Kucing Milik Bapak


Entah, sudah untuk yang keberapa kali kami memelihara kucing sejak kucing pertama kami yang bernama Koneng tidak lagi menemani hari-hari keluarga kami. Banyak kenangan yang masih aku ingat, kapan dan dimana seekor Koneng aku temukan sebelum aku memeliharanya.
Semula Ibu menolak keras-keras kucing yang saat pulang sekolah aku temukan dan aku bawa pulang kerumah. Kotor, katanya. Tapi aku tidak melihat dari sisi yang dipikirkan ibu, aku hanya melihat dari satu sisi yang lain, yaitu rasa kasihan terhadap seekor anak kucing yang tak berdaya mengeong-ngeong ditengah tanah lapang disaat sinat terik matahari berada pada puncaknya. Sekali lagi ini kisah aku yang selalu bermula dari jaman Sekolah Dasar Negeri.

Saat itu aku masih kelas 2 SD di Sekolah Dasar Negeri Mekarjaya VII, Depok II Tengah. Jalan yang kulalui berangkat dan pulang sekolah selalu melewati tanah lapang yang berada di jalan Proklamasi. Perempatan jalan itu akan serasa menakutkan bila saat hari hujan yang disertai petir, karena tempatnya terbuka sekali. Namun, akan mengerikan bila dimusim panas, karena teriknya luar biasa. Pohon-pohon besar seperti Angsana atau pohon asem yang tertanam dipinggir jalan belumlah sebesar sekarang. Namun keberadaan pohon-pohon itu pada akhirnya tak bertahan lama, karena tak setelah itu tanah lapang di jalan proklamasi berubah fungsi menjadi tempat pemukiman baru. Pohon-pohon yang mulai membuat rindang jalan Proklamasi saat itu harus di tebangi.

Aku ingat, sepulang shalat Jum’at, ditengah terik matahari jalan proklamasi, ku lihat ada seekor anak kucing yang berlarian tak tentu arah sambil mengeong-ngeong. Warnanya kuning diseluruh tubuh, namun kakinya berwarna putih, itu yang sepintas terlihat seakan-akan anak kucing itu mengenakan sepatu disetiap kakinya, ekornya tak terlalu panjang, matanya coklat bersih berkilauan, meski bulunya terlihat kumal dan kotor, tapi aku yakin kucing itu akan terlihat sehat jika dibersihkan. Langkahnya masih goyah, mungkin baru beberapa hari dilahirkan, mungil sekali. Didera rasa kasihan aku bawa anak kucing itu pulang kerumah. Namun ibu menolak untuk menerimanya, apalagi memeliharanya. Kotor, katanya. Aku cuma bisa merengek pada ibu agar memperbolehkan aku memeliharanya, ibu tak usah ikut campur jika memang tak mau memeliharanya. Karena tekadku kuat, aku tak bergeming pada keinginanku untuk memelihara anak kucing itu. Dengan kain basah aku bersihkan anak kucing yang kumal itu perlahan-lahan. Meski anak kucing itu meronta-ronta, namun apalah daya dibanding tenaga manusia seusiaku saat itu. memang benar dugaanku, setelah dibersihkan, anak kucing itu tidak hanya terlihat bersih dan segar, tapi benar-benar bersih dan cantik sekali. Secara diam-diam aku buatkan segelas kecil susu milik adik untuk anak kucing itu. Meski terlihat sulit untuk meminumnya tapi segelas kecil susu itu habis juga diminumnya, mungkin dia kehausan dan kelaparan sejak tadi atau bahkan sejak kemarin, kasihan sekali.

