Kucing Milik Bapak


Entah, sudah untuk yang keberapa kali kami memelihara kucing sejak kucing pertama kami yang bernama Koneng tidak lagi menemani hari-hari keluarga kami. Banyak kenangan yang masih aku ingat, kapan dan dimana seekor Koneng aku temukan sebelum aku memeliharanya.
Semula Ibu menolak keras-keras kucing yang saat pulang sekolah aku temukan dan aku bawa pulang kerumah. Kotor, katanya. Tapi aku tidak melihat dari sisi yang dipikirkan ibu, aku hanya melihat dari satu sisi yang lain, yaitu rasa kasihan terhadap seekor anak kucing yang tak berdaya mengeong-ngeong ditengah tanah lapang disaat sinat terik matahari berada pada puncaknya. Sekali lagi ini kisah aku yang selalu bermula dari jaman Sekolah Dasar Negeri.

Saat itu aku masih kelas 2 SD di Sekolah Dasar Negeri Mekarjaya VII, Depok II Tengah. Jalan yang kulalui berangkat dan pulang sekolah selalu melewati tanah lapang yang berada di jalan Proklamasi. Perempatan jalan itu akan serasa menakutkan bila saat hari hujan yang disertai petir, karena tempatnya terbuka sekali. Namun, akan mengerikan bila dimusim panas, karena teriknya luar biasa. Pohon-pohon besar seperti Angsana atau pohon asem yang tertanam dipinggir jalan belumlah sebesar sekarang. Namun keberadaan pohon-pohon itu pada akhirnya tak bertahan lama, karena tak setelah itu tanah lapang di jalan proklamasi berubah fungsi menjadi tempat pemukiman baru. Pohon-pohon yang mulai membuat rindang jalan Proklamasi saat itu harus di tebangi.

Aku ingat, sepulang shalat Jum’at, ditengah terik matahari jalan proklamasi, ku lihat ada seekor anak kucing yang berlarian tak tentu arah sambil mengeong-ngeong. Warnanya kuning diseluruh tubuh, namun kakinya berwarna putih, itu yang sepintas terlihat seakan-akan anak kucing itu mengenakan sepatu disetiap kakinya, ekornya tak terlalu panjang, matanya coklat bersih berkilauan, meski bulunya terlihat kumal dan kotor, tapi aku yakin kucing itu akan terlihat sehat jika dibersihkan. Langkahnya masih goyah, mungkin baru beberapa hari dilahirkan, mungil sekali. Didera rasa kasihan aku bawa anak kucing itu pulang kerumah. Namun ibu menolak untuk menerimanya, apalagi memeliharanya. Kotor, katanya. Aku cuma bisa merengek pada ibu agar memperbolehkan aku memeliharanya, ibu tak usah ikut campur jika memang tak mau memeliharanya. Karena tekadku kuat, aku tak bergeming pada keinginanku untuk memelihara anak kucing itu. Dengan kain basah aku bersihkan anak kucing yang kumal itu perlahan-lahan. Meski anak kucing itu meronta-ronta, namun apalah daya dibanding tenaga manusia seusiaku saat itu. memang benar dugaanku, setelah dibersihkan, anak kucing itu tidak hanya terlihat bersih dan segar, tapi benar-benar bersih dan cantik sekali. Secara diam-diam aku buatkan segelas kecil susu milik adik untuk anak kucing itu. Meski terlihat sulit untuk meminumnya tapi segelas kecil susu itu habis juga diminumnya, mungkin dia kehausan dan kelaparan sejak tadi atau bahkan sejak kemarin, kasihan sekali.

Menjelang maghrib Bapak pulang dari kantor. Aku berharap banyak dari ijin Bapak untuk memperbolehkan aku memelihara anak kucing itu. Bapak bukan orang yang banyak bicara, beliau hanya bicara jika dirasa perlu dan penting untuk dibicarakan. Aku menunggu sampai Bapak benar-benar selesai beristirahat. Bapak adalah pria yang menyukai kucing, karena mbahku, ibunya Bapak juga memelihara banyak kucing. Selesai shalat maghrib berjama’ah, aku bicara dengan Bapak tentang keinginanku memelihara kucing. Terlebih setelah pindah ke Depok, aku tak lagi bisa bermain dengan kucing seperti saat masih tinggal di Jakarta, di rumah simbah. Tapi ibu marah bukan kepalang, dipikirnya aku telah membuangnya jauh-jauh anak kucing itu sejak tadi. Aku cuma menangis mendengar perintah ibu agar aku membuang anak kucing itu sekarang juga. Tapi tiba-tiba saja Bapak bilang,….”mana anak kucingnya….bapak mau lihat….” katanya. Tanpa pikir panjang aku berlari keluar menuju kandang ayam. Anak kucing itu aku simpan disitu sejak sore tadi. Mata Bapak terlihat berbinar, aku tahu arti dari tatapan mata bapak yang seperti itu. ….”…eh, anak kucing ini jantan rupanya,…” katanya lagi. Sambil menimang-nimang anak kucing, bapak memperhatikan dengan seksama, sementara ibu masih bersikeras dengan pendiriannya. Tanpa banyak bicara, bapak menyerahkan anak kucing itu kepadaku, …..”…tunggu diluar….” katanya lagi. Aku keluar sementara bapak dan ibu masuk menuju dapur. Agak lama memang aku menunggu. Setelah selesai shalat Isya berjama’ah baru bapak bicara lagi….”Kamu boleh pelihara kucing itu, tapi dengan banyak syarat….bisa…?…” kata bapak. Aku langsung jawab dengan sepenuh hati…Bisa Pak…!”.
‘…ya sudah, kalau begitu kamu harus mau merawatnya, memberi makan, minum, membersihkan kotorannya, memandikannya, jangan biarkan dia masuk ke kamar dan naik kekasur, dan sebagainya dan sebagainya…..” begitu persyaratan yang diberikan bapak.

