Hanya Teman


 Tiba-tiba saja dia bilang :”…Kita kan sudah lama jadi sahabat sejati, gimana sih loe..?!?”

        “…WTF, kalau kamu merasa kita adalah sahabat sejati, lalu dimana saja kamu berada disaat aku membutuhkan dan memiliki moment untuk kebersamaan kita…??

          Terlalu kasar dan terlalu ego memang kalimat yang saya buat diatas, namun kenyataan kadang tak pernah sesuai dengan harapan yang kita ingin. Persahabatan sejati bagiku sudah tutup buku.

       Sejak beberapa kali kejadian yang menyesakkan dan tak mengenakkan hati aku bersikeras tak pernah butuh dan tak boleh lagi ada sahabat sejati dalam kehidupanku. Saat ini aku hanya berusaha mencari sahabat yang sesuai watak dan gayaku. Alhamdulillah meskipun tak satupun jadi sahabat sejati, tapi pertemanan tanpa komitmen ini jauuuuuhh lebih baik dari sebelumnya. Kami bisa saling berbagi tanpa ada kompromi harus bagaimana setelahnya. Kami bisa saling menghormati dan menghargai sesuai dengan batas-batas yang normal, tanpa di-ikat oleh satu kepentingan yang membunuh kepentingan diri sendiri. Pertemanan yang seperti ini bagiku lebih baik dari sahabat sejati yang absurd, persahabatan sejati penuh komitmen yang membunuh kepentingan pribadi, persahabatan sejati yang penuh kompromi.

       Satu komitmen telah aku lalui, maka komitmen lain menunggu untuk ditepati. Baiklah, untukku satu komitmen yang telah aku lalui itu adalah ketika aku berkomitmen menikahi kekasih hatiku, sahabatku juga belahan jiwaku sejak Sekolah Menengah Atas setelah aku dua tahun bekerja. Alhamdulillah komitmen itu aku lalui dengan sukses. Maka komitmen selanjutnya adalah aku akan menjadi suami, menjadi ayah, menjadi sahabat yang baik hanya untuk anak dan istriku. Karena kebersamaanku dengan mereka adalah kebersamaan yang sejati sesungguhnya. Disinilah seharusnya komitmen dan kepentingan tidak saling bunuh. Komitmen sejati hanyalah pada keluarga bukan pada sahabat. Komitmen untuk keluarga tak akan membunuh kepentingan pribadi, karena disini tak kenal kompromi.

       Mungkin aku adalah orang yang unik. Aku tak mudah untuk cepat bergaul dengan orang asing. Aku butuh adaptasi lebih lama untuk mendalami seorang calon teman. Namun aku akan sangat akrab jika sudah bisa menerimanya sebagai teman layaknya saudara. Aku bisa sangat peduli mengenai apapun kepada teman akrab. Sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya pernah jatuh juga. Se-selektif-selektif-nya aku mencari teman, pada akhirnya tak sesuai harapan juga.

     Pada akhirnya memang kenyataan jua tak pernah sesuai dengan harapan yang diinginkan. Oke… sekarang aku hanya butuh teman sebanyak-banyaknya, 1 orang teman lebih sulit dicari daripada mencari 1000 musuh. Faktanya adalah, ketika semua yang katanya adalah sahabat sejati menyakitiku, aku hanya menemukan satu orang yang membuatku merasa layak disayangi , yaitu istri dan anakku.