Menjelang maghrib Bapak pulang dari kantor. Aku berharap banyak dari ijin Bapak untuk memperbolehkan aku memelihara anak kucing itu. Bapak bukan orang yang banyak bicara, beliau hanya bicara jika dirasa perlu dan penting untuk dibicarakan. Aku menunggu sampai Bapak benar-benar selesai beristirahat. Bapak adalah pria yang menyukai kucing, karena mbahku, ibunya Bapak juga memelihara banyak kucing. Selesai shalat maghrib berjama’ah, aku bicara dengan Bapak tentang keinginanku memelihara kucing. Terlebih setelah pindah ke Depok, aku tak lagi bisa bermain dengan kucing seperti saat masih tinggal di Jakarta, di rumah simbah. Tapi ibu marah bukan kepalang, dipikirnya aku telah membuangnya jauh-jauh anak kucing itu sejak tadi. Aku cuma menangis mendengar perintah ibu agar aku membuang anak kucing itu sekarang juga. Tapi tiba-tiba saja Bapak bilang,….”mana anak kucingnya….bapak mau lihat….” katanya. Tanpa pikir panjang aku berlari keluar menuju kandang ayam. Anak kucing itu aku simpan disitu sejak sore tadi. Mata Bapak terlihat berbinar, aku tahu arti dari tatapan mata bapak yang seperti itu. ….”…eh, anak kucing ini jantan rupanya,…” katanya lagi. Sambil menimang-nimang anak kucing, bapak memperhatikan dengan seksama, sementara ibu masih bersikeras dengan pendiriannya. Tanpa banyak bicara, bapak menyerahkan anak kucing itu kepadaku, …..”…tunggu diluar….” katanya lagi. Aku keluar sementara bapak dan ibu masuk menuju dapur. Agak lama memang aku menunggu. Setelah selesai shalat Isya berjama’ah baru bapak bicara lagi….”Kamu boleh pelihara kucing itu, tapi dengan banyak syarat….bisa…?…” kata bapak. Aku langsung jawab dengan sepenuh hati…Bisa Pak…!”.
‘…ya sudah, kalau begitu kamu harus mau merawatnya, memberi makan, minum, membersihkan kotorannya, memandikannya, jangan biarkan dia masuk ke kamar dan naik kekasur, dan sebagainya dan sebagainya…..” begitu persyaratan yang diberikan bapak.

Aku tahu, sebetulnya itu adalah persyaratan yang diminta ibu kepadaku, yang disampaikan bapak. Bagi bapak, keinginanku memelihara seekor anak kucing adalah sebuah rasa tanggung jawab yang mulai timbul dalam diri seorang anak manusia dalam menentukan sebuah sikap dikemudian hari.Pembelajaran, begitu intinya bagi bapak. Makanya sejak saat itu, kepercayaan yang diberikan bapak atas hak aku untuk memelihara seekor kucing, benar-benar aku jalankan dengan penuh rasa tanggung jawab. Dan lama berselang, anak kucing yang lemah dan tak berdaya kala itu, telah menjelma menjadi seekor kucing dewasa yang cantik, bersih, pintar, penurut dan bisa menyegarkan suasana rumah dengan tingkah polahnya.

Aku telah berhasil memelihara seekor kucing yang selalu buang air kecil dan air besar di dalam toilet, tidak pernah mencuri meski ibu memasak ikan atau daging ayam disampingnya dan tidak menutupnya dengan tudung saji, menjaga rumah dari tikus-tikus nyinying yang merusak, tidak galak dan liar terhadap anak kecil, menjadi kucing incaran para tetangga gang sebelah (pernah gak pulang kerumah beberapa hari karena dikerangkeng tetangga gang sebelah…gak cuma sekali tapi beberapa kali), bagiku yang paling sukses adalah kucing itu akhirnya menjadi kucing kesayangan ibu (Ibu pernah datang dan memarahi beberapa tetangga gang sebelah karena menyembunyikan si Koneng…bahkan siap berkelahi satu lawan satu secara bergantian dengan para tetangga gang sebelah….dhasyat dan sadis….). Hingga akhir hayatnya, Koneng kucingku telah memberikan aku banyak arti dalam memberikan pembelajaran tentang tanggung jawab dan sebuah keberhasilan. Tak seronok memang jika di sandingkan dengan keberhasilan yang diukur secara materi, namun bukankah suatu keberhasilan itu akan selalu terasa indah dalam bentuk yang manapun, baik keberhasilan dalam sisi lahir ataupun sisi batin. Keduanya mempunyai rasa yang sama, tergantung dari sisi mana kita memulainya.

Sekarang semuanya hanya tinggal kenangan manis yang tak mungkin aku lupakan, meski banyak sudah aku beberapa kali memelihara kucing, tetaplah Koneng adalah satu-satunya kucing yang terbaik yang pernah aku miliki. Aku selalu meminta kepada Tuhan, agar jika aku nanti mati dan masuk syurga, aku ingin hewan pertama yang aku temui adalah si Koneng, bahkan jika aku bisa kembali ter-reinkarnasi untuk hidup kembali, aku ingin memulainya dengan seekor kucing kecil yang lemah tak berdaya untuk aku jadikan seekor harimau yang gagah perkasa.

Wallahu alam Bisawab…..

N.B :
Aku dedikasikan tulisan ini untu kucing-kucing yang pernah memenuhi hidupku dengan segala rasa, Koneng, Bagong, Bobby, Samson dan Iteung terutama buat Iteung yang sampai saat ini masih menemani hari-hari Bapak dalam memberikan rasa-rasa baru yang tak terdeteksi oleh lidah.
(Semua kucing yang aku pelihara adalah berjenis kelamin jantan)

Koneng adalah kucing pertamaku yang aku pelihara sedari baru lahir sampai mati karena sakit (1981-1989), Bobby dan Bagong adalah kucing kedua kami…mereka tak pernah akrab…tapi selalu makan berdua dalam piring yang sama tanpa masalah. Kemudian Samson dan Iteung sebagai penutup.

