Eksperimen Konyol Yang Kelima


Cerita kembali ke jaman jadul, waktu penulis berusia belia (masih kiyis-kiyis) atau dikisaran 9 sampai 10 tahunan gitu deh. Banyak sebetulnya kejadian yang bisa bikin geleng kepala orang-orang yang berfikiran maju, tapi tidak untuk saat itu. Saat dimana ilmu teori kadang gak bisa disambungkan dengan ilmu prakteknya, meskipun dilakukan secara bersama-sama sekalipun. Masing-masing ilmu masih berjalan sendiri-sendiri, logika yang dipakai adalah logika instan, gak perlu mikir banyak apalagi sampai melakukan analisa menyeluruh layaknya para ilmuwan. Terkadang ilmu yang baru kemaren diajarkan tidak berlaku lagi dan bisa berubah besok harinya, tergantung kejadian yang terjadi saat itu, maka hasilnya adalah ilmu baru, gak peduli ilmu itu datangnya dari alam sadar atau alam bawah sadar, pokoknya jadul lah gitu deh….

Seperti kisah aku yang saat itu selalu terjadi atas dasar “keingintahuan” dan “sok tahuan”, pada intinya kisah-kisahku dulu selalu penuh dengan marabahaya, horror, komedi dan kedunguan-kedunguan yang hasilnya sampai saat ini abadi gak hilang dari ingatan.

Perumnas Depok II Tengah pada masa tahun 1980-an, disetiap pekarangan rumah dan tanah lapang masih didominasi oleh berbagai macam bunga-bunga-an. Bunga liar itu masih terlihat banyak disetiap tempat. Saat itu asalkan warna bunganya menarik, maka bunga itu dianggap pantas atau layak dijadikan tanaman hias dipekarangan rumah. Dirumahku sendiri saat itu banyak ditanami ibu beraneka bunga-bungaan, baik itu bunga yang didapat bapak diperjalanan setelah jalan pagi disetiap hari minggu maupun bunga yang di beli ibu dari para pedagang bunga keliling. Namun kebanyakan bunga itu adalah bunga kampung atau bunga hutan yang diberi pot saja agar tampilannya menjadi semakin menarik. Banyak bunga yang ditanam ibu dipekarangan rumahku dulu, dari jenis pakis-pakisan, jenis bunga rambat atau bunga hias tangkai, seperti bunga Kembang Sepatu (Hibiscus Rosasinensiss), Tapak Dara (Catharantus Roseus), Alamanda (Allamanda Cathartica), Bunga Krokot (Portulaca grandiflora), Bunga Kertas (Bougainvillea glabra) bahkan sampai Bunga Tai Kotok (Tagetes Erecta Lantana Montevidensis).

Berbicara tentang bunga tai kotok, aku pernah punya pengalaman yang lumayan “dungu” dan gak bisa masuk diakal sehat kaum manusia, namun seperti sudah saya katakan diatas bahwa ilmu logika dan ilmu teori gak pernah bisa nyambung saat itu, adalah yang menyebabkan kedunguan dan kelucuan jadi sering terjadi. Begini kisahnya…jreeeeennk….!

Beruang Madu dan Bunga Tai Kotok

Seperti biasanya, setiap kali sehabis berolah raga, kami seringkali meluangkan waktu turun ke sungai untuk sekedar mencuci kaki atau membasuh tubuh yang penat dan kotor oleh debu dan keringat. Anak sungai Ciliwung adalah tempat favorite kami dulu untuk bersenda gurau. Airnya saat itu masih terlihat jernih, tak ada kotoran rumah tangga yang mencemarinya, paling-paling hanya sekedar ampas biologis manusia yang tanpa permisi lewat dengan damainya. Tak apalah selama air masih mengalir lancer, hal-hal seperti itu tak perlu dipermasalahkan lebih dalam. Terlebih jaman itu sanitasi belum berjalan baik diantara penduduk setempat, karena tak semua penduduk memiliki tempat pembuangan biologis yang baik. Namun sekarang anak sungai Ciliwung tempat kami meluangkan waktu sudah tak bisa lagi dijadikan tempat favorite. Sudah banyak kotoran rumah tangga yang mencemarinya. Bermacam-macam benda rumahan yang tak terpakai lagi dibuang seenaknya di sungai itu. Sungguh tak nyaman dipandang mata. Airnya pun sudah tak sejernih dulu, keruh dan berbau, bahkan mengalirpun sudah tak lancer lagi. Mengenaskan.

