Ngayal-Ngayal Babu….


     Sudah puluhan blog otomotif yang berisikan tulisan dan analisa-analisa serta tips n’ trick tentang serba serbi kendaraan roda dua yang aku baca, semakin ingin pula aku merasakan jadi blogger terkenal seperti mereka yang banyak dikunjungi pengunjung sampai puluhan, ratusan bahkan sudah ada yang sampai dikunjungi hingga jutaan responden. Wuuuiiiihhhhhhh…..sudah terkenal di jalur maya terkenal pula di jalur para komunitas bikers. Akhirnya malah jadi ngayal-ngayal babu lagi…kapan dan bisa gak ya aku jadi blogger terkenal seperti mereka itu…..ngimpi.

     Aku juga seorang biker, meski pernyataan itu baru aku saja yang mengucapkannya sendiri karena selama ini gak ada yang mau nganggap aku sebagai biker. Tapi setidaknya sejak jaman masih kuliah dikisaran tahun 1991 sampai dengan jaman sudah bekerja dan punya anak bini ditahun 2011,  aku masih setia dan penyuka kendaraan roda dua. Alhamdulillah sampai saat ini kalo bisa dibilang aku adalah biker yang beruntung, yang masih bisa naik motor kemanapun aku suka tanpa dilarang sama anak istri karena alasan usia. Hehehehe…padahal kalo dilihat dijalan, masih banyak manusia yang usianya diatas aku masih jago bawa motor.

     Sebetulnya kalo mau jujur, pengen juga sih merubah dan punya kendaraan dari roda dua ke roda empat, tapi karena alasan ekonomi yang menjadi masalah utama, yang membuat aku tetap bertahan pada kendaraan roda dua. Jadi alasan usia itu gak tepat, alasan ekonomilah yang membuat aku “terpaksa” tetap setia pada roda dua, setia sebagai biker tanpa pengakuan.

     Satu waktu, jika melihat konvoi komunitas bikers yang kebetulan merupakan komunitas yang motornya sejenis, se-merk dan senasib denganku, ingin juga rasanya aku ikut konvoi bareng dengan mereka, menyempil diam-diam sampai tempat tujuan, sekonyong-konyong aku adalah bagian dari mereka. Namun tatapan-tatapan asing para konvoi-ers yang seakan-akan berbicara…”Siapa nih..kayaknya gak kenal deh…” membuat rasa tidak percaya diri semakin menebal, paling-paling aku hanya bisa memberikan kode klakson sebagai simpatisan atas satu merek motor yang sama-sama kita gunakan. Meski nyempil diem-diem malah dicurigai dan kode klakson gak direspon, aku cukup bangga juga, ternyata motor yang aku gunakan punya komunitas yang solid. Sering juga aku ngayal-ngayal babu sendirian dikala malam menemani kesendirianku….asyik juga kali ya bisa touring bareng dengan mereka kemana-mana…mengunjungi para komunitas lain…berkunjung ke salah satu blogger anggota OBI didaerah yang dilalui….foto-foto gaya anak muda….dapet undangan lanching motor baru…. bisa ikut testride……parti-parti dijalan pedesaan…atau apalah….

NB: Pengen punya lambang ini di Blog aku…

     Selama ini yang selalu setia menemaniku kemanapun aku pergi, baik sendiri maupun dengan anak istri adalah Honda GLMAX 125 cc, rakitan/produksi tahun 2003. Aku beli baru tunai dengan tabungan hasil tetesan keringat campur debu dan sedikit berdarah-darah selama 5 tahun bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil. Puasssss rasanya bisa beli motor sendiri, meskipun hanya sebuah motor kelas sederhana, namun fungsi dan kegunaannya sangat dasyat. Awal membeli motor itu banyak celoteh teman-teman yang kadang bikin keki, “…Kenapa juga beli motor model Si Doel Anak Betawi, mata loe merem ya Her…” atau “….gila ya, jaman motor  udah DOHC masih  aja loe pake yang “manual”…..”.  Kalo hati gak stabil bisa juga kepancing emosi ganti motor yang lebih canggih (impian dari dulu yang gak kesampaian adalah punya motor megapro lalu beralih ke Tiger terus ke CBR 150…tapi sampe ketiga motor itu berevolusi keinginan itu gak pernah tercapai….bahkan motor GLMAX punyaku sendiri gak berubah-ubah…).

     Banyak pengalaman dengan berbagai kondisi suka duka kami jalani bersama. Karena rasa cinta dan sayang telah menyatu, sebisa mungkin aku akan jaga dan rawat motorku sebaik-baiknya, sama baiknya dengan merawat anak istri. Namun tetap saja motor ini menjadi andalan utama segala macam kebutuhan yang tidak bisa dilakukan istri. Motor ini tak pernah menolak atau mengeluh diajak hujan-hujanan, panas-panasan, bawa beban berat, jalan jauh ratusan kilometer, pokoknya setia sampai matilah…..Terbukti, karena perawatan yang baik dan belaian kasih sayang yang tak pernah henti, motor baru turun mesin setalah tujuh setengah tahun dipakai September 2010). Itupun mungkin karena faktor “X” yang jadi kambing hitam utama. Faktor X tersebut adalah beban yang tiap tahun bertambah berat bobotnya (tahun 2003 bobotku 65-68 kg+istri 50-55 kg, makin naik tahun bobot ikut naik…tahun 2011 bobotku sudah 84 kg+Istri 60 Kg+dua anak 60-an Kg) itu yang membuat akhirnya sang Maxi harus turun mesin, (jarak kerja adalah Depok-lapangan Banteng lebih kurang 75 Km PP, sejak tahun 2003 sampai 2011, 5 hari kerja).

     Kalau lihat-lihat foto-foto di blog para blogger  anggota OBI, iri rasanya. Motor mereka bagus-bagus, keluaran terbaru, pokoknya prestise-lah, apalagi kalo sudah ngomongin modifikasi….waaahhhhh seru rasanya ngeliat model dan sparepart yang ditampilkan, yang harganya pasti tidak murah….aku juga jadi ngayal-ngayal babu lagi….seandainya Sang Maxi-ku berubah sekali aja….senang hatiku. Aku masih berhayal Sang Maxi-ku berubah menjadi motor yang monoshock….tapi karena (sekali lagi) dana yang cekak impian itu lama-lama karatan dan lenyap sedikit demi sedikit…(maafkan aku Maxi-ku…aku hanya baru bisa sebatas merawatmu dengan ganti oli teratur, mencuci tiap minggu dengan shampo abal-abal, service ringan tiap bulan dan minum pertamax sebulan sekali…ihik…), tapi tetap kaulah cintaku sayangku sampai batas yang tak terkira.

     Terima kasihku untukmu Sang Maxi-ku, semoga perjalanan kita tak terhenti sampai salah satu diantara kita berakhir dengan sempurna.

NB: Penampakan Sang Maxi akan menyusul.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s