Engkau Dan Waktu


Engkau dan Waktu

Waktu boleh saja menjadikan kita bertambah usia.
Tapi waktu juga memberi kita pengalaman
yang dengannya karya lebih bermakna.

Untuk kita, waktu mengantarkan pada satu titik
yang sejatinya bukan sebuah akhir.
Karena berkarya tak mengenal kata usai,
dan pengabdian tak semestinya mengenal kata selesai.

Dengan berkarya kita dikenang,
dengan menyebar ilmu kita mencerahkan.
Begitulah engkau ada di hati kami,
tiada dibatasi waktu.


Macet Jahanam….!


Huuaaaaaaaahhhhh…….sejatinya gue tadi bisa nyampe kantor sebelum pukul 07.20 wib, seperti biasa dan alasan klise, macet jadi kambing hitam gue untuk nutupin kekesalan yang sebenarnya emang bener-bener kesel….Seperti biasa, gue selalu berangkat pukul 06.30 wib atau paling sial pukul 06.35 wib. Kalo jalan jam segini otak sama hati rada adem dan santai, pikiran gak diburu-buru sama kerjaan yang  senantiasa bikin gue gak bisa tidur dan jadi bunga mimpi yang menyeramkan. Hari itu gak seperti biasanya, gue ngerasa kayaknya banyak banget angkot dan bis kota yang menuhin jalan, belom lagi bajaj yang kayaknya gak pernah bisa punah meski udah beberapa kali ganti gubernur, gue heran sama “benda” yang satu ini, sodaranya sendiri aja yang waktu itu dikenal dengan helicak aja udah punah entah kemana, bahkan oplet yang jelas-jelas saudara paling tuanya dan masih rada gantengan serta enak dilihat aja udah gak ada.

Kalo inget oplet, gue jadi inget jaman dulu (jadul) waktu SMA. Saat itu ada acara masak-masak tepatnya pelajaran praktek memasak, gue berdua temen gue dapet jatah belanja ke Pasar Induk Kramatjati, beli sembako. Cukup banyak memang bahan yang mesti gue beli saat itu, sesuai pesanan beberapa anggota team. Karena saking banyaknya bahan belanjaan yang gue beli, gak ada angkot ataupun bus yang mau ngangkut gue beserta barang bawaan gue yang terdiri dari sayur mayur, buah buahan, biji-bijian, ikan, rempah-rempah, bunga-bunga-an dan lain sebagainya. Mungkin mereka berpikir kali ya, ngapain juga ngangkut anak sekolahan yang cuma bayar “cepek” tapi bawaannya banyak kayak gitu. Mana cuaca saat itu lagi lucu-lucunya, panas terik matahari ditengah hari robek bikin gue jadi gak bisa mikir harus bagaimana, karena isi kepala alias otak udak meleleh keluar bersama keringat. Kebayang gak sih…. dua orang cowok dimana yang satunya ganteng dan satunya lagi lebih ganteng, dengan baju seragam rapih pake dasi abu-abu, wangi, tapi barang yang dibawanya adalah sayur mayur….!! Kasian juga kita saat itu, mana saat itu kita berdua sedang dalam tahap masa pertumbuhan lagi….kok ya tega-teganya Bu Guru ngasih kita tugas belanja ke pasar induk untuk tugas praktek masak memasak esok harinya (alasan beliau tega terhadap kita berdua baru gue ketahui setelah masak measak sukses, yaitu kami berdua adalah dua siswa yang jujur dan gak pernah bo’ong, jadi gak mungkin kan uang belanja yang dikasih akan di korup sama kita….sial, emang sih waktu itu kita berdua lugu banget,….lugu atau bego ya. Padahal sempet juga uang itu kita pakai buat beli teh botol, kayaknya merasa berdosa gitu….maafkan kami guruku).

Hampir sejam sudah kita berdua menunggu  angkot yang kira-kira mau ngangkut kita berdua ke Cibubur, tapi kayaknya  gak ada yang mau, sampai akhirnya gue berani-in diri buat nyetop oplet yang kebetulan lewat, meski temen seperjalanan gue protes keras, katanya gak pantes orang kayak kita naik oplet paling jelek tuh naik ojek. ah sebodo amat, begitu pikir gue. bukan apa-apa gue paling gak tahan kena sinar matahari apalagi di negara tropis seperti ini. Emang sih gue sebetulnya terbiasa dan cocok banget sama iklim di Eropa, tapi karena gue lahir di sini ya mau gak mau harus rela aja sama nasib. Tapi gak apalah toh iklim di Depok gak jauh beda dengan Eropa.

