Iklan

Lukisan Terindah


 

“…Yang namanya dipanggil maju kedepan dan bawa hasil lukisan kalian yang minggu lalu jadi PR kalian…” Suara Pak Tarkida terdengar menggema di kelas 2.A3.2.

“huuuuuuuuu….”

Seperti biasa Koor seruan tanda tak suka keluar dari mulut para calon akuntan dan Konsultan Hukum.

Melukis bagi mereka suatu pendzoliman yang tiada tara yang levelnya satu tingkat diatas pelajaran mengarang.

Buat aku kedua mata pelajaran itu adalah nilai tambah di sementara nilai matematikaku tak pernah ada angka hitam.

Sekian nama dipanggil kedepan. Namamu tersebut indah ditelingaku. tapi tidak jika suara itu keluar dari mulut guruku, entah kapan aku harus membungkamnya agar tak tersebut lagi namamu dari mulutnya.

Terlihat girang dan jumawa, sengaja kamu buka lukisanmu yang tertera angka 9,5 dengan catatatan “Good”. Sebegitu saja lukisanmu dapat nilai bagus. Aku pasti nilai maksimal diatasmu.

“Tujuh…!”. aku hanya dapat tujuh setelah seminggu ini blingsatan mencari cat acrilic agar lukisanku memancar indah. Dikalahkan dengan telak oleh lukisan cat air bermerek tak jelas. Pertama kalinya di kelas ini aku didzolimi.

“Bagaimana bisa…???

“pak guru punya pandangan lain kan Her…katamu.

“Pandangan apa…? dia salah lihat saat kasih nilai…guru kita buta tauuu…!

Aku tak menyalahkan guruku saat dia menerakan nilai 9,5 diatas lukisanmu, karena sesungguhnya dia tak melihat lukisanmu, yang dia pandang adalah matamu…kamu memang punya angka lebih untuk semua itu. Lain kali akan kuajari kamu apa itu lukisan terindah…apa itu lukisan yang memancar, bukan sekarang…tapi nanti, setelah kubungkam dia dengan kita.

Dan pada harinya dia terbungkam, matanya sudah semakin buta…saat itu dan selanjutnya lukisanmu bernilai sesuai realita. tetap saja lukisanku tak sebanding denganmu…kamu tetap yang terindah apapun cat yang Dia pakai untuk melukismu.

 

Romansa Putih Abu-Abu 1990

Sangpriabiru

Payung


 

“Kalian pernah gak tiba-tiba harus sepayung berdua saat hujan dengan cewek inceran kalian saat pagi berangkat sekolah ?”

Aku pernah…!

Dan rasanya seperti ada pelangi diatas kepala…

Seperti ada harum melati dan kamboja didepan muka…

Seperti ada kupu-kupu dan burung gagak yang berteriak teriak…

Keliatannya indah, keliatannya macho.

Itu dulu saat aku tergila-gila dengan kamu dan sampai saat ini juga tetap tergila-gila oleh kamu.

Tuhan tidak memberikan aku modal yang cukup dalam bentuk anatomi tubuh…ya anatomi tubuh tapi Alhamdulillah Tuhan memberikan aku modal lain yang sempurna dalam kenekatan dan strategi.

Dengan strategi aku tahu apa yang harus aku lakukan untuk dapat sepayung dengan mu saat itu.

Dengan kenekatan aku tahu apa yang harus aku lakukan agar dapat sepayung denganmu saat itu.

Semuanya menjadi sempurna ketika Tuhan menurunkan hujan pagi-pagi yang oleh sebagian teman-teman menjadi keluhan…

Jadi kamu tahu kan dimana bedanya aku dengan mereka…?

Aku berani nekat berlari menembus hujan saat lihat kamu jalan sendirian, kemudian bilang “hai…” saat ada disisimu…

Trus,  kamu juga bilang “Hai…”.

Trus aku bilang “nebeng yah…” lalu…”iya” jawab kamu…

Jangan cepat cepat jalannya, nanti gue basah nih….kataku

Loh…ini kan payung gue terserah gue dong, elo kan Cuma nebeng,  lagian kalo gak cepat nanti gue telat…katamu.

Iya ini payung elo, tapi kan ada gue juga dibawah payung ini…kan tadi katanya iya…kataku lagi.

Lalu kamu memperlambat langkah kaki kamu…aku senang aku menang

Trus, lenapa lo gak bawa payung sih…kata kamu

Kalo gue bawa payung, gue gak bisa nebeng elo dong, trus elo jadi jalan sendirian kan…?!?

Trus kamu gak ngomong lagi.

Kamu, sepatu speech warna putih, kaos kaki putih berlogo Filla warna merah, tas merah kain bertuliskan Esprite dengan tali selempang sumbu dan kacamata frame warna hitam dan bando kain kotak-kotak warna merah puith hitam diatas rambut.

Aku, sepatu kasogi warna putih, kaos kaki berlogo filla warna biru, tas slempang kanvas warna hijau bergambar siluet lupus.

Tak ada bicara sepanjang jalan tapi kamu terlihat berusaha berbagi payung agar kita tidak basah. Aku terharu

Sudah mau sampai,  mending lo lari gih sana…ntar  elo telat deh…. Kata kamu

Gak pa’pa lebih seru telat bareng-bareng daripada sendiri-sendiri…

Kok gitu…

Iya, gue gak telat tapi gue masuk angin kena hujan, elu telat tapi lo tetap sehat gak kena hujan…kataku

Kan kalo kita telat bareng trus gak masuk angin bareng lebih seru…

Trus kamu gak ngomong lagi.

Udah sampe sana gih duluan ke kelas…gak enak diliatnya …katamu

Gak enak sama siapa…?

Tanggung…lagian biar aja apa urusannya …

Dan, kamu akhirnya jadi  nundukin muka kan  saat melewati rival-rival-ku yang menatap aku dengan bengis didepan kelas mereka…

Dan, kita akhirnya masuk kelas bareng-bareng kan…

Dan, kamu sampai lupa nutup payung padahal sudah di dalam kelas…

Trus, ada suara koor… “Cieeeeeeeee….!’ dan bisikan kasak kusuk temen-temen dari seantero ruang kelas…

Aku Cuma senyum saat kamu bilang ke mereka….”apaan sihh…!”

Oh iya, kamu tahu nggak, pas jam istirahat di atas meja aku ada secarik kertas terlipat bertuliskan :

“Lo Emang Bangsat…!!!”

Gak pake nama gak pake indentitas…

 

 

Romansa Putih Abu-Abu 1990

sangpriabiru