Macet Jahanam….!


Huuaaaaaaaahhhhh…….sejatinya gue tadi bisa nyampe kantor sebelum pukul 07.20 wib, seperti biasa dan alasan klise, macet jadi kambing hitam gue untuk nutupin kekesalan yang sebenarnya emang bener-bener kesel….Seperti biasa, gue selalu berangkat pukul 06.30 wib atau paling sial pukul 06.35 wib. Kalo jalan jam segini otak sama hati rada adem dan santai, pikiran gak diburu-buru sama kerjaan yang  senantiasa bikin gue gak bisa tidur dan jadi bunga mimpi yang menyeramkan. Hari itu gak seperti biasanya, gue ngerasa kayaknya banyak banget angkot dan bis kota yang menuhin jalan, belom lagi bajaj yang kayaknya gak pernah bisa punah meski udah beberapa kali ganti gubernur, gue heran sama “benda” yang satu ini, sodaranya sendiri aja yang waktu itu dikenal dengan helicak aja udah punah entah kemana, bahkan oplet yang jelas-jelas saudara paling tuanya dan masih rada gantengan serta enak dilihat aja udah gak ada.

Kalo inget oplet, gue jadi inget jaman dulu (jadul) waktu SMA. Saat itu ada acara masak-masak tepatnya pelajaran praktek memasak, gue berdua temen gue dapet jatah belanja ke Pasar Induk Kramatjati, beli sembako. Cukup banyak memang bahan yang mesti gue beli saat itu, sesuai pesanan beberapa anggota team. Karena saking banyaknya bahan belanjaan yang gue beli, gak ada angkot ataupun bus yang mau ngangkut gue beserta barang bawaan gue yang terdiri dari sayur mayur, buah buahan, biji-bijian, ikan, rempah-rempah, bunga-bunga-an dan lain sebagainya. Mungkin mereka berpikir kali ya, ngapain juga ngangkut anak sekolahan yang cuma bayar “cepek” tapi bawaannya banyak kayak gitu. Mana cuaca saat itu lagi lucu-lucunya, panas terik matahari ditengah hari robek bikin gue jadi gak bisa mikir harus bagaimana, karena isi kepala alias otak udak meleleh keluar bersama keringat. Kebayang gak sih…. dua orang cowok dimana yang satunya ganteng dan satunya lagi lebih ganteng, dengan baju seragam rapih pake dasi abu-abu, wangi, tapi barang yang dibawanya adalah sayur mayur….!! Kasian juga kita saat itu, mana saat itu kita berdua sedang dalam tahap masa pertumbuhan lagi….kok ya tega-teganya Bu Guru ngasih kita tugas belanja ke pasar induk untuk tugas praktek masak memasak esok harinya (alasan beliau tega terhadap kita berdua baru gue ketahui setelah masak measak sukses, yaitu kami berdua adalah dua siswa yang jujur dan gak pernah bo’ong, jadi gak mungkin kan uang belanja yang dikasih akan di korup sama kita….sial, emang sih waktu itu kita berdua lugu banget,….lugu atau bego ya. Padahal sempet juga uang itu kita pakai buat beli teh botol, kayaknya merasa berdosa gitu….maafkan kami guruku).

Hampir sejam sudah kita berdua menunggu  angkot yang kira-kira mau ngangkut kita berdua ke Cibubur, tapi kayaknya  gak ada yang mau, sampai akhirnya gue berani-in diri buat nyetop oplet yang kebetulan lewat, meski temen seperjalanan gue protes keras, katanya gak pantes orang kayak kita naik oplet paling jelek tuh naik ojek. ah sebodo amat, begitu pikir gue. bukan apa-apa gue paling gak tahan kena sinar matahari apalagi di negara tropis seperti ini. Emang sih gue sebetulnya terbiasa dan cocok banget sama iklim di Eropa, tapi karena gue lahir di sini ya mau gak mau harus rela aja sama nasib. Tapi gak apalah toh iklim di Depok gak jauh beda dengan Eropa.

Pucuk dicinta ulampun tiba, oplet itu berhenti tepat didepan gue, hebat juga masih ada yang kasihan sama gue, meski cuma oplet  kayaknya gak masalah asal nih sayur mayur gak keburu busuk atau layu dijalan dan bisa segera masuk kulkas disekolah. Tak ada rotan akarpun jadi begitu pikirku. Tapi sial….harga diriku akhirnya tambah runtuh dan tercabik-cabik, apalagi temen seperjalanan gue, tiba-tiba juga dia jadi jaga jarak sama gue, seakan-akan gak kenal gue dan gue ini bukan temennya, ketika tiba-tiba di jalan Ke’ong sekumpulan wanita-2 cantik anak SMAN 98 ikut naik kedalam oplet, tawa riang mereka yang hinggar binggar dalam sekejap menjadi hening, ketika melihat sesosok pria tampan duduk dipojok belakang sopir dengan setumpuk sayur mayur dan biji-bijian di pangkuannya. Mereka saling tatap satu sama lain….mungkin mereka berpikir, kok ada ya pria setampan ini jualan sayur mayur di oplet….mana pakai baju seragam SMAN 99 lagi (disini gue merasa berdosa sama almamater SMAN 99, secara langsung gue udah mecemarkan nama baik sekolah gue sendiri yaitu bolos sekolah dan bawa sayur naik oplet pakai baju seragam berdasi). Gue cuma bisa diam tak bergerak, temen gue buang muka sejauh-jauhnya keluar jendela, tinggal gue sendiri yang akhirnya menjadi objek penderitaan harga diri lahir batin, bahkan biji matapun gak bisa gerak juga, pandangan kosong kedepan, gak tau apa yang gue lihat saat itu, tapi yang pasti kalo saat itu gue bisa berubah jadi kecoa, mending gue jadi kecoa aja dan sembunyi dibawah jok oplet yang semprul ini. Cewek yang semula duduk tepat disamping gue sedikit demi sedikit bergeser jaraknya, gue tetep diam membeku, merekapun diam membisu meski gue tahu mereka bicara pakai bahasa tubuh, bahasa isyarat dan gerak mata menertawai gue. Keringet udah gak bisa keluar, kejadian ini menjadikan otak jadi gak sinkron sama keadaan nyata sehingga gak bisa bekerja maksimal padahal cuaca lagi yahud-yahudnya disiang hari itu. Kalo mungkin kena setrum mungkin gue gak akan mati kering cuma kaget aja kali.