Pucuk dicinta ulampun tiba, oplet itu berhenti tepat didepan gue, hebat juga masih ada yang kasihan sama gue, meski cuma oplet  kayaknya gak masalah asal nih sayur mayur gak keburu busuk atau layu dijalan dan bisa segera masuk kulkas disekolah. Tak ada rotan akarpun jadi begitu pikirku. Tapi sial….harga diriku akhirnya tambah runtuh dan tercabik-cabik, apalagi temen seperjalanan gue, tiba-tiba juga dia jadi jaga jarak sama gue, seakan-akan gak kenal gue dan gue ini bukan temennya, ketika tiba-tiba di jalan Ke’ong sekumpulan wanita-2 cantik anak SMAN 98 ikut naik kedalam oplet, tawa riang mereka yang hinggar binggar dalam sekejap menjadi hening, ketika melihat sesosok pria tampan duduk dipojok belakang sopir dengan setumpuk sayur mayur dan biji-bijian di pangkuannya. Mereka saling tatap satu sama lain….mungkin mereka berpikir, kok ada ya pria setampan ini jualan sayur mayur di oplet….mana pakai baju seragam SMAN 99 lagi (disini gue merasa berdosa sama almamater SMAN 99, secara langsung gue udah mecemarkan nama baik sekolah gue sendiri yaitu bolos sekolah dan bawa sayur naik oplet pakai baju seragam berdasi). Gue cuma bisa diam tak bergerak, temen gue buang muka sejauh-jauhnya keluar jendela, tinggal gue sendiri yang akhirnya menjadi objek penderitaan harga diri lahir batin, bahkan biji matapun gak bisa gerak juga, pandangan kosong kedepan, gak tau apa yang gue lihat saat itu, tapi yang pasti kalo saat itu gue bisa berubah jadi kecoa, mending gue jadi kecoa aja dan sembunyi dibawah jok oplet yang semprul ini. Cewek yang semula duduk tepat disamping gue sedikit demi sedikit bergeser jaraknya, gue tetep diam membeku, merekapun diam membisu meski gue tahu mereka bicara pakai bahasa tubuh, bahasa isyarat dan gerak mata menertawai gue. Keringet udah gak bisa keluar, kejadian ini menjadikan otak jadi gak sinkron sama keadaan nyata sehingga gak bisa bekerja maksimal padahal cuaca lagi yahud-yahudnya disiang hari itu. Kalo mungkin kena setrum mungkin gue gak akan mati kering cuma kaget aja kali.

Sampai akhirnya gue turun di Jalan PT Ubin depan sekolah gue, Teman gue yang ngehe malah turun duluan sebelum sampai tujuan, gak pake basa basi sama gue, mana bayar sendiri lagi….Totally Ngehe…..!!! didalam oplet gue denger ketawa mereka yang meledak terbahak-bahak seakan-akan melepas hasrat yang terpendam selama perjalanan tadi, Ngehe….!

Kendar4

Oke Kita kembali ke topik awal, Sebenarnya gue sependapat dengan Mas Tjandra(*) dalam soal transportasi di Indonesia, khususnya Jakarta. Mungkin, sebagai sebuah alternatif pilihan untuk sebuah gagasan ide, jalan satu-satunya mengurangi kemacetan di Jakarta adalah dengan me-monopoly sarana transportasi darat khususnya Bis Kota oleh Pemerintah Daerah. Dulu Jakarta pernah terkenal dengan PPD-nya, namun setelah banyak pihak swasta bergerak dalam bidang yang sama, PPD seperti kehilangan perannya sebagai angkutan kota yang andal. Gue gak tahu banyak tentang historis dari PPD sendiri tapi yang pasti gue pernah menikmati moda angkutan ini dengan sangat nyaman sewaktu SMA. Namun sekarang setelah jalur bisnis PPD dijual ke pihak swasta, kayaknya malah jadi banyak pemborosan meski kenyamanan juga gak berubah dari jaman dulu. Sedikit saya contohkan pengalaman pergi ke Pasar Baru dari Depok, dulu cukup dengan 1 kali naik PPD 900B kita sudah sampai tujuan tanpa turun naik ke mobil lain dengan hanya membayar 1 kali tarif (waktu itu kemanapun aku pergi ongkosnya udah diformat sebesar Rp. 100.-), tapi sekarang setelah PPD 900B gak ada, kalo mau kepasar baru harus naik angkot ke simpangan depok dulu, lalu naik angkot lagi ke Pasar Rebo, dari Pasar Rebo naik lagi bis ke Kampung Melayu lalu naik lagi ke terminal Senen, lalu naik angkot lagi terakhir jalan kaki nyebrang lewat kantor pos. rata-rata ongkos tiap kendaraan adalah sekitar Rp. 2500 s/d Rp. 3000, coba itung sendiri berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk ke Pasar Baru sekarang.

