Episode Rokok



Semula aku adalah seorang pria yang anti sekali dengan rokok, aku tak bisa terpengaruh ataupun tertarik dengan yang namanya rokok. Semua temanku sebagian besar adalah perokok. Meski banyak teman seperkumpulan yang mencela dan mengejekku karena tidak merokok seperti mereka, aku tetap tak bergeming dengan keputusanku, bahwa aku tidak akan merokok. Pada akhirnya semua teman bosan mengejek dan menawari aku rokok. Mereka akhirnya membiarkan aku dengan keanehan itu.

     Namun pada akhirnya aku mencoba merokok dan mulai menikmati addictive ini pada saat kepalaku pusing tujuh keliling mikirin skripsi yang gak kelar-kelar. Berhari-hari berada di tempat kos teman di tangerang guna menyelesaikan skripsi yang mengulas tentang Internal Audit pada sebuah perusahaan di kota itu.

     Komputer  yang cuma satu jadi barang rebutan sepulang dari magang, bahan dan data yang akan  dibuat sebagai bahan disertasi nanti banyaknya minta ampun, panas, polusi dan debu daerah pabrikan kota tangerang menambah derita diriku, terlebih rasa kangen pada sang kekasih di Jakarta membuat segenap jiwa raga ini semakin terbenamkan pada siklus penderitaan tiada akhir. Tak ada tempat mengadu, tak ada tempat mencurahkan isi hati kecuali kawan satu kost yang sejak pembuatan skripsi dimulai berubah wujud 360 derajat menjadi seorang yang sensitive, tampangnya menjadi sangat serius tak bisa lagi diajak bercanda atau sedikit bersenang-senang, semakin relijius dan selalu banyak berdo’a. Entah jiwa siapa yang berada diraganya saat itu.

     Semakin banyak kopi yang aku minun dalam sehari, terlebih bila harus mengerjakan pengetikan dimalam hari. Terkadang rasa lapar ditengah malam menjadi gangguan yang tak bisa diantisipasi karena datangnya hampir selalu tiba-tiba. Jujur, sejak jaman skripsi itu jadwal makanku berubah total, aku menjadi lebih banyak  minum kopi dibanding makan dalam sehari, bahkan kadang hanya makan sekali dalam sehari. Berat badanku sempat menyusut beberapa kilo.

     Pada satu malam yang aku ingat saat itu bertepatan dengan malam jum’at, tak seperti biasanya Tangerang sejak siang hingga malam hujan turun tiada henti. Jam menunjukkan pukul 22.40 (kalo gak salah…) tiba-tiba perut terasa lapar, sambil terus mengetik aku menunggu mungkin saja ada tukang nasi goreng atau sate yang lewat. Namun sampai pukul 01.00 WIB tak ada satupun pedagang makanan yang lewat. Perut semakin melilit, roti tawar milik teman sudah habis sejak maghrib tadi, sedangkan sang teman sudah terlelap dialam mimpinya sejak tiga jam yang lalu. Udara dingin dan rasa lapar membuat aku berfikiran untuk membuat kopi lagi, sambil membuat kopi mataku tertuju pada sebungkus rokok diatas meja. Aku sering dengar kawan-kawanku berseloroh, bahwa mereka lebih baik membeli rokok daripada harus membeli makanan dalam situasi darurat tertentu. Semula aku tak mengerti, situasi darurat yang seperti apa yang mereka maksud hingga mereka harus memilih rokok daripada memilih makanan, aku baru mengerti selorohan itu setelah aku menjadi perokok aktiv. Nanti aku beritahu, kondisi apa saja yang dimaksud oleh mereka itu.

     Berdasar selorohan itulah aku mencoba memberanikan diri menyentuh bungkus rokok tadi, dari sekedar memperhatikan kemasan rokok yang berisikan tulisan-tulisan kimia yang tidak aku mengerti sampai kemudian menghirup aroma rokok yang memang sangat mengiurkan. Aromanya yang keras, tajam, jantan dan menggairahkan namun terasa lembut diujung indera penciuman. Membuat ada rasa ingin mencoba. Aku ambil sebatang, aku dekatkan pada indera penciumanku, semakin dekat dan dekat. Hingga tanpa kusadari aku sudah ada dalam tahap “Foreplay” bersama batang rokok itu. Sungguh,  hasrat untuk mencoba pada akhirnya tak bisa aku tahan lagi. Gelora biologis mulai melingkupi nadi-nadi kelelakianku. Sambil terus ber-foreplay aku mencari korek api.

     Kopi panas dan udara dingin semakin membuat hasrat kelelakianku makin menggila, aku hirup kopi panas dengan perlahan, rasa nikmatnya berbeda dengan kopi-kopi terdahulu, kunyalakan korek, kusulutkan api pada batang rokok yang telah terselip diujung lubang biologisku, kuhirup rokok perlahan-lahan hingga asapnya memenuhi rongga mulutku dan kutelan dengan perlahan. Batuk….! Aku tak bisa menahan rasa gatal, panas dan sakit yang mengiris tenggorokanku, rokokku terpental jatuh… Asap rokok membuat aku terbartuk-batuk dengan kerasnya, mataku berair rasanya paru-paru dan jantungku seperti perih teriris, aku hirup kopi untuk menghilangkan rasa gatal dan pahit karena asap rokok. Kucoba lagi dengan lebih hati-hati, kuhirup dia perlahan, kuatur nafasku untuk menerima asap yang mulai memenuhi rongga mulutku. Kali ini aku tidak menelannya, aku biarkan dia keluar lebih dahulu dengan leluasa, kuhirup lagi dengan hirupan yang lebih kecil dan teratur, kali ini tidak dengan menelannya namun dengan menghirup secara perlahan dengan cara membuka kerongkongan dan paru-paru seperti layaknya menghirup udara dipegunungan, perlahan….perlahan…dan perlahan….lalu kuhembuskan keluar dengan dorongan yang sedikit kuat….Aaaaaaahhhh….orgasme pertama yang terjadi sejak persenggamaan yang dimulai beberapa detik yang lalu. Ada rasa penyesalan yang teramat sangat, tubuh ini telah ternoda…namun rasa nikmat yang ditawarkan mengalahkan penyesalan yang sebetulnya tak bisa aku maafkan, terlebih rasa kopi yang rasanya makin kurang ajar nikmatnya membuat aku menginginkan orgasme-orgasme selanjutnya….sial….!.

     Tanpa terasa rasa lapar dapat aku lupakan, skripsi juga aku lupakan sejenak dua jenak, hingga pada akhirnya aku menghabiskan dua batang rokok Gudang Garam Filter International ditemani secangkir kopi kental hitam rasa canggih. Sungguh malam itu adalah malam penuh kenistaan yang aku rasakan dengan kenikmatan tiada dua. Tak lama rasa lelah baru aku rasa, kubaringkan tubuh diantara sisa-sisa penyesalan dan kepuasan, entahlah apa rasanya….yang pasti aku sudah tak perjaka lagi.

Hingga pada hari-hari selanjutnya aku menjadi kacanduan……

To Be Continued…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s