Eksperimen Konyol Yang Pertama


Tulisan ini sengaja aku tampilkan dalam blog ini, dimana seluruhnya adalah kejadian nyata yang pernah aku alami selama masa “pertumbuhan”. Ada beberapa tulisan yang aku sengaja gambarkan secara dramatis agar dapat membantu pembaca untuk bisa berimajinasi sesuai “kemampuannya”. Jadi mohon maaf jika ada tulisan yang mungkin terlihat eh terbaca terlalu mengada-ada meskipun sebetulnya itu adalah nyata. Dan mohon jangan ditiru….Don’t Try This At Home but you can try this at the another place.

Capung Obat Ngompol

Kejadian ini aku ingat ketika aku duduk di kelas IV Sekolah Dasar, mungkin di era tahun 1981-an. Saat itu aku punya seorang teman yang masih suka ngompol, aku inisialkan sebagai Budi Bodong saja ya, karena memang kebetulan pusarnya bodong. Karena kebiasaan inilah dia dijuluki Budi Kompol sekaligus sebagai nick name yang masih berlaku sampai sekarang. Kadang aku merasa kasihan saat teman-teman mengejeknya dengan nama itu, dia bahkan pernah curhat (pada saat itu istilah curhat belum ada) atau istilahnya mengadu kepadaku, kalau dia sebenarnya sakit hati di katai atau diejek sebagai Budi Kompol. Sejak saat dia mengadu atas ketidak senangannya atas panggilan itu, maka sejak saat itu juga aku tak pernah memanggilnya Budi Kompol, bahkan sampai saat ini. Aku tahu sendiri bagaimana rasanya dijuluki dengan nama yang kurang enak didengar, apalagi itu adalah ejeken yang berasal dari kelemahan kita sendiri. Sama seperti aku yang mendapat julukan Oplet,  bahkan sampai sekarang jika bertemu dengan teman-teman semasa Sekolah Dasar, aku tetap di panggil Oplet. (suatu saat aku akan ceritakan darimana julukan ini aku dapat).

Kami saat itu adalah sebuah genk yang beranggotakan dari 7 orang anak yang kebetulan berlokasi saling berdekatan dengan sekolah. Aku, Adigurianto, Adijatmiko, Eko Budiharyono, Budi Setiadi (Budi Kompol), Agus Susanto dan Ahmad Taufik. Kami saling bekerja sama dalam beberapa hal, termasuk dalam tugas-tugas belajar atau tugas prakarya. aku  dan Ahmad Taufik adalah paling menonjol dalam membuat beberapa kegiatan prakarya, ide-ide kami cemerlang pada masa itu untuk menciptakan sebuah karya, sperti membuat peta  Indonesia dari koran bekas, pot bunga dari bambu, vas bunga dari bohlam lampu, perahu dari pelepah bambu dan banyak lagi.  Agus Susanto, Adijatmiko dan Eko Budiharyono jago dalam olah raga. Adigurianto dan Budi Setiadi menonjol dalam bidang seni, seperti menyanyi, puisi, drama sekolah, tari bahkan merawat kebun sekolah, makanya sejak kelas tiga sampai lulus Sekolah Dasar, kebun mereka selalu jadi nomor satu. Cuma ada yang aneh dalam kehidupan kami bertujuh, semuanya sangat suka bermain bola, kecuali aku…!. Entah mengapa dari dulu bahkan sampai setua ini aku masih belum bisa menerima bola sebagai sesuatu yang menarik perhatianku. Juga dalam hal berkelahi, aku tak seperti mereka, mereka semua bisa dan mampu berkelahi dengan baik, terutama Agus dan Adijatmiko, bahkan sampai sekarang kekuatan phisik dan ke-horor-an wajahnya tak lekang dimakan jaman. Intinya mereka sukses jadi preman, tapi yang penting aku aman.

Suatu saat kami berkelahi dengan genk dari kelompok Ahmad Yunus, aku ingat mereka terdiri dari Ahmad Syahrial, Andreas Bonar Sirait, Jumhari, Bariyono, Andriansyah,  Dwi Kuncoro dan Supriyadi. Hal ini ditenggarai oleh keusilan Andreas Bonar Sirait yang mengejek Budi sampai menangis. Agus dan Jatmiko tak bisa terima sikap mereka, sepulang sekolah dilapangan proklamasi mereka berkelahi. Adijatmiko melawan Bonar sedangkan Agus melawan Yunus, sisanya  duduk manis ditepi lapangan, bahkan aku santai saja sambil minum es sirop  rasa jeruk. Saat itu perkelahian dua genk adalah satu lawan satu, itupun disesuaikan dengan postur tubuh dan kekuatan masing-masing lawan, tidak seperti sekarang yang beraninya main keroyokan. Jujur saja aku menikmati saat-saat  jaman itu dimana kami merasa sebagai pejantan yang sportif.