Kalo gue lebih extrem lagi dan lebih egoistis, gue cuma merasa nyaman kalo moda angkutan di Jakarta hanya ada 3 jenis saja, yaitu Bis Kota, Taksi dan Trem atau Monorail, cukup…gak pake kebanyakan cingcong. Untuk Bis kota mutlak harus di monopoly alias dimiliki 100% oleh pemerintah daerah saja, pihak swasta silahkan ke pedesaan atau pinggiran kota. Dari ketiga moda ini gue lebih senang kalo trem atau monorail yang di kembangkan lebih serius, kenapa…dia udah punya jalur sendiri gak brenti sembarangan kayak angkot, bisa angkut penumpang lebih banyak dalam sekali jalan, lebih keren dalam penampilan dan satu lagi…gak ada asap hitam ngebul keluar dari lubang qubulnya…!! sip kan. Tapi selain itu, ada sebersit harapan yang mungkin gak ya bisa terwjud….? Begini, gue suka sekali naik sepeda seandainya moda transportasi seperti yang gue mau udah terwujud, gue pingin Pemerintah Daerah Jakarta membuat jalur khusus untuk pengendara sepeda, Bicycleway. Aduh….jadi ingat Amsterdam, negeri leluhur hahahaha…. kalo keinginan gue yang satu ini juga terwujud, di jamin Mas Eko Pramudji(*) yang selama setia mati sama sepeda pasti akan berangkat kerja naik sepeda dari Bojong Depok Baru ke Jl. Raya Dr. Wahidin , Jakarta Pusat, kalo gue….tetep naik motor dong.

Meski gak mengenyampingkan peran Kereta Api, tapi kayaknya transportasi ini juga meski dikembangkan perannya, karena gue tahu transportasi ini adalah transportasi sejuta umat alias transportasi paling favorite, terutama untuk di setiap stasiunnya perlu banyak pembenahan jangan sampai jadi tempat mangkal preman atau pengemis dan kurangi pedagang asongan, biar kebersihan juga terawat.

Okelah, mungkin baru segini aja yang bisa gue jadi-in wacana pengharapan untuk moda transportasi yang gue harapkan, semoga bisa terwujud, atau ada yang mau nambahin ide atau komentar silahkan aja, makasih.

(*) Bintang Tamu tapi gak dapet royalti.

By Sang Pria Biru Posted in Sejarah

SPASI


Seindah apapun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda ?  Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi ?

Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak ?  Dan saling menyayang bila ada ruang ?  Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin dicekik, jadi ulurlah tali itu.

Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi. Darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali. Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah. Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.

Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat. Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.

Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.

 

 

 

Dicontek habis dari karya Prosa Dewi Lestari atau lebih dikenal dengan nama Dee Lestari pada kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade-nya dalam buku Filosofi Kopi.

Sengaja aku menyadur habis karya Prosa milik Dewi Lestari pada kumpulan cerita dan prosa satu dekade nya ini. Bukan karena ingin memanfaatkan kehebatan orang lain untuk mengisi blog milikku ini, tapi sungguh, aku hanya merasa sayang untuk tidak memasukkan karya indah ini kedalam blog aku. Sebuah buku bisa saja hilang, mungkin dipinjam atau di bredel oleh pihak berwenang, terlebih lagi daya ingatku kacau balau, jadi sebisa mungkin sebelum hal itu terjadi pada buku milik aku, aku ingin mengabadikannya dalam sebuah blog. Memang sebuah blog pun akan bisa juga hilang bilang penyedia situs ini mematikan usahanya, atau dunia kiamat pada saat ini, tapi aku yakin hal itu tidak akan terjadi dalam waktu yang singkat. Alias masih lama, wallahu alam bisawab…

Sekarang hanya satu yang aku takutkan, yaitu…DEWI LESTARI MENUNTUTKU ATAS PEMUATAN KARYANYA INI……!!!! OH TUHAN JANGAN SAMPAI HAL ITU TERJADI…..AMIN.