Demikian juga dengan tanah lapang tempat dimana kami dulu bermain bola. Sungguh meski aku bukan seorang yang suka bola, namun berkumpul dengan teman sebaya untuk bermain bola adalah saat yang sangat mengasyikkan buatku. Aku bisa tertawa terbahak-bahak, memaki bahkan bisa melihat pertandingan tinju ala kampong. Aku tak pernah sekalipun bermain bola, karena memang aku tak suka. Aku lebih suka memperhatikan tingkah laku kawan-kawanku yang kadang bisa mebuatku tertawa. Aku lebih memilih untuk menuruni lembah yang ditumbuhi oleh rumput ilalang disekitar tanah lapang. Rumputnya tinggi memanjang, dengan bunga yang terlihat seperti padi. Dulu aku mengira rumput ilalang ini adalah pohon gandum, karena memang terlihat seperti pohon gandum, tapi ternyata ini Cuma rumput ilalang biasa.

Bunga-bunga liarpun masih banyak terdapat di sekitarnya. Berbagai macam jenis, bentuk dan warna. Beberapa jebnis bunga menjadi favorite-ku, bunga terompet (mandevilla Sanderi) yang berwarna biru adalah bunga kesukaanku, warnanya yang berbaur biru dan putih terasa nyaman dimata, meski kadang ada beberapa jenis bunga terompet namun aku suka bunga terompet yang berukuran kecil dan berwarna biru. Bunga Tai Kotok (Tagetes Erecta Lantana Montevidensis)adalah bunga yang paling aku benci. Meski penampilan dan warnanya menarik, namun aromanya tidak aku suka, terlebih aku alergi terhadap sesuatu yang berbau tajam, termasuk aroma bunga ini. Aku akan bersin-bersin dengan aroma yang menyengat, termasuk aroma parfum dan bumbu nasi goring kaki lima.

Berbicara tentang bunga Tai Kotok, aku mengingat kembali kenangan super dungu yang pernah kami lakukan terhadap eksperimen konyol yang tak masuk diakal sehat manusia sungguhan. Kenapa aku bilang konyol ? Begini ceritanya.

Dari sekian banyak jenis bunga yang aku tau dan aku perhatikan, hanya bunga tai kotoklah yang tak pernah dihinggapi lebah (mohon klarifikasi jika ada yang pernah menyaksikan lebah hinggap dibunga tai kotok…) untuk diambil nektarnya. Aku berfikir, lebah saja yang tak punya hidung seperti manusi “ogah” hinggap di bunga itu, apalagi manusia yang punya penciuman sempurna, lebih baik “nyium” bau kentut sendiri daripada bau bunga tai kotok. Dari pengamatan “sekilas” dan teori “dangkal” itulah aku dan teman-teman melakukan percobaan yang sungguh-sungguh dungu (orang betawi depok bilang Dongo….satu tingkat lebih parah dari dungu).

Sudah beberapa minggu setiap kali bermain bola, kami memperhatikan ada sebuah sarang lebah besar diatas pohon kecapi di tanah lapang. Lebahnya kecil-kecil namun jumlahnya banyak. Demikian juga dengan sarangnya, terlihat gemuk dan menggiurkan. Kami sependapat, bahwa isi sarang lebah itu penuh dengan madu yang manis. Ada keinginan dari kami untuk memetik sarang lebah itu dan mengambil madunya. Sebetulnya tak ada masalah jika hanya memanjat sebuah pohon kecapi, terlebih diantara sekumpulan anak-anak hanya aku saja yang tak bisa memanjat pohon kecapi, apalagi dengan tinggi yang sampai belasan meter (oya…aku adalah pengidap phobia ketinggian…) yang jadi permasalahan adalah kerumunan sang lebah yang setiap saat menjaga sarangnya. Pernah kami memakai berbagai macam cara demi mendapatkan sarang lebah tersebut. Dengan menggunakan galah atau melemparinya dengan menggunakan ketapel. Semua sia-sia.

Tapi sekarang kami sudah punya solusinya. Dengan menyimpulkan dari berbagai teori “aneh” dan “pendapat-pendapat” kacau, kami sepakat menggunakan bunga tai kotok sebagai amunisi kami dalam menggapai cita-cita dan harapan kami diatas pohon kecapi. Seperti sudah saya gambarkan diatas mengenai pengamatan saya terhadap prilaku lebah terhadap bunga tai kotok, maka diambil kesimpulan bersama, aroma bunga tai kotok akan mengusir lebah yang menjaga sarangnya…!!!

