Anakku, Jagoanku…


Sejak kecil aku dibekali nasehat oleh ibuku untuk selalu menjadi orang yang sabar. Sabar dalam segala bentuk. Terkadang ibu juga menasehatiku untuk selalu bisa mengalah. Juga dalam segala hal. Jujur saja, diantara dua nasehat ini aku lebih bisa menguasai rasa mengalah dibandingkan rasa bersabar. Ibu tahu akan sifatku yang memang tak suka membuat keributan, mengacau atau berkelahi sekalipun. Namun ibu juga tahu apa yang akan terjadi bila aku sudah terbakar emosi yang berlebih dan tak bisa aku tahan, maka jika aku harus berkelahi maka aku akan berkelahi dengan siapapun yang telah membuat harga diri dan hatiku menjadi tak nyaman. Meski dalam perkelahian itu aku kalah, namun setidaknya aku punya harga diri yang tak bisa dipermainkan oleh siapapun. Dengan demikian siapapun yang pernah berkelahi dengan aku akan tahu sifatku setelah itu. Bahkan terkadang dari perkelahian tersebut, musuh besar bisa menjadi seorang sahabat karib yang tak terpisahkan. Ibu selalu bilang, mengalah bukan berarti kalah, jika kita dalam posisi yang benar, namun situasi tak mendukung kita untuk menikmati kebenaran itu maka sebaiknya kita mengalah. Dengan mengalah, kita bisa menghindari berbagai macam hal yang mungkin malah membuat kita semakin susah dikemudian hari. Aku setuju, sampai saat ini nasehat itu aku terapkan. Ibu juga mengajariku untuk tidak menjadi orang yang pendendam. Sifat dendam bukan hanya menyakitkan hati orang lain namun juga menyakiti hati dan diri sendiri. Jika ada yang bertanya, ketika kau disakiti apa tak ada rasa untuk membalas menyakiti ? Ada…kataku, tapi aku tak mau…lalu bagaimana kau mengatasi semua itu ? aku jawab,…dengan bersabar….Dengan bersabar ?….sampai kapan….?! Sampai waktu yang tak terbatas, kataku….bukankah sabar itu tak berbatas ? disini aku merasa diriku sangat suci dengan mengutamakan kesabaran dalam segala hal, namun sekali lagi jujur aku katakan, aku lebih bisa menguasai rasa mengalah dibanding bersabar, lalu kemana sifat sabar yang selalu aku agungkan ? jawabnya, aku simpan sampai batas waktu dimana harga diri dan rasa tak nyaman mulai mengerogoti diriku. Bingung…jangan bingung, aku sudah katakan aku tidak bisa menjaga sabar sehebat aku menjaga rasa mengalah…kenapa begitu…? Karena akun pernah berkelahi…!!

Hal serupa juga aku tanamkan pada anak lelakiku, Ryan Mgahriza Alufillisy Herdianto. Nama yang indah bukan ?. Aku seringkali menasehati Ryan untuk tidak selalu bertindak gegabah terhadap segala hal. Aku tahu banyak tentang sifat anak ini. Banyak bicara, terkadang tak pernah terpikirkan olehnya apa akibat dari bicaranya tersebut. Agak protektive, keras kepala, dan sedikit pendendam. Aku berusaha untuk dapat menyempatkan banyak waktu untuk dapat selalu berdua dengannya. Banyak petuah-petuah yang aku ajarkan, tentang kesabaran, mengalah, tak boleh dendam, jangan banyak bicara dan sebagainya dan sebagainya. Dari kedekatan tersebut aku bisa tahu bahwa Ryan memiliki teman yang tak baik prilakunya disekolahnya. Sering mengganggu di sekolah bahkan ketika didalam mobil jemputan sekalipun, tidak hanya mencemooh dengan kata-kata yang menyakitkan hati, bahkan seringkali juga menyakiti secara pisik. Tapi sekuat tenaga aku menasehati Ryan untuk selalu bersabar dan mengalah. Tetap baik kepadanya adalah cara yang bagus untuk bisa merubah sifatnya, kataku. Tapi semakin hari Ryan semakin banyak mengeluh, temannya tak punya rasa menghormati sesama teman. Rasa persahabatan yang diperlihatkan Ryan tak digubris, dianggapnya Ryan adalah anak lemah yang pantas untuk disakiti. Sempat aku minta istriku untuk melaporkan kepada pihak sekolah atas prilaku anak tersebut, namun hanya untuk beberapa hari saja dia berlaku baik. Hari berikutnya Ryan kembali mengeluh.


