Eksperimen Konyol Yang Kedua


Ayam dan Mata Bionic-nya

Sekali lagi ini adalah kisah jadul hidupku yang selalu dipenuhi dengan mitos-mitos dan kepercayaan yang aneh dan ajaib. Gak jauh-jauh peristiwa ini masih berkisar di era 80-an dimana aku masih kelas 3 SD.Karena pada masa itu adalah masa dimana sanitasi  dan pemenuhan gizi serta vitamin belum berjalan dan belum kudapatkan dengan baik seperti dijaman sekarang (emangnya di jaman sekarang sanitasi dan pemenuhan gizi udah baik….kacian deh loe…), masih banyak anak-anak seusiaku di masa itu mudah terkena penyakit kulit dan buruknya metabolisme tubuh dalam menetralisir racun-racun yang ada didalam tubuh. Contohnya aku yang saat itu entah datangnya dari mana tiba-tiba saja terkena penyakit bisul. Tepatnya di paha sebelah kanan. Semula aku kira hanya gigitan nyamuk, karena pada awal pertumbuhannya hanya terlihat seperti bintik merah dan terasa gatal. Seperti saya bilang pada awal diatas tadi, bahwa sanitasi masih buruk, maka kuku atau tangan yang aku gunakan untuk menggaruk rasa gatal itu menyadi penyebab timbulnya infeksi yang diperparah dengan makin besarnya bintik merah itu menonjol dipahaku yang sangat-sangat tidak mulus. Memalukan dan menjijikan.

Hanya selang beberapa hari Bisul itu menampakkan wajah dan tabiat aslinya. Gatal, cekot-cekot, pegel-pegel dan efek samping yang terasa membuat hati tak nyaman adalah rasa malu yang berkepanjangan. Karena letaknya pas di antara batas celana pendek, maka kemungkinan tergesek dengan bahan celana akan semakin membuat aku tak nyaman, apalagi aktifitas aku sebagai anak kampung di Depok saat itu cukup aktif. Menangkap capung, mencari telur burung gereja atau telur bebek disawah bahkan sampai mencari keong ciput dan belut dirawa atau sawah adalah kegiatan ekstrakulikuler  mengasyikkan yang aku dapat dari alam. Makanya aku sering di bilang Ibu ku kalau tubuhku setiap pulang habis bermain selalu bau prengus (bau kambing bandot yang terbakar matahari).

Makanya untuk menghindari seringnya gesekan dengan bagian bawah celana, aku sengaja menggulung bagian bawah celana agak keatas, maka dengan  demikian terlihatlah pahaku yang memang sangat-sangat tak mulus tersebut terdapatlah bisul disana. Sebetulnya malu juga tapi gak apalah yang penting saat itu aku masih kecil. Tapi karena gangguan bisul tak hanya merusak harga diriku saja, tapi juga merusak kenyamanan tubuhku dan aktifitasku, maka aku katakan ke Bapak, bagaimana cara menyembuhkan bisul ini. Bapak cuma bilang, kalo kamu mau sembuh kamu harus ke dokter, nanti kamu akan disuntik serum antibiotik untuk meredakan nyeri dan mencegah radang atau infeksi. Tapi karena aku memang takut jarum suntik dan tak akan mau disuntik aku tak menanggapi lagi perkataan Bapak. Biarlah diriku cemar karena bisul asalkan aku tak disuntik jarum suntik.

Disini peran ibuku sungguh besar,  beliau sangat rajin mengompres bisulku dengan air kompresan yang berwarna kuning yang dibelinya di apotik, aku lupa apa nama cairan itu, tapi memang rasanya dingin sekali dan membuat nyaman beberapa saat. Ibu juga membuatkan ramuan jamu yang entah apa namanya yang pasti rasanya pahit, diracik dari helaian batang-batang pohon yang tumbuhnya menjalar, helaian daun sirih dan beberapa sendok madu. Katanya untuk membuat darah jadi pahit dan mencegah infeksi dari dalam. Ahhh, biar saja aku turuti perintahnya yang penting aku cepat sembuh, begitu pikirku.

Sudah hampir seminggu bisulku belum juga sembuh, ada yang bilang, bisul baru sembuh kalo biji matanya sudah matang dan pecah sendiri. Biji mata…!, dibisul ada biji mata, apapula ini…apakah bisul itu seekor monster kecil yang menyelinap ditubuhku ? atau aku akan memiliki mata tambahan di pahaku, aduh Tuhan cobaan apalagi yang Kau berikan kepadaku….manalah ada manusia memiliki mata di paha…!. Ada juga yang bilang, agar bisulku di lumuri telur kodok, untuk mempercepat pecahnya bisul. Bapak semula tak percaya, tapi katanya, apa salahnya mencoba. Maka terlihatlah sesuatu yang  lebih menjijikan di pahaku. Sebuah lingkaran yang berbintik-bintik memutari seonggok bisul yang memerah, aduh gak tega aku melihatnya.Selama dua hari aku memakai masker telur kodok dipahaku, rasanya harga diriku makin tercemar, aktifitasku makin terbatas aku gak boleh keluar rumah kata ibuku. Nanti kalau kamu keluar rumah bisulmu bisa dipatok ayam. Dipatok ayam ?. buat apa ayam mematok bisulku ? aku saja jijik, lagipula apa ayam suka makan bisul ?. alasannya gak bisa aku terima. Makanya aku tanya sama teman sebelah rumah, apa betul ayam suka memamtok bisul ?. Jawabnya adalah “ya”, ….Kenapa ?, katanya sih mata ayam bisa melihat kuman-kuman didalam luka atau di bisul sekalipun, makanya nanti kumannya bisa-bisa dipatok ayam.  Ooooo begitu, pikirku. Mata Bionic.

