Eksperimen Konyol Yang Ketiga


Sang Penjinak Kucing



Kejadian ini kembali gue coba kilas balikkan lagi dimana ketika itu aku menginjak kelas III Sekolah Dasar. Sejak aku pindah ke Depok pada tahun 1979, untuk pertama kalinya aku melihat ibu mulai menyukai kucing. Sepulang sekolah aku menemukan seekor anak kucing diruang tamu yang lucu sekali berwarna kuning, eh orange kecoklatan dengan warna bulu dibagian bawahnya berwarna putih. Ibu bilang ibu menemukannnya dipinggir jalan ketika pulang dari pasar. Meski sedikit liar tapi terlihar terawat. Sebenarnyasejak tinggal di Jakarta, ibu sudah terbiasa dengan kucing, tapi saat itu ibu belum bisa menyukai kucing. Mbahku yang perempuan (ibu dari Bapak, mertuanya ibuku) yang sangat suka kucing. Aku ingat sebelum pindah ke Depok, Bapak memberikan kucing-kucing itu makan yang banyak dan enak, katanya sebagai salam perpisahan, karena sebetulnya kucing itu adalah milik Bapakku namun Mbahku yang merawatnya sejak masih bayi. Ada dua ekor kucing saat itu, Koneng dan Bagong, dimana namanya disesuaikan dengan kondisi pisik dari keduanya. Koneng karena berbulu kuning (sebetulnya sih warna bulunya orange, tapi kala itu warna orange belum populer dan susah disebutkan, orang jaman dulu menyebut orange warna jeruk itu kuning, mungkin kalo dipaksain nama kucingku seharusnya jadi koreng….), sedangkan nama bagong karena memang tubuhnya besar. Mereka kucing kakak beradik satu kandung, Bapak bilang ibunya mati kecebur sumur dibelakang rumah. Bapak pernah bercerita kepadaku, ketika suatu malam Bapak sekeluarga mendengar suara kucing yang mengeong-ngeong terus semalaman dari belakang rumah, tapi mereka tidak sadar bahwa suara kucing itu sebetulnya berasal dari dalam sumur, mungkin itulah induk dari kucing-kucing yang dipelihara Bapakku, yang berjuang keluar dari dalam sumur, namun tak kuasa melawan ajal. Sejak kejadian semalam itu Bapak menjadi sangat menyesal sekali, kenapa dia tidak “ngeh” kalo sebetulnya ada kucing yang tercebur disumurnya malam itu. Sebagai penghapus penyesalan Bapak berjanji akan merawat kedua anaknya sampai dewasa. Kini mereka telah dewasa, bertubuh bagus dengan bulu yang halus, penurut tapi tidak suka makan tikus. Bapak juga bercerita, kalau mereka sering menemani tidur disampingku, hanya saja ibu yang selalu mengusir mereka dari sampingku. Aku sama sekali tidak tahu kejadian itu, tapi aku hanya merasa bahwa mereka berdua adalah bagian dari keluargaku saat itu. Selama aku kenal mereka rasanya belum sekalipun aku pernah dicakarnya, mungkin karena mereka sudah jadi penurut ?

Masalah kucing yang penurut ini aku selalu ingat kata-kata ibuku, katanya “….kalau kamu mau punya kucing yang penurut seperti itu, sering-seringlah kamu beri dia makan sisa dari makanmu atau berilah dia potongan makanan yang berasal dari mulutmu, dan jangan sesekali memberikannya dengan dilempar….”. Mungkin bisa juga jadi benar omongan ibu, karena selama mbahku memberi makan mereka, tak pernah sekalipun mbahku memberinya dengan dilempar, tapi disodorkan langsung dari tangannya ke arah mereka, bahkan sering juga aku melihat mbahku memberi mereka makan potongan makanan yang berasal dari mulutnya.

Hal inilah yang yang membayangi aku saat itu untuk membuat anak kucing yang liar tersebut bisa menjadi jinak. Tapi karena kurang pengalaman, bukannya jinak yang aku dapat tapi cakaran yang aku terima.