Berteman jangan terlalu akrab, karena dia bisa menjadi pedang yang lebih tajam dari dirimu…  (terserah siih..)

dari Google

dari Google

 

Hoccus Foccus…


         Akibat kurang fokus dan tak teliti membaca disposisi jadi gini akibatnya :

     Sejak pagi saya sudah disibukkan dengan aktivitas rapat mingguan dan bertemu tamu guna membahas permasalahan yang harus diselesaikan. Tepat jam 12.10 WIB semua aktivitas saya selesai dengan sukses. Lelah dan konsentrasi mulai butuh recharge ulang. Disaat keluar ruang rapat, saya lihat sang Boss alias atasan saya  keluar dari ruang Dirut dengan tergopoh-gopoh dan memanggil sambil menyodorkan surat undangan untuk dihadiri segera pada pukul 13.30 WIB siang ini. Syuuuuttthh…jantung ini rasanya jatuh di kubangan gletser…dingin dan gak bisa ngomong apa-apa. Lelah ini kadang membuat saya merasa sedih…

     Okelah saya lihat jam sudah pukul 12.25 WIB, saya belum makan siang dan shalat dzuhur, setidaknya saya butuh 1 (satu) jam buat itu semua dan istirahat sejenak dengan segelas kopi. Namun rasanya hal itu tak bisa dipenuhi semua.

    Setelah makan ala kucing garong dan selesai shalat saya langsung mohon izin dengan kedua Boss besar untuk segera ke Bank Indonesia (BI) menghadiri rapat dimaksud.

       Siiip,  duduk nyaman di bluebird dan tinggal perintah ke lokasi yang diminta layaknya raja saya mulai baca ulang lagi, apa agenda rapat dan pembahasan yang akan dibahas di BI nanti. Ding Dong….Mata tua ini memandang tak yakin pada tanggal undangan yang tertera di surat undangan. Oke, hari ini adalah selasa tanggal 3 Maret 2015 dan saya baca berulang-ulang undangan itu untuk hari selasa tanggal 10 Maret 2015, artinya undangan ini berlaku untuk minggu depan alias bukan hari ini….Kamvvreeeetth….jadi buat apa gue ada di taksi mahal ini sekarang.

     Baiklah, …pak supir tolong antarkan saya kembali ke kantor saya pak, otak saya teringgal di meja kerja tadi…!!

     Oke sepanjang perjalanan balik saya berfikir untuk balas dendam saya Boss besar yang sompret sontoloyo itu telah yang memberikan disposisi “gendandapan” kepada saya tanpa basa basi dan tanpa uang transportasi juga….karena saya harus bayar taksi mahal ini hanya untuk sekedar jalan-jalan muterin lapangan banteng gak jelas gini….mending juga ngopi di starbuk…mahal ada nikmatnya. Siiip 50 Ribu melayang sia-sia buat 10 menit jalan-jalan naik taksi mahal.

       Tapi masih bersyukur saya belum sampai tempat tujuan, seandainya saya kesana pun mungkin bukan cuma otak yang ketinggalan tapi rasa malu yang tak terperikan…saya akan ternistakan di Bank Indonesia senista nistanya…bisa-bisa saya akan dianggap lebih rajin dari iblis yang selalu menggoda manusia setiap detiknya, bayangkan saya sudah datang rapat seminggu sebelumnya…mau nyari kavling apa…?!?

    Oke Plan A lapor Atasan Langsung :

(PB) : “Bu,…saya terpaksa kembali ke kantor…!

(Boss) : “…Loh kenapa Pak, bukannya tadi sudah ijin mau ke BI, jadi siapa yang pergi kesana buat wakil kita…??”

(PB) : “…Tak ada Bu…!”

Perbincangan lima menit dengan alasan yang sudah saya siapkan dan saya perhitungankan akibatnya pada akhirnya berhasil. Sang Boss terlihat memerah wajahnya karena saya bantah terus dan saya bersikeras untuk tetap di kantor. Sampai sang Boss akhirnya bicara perlahan : “…ada apa dengan pak Hery, kok tak seperti biasanya begini…?” oke saya langsung jawab : “…Bu, saya sebisa mungkin akan datang tepat waktu sesuai jadwal undangan, tapi saat ini saya tak bisa tepat waktu dan saya tak mau…karena memang undangannya bukan buat hari ini Bu…tapi buat minggu depan…!”