Sampai akhirnya gue turun di Jalan PT Ubin depan sekolah gue, Teman gue yang ngehe malah turun duluan sebelum sampai tujuan, gak pake basa basi sama gue, mana bayar sendiri lagi….Totally Ngehe…..!!! didalam oplet gue denger ketawa mereka yang meledak terbahak-bahak seakan-akan melepas hasrat yang terpendam selama perjalanan tadi, Ngehe….!

Kendar4

Oke Kita kembali ke topik awal, Sebenarnya gue sependapat dengan Mas Tjandra(*) dalam soal transportasi di Indonesia, khususnya Jakarta. Mungkin, sebagai sebuah alternatif pilihan untuk sebuah gagasan ide, jalan satu-satunya mengurangi kemacetan di Jakarta adalah dengan me-monopoly sarana transportasi darat khususnya Bis Kota oleh Pemerintah Daerah. Dulu Jakarta pernah terkenal dengan PPD-nya, namun setelah banyak pihak swasta bergerak dalam bidang yang sama, PPD seperti kehilangan perannya sebagai angkutan kota yang andal. Gue gak tahu banyak tentang historis dari PPD sendiri tapi yang pasti gue pernah menikmati moda angkutan ini dengan sangat nyaman sewaktu SMA. Namun sekarang setelah jalur bisnis PPD dijual ke pihak swasta, kayaknya malah jadi banyak pemborosan meski kenyamanan juga gak berubah dari jaman dulu. Sedikit saya contohkan pengalaman pergi ke Pasar Baru dari Depok, dulu cukup dengan 1 kali naik PPD 900B kita sudah sampai tujuan tanpa turun naik ke mobil lain dengan hanya membayar 1 kali tarif (waktu itu kemanapun aku pergi ongkosnya udah diformat sebesar Rp. 100.-), tapi sekarang setelah PPD 900B gak ada, kalo mau kepasar baru harus naik angkot ke simpangan depok dulu, lalu naik angkot lagi ke Pasar Rebo, dari Pasar Rebo naik lagi bis ke Kampung Melayu lalu naik lagi ke terminal Senen, lalu naik angkot lagi terakhir jalan kaki nyebrang lewat kantor pos. rata-rata ongkos tiap kendaraan adalah sekitar Rp. 2500 s/d Rp. 3000, coba itung sendiri berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk ke Pasar Baru sekarang.

Kalo gue lebih extrem lagi dan lebih egoistis, gue cuma merasa nyaman kalo moda angkutan di Jakarta hanya ada 3 jenis saja, yaitu Bis Kota, Taksi dan Trem atau Monorail, cukup…gak pake kebanyakan cingcong. Untuk Bis kota mutlak harus di monopoly alias dimiliki 100% oleh pemerintah daerah saja, pihak swasta silahkan ke pedesaan atau pinggiran kota. Dari ketiga moda ini gue lebih senang kalo trem atau monorail yang di kembangkan lebih serius, kenapa…dia udah punya jalur sendiri gak brenti sembarangan kayak angkot, bisa angkut penumpang lebih banyak dalam sekali jalan, lebih keren dalam penampilan dan satu lagi…gak ada asap hitam ngebul keluar dari lubang qubulnya…!! sip kan. Tapi selain itu, ada sebersit harapan yang mungkin gak ya bisa terwjud….? Begini, gue suka sekali naik sepeda seandainya moda transportasi seperti yang gue mau udah terwujud, gue pingin Pemerintah Daerah Jakarta membuat jalur khusus untuk pengendara sepeda, Bicycleway. Aduh….jadi ingat Amsterdam, negeri leluhur hahahaha…. kalo keinginan gue yang satu ini juga terwujud, di jamin Mas Eko Pramudji(*) yang selama setia mati sama sepeda pasti akan berangkat kerja naik sepeda dari Bojong Depok Baru ke Jl. Raya Dr. Wahidin , Jakarta Pusat, kalo gue….tetep naik motor dong.

Meski gak mengenyampingkan peran Kereta Api, tapi kayaknya transportasi ini juga meski dikembangkan perannya, karena gue tahu transportasi ini adalah transportasi sejuta umat alias transportasi paling favorite, terutama untuk di setiap stasiunnya perlu banyak pembenahan jangan sampai jadi tempat mangkal preman atau pengemis dan kurangi pedagang asongan, biar kebersihan juga terawat.

Okelah, mungkin baru segini aja yang bisa gue jadi-in wacana pengharapan untuk moda transportasi yang gue harapkan, semoga bisa terwujud, atau ada yang mau nambahin ide atau komentar silahkan aja, makasih.

(*) Bintang Tamu tapi gak dapet royalti.

Iklan
By Sang Pria Biru Posted in Sejarah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s