Jadi aku mohonkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya kepada pemilik asli karya ini atas kesengajaan yang aku lakukan untuk memuat karyanya dalam blog milikku dan aku juga berharap sang pemilik karya ini tidak menuntut aku atas pemuatan karyanya ini kedalam blog milikku. Karena aku yakin, tanpa rekomendasi siapapun, karya-karya mu adalah yang terbaik saat ini.

Juga untuk pembaca blog ini aku mohon maaf jika aku belum bisa membuat karya asli sebuah prosa atau apapun dalam blog ini, tapi sungguh aku akan belajar untuk memulainya, do’a kan saja.

Demikian, saya sampaikan, atas pengertiannya saya ucapkan terima kasih.

Depok 1978


     Depok di tahun 1978, tahun dimana untuk pertama kalinya aku diajak Bapakku untuk melihat calon rumah kami di Perumnas Depok II Tengah yang rencananya akan kami tempati tahun depan. Kala itu usiaku genap 6 tahun, masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak di kawasan elite Menteng Jakarta Selatan, tepatnya di Jalan Tegal 10, sekarang lebih dikenal dengan SD Menteng 02 pagi Del Peru. Perjalanan kami mulai dengan menaiki kereta api ke arah Bogor, meski pada saat itu kereta rel listrik (KRL) sudah ada dan masih sangat nyaman untuk para penumpang, tapi Bapakku memilih naik kereta api diesel buatan Jerman dengan lokomotif berwarna hijau. Yang aku tahu orang sering menyebutnya kereta langsam. Penumpangnya adalah para buruh, petani atau pedagang. Kereta itupun juga sangat nyaman, meski bangkunya hanya terbuat dari rajutan kayu rotan, tapi kami bisa memilih duduk bebas dimana kami mau.

     Kereta ini bermasalah dengan panjang gerbongnya, biasanya KRL terdiri dari hanya delapan gerbong, tapi kereta langsam ini kadang terdiri dari sepuluh hingga dua belas gerbong, sebagai permakluman bahwa kereta ini menjadi alat transportasi yang efesien bagi penumpang yang berasal dari daerah Sukabumi dan Bogor yang hendak menjual hasil ladang atau peternakanya ke Jakarta. Sehingga terkadang bila berhenti di satu stasiun, gerbong paling akhir masih menghalangi jalan diperlintasan kereta api, terutama di stasiun Depok Baru. Apalagi saat itu jalur kereta api Jakarta Bogor hanya ada satu jalur saja, sehingga harus dipakai secara bergantian. Satu lagi, naik kereta ini kami bisa tidak dikenakan tiket, alias gratis. Mungkin itu yang di inginkan Bapakku, naik kereta gratis dari Jakarta ke Depok. Walau terkadang masih ada masinis yang menagih tiket tapi itu jarang sekali. Satu persatu stasiun kami lalui, sepanjang perjalanan yang kami lihat hanya kebun atau tanah lapang yang sepi dan tak terurus, masih banyak terdapat kebun jambu batu atau yang dikenal dengan jambu klutuk dan pohon rambutan dengan buah yang lebat, kadang ada beberapa gembala kerbau, kambing atau sapi di sana. Maklum saja tahun 1978 sepanjang Jakarta Bogor masih belum terlihat pembangunan seperti sekarang, tapi jujur, kondisinya aku pikir malah lebih baik dari sekarang.

       Didalam kereta yang kami temui hanyalah beberapa pedagang asongan yang menjajakan makanan khas daerahnya, misalnya di stasiun Pasar Minggu akan ada pedagang buah atau asinan/manisan jambu air manis yang dibungkus plastik atau es buah pepaya yang dibekukan. Mungkin sekarang kita tidak akan menemukan jenis jajanan seperti itu lagi di kereta api yang sekarang. Harganya juga cukup murah, dengan Rp. 25,- kami bisa mendapatkan dua bungkus manisan jambu air, lalu dengan Rp. 30,- kami bisa membeli dua gelas tuak, air manis dari perasan nira yang didinginkan dengan es didalam sebuah tabung bambu yang besar. Hmmm….rasanya segar sekali, sekarang kalo kita mencari pedagang itu rasanya sampai kita botak tujuh kali gak akan bisa menemukannya. Sesampai distasiun Depok, aku merasa bahwa tempat ini primitif sekali, suasananya sungguh-sungguh asri, bahasa yang digunakan masih menggunakan bahasa Sunda Bogor. Stasiunnya sudah sangat kuno, dengan jam dinding bulat besar yang menempel tepat dipintu masuk stasiun.

stasiun-depok-lama

                                                                         (Gambar diatas dan dibawah diunggah dari Mbah Google)