(Boss) : “…Jadi…??? …..sempet lama terdiam (Blank akut) ya sudahlah” Perbincangan kembali melunak dan akhirnya jadi tertawa terpingkal-pingkal setelah saya jelaskan. Beres plan A sukses mallliiiihhh…

       Sekarang Plan B, lapor kepada sang pendisposisi :

Perbincangannya sama sih gak berubah, hanya saya dramatisir lebih mendalam seakan-akan saya menolak tugas Boss Besar. Perbincangan makin panas dan mimik Pak Boss sudah berubah drastis.

(Pak Boss) : “…kamu punya masalah apa sama saya sampai-sampai kamu menolak hadir sesuai disposisi saya…?!?”

(PB) : “…Masalahnya undangan ini bukan buat hari ini Pak, tapi buat minggu depan…!!”

(Pak Boss) : “…Jadi…???”

(PB) : “…ya gitu deh…”  pak Boss sempet lemot sebentar kemudian tertawa terbahak-bahak…

Oke…oke Pak Boss minta maaf karena tak teliti baca disposisi undangan buat saya dan akan mengganti biaya terbuang sia-sia tersebut, gak perlu sih karena akhirnya malah diajak makan bareng sepulang kerja…siaplah kalo diajak kuliner malam-malam…Jakarta Memang yahuuud.

 Fokus memang perlu tapi teliti juga lebih perlu.

Yang terpenting saya bisa lihat tabiat para Boss yang baiiiiiik hati ini saat marah, Plan A dan Plan B saksesss…

Don’t try this at office

Ketika Waktu Kami Mesti Berlalu (1)


       Oke, aku coba kembali mengingat-ingat romansa waktu kecil. Aku hanya ingin membandingkan saat masa kecil aku dengan saat masa kecil anak-anakku. Terlalu melankolis mungkin, tapi biar bagaimanapun kita masing-masing harus punya sejarah sendiri, disini sejarah aku dan anakku.

      Aku lahir di Jakarta tahun 1972. Masa-masa diawal pembagunan negara ini menuju repelita pertama setelah pergantian presiden Soekarno ke Presiden Soeharto sejak 1968-1073. Aku tinggal di daerah keras selatan Jakarta, Manggarai, tepat dibelakang stasiun dan bengkel kereta api Manggarai (dulu disebut Magessen). Setelah usai sekolah taman kanak-kanak di Menteng, tepatnya Jl. Tegal no. 10, jakarta, tahun 1978 kami sekeluarga hijrah ke daerah yang lebih baik, Depok II Tengah, Jawa Barat. Bapak melihat kehidupan sosial didaerah kelahiranku mulai tidak baik buat tumbuh kembangku. Terlebih lagi Bapak begitu senangnya ketika mendapatkan jatah rumah bagi PNS saat program Perumanahan Nasional yang dicanangkan Pemerintahan Soharto kala itu. Depok adalah percontohan kedua setelah Bekasi. Aku pernah menuliskan tentang perjalananku pertama kalinya ke Depok bersama Bapak (“Depok 1978″).

       Oke, setelah kami hijrah ke Depok suasana sangat berbeda dan sama sekali baru. Aku tinggal di Jalan Pajaga I. Sepanjang gang itu berderet rumah yang rapi dengan model yang sama. Jika hari siang panasnya cukup terik, namun ketika menjelang pukul 16.00 sore hawa dingin Jawa Barat mulai terasa, terlebih saat pagi hari. Disini aku belum punya teman seusiaku, aku masih bermain dengan adikku yang berbeda usia dua tahun dariku. Permainanku berasal dari alam. Kadang menangkap belalang atau jangkrik. Kadang memetik buah atau mencabut singkong di rumah tetangga yang belum berpenghuni. Atau kadang menangkap ikan-ikan kecil dan ketam di sungai jernih dekat mata air bersama Bapak kala air dari PDAM tak menyala. Sederhana memang, tapi buat kami kebahagiaan seperti itu sudah luar biasa.