Aku tahu, sebetulnya itu adalah persyaratan yang diminta ibu kepadaku, yang disampaikan bapak. Bagi bapak, keinginanku memelihara seekor anak kucing adalah sebuah rasa tanggung jawab yang mulai timbul dalam diri seorang anak manusia dalam menentukan sebuah sikap dikemudian hari.Pembelajaran, begitu intinya bagi bapak. Makanya sejak saat itu, kepercayaan yang diberikan bapak atas hak aku untuk memelihara seekor kucing, benar-benar aku jalankan dengan penuh rasa tanggung jawab. Dan lama berselang, anak kucing yang lemah dan tak berdaya kala itu, telah menjelma menjadi seekor kucing dewasa yang cantik, bersih, pintar, penurut dan bisa menyegarkan suasana rumah dengan tingkah polahnya.

Aku telah berhasil memelihara seekor kucing yang selalu buang air kecil dan air besar di dalam toilet, tidak pernah mencuri meski ibu memasak ikan atau daging ayam disampingnya dan tidak menutupnya dengan tudung saji, menjaga rumah dari tikus-tikus nyinying yang merusak, tidak galak dan liar terhadap anak kecil, menjadi kucing incaran para tetangga gang sebelah (pernah gak pulang kerumah beberapa hari karena dikerangkeng tetangga gang sebelah…gak cuma sekali tapi beberapa kali), bagiku yang paling sukses adalah kucing itu akhirnya menjadi kucing kesayangan ibu (Ibu pernah datang dan memarahi beberapa tetangga gang sebelah karena menyembunyikan si Koneng…bahkan siap berkelahi satu lawan satu secara bergantian dengan para tetangga gang sebelah….dhasyat dan sadis….). Hingga akhir hayatnya, Koneng kucingku telah memberikan aku banyak arti dalam memberikan pembelajaran tentang tanggung jawab dan sebuah keberhasilan. Tak seronok memang jika di sandingkan dengan keberhasilan yang diukur secara materi, namun bukankah suatu keberhasilan itu akan selalu terasa indah dalam bentuk yang manapun, baik keberhasilan dalam sisi lahir ataupun sisi batin. Keduanya mempunyai rasa yang sama, tergantung dari sisi mana kita memulainya.

Sekarang semuanya hanya tinggal kenangan manis yang tak mungkin aku lupakan, meski banyak sudah aku beberapa kali memelihara kucing, tetaplah Koneng adalah satu-satunya kucing yang terbaik yang pernah aku miliki. Aku selalu meminta kepada Tuhan, agar jika aku nanti mati dan masuk syurga, aku ingin hewan pertama yang aku temui adalah si Koneng, bahkan jika aku bisa kembali ter-reinkarnasi untuk hidup kembali, aku ingin memulainya dengan seekor kucing kecil yang lemah tak berdaya untuk aku jadikan seekor harimau yang gagah perkasa.

Wallahu alam Bisawab…..

N.B :
Aku dedikasikan tulisan ini untu kucing-kucing yang pernah memenuhi hidupku dengan segala rasa, Koneng, Bagong, Bobby, Samson dan Iteung terutama buat Iteung yang sampai saat ini masih menemani hari-hari Bapak dalam memberikan rasa-rasa baru yang tak terdeteksi oleh lidah.
(Semua kucing yang aku pelihara adalah berjenis kelamin jantan)

Koneng adalah kucing pertamaku yang aku pelihara sedari baru lahir sampai mati karena sakit (1981-1989), Bobby dan Bagong adalah kucing kedua kami…mereka tak pernah akrab…tapi selalu makan berdua dalam piring yang sama tanpa masalah. Kemudian Samson dan Iteung sebagai penutup.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s