Alhasil dari perkelahian itu Bonar Sirait mendapatkan kedua pipi kiri kanannya biru lebam, satu gigi depannya tanggal. Adijatmiko bibir atas sebelah kiri jontor sehingga untuk beberapa hari mulutnya terlihat mencong keatas dan gaya bicaranya otomatis berubah, apa yang dibicarakan jadi terdengar tidak jelas. Yunus harus menangis meraung-raung, gaya bicaranya yang banyak sesumbar tidak didukung oleh kekuatan phisik yang memadai, meski tubuhnya terlihat besar tapi performanya kalah jauh dengan Agus Susanto. Hanya dengan beberapa kali getokan di kepalanya, Agus sudah menang telak dari Yunus yang langsung meraung-raung. Disitu aku juga bisa dibilang sebagai dewa penolong. Es sirop yang aku beli aku relakan pada teman-temanku yang menang berkelahi, itu sudah cukup membuatku bangga.

Sekarang permasalahannya ada pada Budi. Kalau dia masih saja mengompol, maka ejekan tak akan pernah lepas darinya. Kami mencari solusi, saat itu perkembangan ilmu pengetahuan kami masih terbatas, belum mencapai tahap yang menakjubkan. Kami masih percaya pada dinamisme dan animisme atau setidaknya perkataan orang tua bisa dijadikan sebagai pernyataan ilmiah yang bisa diujicobakan. Eko Budiharyono adalah penganut dinamisme yang nyeleneh. Dulu dia percaya kalau benda-benda itu punya nyawa, alasannya adalah bahwa semua makhluk didunia adalah ciptaan tuhan yang berhak atas hidup mereka, jadinya dia berkesimpulan bahwa segala benda yang ada du dunia ini punya nyawa. Dari situlah akhirnya dia memberikan sebuah solusi yang patut di ujikan katanya, bahwa capung bisa mengobati penyakit ngompol. Caranya ? dia tak mau menjelaskan, hanya saja dia menyuruh kami menangkap seekor capung yang berwarna merah. Saat itu tahun 1980-an di Lapangan Proklamasi Depok, kami masih bisa menemukan berbagai macam makhluk serangga dengan berbagai macam jenis. Kami mengenal beberapa macam jenis capung. Ada capung jarum, capung lurik, capung rawa, capung kuning, capung merah dan capung naga. Jaman sekarang, jujur aku tak pernah lihat lagi jenis-jenis capung tersebut kecuali capung lurik yang masih sering terlihat.

Setelah kami menangkap seekor capung merah (hampir satu jam kami menangkap capung itu) kami serahkan pada Eko. Kemudian eko menyuruh Budi untuk membuka bajunya dan memperlihatkan pusernya yang bodong. Katanya, ini adalah cara mujarab untuk menghilangkan ngompol yang diajarkan oleh emaknya, yaitu dengan menggigitkan puser budi dengan capung merah. Tentu saja kami menolak dengan keras percobaan anehnya itu, terutama Budi. Kami bersitegang. Tapi akhirnya kami serahkan keputusan kepada Budi sendiri. Mungkin karena niatnya untuk tidak ngompol lagi meski dengan perasaan takut dia menyanggupi ujicoba itu. Hanya dalam beberapa detik terdengar raungan Budi yang histeris karena pusernya digigit capung merah, aku buang muka gak mau lihat, yang aku tahu pusernya berdarah itu saja. Setelah Budi tenang, kami pulang.

Sejak kejadian itu kami tak melihat Budi untuk beberapa hari, setelah kami dan Pak Doddi Kurniawan, guru kami, menjenguknya baru kami tahu bahwa Budi terkena demam, badannya panas yang disebabkan karena  ada luka infeksi dipusernya. Orang tua budi marah-marah. Kami gemetar mendengar cerita bapaknya pada Pak Doddy, karena nama kami disebut-sebut. Setelah acara menjenguk selesai, keesokan harinya orang tua kami dipanggil ke sekolah. Entah apa yang dibicarakan Pak Kepala Sekolah pada orang tua kami, yang pasti sesampai dirumah aku dimarahi habis-habisan oleh Bapak. Dan untuk beberapa hari aku dilarang masuk sekolah alias di skorsing. Begitu juga nasib teman-temanku seperjuangan.

Beberapa hari kemudian baru aku masuk sekolah lagi, Budi sudah sembuh dari dari sakitnya. Kami saling tertawa terbahak-bahak mengenang kejadian beberapa hari yang lalu itu, bahkan sampai saat ini jika kami kebetulan berkumpul lagi, topik capung merah adalah menu yang paling dinanti untuk diceritakan ulang entah sampai kapan. Setelahnya kami semua tahu, bahwa orang tua kami dipanggil kepala sekolah adalah untuk membantu biaya pengobatan Budi di puskesmas secara kolektif. Persahabatan kami tak berhenti meski kami menciptakan masalah diantara kami, dan sampai saat ini kami tetap saling menjaga konsistensi persahabatan yang dibina secara aneh dan alami tersebut.

Oya, setelah menjalani kehidupan reliji yang luar biasa, Eko Budiharyono sudah menjadi orang yang sangat reliji, dan dia sekaranglah yang membantah keras paham dan ajaran animisme serta dinamisme yang pernah diunutnya. Jangan sekali-kali memancing dia dengan bahasan yang menyerempet tentang kemusyrikan, dia akan mengutuk kamu langsung face to face.

Budi Setiadi sekarang gak bodong lagi, tapi soal ngompol aku gak tahu kelanjutannya, karena itu sudah tak pernah dipersoalkan lagi.

Lapangan Proklamasi yang dulu banyak capung sekarang sudah gak ada lagi capung.

Semoga gak ada lagi orang yang melakukan percobaan nyeleneh ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s