     Menjelang bulan kedua ditempat baru, mulailah tetangga baru kami berdatangan. Bapak menyalami tetangga baru dan saling berkenalan. kadang dalam satu hari ada dua sampai tiga tetangga baru kami berdatangan. Ada beberapa keluarga baru yang kebetulan memiliki anak seusiaku. Bagi kami, seusia itu adalah usia mudahnya kami bersosialisasi secara instan dengan kawan baru. Hanya dengan bermodalkan jangkrik dalam plastik kami sudah cepat berbaur dan saling berkenalan, bahkan dalam hitungan menit kami sudah bermain bersama.

     Permainan jaman kami sangat sederhana, namun disitulah semua fungsi sayaraf motorik halus dan motorik kasar kami bertumbuh dan bekerja secara maksimal. Daya imajinasi kami liar membuncah menciptakan karya atau permainan baru bersama. Permainan favorit adalah “Petak Umpet”, karena bisa dimainkan hanya oleh dua atau tiga orang saja. Lalu kemudian “Petak Benteng” yang bisa dimainkan oleh minimal empat orang, selanjutnya “Galah Asin” atau “Gobak Sodor” atau kami lebih mudah menyebutnya “Galasin” yang biasanya dimaninkan oleh dua kelompok team terdiri dari empat orang atau lebih. Namun dibalik semua permainan favorit kami ada permainan yang favorit diantara yang favorit, yaitu bermain bola dikala hujan.

Dari Google

Dari Google

     Namun resiko yang dihadapi sangat besar. Kami tidak takut petir atau suara halilintar yang menggelegar, yang kami takutkan adalah Ibu yang menunggu di depan pintu dengan sapu ditangan. Kalau Ibu sudah murka maka bisa-bisa tak dapat makan malam atau tak dapat uang jajan, belum lagi paha kami yang merah terkena pukulan sapu. Biasanya kami berfikir lebih cerdik demi menghindari murka Ibu. Jika kami bermain bola dikala hujan, maka biasanya kami bermain telanjang tubuh atau hanya dengan menggunakan cawat. Pakaian kami simpan dalam tas plastik lalu letakkan di tempat aman, setelah hujan berhenti kami bisa mandi dikali untuk berbasuh dari kotoran dan lumpur ditubuh setelah bersih pakaian kami yang masih kering akan menyelamatkan kami dari murka Ibu. Paling-paling Ibu cuma bertanya dari mana, biasanya kami akan jawab kami berteduh di mushala, beres. Bermain bola sambil hujan-hujanan dan berenang disungai kami dapat, murka Ibu lewat.

Dari Google       Dari Google

Dari Google

       Permainan adakalanya disesuaikan juga dengan kondisi dan situasinya. Pada saat bulan ramadhan permainan olah pisik yang mainstream biasanya kami tinggalkan sejenak, kecuali dimainkan pada sore menjelang berbuka atau setelah shalat tarawih. Entahlah permainan nyang satu ini disebut apa, tapi dulu kami menyebutnya permainan sarung terbang. Gampang dan menyenangkan, kedua ujung sarung diselipkan atau diikat pada celana dan dua ujungnya lagi kita pegang erat, kemudian kita berlari dengan cepat agar angin yang terjebak di dalam sarung membuat sarung mengembang. Biasanya menjelang berbuka puasa di depan Mushala kami bermain seperti ini sambil menunggu berbuka bersama dan shalat mahgrib berjamaah di mushala. Indah…

images (1)

Dari Google

       Sedangkan setelah shalat tarawih, kami biasanya menuju ke tanah lapang untuk melihat atau bermain “Bleguran” permainan “Meriam Bambu”, ini permainan yang paling seru. Bambu yang diberi lubang kecil sebagai penyulut pada ujung pokok bambu, kemudian bisa diisi karbit atau minyak tanah (karbit lebih dasyat) sedangkan ujung Bambu disumpal dengan kertas basah atau apalah, selanjutnya lubang kecil disulut api, maka suara dentumannya dan lontaran kertas basahnya membuat kami seakan-akan sedang berperang. Seru…..