Stadela

      Inilah adalah salah satu stasiun kereta api buatan Belanda yang masih berdiri hingga akhir 1985. Bapakku mengajak aku untuk mampir dulu di warung tauge rebus, tepat disamping stasiun. Disitu juga terdapat warung gado-gado, toko dodol Depok, serabi, tahu Bogor dan macam-macam lagi. Dikedai tauge rebus itu terdapat tulisan “Tauge rebus oncom bumbu tauco asli Bogor” (aku terus saja mengingat tulisan itu sampai berkali-kali, mungkin karena saat itu aku belum pandai membaca). Dan baru kali itu juga saya tahu seperti apa bentuk dan rasanya, karena baru pertama makan makanan yang berbumbu tauco aku merasa agak mual, aku tahu harga seporsinya saat itu Rp. 25,- sangat murah, berisi tauge, oncom, mie kuning, tahu dan krupuk tanpa rasa berwarna merah dengan bumbu pasta racikan tauco dan apalah namanya. Sekarang sudah jarang yang berjualan seperti itu lagi. Makanan jenis itu sudah hilang dan kalah pamor dan gengsi oleh makanan-makanan cepat saji atau malah oleh makanan gorengan yang sekarang semakin banyak beredar.

     Setelah selesai makan kami mencari angkutan yang menuju Perumnas Depok II. Saat itu jarang sekali angkot seperti sekarang, yang banyak bertebaran adalah kendaraan jenis oplet atau austin dan delman. Oplet yang pernah saya tahu adalah kendaraan yang sebagian besar body-nya terbuat dari kayu dengan jendela terbuat dari terpal atau plastik, dengan kursi penumpang sejajar kiri kanan seperti angkot sekarang. Sedangkan Austin berukuran lebih besar dengan kursi penumpang menghadap kedepan, mirip dengan angkutan luar kota Bogor-Sukabumi, mungkin kalo sekarang kita mengenal dengan jenis Mitsubishi L-300. Untuk naik kendaraan itu kita harus sabar menunggu sampai penuh, padahal saat itu bisa dihitung berapa penumpang yang mau naik mobil, rata-rata mereka lebih suka berjalan kaki, dimana situasi udara dan cuaca Depok tahun itu masih bisa dibilang sejuk, bahkan untuk ukuran kami yang dari Jakarta udara Depok pukul 11.00 WIB siang masih terasa dingin, sungguh. Nikmat sekali. Pohon-pohon beringin, bambu, rambutan, angsana dan beragam jenis pohon buah masih banyak bertebaran meneduhi sepanjang jalan Margonda dan Tole iskandar. Bahkan bila melalui jalan Tole iskandar menuju Perumnas, kita akan disuguhi pemandangan yang teduh, dimana banyak pohon bambu yang tebal dan rimbun saling bersentuhan antara kedua sisi jalan, sehingga seakan-akan kita memasuki goa saja layaknya.

     Terlebih ketika akan melewati jembatan panus, jalan yang meliuk-liuk turun naik terasa mengasyikan. Sungai ciliwung saat itu masih terlihat bening, banyak orang yang memanfaatkannya untuk mencuci dan mandi. Suatu saat aku akan ceritakan nikmatnya mandi dikali ciliwung di tahun 1979.Karena Bapak tidak mau terlalu lama menunggu kami sepakat untuk naik delman saja, tawar menawar harga terjadi dan bapak setuju dengan ongkos Rp. 125,- sampai tujuan, itu dikarenakan hanya kami saja yang menaiki delman itu, padahal bila normal delman itu bisa mengangkut 6 orang penumpang. Saya sangat menikmati perjalanan dengan delman, terlebih ketika jalan menurun dan berkelok-kelok, sepanjang jalan banyak bertaburan buah rambutan, kecapi, buah buni (buah ini sekarang sangat sulit ditemukan atau bahkan mungkin sudah punah) atau bahkan buah nangka yang dibiarkan matang membusuk dipohonnya karena tak ada yang memetik, sayang sekali. Saya berteriak-teriak gembira ketika delman melintasi jembatan panus (Jembatan yang dibuat pada masa kolonial Belanda) dimana disungai ciliwung saya melihat anak-anak dan para orang tua beraktifitas dengan kegiatannya.

     Harmonisasi kehidupan pedesaan sangat terasa, damai sekali hatiku saat itu. Sepanjang perjalanan Bapak dan kusir saling bertukar cerita, akrab sekali, sedangkan aku tak bisa diam, sesekali tanganku mencoba meraih buah rambutan masak yang menjulur kejalan, dan ketika melewati “gua” pohon bambu aku merangsek kepelukkan Bapak, takut sekali, suara serangga dan desiran angin yang menerpa daun bambu seakan menciptakan suasana horor, sepi, dingin dan menyeramkan. Kusir delman hanya tersenyum saja. Oya saat itu masih banyak kerbau, sapi, kambing dan bebek yang di gembalakan sepanjang pinggir jalan, aku jadi takjub, mungkin karena di Jakarta tak ada pemandangan seperti itu.