Usul punya usul, maka dipilihlah salah satu sahabat yang jago naik pohon. Meski badannya agak tambun, tapi nyali dan kesigapannya dalam memanjat pohon tak perlu diragukan lagi. -Tentu saja, ayahnya punya kebun rambutan, kecapi, jambu klutuk dan belimbing. Dia adalah anak yang diandalkan untuk memetik buah segar diatas pohon-. Sebelum memanjat, kami balurkan keseluruh tubuhnya puluhan bunga tai kotok, sudah tentu aku tak ikut membalur, karena sejak memetik beberapa bunga, aku sudah diserang bersin-bersin. Sungguh tragis dan kejam aromanya. Aku tak habis piker, sang sahabat begitu kuatnya menahan aroma busuk dari bunga itu. Sekarang aroma tubuhnya lebih busuk dari jamban dan wc sekolah kami, dasyat sekali. Namun kami sekarang yakin, jangankan lebah, harimau pun tak akan mau menyerangnya, apalagi memakannya dengan aroma seperti itu.

Maka dengan diiringi do’a restu teman-teman dan ajian-ajian seadanya, sang sahabat memanjat dengan penuh keyakinan. Saya melihatnya mirip sekali dengan beruang madu. Sampai setengah pohon tak ada masalah yang berarti, bahkan sampai mendekati sarang lebah tak menemui kendala. Kami bersorak dan terus menyemangatinya. Harapan kami atas madu hutan sudah diambang mata. Namun lebah ternyata bukan makhluk lemah yang mudah dikibuli dengan taktik aneh buatan manusia dungu…mereka memang tak mnyerang secara langsung jika sarangnya tak disentuh atau diusik, mereka tidak menyerang bukan karena aroma busuk itu, tapi mereka memang tidak akan menyerang sebelum sarangnya benar-benar terganggu seacar langsung. Kami tak mengamati hal tersebut. Sekarang sudah terlambat. Ketika tangan sang sahabat menyentuhnya dan berusaha memutuskan dari dahan pohon, ratusan lebah yang semula tenang diam, tiba-tiba menyerang dengan dengungan yang menyeramkan, tapi kami terus menyemangatinya, hingga sarang itu benar-benar putus dan jatuh tepat disekitar kami. Ratusan lebah yang mengamuk secara membabi buta menyerang siapa saja yang ada disekitarnya, kami lari tunggang langgang, bercerai burai tak peduli arah…kami berlari lintang pukang sambil berteriak-teriak, aku pasrah…kaki ini seakan tak bisa digerakkan melihat ratusan mungkin ribuan lebah yang mengamuk, aku lihat sang beruang madu merosot turun dari atas pohon sambil berteriak-teriak mohon ampun….cepat sekali dia turun…!! Lalu ikut lari lintang pukang. Aku baru bisa berlari setelah beberapa lebah menyengatku….sakit sekali. Sungguh, baru kali pertama aku bisa berlari lebih cepat dari Sujatmiko yang dikenal sebagai pelari tercepat disekolah kami dan selalu juara pertama dalam pertandingan lari antar sekolah sekabupaten Depok.

Kami terus berlari tak tentu arah….sampai akhirnya aku benar-2 terbebas dari serangan lebah dan tak tahu entah ada dimana. Begitu juga dengan teman-teman.

Semalaman aku meriang panas dingin, beberapa serangan sengatan lebah yang mungkin beracun membuat metabolisme tubuhku menjadi tak beraturan, bengkak dan memar ada dibeberapa tempat. Sambil marah-marah dan mengutuk-ngutuk kebodohanku, ibu mencabuti beberapa sengatan lebah yang tertanam manis dikulitku. Bawang putih sebagai penawar racun dan penghilang bengkak dioleskan pada lukaku. Sedang Bapak hanya terdiam, Beliau tak pernah berkomentar lebih kecuali hanya senyum sinis sebagai tanda mengatakan sesuatu…”bodoh sekali anak ini”…

Keesokan harinya, aku lihat si Beruang Madu tampil lebih gemuk. Bibirnya lebih maju, pipinya semakin “chubby”, kapalanya dicukur gundul. Ada belasan mungkin puluhan benjolan kecil berwarna merah disekucur kepalanya bekas sengatan lebah. Badannya lebih parah lagi….susah diceritakan dengan kata-kata karena mengerikan sekali. Demikian juga dengan semua kawan-kawan aku, tak ada yang terbebas dari serangan lebah tersebut rupanya. Namun kami masih bisa tertawa…

Pengalaman bodoh yang sampai saat ini masih selalu teringat, sekarang sang beruang madu sudah tak gemuk lagi, tubuhnya prporsional dan terlihat sempurna. Dia bilang, karena rajin mengkonsumsi madu setiap hari dan berolah rahga teratur. Hhhhh…kalau saja dulu membeli madu semudah sekarang, tentunya aku tak perlu melakukan riset dan pengamatan mendalam atas bunga tai kotok, dan tentunya sang beruang madu tak perlu berkorban untuk sekedar mendapatkan madu murni….nasib…nasib…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s