saat berkendara dijalan ibukota, terkadang dalam perjalan aku melihat salah satu pintu dari kendaraan roda empat ada yang tidak tertutup secara rapat. Niatan hati sudah pasti ingin segera memberitahukan kepada pengendara tersebut, namun hati yang lain berbicara,,,”nanti kamu disangka penjahat loh Her….” aduh buah simalakama, jika terjadi sesuatu pada pintu itu, bukan hanya penumpang didalam kendaraan roda empat itu yang akan celaka, namun juga pengendara lain yang mungkin akan terkena imbasnya dari pintu tersebut. Jadi seringkali aku pada akhirnya mengacuhkan niatan baik tersebut guna menghindari fitnah yang katanya lebih kejam dari pembunuhan….Alamak…!!!

     Pernah juga niatan yang tulus dan rasa kemanusiaan yang tinggi akhirnya malah dibayar dengan sakit hati dan kekecewaan. Suatu kali pernah aku melintas dijalan dimana ada sebuah mobil dinas dari sebuah instansi angkatan yang berisi penuh dengan para serdadu, salah satu pintunya tak tertutup rapat. Aku sengaja mengejar mobil itu dengan harapan dapat memberitahukan kelalaian yang dilakukan oleh para pengguna mobil tersebut, namun rasa senang dapat membantu malah dibayar dengan teriakan dan fitnah….”Apa kamu…!!! ketuk-ketuk kaca mobil…!!! mau dibawa apa…!!!….kamu teroris ya…!!!” Aduh Mak…!! bisa mati konyol saya, tapi niatan baik akan segera dicatat sebagai pahala bila niatan itu dilaksanakan, maka dengan sedikit menekankan suara pada irama yang paling rendah saya bilang….”maaf pak, pintu sebelah kanan masih belum rapat….”. Tanpa bilang terima kasih mereka terus jalan setelah merapatkan pintu yang dimaksud, beberapa dari mereka masih melotot kearahku seakan-akan ingin melahap aku yang mungkin harimau sendiri aja ogah dan gak doyan makan aku….!

     Demikian juga pengalaman lain, disaat pulang kerja, didepan aku ada sebuah mobil van, yang pintu belakangnya tak tertutup baik, aku lihat banyak berbagai macam mainan anak-anak dan beberapa benda lainnya terdapat disana. Aku mendahului mobil tersebut, sambil mengingatkan kelalaian mereka, tapi dengan “sopan” nya mereka malah menutup kaca kendaraannya dan melaju kencang. Lebih kencang meninggalkan aku yang tergangga tak mengira mendapar perlakuan ajaib dari kaum borjouis tersebut. Amboiiiii….manisnya sikap kaum borjouis pribumi kita. Tapi niatan baik tetap niatan baik, gak akan berubah. Aku ikuti mobil itu sambil terkadang harus berhenti memunguti boneka-boneka yang terjatuh kejalan. Ada sekitar 4 boneka dan satu bantal tidur anak-anak berwarna merah maroon bergambar Dora. Baru ketika kendaraan itu harus berhenti di sebuah U Turn, kesempatan aku untuk mengembalikan benda-benda itu bisa aku lakukan. Tanpa permisi, tanpa basa-basi aku berhenti tepat didepan kap mesin kendaraan, semua benda-benda yang terjatuh aku letakkan diatas kap mesin, lalu tanpa permisi dan basa-basi pula aku melanjutkan perjalanan pulang. Dari kaca spion aku lihat pengendara mobil itu turun dan terbengong-bengong dengan benda-benda yang dia kenal ada di atas kap mesinnya, entah apa yang dipikirkannya saat itu, tapi yang pasti aku sudah membuat anak mereka tak kehilangan mainan kesayangnnya. Fiiiuuuhhhhhhh…..

     Lantas dimana hati nurani dan etika dapat disejajarkan dalam berkendara ? Rasanya kedua sifat itu agak sulit untuk dapat  saling disejajarkan. Keduanya seperti berjalan sendiri-sendiri disesuaikan dengan maksud dan tujuannya masing-masing. lalu bagaimana dengan otak…? ternyata kekayaan tidak selalu berbanding lurus dengan daya pikir alias kepintaran. Tapi satu yang sejatinya tetap ada di dalam diri manusia, adalah niatan baik. Niatan baik harus tetap kita punya…karena biar bagaimanapun kebaikan tak akan bisa kita lakukan tanpa ada niat baik….waspadalah….waspadalah….!!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s