Eksperimen Konyol Yang Keempat


Kisah Udang Sawah dan Atlet Renang

Kisah ini kembali aku tarik mundur kira-kira 28 tahun yang lalu, dimana mungkin aku masih sekolah pada kisaran kelas III Sekolah Dasar di Depok. Dalam usia pertumbuhan yang memang selalu ingin serba tahu dan ingin selalu serba bisa, aku terinspirasi untuk menjadi seorang laki-laki yang pandai berenang. Padahal, sungguh mati….aku bukanlah type manusia perenang atau setidaknya bukan seorang yang pandai berenang. Dulu aku selalu menonton teman-temanku yang asyik berenang disungai sambil termenung, seandainya aku bisa seperti si Hasan atau si Husen sikembar yang memang jago renang, mungkin aku sudah bisa menikmati permainan mencari batu pipih disungai.

Pada masa itu air sungai di Depok masih deras dan terlihat bening, hingga aku bisa melihat dasarnya dari atas air.  Dalamnya mungkin sekitar setinggi pinggang anak usia 10 tahunan, tidak terlalu dalam dan terlalu dangkal mestinya. Namun untuk turun kedalam air aku selalu merasa takut. Aku menyadari postur tubuhku saat itu memang sangat mengkhawatirkan, aku saat itu sangat langsing atau kalau bisa dibilang sangat kurus lah ya, jadi sepertinya akan hanyut bila aku turun kedalam air, tidak seperti Ari yang badannya gempal dan kokoh. Tapi meski aku tak pernah berani untuk berenang, aku selalu saja ikut bila diajak ke sungai. Banyak teman yang mau mengajariku berenang, tapi rasa takut itu mengalahkan keinginanku untuk berenang.

Sungai dimana aku biasa bermain dengan temanku saat itu lokasinya tepat di tengah persawahan di pinggir jalan raya Tole Iskandar, jalan menuju persimpangan Depok, berseberangan dengan jalan menuju Studio Alam Depok. Suasananya sangat Jawa Barat sekali, masih banyak sawah dan kebun bambu dipinggir sungainya. Di pojok jalan dulu berdiri surau yang sangat sederhana namun sangat bersahaja, namun kini telah menjelma menjadi masjid yang besar dan indah, areal persawahan yang menyejukkan mata kini telah menjelma menjadi komplek perumahan dan sederetan ruko-ruko yang gak jelas keindahannya. Lalu kemana sungainya,…sampai saat ini setelah adanya pembangunan di kisaran tahun 89-an, aku tak pernah melihat lagi apakah sungai itu masih ada atau tidak. Tapi yang pasti banyak kenangan atas sungai itu.

Entah karena niat dan keinginanku yang kuat, aku suatu saat mencoba memberanikan diri untuk turun kedalam sungai, itupun harus berpegangan tangan dengan Hasan agar tak terjatuh. Untuk beberapa saat aku menikmati air yang mengalir deras dikakiku, rasanya sejuk dan dingin sekali. Semakin lama aku mencoba turun semakin dalam hingga mencapai batas lututku, Tapi karena kakiku tak terbiasa dengan bebatuan yang licin aku tergelincir dan tercebur sebasah-basahnya, aku panik dan meronta dalam air, teman-temanku datang menolong. Sungguh saat itu persahabatan adalah yang nomor satu tak ada perbedaan diantara kami dalam menjalin pertemanan. Aku tersedak, banyak air yang terminum, pakaianku basah.

Numun sejak saat itu keberaniaku berangsur-angsur timbul. Aku tak perlu lagi berpegangan tangan dengan teman saat akan turun kesungai. Aku sudah bisa menjaga keseimbangan tubuhku dalam air yang mengalir deras untuk tidak jatuh. Namun hanya sebatas itu. Padahal aku juga ingin berenang.

Disini ide konyol tersemburat dari beberapa anak-anak kampung yang selalu bermain bersama di sungai. Mereka bilang, jika ingin pandai berenang, makanlah udang sawah mentah yang putih bening beberapa ekor. Mungkin diantara pembaca ada yang pernah mendengar mitos aneh ini. Semula aku tak menanggapi omongan mereka. Namun dari hari kehari beberapa temanku akhirnya merekomendasikan ide anak kampung itu untuk dicoba. Karena kepolosan dan keluguanku (kedunguanku), aku mengiyakan saja, toh hanya beberapa udang sawah mentah saja kok, pikirku. Lagipula aku kan terbiasa makan telur ayam kampung mentah, masak hanya makan udang sawah saja aku tak bisa

.

Aku dan teman-temanku bersama-sama mencari udang sawah yang berwarna putih bening diantara uraian padi yang baru disemai. Maka terkumpulah 20 ekor udang sawah (aku ingat benar-benar 20 ekor), aku berikan udang sawah itu pada anak kampung yang bersama-sama menguliti lapisan kulit udang Setelah bersih aku disuruh menelannya, tapi jangan dikunyah. Harap telan utuh-utuh. Aku agak ragu, tapi beberapa anak kampung memberikan contoh dengan menelan beberapa ekor udang sawah tersebut, karena semakin banyak yang memberi contoh, maka udang itu tinggal 8 ekor, aku tak mau kesempatanku menjadi anak yang bisa berenang hilang begitu saja karena tak kebagian udang sawah, maka dengan gaya gentlemen aku tenggak sisa 8 ekor udang mentah itu kemulutku dan menelannya utuh-utuh. Agak aneh rasanya, amis, anyir dan agak sedikit asin. Pasrah,…semua udang mentah itu masuk ke tenggorokanku melalui jakun dileher, tembolok kecil di sekitar lak-lak-an, rongga usus kecil dan usus 12 jari dan akhirnya bermuara di lambung, sampai mengalami proses  pencernaan pada metabolisme tubuh yang akan mengalirkan semua protein dan gizi yang dihasilkan oleh udang sawah itu melalui urat-urat saraf dan pembuluh darah kapiler menuju saluran otak kecil dan bermuara pada rekam medis diotak besar….halah apalah namanya aku bingung. Tapi yang pasti sampai saat ini aku tak pernah melupakan bagaimana rasanya makan udang sawah mentah-mentah. Jijay Bajay.

Lalu apa hasilnya…???. Malam itu aku tak bisa tidur, seluruh tubuhku terasa gatal-gatal, sepertinya seluruh urat-urat di sekujur tubuhku dimasuki semut rang-rang, semakin banyak aku menggaruk semakin terasa gatal yang sangat. Aku tidak marasa nyaman, terlebih timbul beberapa bentolan-bentolan di sekitar tangan dan dadaku, aku takut dan cuma bisa menangis. Bapak dan ibu juga bingung kenapa apa yang terjadi pada tubuhku. Malam itu juga aku dibawa ke Pak Mantri. Ternyata aku mengalami alergi protein. Medis menyebutnya sebagai Kaligata atau orang awam menyebutnya biduren. Tak perlu disuntik, aku hanya diberi obat CTM dan antibiotik. Pak Mantri cuma tertawa waktu aku ceritakan kejadian tadi sore disungai, sedangkan ibuku mengomel tak karuan, Bapak hanya terdiam, mungkin dia berfikir,…”bodoh sekali anak ini…”.

Lalu bagaimana dengan renangku, Alhamdullillah sejak saat itu aku tak cuma berani berenang disungai kecil seperti dipematang sawah itu, tapi aku sudah berani berenang dikali Ciliwung yang membelah kota Depok dengan Jakarta.

 

Belive it or not…suka-suka loe deh….!

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s