Dari Google

Dari Google

Seandainya bisa, aku ingin kembali menikmati permainan ini bersama kawan-kawanku lagi. Namun setelah hampir setengan putaran bumi ini aku kehilangan banyak teman kecil. Meski orang tua kami masih tinggal ditempat yang sama, namum kami anak-anaknya telah terpisah oleh jarak dan waktu. Kami hanya bisa bertemu saat hari raya Iedul Fitri, biasanya disitu romansa kami hidup lagi.

Buat kami saat itu bahagia sederhana sekali…

Bagimana dengan anak-anak kami saat ini…?

Apakah permainan mereka sama dengan kami diwaktu kecil…?

Thanks For Everythink…


IMG_20150304_144616

 

       Sedih kalau ingat perjuangan saat ingin bergabung dalam instansi pemerintahan ini. Perjuangan lahir batin dijaman akhir Pemerintahan Orde Baru. Saat itu sedang di gaungkan Indonesia bersih di semua lingkungan Departemen Pemerintahan. Khusus untuk instansi Departemen Keuangan saat itu (Periode 1994-1999) masih dibawah Bapak Menteri Mar’ie Muhammad. Beliau saat itu dikenal sebagai “Mr. Clean” karena beliau juga yang mengeraskan Gaung Indonesia Bersih di Departemen Pemerintahan.

       Lima belas tahun sepuluh bulan, tepat sejak tahun 1998, tahun tahun awal digaungkannya era reformasi oleh para mahasiswa, aku diterima dengan sukses di Departemen Keuangan ini, aku diterima sebagai staff di Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam). Saat itu aku berkantor di Gedung Bursa Efek Jakarta (sekarang Bursa Efek Indonesia) lantai 24. Di gedung nan megah ini hanya kami satu-satunya instansi pemerintahan yang ada. berbaur dengan kaum borjuis Jakarta dengan segala kemewahan dan ke-serba ada-an yang mumpuni. Sedangkan kami adalah para pekerja pemerintahan dengan standar gaji yang mengerikan. Saat itu yang aku dapat adalah rasa bangga bisa masuk dalam lingkungan salah satu Departemen Elite tanpa mengeluarkan uang sepeser-pun, aku hanya mengeluarkan uang untuk membuat surat lamaran dan perlengkapannya, tanpa calo, tanpa sogokkan tanpa tekanan. Asli kemampuan diri sendiri.

       Pertengahan tahun 1997 setelah menganggur hampir dua tahun sejak kelulusanku dengan titel sarjana ekonomi akuntansi, aku coba mengikuti apa yang selalu diminta Ibuku, jadilah Pegawai Negeri Sipil seperti Bapak, katanya. Aku adalah seorang yang keras hati untuk tujuan pribadi. Dulu aku sesumbar bahwa aku harus bisa bekerja di sebuah Bank. Sejak lulus sarjana, puluhan surat lamaran aku sebarkan di sepanjang wilayah bisnis elite Jakarta. Rasuna Said, Gatot Soebroto, MH Thamrin dan Jenderal Sudirman gak mau diluar itu. Namun dari sekian puluh lamaran dan sekian puluh panggilan dan wawancara tak ada satu pun yang menerima aku. Bahkan hingga sampai beberapa kali wawancara akhir di negosiasi gaji aku pun tak lulus. Aku tak minta gaji besar-besar saat itu, aku hanya menawarkan diri ini dengan gaji 1,5 juta sebulan. Putus asa dan frustasi rasanya selama itu. Setiap kali aku gagal raut wajah ibu biasa saja.