Ketika memasuki jalan Sentosa Raya, saya mulai melihat banyak perumahan baru yang berjajar rapi sepanjang mata memandang, jalannya rata dan halus dengan aspal yang hitam mengkilap namun disini terasa gersang, itu mungkin karena pohon yang ditebangi dalam masa pembangunan belum lagi tumbuh. Hanya ilalang dan semak berduri yang banyak tumbuh di halaman rumah yang belum ditempati. Masih terdapat beberapa rumah asli penduduk Depok yang tak terkena proyek pembangunan, di setiap rumah aku melihat pasti ada satu ekor kuda dan gerobaknya. BapaK bilang bahwa saat itu penduduk Depok banyak yang bekerja sebagai kusir delman atau petani dan peternak ayam atau kambing. Ooo..begitu rupanya, pantas saja banyak sekali aku temui kuda di Depok saat itu.

Sepanjang jalan saya selalu bertanya pada Bapak apa tulisan-tulisan yang ada ditiang-tiang sepanjang jalan sentosa Raya, Bapak menjelaskan bahwa itu adalah nama jalan yang menandai di setiap gang jalan, ada nama jalan Flamboyan, Jalan Beringin, jalan Waru, Jalan Merdeka Raya, Jalan Serimpi, Jalan Dadap dan lain-lainnya. Rumah kami di jalan Pajaga I dan harus memasuki jalan Raya Angin Mamiri terlebih dahulu untuk sampai kesana. Saat itu pertama kali saya melihat calon rumah baru kami yang akan kami tempati hingga sampai saat ini. Rumah sederhana dengan tembok dari batu bata putih, halaman tanpa pagar, dua buah jendela kaca dengan ventilasi udara yang sangat sederhana terbuat dari kayu, beratap asbes putih, berlantai semen tanpa keramik dua pintu dan satu rumah dibagi dua. Selokan pembuangan air yang kecil di depan rumah rapi menjulur dari ujung ke ujung gang yang bermuara pada selokan berukuran lebih besar. Tumbuhan semak berduri tumbuh tak beraturan, demikian juga dengan ilalang yang menutupi pekarangan rumahku. Belum ada kabel listrik dan belum ada saluran air. Banyak terdapat serangga yang sebelumnya belum pernah saya lihat di Jakarta, ada belalang sembah yang di Jakarta disebut dengan cangcorang (sekarang saya tahu ternyata jurus andalan yang di pakai Bruce lee berasal dari makhluk hijau bermata belo bertangan panjang dan kurus tapi mengerikan ini), Ada sarang burung gereja dengan beberapa butir telur diatas ventilasi udara rumah kami saat itu, aku menangis dan memohon pada Bapak untuk mengambilkannya, namun Bapak menolak.

Setelah kami puas melihat-lihat situasi perumahan yang masih baru itu, Bapak mengajakku pulang. Tentu saja saya senang sekali, karena saat itu aku sudah mencapai taraf “bosan” yang luar biasa, karena sepi dan terasa panas disiang hari. Selama hampir 3 jam disana kami hanya menemui pedagang es cincau saja yang ada, itu belum cukup untuk menutupi rasa lapar yang mendera perutku. Kami pulang dengan berjalan kaki menuju jalan Angin Mamiri, disana mungkin akan ada kendaraan oplet atau austin yang lewat untuk menuju stasiun Depok Lama, meski aku berharap bahwa aku lebih senang jika pulang dengan naik delman lagi. Hampir sejam kami menunggu di pinggir jalan Sentosa Raya yang panas dan berdebu sampai kemudian datang kendaraan yang dimaksud. Belum lima menit didalam kendaraan aku tertidur pulas di pelukkan Bapak, mungkin rasa lelah yang mendera menjadikan aku cepat sekali tertidur, terlebih lagi oplet berjalan sangat lambat dengan desir angin sepoi-sepoi dari jendela terpalnya yang terbuka menambah kantukku kian menjadi. Aku sudah tak ingat apa-apa lagi sampai aku tersadar ketika mendengar pluit kereta api yang akan membawaku kembali ke Jakarta, di dalam kereta api aku tetap tertidur, pulas membawa mimpi atas sungai ciliwung, buah rambutan. seramnya pohon bambu, cangcorang dan telur burung gereja yang sampai saat ini tak pernah aku miliki.

oplet

                                                                                                       (Gambar Oplet diunggah dari Google)