Yang Tak Disangka (1)


     Akhir tahun 2015 adalah sebuah tragedi politik bagi saya yang memang awam bahkan tak pernah tertarik dengan dunia aneh bin ajaib tersebut. Aku adalah orang yang susah mengikuti sebuah organisasi dalam hal apapun. Aku bukanlah orang yang mobile dalam sebuah organisasi. Aku hanya penikmat bukan pelaku. Namun akhir tahun ini aku adalah korban kekejaman politik brutal dilingkungan perumahanku.

     Pemilihan Rukun Tetangga (RT) adalah sebuah peristiwa yang paling aku hindari. Entah kenapa tahun ini aku semakin kenal dan semakin dekat dengan para tetangga yang rumahnya saling berjauhan. Dulu hanya sepanjang gang atau beberapa warga saja yang aku kenal dilingkunganku. Namun setelah ada pos ronda yang dibangun strategis didepan rumah, aku samakin banyak bergaul dengan orang baru. Alhamdulillah, kebanyakan mereka yang berkumpul tiap malam minggu di pos ternyata memiliki kesamaan watak dan gaya pandang dengan saya.

     Semakin “click” setelah beberapa kali kami berkumpul. Hal apapun kami bahas. Politik, agama, keuangan, rumah tangga, dapur, sumur sampai kasur. Dibahas dengan bahasa anak kampus yang nyeleneh. Dan kami menamakan pos ronda kami dengan nama Kampus Biru Pinggir Kali. Dan setiap malam minggu kami selalu mengadakan “kuliah” dengan materi kuliah yang ajaib. Dengan modal kopi dan rokok dan sekedar snack kecil perkuliahan bisa terjadi berjam-jam. Dimulai setelah shalat isya dan berakhir sampai mulut kami udah gak bisa gerak alias mencorrr (istilah apalagi ini…?).

     Mungkin dari sinilah para teman-teman warga bisa saling membaca sifat kami satu sama lain. Dan saya telah merasa nyaman dengan beberapa teman warga disini. Alhamdulillah pertemanan saya semakin banyak.

     Sebetulnya tak penting juga apa yang dibahas di kampus ini, namun ada sesuatu yang lebih baik yang pada akhirnya kita bisa bina disini, yaitu tali silaturahmi. Juka seandainya pembahasan yang dibahas membawa makna dan arti yang berguna, itu adalah bonus dari silaturahmi itu sendiri. Yang pasti dari sinilah awal tragedi politik yang saya alami terjadi.

     Entahlah….

Kembali


Yeeeyyyyy….

Setelah hampir 4 bulan saya off dari tulis menulis, saya coba awal tahun ini ber-imaji lagi dengan tulisan. Entah penting atau tidak, entah baik atau tidak, entah bagus atau tidak, bukan masalah. Yang terpenting adalah saya mencoba membangkitkan mood lagi setelah beberapa bulan vakum dari dunia blog.

Gak banyak pengharapan dari awal dibuatnya blog ini, tapi setidaknya saya punya keinginan untuk bisa sekedar menulis apa adanya lagi, se-enak-enaknya, se-mampu-mampunya…udah cuma gitu sih.

Oke salam kembali buat saya…

 

Hanya Teman


 Tiba-tiba saja dia bilang :”…Kita kan sudah lama jadi sahabat sejati, gimana sih loe..?!?”

        “…WTF, kalau kamu merasa kita adalah sahabat sejati, lalu dimana saja kamu berada disaat aku membutuhkan dan memiliki moment untuk kebersamaan kita…??

          Terlalu kasar dan terlalu ego memang kalimat yang saya buat diatas, namun kenyataan kadang tak pernah sesuai dengan harapan yang kita ingin. Persahabatan sejati bagiku sudah tutup buku.

       Sejak beberapa kali kejadian yang menyesakkan dan tak mengenakkan hati aku bersikeras tak pernah butuh dan tak boleh lagi ada sahabat sejati dalam kehidupanku. Saat ini aku hanya berusaha mencari sahabat yang sesuai watak dan gayaku. Alhamdulillah meskipun tak satupun jadi sahabat sejati, tapi pertemanan tanpa komitmen ini jauuuuuhh lebih baik dari sebelumnya. Kami bisa saling berbagi tanpa ada kompromi harus bagaimana setelahnya. Kami bisa saling menghormati dan menghargai sesuai dengan batas-batas yang normal, tanpa di-ikat oleh satu kepentingan yang membunuh kepentingan diri sendiri. Pertemanan yang seperti ini bagiku lebih baik dari sahabat sejati yang absurd, persahabatan sejati penuh komitmen yang membunuh kepentingan pribadi, persahabatan sejati yang penuh kompromi.