       Hingga suatu hari ibu menyuruhku untuk membuat lamaran di Departemen Keuangan berdasarkan informasi dari Oom-ku. Okelah untuk sekedar memuaskan hati ibu aku buat lamaran seadanya dengan tulisan tangan, toh ini memang sudah rencanaku agar aku tak diterima diawal administrasi. Surat sudah aku kirim berbarengan dengan lamaran ke Bank Indonesia, Departemen Luar Negeri, Badan Pemeriksa Keuangan dan beberapa Bank swasta nasional. Bank Indonesia aku gagal diawal, bukan rejeki padahal ini satu-satunya lembaga pemerintahan yang aku minat, oke. Deplu hanya sampai tahap III saat wawancara, aku sengaja bikin ulah lagian kenapa juga tanteku harus bilang ke pewawancara kalau aku ini keponakannya. Aku bilang tak menguasai satupun bahasa asing apalagi saat itu Deplu mewajibkan minimal menguasai dua bahasa asing.  Aku bisa Inggris meski pasive dan ini bukan suatu halangan untuk aku bisa masuk ke Deplu. Tapi caranya itu yang tak aku suka. Aku ingin masuk secara bersih, itu saja. Oke Deplu gagal dan memang aku tak minat. BPK, ini surprise banget bisa wawancara sampai tahap III, pewawancara adalah Dosen akuntansi ku di kampus yang juga dosen penguji skripsi. Okelah saat sidang disertasi skripsi aku adalah satu satunya mahasiswa yang di uji tanpa satu pertanyaan pun. Lucu….memang lucu. Saat itu ketika menunggu giliran sidang ada satu mahasiswa yang tergagap gagap menjawab ujian sidang, aku dipanggil maju kedepan diminta membatu dia menjawab. Aku bantu dia dengan jawaban yang membuat dosen setuju, Sampai tiga kali aku diminta membantunya menjawab dan tiga kali pula dosen setuju dengan jawabanku. Well…saat aku dipanggil sidang sesungguhnya sang dosen cuma bilang…: “sudah kamu pulang sana, tak ada yang saya tanyakan…” Buku skripsi saya di lingkari huruf B olehnya, sambil bilang :…”yang membuat saya tak memberi A ke kamu adalah karena rambut kamu belum dipotong…”  Huannnnjjrriiieeettt…saat itu lagi musim rambut metal, rambutku panjang sepunggung karena aku aktif di Band. Bank swasta tak satupun ada panggilan. Sedangkan Depkeu aku harus berjibaku untuk memilih BPK atau Depkeu saat wawancara akhir di waktu yang berbarengan. Okelah aku pilih Depkeu, karena aku tak mau ada unsur Deplu di BPK.

     Saat ikut ujian pertama di Depkeu kami yang terdiri dari puluhan ribu orang diseluruh Indonesia di uji bersamaan. Aku mendapat tempat test pertama di Istora Senayan. Suasananya mirip saat nonton Metallica. Penuh dan wawut wawutan. Aku ditemani pacar tercinta sejati sejak SMA. Aku sungguh tak berminat dan ingin pulang. Tapi pacarku menangis kesal katanya dia udah ambil cuti sehari dari kerja hanya untuk memberikan semangat dan do’a ke aku. Dan dia mengingatkan pesan Ibu agar aku berjuang sekuat tenaga. Welll…demi mereka aku mengalah. Test pertama aku ikuti sekehendak hatiku aja tanpa beban, dengan harapan jawaban ini salah semua. Selama satu bulan sejak test pertamaku, aku lihat Ibu makin kuat ibadah malam. Pengumuman pertama di koran kompas namaku ada. Test kedua dan seterusnya hingga lulus kami dikonsentarsikan di Kampus STAN. Dan akhirnya aku menyadari bahwa aku yang selalu berusaha  sekuat tenaga tak ingin menjadi PNS akhirnya tak kuasa menolak do’a dan keinginan Ibu yang memohon langsung pada sang pencipta setiap sepertiga malam untuk kebaikan anaknya, Ya Allah maafkanlah ketidaktahuan dan ke-tidak berdayaan-ku ini….