Setelah mendapat keterangan yang seperti itu aku jadi berpikir, apakah ayam peliharaan dirumahku bisa diandalkan untuk mematoki kuman di bisulku ? Ah, kenapa tak dicoba. Aku lalu memperhatikan ayam peliharaan Bapak yang sedang mematuki makanan ditanah, perlahan-lahan, cepat dan pasti. Hebat sekali. Mungkin dia bisa membantuku mematuki kuman-kuman yang ada dibisul keparat ini pikirku. Tanpa pikir panjang aku dekati ayam Bapak yang berwarna coklat, kemudian aku buka celanaku dan aku tunjukkan sebuah pemandangan indah di pahaku. Sang ayam berhenti mematuki makanan ditanah, tatapannya tertegun pada apa yang dilihatnya, mungkin dia tertarik pada pahaku atau pada bisulku aku gak punya pikiran lain, yang aku ingin hanyalah dia mau mematuki kuman-kuman yang ada dibisulku. Tapi harapan terkadang tak sesuai dengan keinginan. Dengan mantapnya sang ayam mematuk keras bisulku yang dimasker oleh telur kodok. Clack….!!! Aku tak bisa teriak, mataku berkunang-kunang, dengkulku tiba-tiba lepas dari kaki, kepalaku pusing tujuh keliling, hidungku tak sanggup menghirup oksigen diudara, aku semaput,  diantara sadar dan mati suri aku terjatuh dan baru bisa teriak histeris setelah otakku merespon rasa sakit yang ada dipahaku, Waaaadaaaaaaaaooooooooooooowww….ibu…..!!!!. Darah berceceran ditanah tumpah darahku, aku meraung-raung sekuatnya dan menggelepar-gelepar ditanah sambil memegang lukaku. Ibu dan tetangga sebelah rumah tergopoh-gopoh menghampiri, ibu juga hampir semaput melihat darah yang keluar dari lukaku. Aku tak ingat apa-apalagi, yang pasti pak Mantri yang tinggal disebelah rumahku dengan sukses menancapkan jarum suntiknya kepahaku, aku tak peduli rasa sakit jarum suntik, karena sakit yang aku alami saat itu lebih sakit dari sakitnya orang melahirkan.

Dalam beberapa hari aku tak masuk sekolah, kakiku tak bisa digerakkan. Seakan-akan lumpuh, karena aku tak bisa merasakan pijakan pada tanah, pak mantri bilang ini karena pengaruh serum antitetanus yang dia suntikkan, tak apa nanti kalau serumnya telah bekerja maksimal kakiku katanya bisa jalan lagi. Aku mengutuki ayamku yang berbuat  tak senonoh pada pahaku dan diluar perkiraanku. Aku bersumpah dan memohon pada ibu agar ayam itu disembelih saja jika aku sudah sembuh. aku akan memakan pahanya sebagaimana dia memakan pahaku hingga aku jadi seperti ini.

Hari ketiga setelah kejadian itu lukaku dibuka, ajaib, bisulku hilang, yang ada hanya lubang kecil sebesar ujung paruh ayam, itupun sudah mengering dan tidak terasa sakit lagi, cekot-cekotnya juga hilang dan aku sudah bisa berjalan seperti semula. Aku sudah sembuh.Sore hari sepulang mengaji aku menagih janji ibu untuk menyembelih ayam kurang ajar itu, tapi aku tak menemukan ibuku dirumah, aku cari kemanpun tak kutemui. Aku coba mencari dikebun, ternyata memang beliau sudah ada disana, Bapakku juga ada. Mereka berdua ada didepan kandang ayam. Ah, mungkin mereka memang akan menyembelih diburik, rasakan kau. Tapi ayah dan ibu hanya melihat-lihat saja, kenapa si burik tak diambil dari kandang ?. Sambil menepuk pundakku Bapak cuma bilang, motong ayamnya nanti saja ya, kalau sudah ada yang besar, sambil berlalu dari kebun. Aku menjadi heran, kenapa. Tinggal aku dan ibuku yang didepan kandang ayamku. Sambil menyuruhku berjongkok beliau bilang, lihat itu burik sudah punya anak. Aku terpana, baru kali ini ayamku punya anak. Ada 5 ekor, lucu sekali berciap-ciap dibawah tubuh ibunya. Sambil berlalu ibu berkata, apa masih mau dipotong siburiknya ?. Aku tak menjawab, aku masih terpana, kagum, terkesima, senang dan bahagia melihat ayamku beranak pinak.

Ahh, ibu lupakan saja acara potong memotongnya…saat ini aku sedang bahagia…!

Keluarga Ayam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s