Sejak anak kucing itu ada dirumah, aku selalu pulang sekolah dengan berlari, aku tak sabar untuk memberinya makan. Aku ingin mempraktekkan ilmu yang diberikan ibu untuk menjinakkan kucing. Kebetulan ibu memasak daging ayam, akan ada kaki ayam atau ceker yang bisa diberikan untuk Koneng, kami sepakat untuk memberinya nama koneng sesuai denganwarna bulunya. Untuk pertama kali aku berikan dia makan langsung dari tangan aku. Tampaknya tidak semudah membalik telapak tangan untuk memberi dia kepercayaan bahwa aku bermaksud baik dengan memberinya makan dengan tanganku langsung. Dia malah mendesis, sambil bersembunyi disudut lemari. Aku tahu, dia sebetulnya lapar tapi rasa takut dan asing terhadapku membuatnya jadi tidak nyaman. Okelah karena aku kasihan, aku melanggar syarat pertama, yaitu melemparkan sepotong makanan kepadanya. Tapi justru dengan cara begitu dia mau menerimanya. Mungkin karena dihitung dari bebetnya adalah kucing liar, maka cara seperti itu adalah yang biasa buatnya. Sampai beberapa hari cara itu terpaksa aku lakukan. Tapi karena aku ingin kucingklu cepat jinak, aku mencoba untuk menggunakan cara lain, yaitu memberikan langsung potongan kaki ayam langsung dari mulut ke mulut. Untuk beberapa saat anak kucing itu memamng tak beringsut dari tempat favoritnya, sudut kolong lemari. Aku coba makin mendekat, mungkin karena lapar anak kucing itu mau juga menggigit kaki ayam di mulutku, aku merasakan sensasi tarikan yang baru kurasakan dari anak kucing itu. Aku tak segera melepaskan, aku biarkan dia menariknya semakin kuat, disertai suara mendesis, dia menarik semakin kuat lagi dan aku bertahan semakin kuat juga. Karena aku tak melepaskan juga kaki ayam itu, dia mengeram dengan kuat dan dengan tiba-tiba…”clap…” lima buah kuku dengan cakar yang sangat tajam dan runcing menancap dan menempel erat di pipiku,…Auuuuuuuuuuuuuhh, cakaran baru terlepas setalah aku juga melepaskan kaki ayam yang ada dimulutku. Tapi sudah terlanjur, pipiku berlumuran darah dengan sakses. Ada sekitar 4 baris luka cakar sepanjang 3 cm, rata. Aku menangis meraung-raung, rasanya perih sekali. Aku marah sekali, tapi aku ingat pesan ibu untuk tidak memukul kucing itu, biarkan saja, toh kesalahan itu sepenuhnya aku yang buat kok.

Alhasil selama beberapa hari aku harus memakai obat ramuan ibuku, masker jagung muda dicampur benkuang yang dilumuri ke pipiku. Katanya agar luka bekas cakarang tersebut tidak membekas dan mempercepat kembali pertumbuhan sel-sel kulit yang terluka. Rasanya memang agak perih, tapi beberapa menit kemudian terasa dingin dan sejuk. Dan rasanya ramuan ibuku itu sangat mujarab, pipiku tidak meninggalkan bekas luka cakaran, jadi mohon maaf kalau aku tak bisa memberikan bukti bahwa aku pernah kena cakar kucing di pipi. Tapi mungkin juga karena saat itu usiaku adalah usia pertumbuhan dimana sel-sel kulitku masih bisa berkembang dan masih berfungsi baik.

Sejak tragedi itu, aku melihat ada perubahan pada sikap kucingku, sekarang dia sudah mau dipanggil hanya dengan mangucapkan kata “pusss…Pusss…Pusss….”, sudah mau dibelai, sudah mau dipangku bahkan beberapa hari kedepannya kemudian, dia sudah berani naik ke tempat tidurku dan mendengkur dibawah kakiku. Ajaib. Meski aku harus membayar dengan cakaran lima cakarnya, tapi hasil yang kudapatkan sungguh luar biasa sensasinya. Sekarang setiap kali aku pulang sekolah kucing itu tahu, dan berlari-lari kecil disamping kakiku, senang sekali melihat perubahan itu.

Sejak saat itu aku mengajarinya dengan banyak hal, membiasakannya mandi dengan sabun, buang hajat di WC, tidak boleh mencuri makanan dimeja makan dan jangan berkelahi. Anehnya dia seperti mengerti atas apa yang aku ingin, dan aku yakin, mungkin cuma kucingku ini yang buang hajat di WC dan tidak pernah mencuri meski ada ikan tanpa tudung saji di meja makan bahkan rajin mandi setiap hari pakai sabun. hahahaha….

Sebagai catatan, jangan pernah melakukan percobaan ini terhadap kucing dewasa yang benar-benar liar, kucing hutan, harimau, macan dan singa jika memang hanya ingin coba-coba, okeh coy…oke…oke.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s