         Oke kehidupan dimulai disini dengan gaji 80% CPNS adalah sebesar Rp. 380.000 setiap bulan, jauh dari harapanku yang ingin gaji sebesar Rp. 1,5 juta. Ngeri ngeri sedap juga sih kalo ingat memorial kala itu. Untungnya  IMF tradisional masih sanggup mensupport dana mengerikan ini setiap bulannya. Bapak selalu memberikan dana tambahan disaat tanggal 10 keatas setiap bulannya sampai aku 100%.

     Edisi Prajab dilalui dengan sepenuh hati dimana kegembiraan, kesedihan, kesusahan, kengerian dan penderitaan menjadi satu disini. Makan daging alot, nasi setengah matang, sayur encer dan logistik apa adanya menjadi santapan selama 2 minggu di kamp militer Condet. Waktu yang dibatasi dengan alasan disiplin membuat kita harus melakukannya secara berbarengan, Makan, tidur, belajar, olahraga bahkan mandipun kami harus berbarengan, lupakan rasa malu atau kamu tak mandi sama sekali. Bayangkan jika tak mandi kala seharian penuh kita bergulat oleh peluh dalam didikan semi militer. Lama -lama mandi bersama ini malah menjadi ajang pamer para lelaki…hahahahahaha, oke siaaaap….!! Prajab adalah salah satu persyaratan bagi CPNS yang akan diangkat menjadi PNS, pendidikan semi militer dimana tempaan fisik dan mental dihajar disini, katanya agar kita kuat menghadapi hidup.

       Pertengahan 1998 aku 100% PNS dengan gaji sebesar Rp. 480.000 setiap bulan aku tak berharap muluk-muluk punya apa. Aku makin hidup bersahaja kalo gak bisa disebut ngirit mapuss…aku harus menabung untuk menikahi pacarku. Aku sudah janji akan menikahinya setelah 2 tahun aku menjadi PNS dan punya tabungan yang cukup. Alhamdulillah semuanya tercapai disini, tak ada yang bisa dipungkiri bahwa semua yang aku lakukan disini adalah semata-mata karena ada turut campurnya Allah hingga aku menjadi seperti sekarang.

       Setelah 15 tahun sepuluh bulan aku mengabdi sepenuh hati dan kemampuan terbaikku, dan ilmu birokrasi yang semakin banyak yang aku dapat serta tali kekeluargaan yang luar biasa terikat erat di Departemen ini (sekarang disebut Kementerian), kini saatnya aku harus mengambil satu keputusan yang berat, keluar dari Kementerian Keuangan atau tepatnya mengundurkan diri sebagai Pegawai Negeri Sipil. Bukan tanpa alasan sebenarnya aku dan kami semua keluar dari Kementerian Keuangan. Karena adanya satu klausula dalam undang undang Bank Indonesia atas pembentukan Otoritas Jasa Keuangan guna melakukan pengawasan terhadap Perbankan dan Pasar Modal, maka Bapepam harus dihilangkan dan berdiri kembali dibawah naungan Otoritas Jasa Keuangan.

     Sempat ada pertentangan dengan keluarga saat itu, ketika diberlakukan opsi mau tetap di Kementerian atau mau ikut OJK. Jika ikut OJK belum ada kepastian mengenai masa depan (ini penting karena aku seorang sebagai penggerak ekonomi keluarga) sedangkan jika tetap di Kementerian tak ada jaminan aku akan tetap di Jakarta, bisa saja aku di mutasikan keluar Jawa. Untuk hal ini aku tak siap dikala usia sudah tak muda lagi dan harus jauh dari anak-anak, maka keputusan bulat aku keluar dari Kementerian Keuangan.

