November Rain 1991


     Aku memang bukan lelaki yang romantis. Perjalanan asmaraku berjalan normal seperti kehidupan kebanyakan orang, tak ada belaian manja dirambut, tak ada ucapan-ucapan mesra saat kencan, tak ada peristiwa-peristiwa istimewa disaat yang istimewa, tak ada hadiah coklat atau buket bunga idaman, juga tak pernah ada untaian-untaian kata rayu mendayu melankolis dalam secarik kertas warna merah jambu dihari-hari istimewanya. Biasa saja…dan aku menikmati kebiasaan yang biasa ini dalam kehidupan asmaraku sampai membuahkan 2 orang anak yang Alhamdulillah sehat-sehat dan pintar-pintar.

    Istriku seringkali mengeluhkan sikap dan sifatku yang satu ini. Terkadang dia mengharapkan sesuatu yang istimewa dihari yang istimewa, tapi nyatanya aku hanya bersikap biasa saja. Meski aku tahu kapan hari-hari istimewa kami terjadi, namun tetap saja aku bersikap seolah tidak ada yang perlu diistimewakan. Yang aku tahu pada hari-hari itu biasanya istriku membuat sesuatu yang berbeda dari biasanya. Misalnya membuatkan makanan kesukaanku atau mengenakan pakaian yang menurutku “berlebihan” bila hanya untuk dirumah.  Aku tahu, sikap istriku yang demikian adalah ungkapan perasaannya dihari istimewanya dan dia pun mengharapkan sesuatu yang juga berbeda dari aku, tapi tetap saja aku bersikap bodoh.

    Seperti kemarin, tanggal 2 November adalah tanggal teristimewa buat kami berdua. Tapatnya tanggal 2 November 1991, diawal musim penghujan, lagi tenar-tenarnya lagu “november Rain”-nya Guns N’ Roses, disitulah sebuah awal dari antiklimaksnya seorang laki-laki mengungkapkan perasaannya terhadap lawan jenis. Ditanggal itu, aku pertama kali merasa jadi seorang lelaki sejati, lelaki yang untuk pertama kalinya berhasil melalui ujian terberat dalam awal dikehidupan selanjutnya, lelaki yang ingin belajar bertanggung jawab,  menjadi lelaki tangguh. Aku mengucapkan dengan terpatah-patah dan dengan hantaman emosi yang tidak beraturan di hati yang bergejolak tak beraturan diluar batas kemampuan hati dan otak untuk meredamnya, dengan tetesan air mata yang tidak disadari keluar bukan karena sedih tapi karena ketegangan berat di sanubari terdalam, dikekeluan lidah yang tak bertulang mengalir 10 kata yang teruntai dalam sebuah kalimat bombastis yang seakan-akan efeknya bisa mengacaukan peredaran garis rotasi bumi dan planet-planet di Galaksi Bima Sakti. “….Aku suka sama kamu, mau gak kamu jadi pacar aku…..”. Hanya sepuluh kata….ya sepuluh kata….tapi untuk mengucapkan dalam sebuah kalimat pendek dan cepat aku harus membutuhkan waktu hampir 3 tahun..!!! dan itupun tidak bisa aku ucapkan dengan baik dan benar….aku harus mengulang sampai 3 kali untuk dapat mengucapkan kalimat itu dengan baik dan benar….!!! (saat itu istriku hanya bilang “…Apa..? sampai dua kali….). Setelah itu kami terdiam, tak ada kata sepatahpun, tatapan mata sudah tak seperti biasanya lagi, kuping panas membara, hati  terjatuh sampai batas telapak kali terbawah, nafas seaakan-akan tidak melawati jalur yang sesungguhnya, disinilah untuk pertama kalinya susunan metabolisme tubuh bergerak tak beraturan dan tidak bekerja dengan semestinya. Galau…Kacau…

     Sebuah kalimat yang sebetulnya tak akan mempunyai arti apa-apa bagi yang tak memiliki perasaan cinta tarhadap calon pasangannya, tapi akan mempunyai efek yang bombastis jika dicapkan pada seseorang yang mempunyai “rasa” pada calon kekasihnya. Siapa yang mau menyangkal…? siapapun yang pernah jatuh cinta dari hati yang terdalam, maka untuk mengucapkan 10 kata yang terangkai dalam kalimat ini kepada kekasih pujaan hatinya sama seperti sukarnya membuka tutup botol minuman mineral yang dilumuri minyak goreng….!!!.

    Tanggal itu adalah hari dimana aku mengungkapkan perasaanku pada wanita yang sekarang menjadi istriku. Kalimat yang aku ucapkan dengan pertaruhan harga diri sebagai lelaki dewasa, kalimat yang aku ucapkan dengan persiapan paling panjang dalam hidupku, kalimat yang membuat dunia kami berhenti berputar dalam beberapa menit, kalimat yang membuat aku menjadi seorang lelaki yang bertanggung jawab sampai detik ini, kalimat yang menyatukan hati kami satu sama lain hingga sebisa mungkin abadi di keabadian nyata alam firdaus.

     Selamat hari jadi kita, Istriku….semoga masih banyak waktuku untuk bisa membahagiakanmu dilain waktuku….anggap saja kekuranganku ini sebagai waktuku yang tertunda dalam memberikan apa yang kau mau….meski entah sampai kapan….

N.B: Thanks to : 1. Allah yang menciptakan waktu, bumi, Adam dan Hawa, 2. Guns N Roses yang mengilhami cinta kami, 2. Gubuk mie ayam disepanjang jalan cibubur SMAN 99. 3. Hujan yang membuat kami harus berteduh di gubuk mie ayam,  4. rasa cinta yang ada dimasing-masing diri manusia.

Berhubung cinta sejati itu mutlak hanya bisa dimiliki oleh Allah semata, maka aku hanya bisa mencintaimu dengan cara dan kemampuanku sebagai manusia biasa…semoga berkenan….Amin.

Iklan
By Sang Pria Biru Posted in Romance

4 comments on “November Rain 1991

    • Itulah kenapa kita punya banyak romantika hidup, menyatakan cinta adalah ujian pertama terberat dalam kisah cinta seseorang pria…itu baru sebagian dari ujian-ujian selanjutnya….
      tetap optimis…
      Terima kasih sudah mau mampir dan kasih atensi

  1. Kok ya aku agak mendesir baca kisah cintanya ….dapet banget bahasanya…aku suka…simple tapi dalam…

    Memang romantis ya menyatakan cinta dalam hujan…makanya ada lagu November Rain dan Blame It On The Rain…hihihi

    • Wah…jangan ketinggian mujinya…masih newbie kok…..masih harus banyak belajar nulis …
      Hujan dan November mungkin memang sudah jadi simbol cinta kali ya…..

      Makasih dah mampir dan kasih atensi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s