Namaku Tasya…!


     

     Barangkali dalam tahap-tahap perkembangan dan pertumbuhan jiwa raga setiap orang hampir semuanya aku pikir pastilah mempunyai satu pengalaman yang pasti sama. Tak terkecuali juga, bahwa pengalaman kita saat kecil dulu pada akhirnya akan dimiliki atau dirasakan juga oleh anak dan cucu kita. Dulu semasa kecil aku selalu berangan-angan ingin pergi ke sebuah negara yang menciptakan film Voltus V dan Megaloman yang terkenal diawal tahun 80-an, hanya untuk membuktikan bahwa bahasa yang dipakai oleh Robot Voltus V dan Megaloman adalah sama dengan bahasa di Negeri tersebut. Syukur-syukur bisa bertemu dengan Megaloman dan Voltus V disana. Dan hingga sampai sekarangpun keinginan itu tak pernah pudar, namun hanya beda di tujuannya saja. Sekarang jika aku bisa kenegeri pujaan tersebut, tujuanku bukan ingin membuktikan sebuah bahasa, namun aku hanya mengincar untuk dapat memiliki produk-produk elektroniknya yang asli yang terkenal sampai ke-seantero bumi dan dapat berwisata selama berminggu-minggu menikmati indahnya alam dan segala modernisasi di negeri tersebut. Tapi kapan…?

     Sekarang, pengalamanku dimasa lampau juga terjadi pada anak pertamaku Ryan Maghriza Alufillisy Herdianto. Bedanya, dulu film Megaloman adalah yang sudah sangat keren dimataku, tapi buat Ryan, megaloman tak ubahnya penyanyi rock berambut panjang bertopeng aneh yang sering dilihat papanya di DVD player setiap hari Sabtu atau Minggu siang. Baginya sekarang adalah jamannya Ultraman dan Power rangers. Begitu antusiasnya dia terhadap tokoh Ultraman (aku pernah juga menulis tentang Ultraman dan Luna Maya di Blog ini) sampai-sampai dia bersumpah, akan datang kenegeri Ultraman untuk bertemu dengannya nanti setelah dia dewasa dan punya uang banyak, naif sangadz….!. Aku hanya mengamini saja. Karena aku pikir, keinginannya pergi ke negeri tersebut akan berubah sesuai keadaan waktu, sama seperti aku dulu. Tapi setidaknya, aku juga berdo’a, agar apa yang diimpikannya bisa terlaksana. Yah…dengan harapan, jika Ryan bisa pergi kesana pastilah papanya akan diajak, toh negeri idaman kita sama.

     Demikian juga dengan sebuah NAMA. Dulu aku selalu berpikir, nama Hery Herdianto itu enggak keren dan jawir banget. Namun ibu berdalih, bahwa nama itu adalah sebuah nama besar dari seorang pemain Bola nasional yang cukup terkenal pada pertengahan 60 dan awal 70-an. Sampai-sampai banyak orang yang menggunakan nama Herdianto pada anaknya dengan harapan anaknya bisa bermain bola sehebat Herdianto itu. Tak terkecuali sang Ibunda tercinta yang memberi nama culun itu ke aku. Hehe…padahal dulu Bapak dan Ibu berharap aku bisa menjadi pemain bola, ternyata keinginan tak selalu sejalan dengan keadaan. Boro-boro aku menjadi seorang pemain bola hebat, sampai sekarangpun, setelah lebih dari seperempat abad perputaran bumi aku lalui, permainan sepak bola tak pernah bisa masuk kehatiku. Bahkan untuk sekedar menonton bersama teman-teman walaupun nontonya dibayari di Hotel berbintang lima belas, aku akan selalu bilang “Ogah”…!. Apalagi sampai merelakan tidak tidur malam sampai pagi hanya untuk nonton bola….wah kayaknya gak mungkin deh. Makanya teman-teman sering berkata…”Kalo Hery nonton bola, itu tandanya dia lagi kemasukan setan atau hatinya lagi kosong atau jangan-jangan sedang datang bulan….!”.

     Sejak dulu aku selalu mengagumi kisah petualang Tintin, sampai sekarang. Koleksi Tintin sudah sampai Pool aku miliki. Dulu ibu melarang keras aku membaca komik Tintin, katanya gak ada ilmunya. cuma bikin bodoh. Tapi ternyata Ibu salah besar. Sejak kelas satu SD aku sudah tahu bahwa Pulau Borneo itu adalah Pulau Kalimantan dan Pulau Celebes adalah Pulau Sulawesi, aku tahu dari membaca Tintin (Penerbangan 714), aku banyak tahu nama-nama ibukota dibelahan bumi Eropa, Asia, Afrika dan Amerika (Tintin di Rusia, Tongkat Raja Ottokar, Hiu-Hiu Laut Merah, Kepiting bercapit Emas, Penculikan Calcullus, Tintin di Amerika), Sungai terbesar didunia, penghasil opium dan keberadaan suku Inca dan Maya (Lotus Biru, Patung Kuping Belah), Bahkan tahu juga tentang tata Surya dan Apa itu galaksi Bima sakti dari Tintin juga (Perjalanan Ke Bulan) dan sebagainya. Makanya aku selalu membubuhkan tanda tanganku dengan nama Herge’. Begitu kagum dan salutnya aku terhadap Herge’ hingga aku rela mengganti nama belakangku dengan Herge’, Hery Herdianto menjadi Hery Herge’. Luar biasa bukan…!?

     Sekarang hal itu juga terjadi pada anak keduaku, Kayla Devatania Putri Herdianto. Kayla tak hanya mengubah namanya menjadi Tasya, tapi juga mengubah Imaj guru dan teman-teman sekolahnya di TK. Mutiara Bangsa atas nama itu. Hebatnya Kayla tak akan meoleh atau menjawab pertanyaan jika masih dipanggil Kayla. Dia akan menjadi antusias dan sangat gilang gemilang matanya jika dipanggil dengan nama Tasya. Aku semula tak tahu, apa yang melatar belakangi dia ingin merubah namanya. Awalnya aku berpikir nama favoritenya adalah Luna Maya, seperti nama bonekanya. Tapi ternyata bukan. Lalu aku pikir lagi mungkin nama itu adalah nama tokoh kesayangannya di Film Barbie, ternyata masih bukan. Usut punya usut, ternyata Kayla merubah namanya menjadi Tasya hanya dikarenakan teman sekelasnya ada juga yang bernama sama, sehingga sang guru harus memanggil nama kayla dengan sebutan Kayla 1 dan Kayla 2. Rupanya Kayla tak suka dengan sebutan seperti itu, sehingga dia mengubah namanya sendiri menjadi Tasya. Luar Biasa….pengaruh dari sebuah nama.

     Ketika menulis tulisan inipun, kayla lagi ngambek karena Mamanya masih tetep memanggil Kayla nama aslinya…..sambil teriak Kayla berucap….”Mama,…namaku kan sekarang Tasya…..”.

Ampun.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s