Aku tak tahan juga mendengar keluh kesahnya menangani masalahnya, hal tersebut mengingatkanku pada sejarah kelam masa sekolah dasarku dulu, persis sama. Hanya saja, saat itu aku membela harga diri aku dan adikku. Suatu saat aku akan ceritakan sejarah silamku yang penuh kelam. Suatu hari aku ajak Ryan bicara serius tentang temannya. Aku tanya, apakah anaknya seumuran denganmu ? tidak jawabnya, dia kelas 5 Pa…katanya. Apa Ryan berani jika berkelahi dengannya ? Berani ! dengan tegas dia jawab. Dari sini aku sudah bersyukur bahwa selama ini Ryan tidak bertindak gegabah diluar kendalinya, artinya dia sudah mengerti atas segala nasehatku…Tapi Pa…dia punya 2 teman yang juga suka mengganggu Ryan ,…katanya. Wah ini agak berabe…aku tak pernah berkelahi secara keroyokan jadi aku tak punya pengalaman untuk hal ini. Aku ambil keputusan, jika anak itu tidak benar-benar menyakiti atau merendahkan harga diri, Ryan harus tetap mengalah, tapi jika mereka menyakiti secara berlebih dan Ryan merasa terganggu karenanya, maka jika ryan harus berkelahi dan memang untuk berani berkelahi, maka lakukanlah….!!!, tak usah takut kalah….!! Kalah dan menang urusan belakangan…yang penting Ryan punya harga diri. Begitu petuah saktiku untuknya. Dia hanya diam termanggu, sesekali menganggukkan kepala dengan diam, tapi aku tahu dimulutnya tersembunyi senyuman kecil disudut bibirnya, aku tahu arti senyuman itu.

Nasehatku dia pegang baik-baik. Sampai hingga pada suatu saat, aku mendapat laporan dari istriku bahwa Ryan tadi pulang sekolah menangis karena berkelahi dengan teman yang sering mengganggunya. Aku sedikit khawatir, namun istriku bilang, Ryan hanya mengalami lebam biru di lengan dan dadanya. Namun ketiga lawannya mengalami luka jontor biru lebam di bibir dan matanya. Salah satu diantaranya mengalami luka berdarah dibibirnya. Hebat !…pikirku….satu lawan tiga….!!. Esoknya mereka dipanggil kepala sekolah, namun Ryan punya banyak saksi kuat bahwa bukan dia yang memulai perkelahian, syukurlah anakku tak kena sangsi. Yang aku tahu sekarang anak-anak pengganggu itu tak lagi berbuat nakal terhadap Ryan. Entah karena sangsi dari kepala sekolah atau karena sudah tahu siapa Ryan sebenarnya. Tapi yang pasti Ryan telah membuat aku bangga dan percaya padanya. Ryan telah menjadi anak lelaki sejati untuk umurnya, persis seperti diusiaku saat lalu.

Sekarang tak ada lagi yang menggangu Ryan, setiap hari Sabtu aku biasakan untuk dapat mengantar dan menjemputnya sekolah. Aku perhatikan dia tak punya lagi permasalahan dengan teman-temannya. Itulah anakku, Ryan Maghriza Alufillisy Herdianto.

Ryan….Papa menyayangimu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s