      Selamat berpisah Kementerian tercintaku terimakasih atas segalanya untuk-ku.

IMG_20150306_133628

N.B.:

Aku bersyukur bisa diterima sebagai PNS kala itu tahun 1998 adalah tahun politik panas buat Indonesia. Banyak perusahaan swasta nasional yang ambruk bangkrut dan berguguran, termasuk bank-bank yang sempat aku datangin saat wawancara dulu. PHK tanpa pesangon adalah hal biasa saat itu, demo politik mahasiswa dan politikus bergelora dan ada setiap saat. Situasi keamanan tidak kondusif, dimana puncaknya rejim Soeharto runtuh dan Indonesia berada pada titik chaos tingkat tinggi. Aku baru beberapa bulan bekerja dan dengan jelas jadi penikmat sejarah saja. Entah apa jadinya jika Do’a ibu tak terkabulkan Allah, mungkin saat ini aku bukan sebagai yang sekarang, Alhamdulillah…

 

Fiiuuuhhhh….


     Well….ini bulan kedua sejak tanggal 1 Januari 2015 saya berhenti total merokok. Alhamdulillah mental sudah lebih kuat, tak ada keinginan untuk merokok yang menggebu-gebu seperti saat hari-hari pertama lalu. Sekarang bukan masalah lagi tak ada rokok disaku baju. Tak ada masalah tak merokok setelah makan. Tak masalah ngobrol bersama teman tanpa ditemani rokok. Kopi pun sekarang saya kurangi, bahkan dalam beberapa hari ini saya hanya minum kopi satu cangkir saja. Teh Hijau sebagai penggantinya.

       Permasalahan baru timbul selama bulan kedua berhenti merokok. Dulu selagi masih merokok, jika waktu senggang atau menonton tv (TV kami dan TV anak-anak berada dalam ruang yang terpisah) saya selalu ditemani rokok dan kopi. Sampai berapa jam-pun saya menonton saya akan tetap betah walau hanya ditemani rokok dan kopi. Begitu juga jika sedang santai bersama teman teman tetangga, kami sanggup ngobrol sampai larut malam tanpa diselingi makan asalkan ada rokok dan kopi. Tapi sekarang Sob…timbangan dalam dua bulan naik drastis sampai lebih dari 6 kilogram…!!! sompreeeet…terutama didaerah perut….ya Salllaaaammmm….

       Gimana gak naik drastis…sekarang kalo nonton TV selalu ditemani cemilan, entah itu keripik, kacang, gorengan, coklat, martabak, nasi goreng, roti dan laen laennyalah. Jika sedang di meja kerja pun selalu ada cemilan, apapun bentuknya apapun namanya apapun rasanya asalkan bisa dimakan.

       Beberapa hari kemaren mulai kewalahan ketika memakai celana. Rasanya ada yang perlu diperbaiki, semula saya pikir bahannya ciut atau ristletting-nya somplak…ternyata oh ternyata….ya sudahlah, kemaren sudah pesan ke tukang jahit untuk bikin tiga stel celana baru dengan ukuran nambah lebar di seputaran perut sebanyak 4 Cm….bayangkan 4 Cm Sob…

       Jujur, penampakan perut yang makin membuncit membuatku tidak nyaman. Meski ada yang bilang kalau perut buncit adalah lambang kesuksesan kaum pria dalam kemapanan. Iiiiissshhh….mencari kebenaran dalam menolak kemaluan…hallllahh…

     Sekarang perlu ada niatan baru yang harus lebih kuat dari niatan berhenti merokok kemarin. Yaitu niatan ber-olah raga teratur. Bisa gak yaaahhh….tapi kalau sudah kuat tekad harus nekat, berhenti merokok saja bisa masak olah raga teratur aja gak bisa….demi pemerataan di seputaran perut harus ada yang disiksa…okelah…

GANBATE….!!!