       Satu komitmen telah aku lalui, maka komitmen lain menunggu untuk ditepati. Baiklah, untukku satu komitmen yang telah aku lalui itu adalah ketika aku berkomitmen menikahi kekasih hatiku, sahabatku juga belahan jiwaku sejak Sekolah Menengah Atas setelah aku dua tahun bekerja. Alhamdulillah komitmen itu aku lalui dengan sukses. Maka komitmen selanjutnya adalah aku akan menjadi suami, menjadi ayah, menjadi sahabat yang baik hanya untuk anak dan istriku. Karena kebersamaanku dengan mereka adalah kebersamaan yang sejati sesungguhnya. Disinilah seharusnya komitmen dan kepentingan tidak saling bunuh. Komitmen sejati hanyalah pada keluarga bukan pada sahabat. Komitmen untuk keluarga tak akan membunuh kepentingan pribadi, karena disini tak kenal kompromi.

       Mungkin aku adalah orang yang unik. Aku tak mudah untuk cepat bergaul dengan orang asing. Aku butuh adaptasi lebih lama untuk mendalami seorang calon teman. Namun aku akan sangat akrab jika sudah bisa menerimanya sebagai teman layaknya saudara. Aku bisa sangat peduli mengenai apapun kepada teman akrab. Sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya pernah jatuh juga. Se-selektif-selektif-nya aku mencari teman, pada akhirnya tak sesuai harapan juga.

     Pada akhirnya memang kenyataan jua tak pernah sesuai dengan harapan yang diinginkan. Oke… sekarang aku hanya butuh teman sebanyak-banyaknya, 1 orang teman lebih sulit dicari daripada mencari 1000 musuh. Faktanya adalah, ketika semua yang katanya adalah sahabat sejati menyakitiku, aku hanya menemukan satu orang yang membuatku merasa layak disayangi , yaitu istri dan anakku.

Berteman jangan terlalu akrab, karena dia bisa menjadi pedang yang lebih tajam dari dirimu…  (terserah siih..)

dari Google

dari Google

 

Hoccus Foccus…


         Akibat kurang fokus dan tak teliti membaca disposisi jadi gini akibatnya :

     Sejak pagi saya sudah disibukkan dengan aktivitas rapat mingguan dan bertemu tamu guna membahas permasalahan yang harus diselesaikan. Tepat jam 12.10 WIB semua aktivitas saya selesai dengan sukses. Lelah dan konsentrasi mulai butuh recharge ulang. Disaat keluar ruang rapat, saya lihat sang Boss alias atasan saya  keluar dari ruang Dirut dengan tergopoh-gopoh dan memanggil sambil menyodorkan surat undangan untuk dihadiri segera pada pukul 13.30 WIB siang ini. Syuuuuttthh…jantung ini rasanya jatuh di kubangan gletser…dingin dan gak bisa ngomong apa-apa. Lelah ini kadang membuat saya merasa sedih…

     Okelah saya lihat jam sudah pukul 12.25 WIB, saya belum makan siang dan shalat dzuhur, setidaknya saya butuh 1 (satu) jam buat itu semua dan istirahat sejenak dengan segelas kopi. Namun rasanya hal itu tak bisa dipenuhi semua.

    Setelah makan ala kucing garong dan selesai shalat saya langsung mohon izin dengan kedua Boss besar untuk segera ke Bank Indonesia (BI) menghadiri rapat dimaksud.

       Siiip,  duduk nyaman di bluebird dan tinggal perintah ke lokasi yang diminta layaknya raja saya mulai baca ulang lagi, apa agenda rapat dan pembahasan yang akan dibahas di BI nanti. Ding Dong….Mata tua ini memandang tak yakin pada tanggal undangan yang tertera di surat undangan. Oke, hari ini adalah selasa tanggal 3 Maret 2015 dan saya baca berulang-ulang undangan itu untuk hari selasa tanggal 10 Maret 2015, artinya undangan ini berlaku untuk minggu depan alias bukan hari ini….Kamvvreeeetth….jadi buat apa gue ada di taksi mahal ini sekarang.

     Baiklah, …pak supir tolong antarkan saya kembali ke kantor saya pak, otak saya teringgal di meja kerja tadi…!!

     Oke sepanjang perjalanan balik saya berfikir untuk balas dendam saya Boss besar yang sompret sontoloyo itu telah yang memberikan disposisi “gendandapan” kepada saya tanpa basa basi dan tanpa uang transportasi juga….karena saya harus bayar taksi mahal ini hanya untuk sekedar jalan-jalan muterin lapangan banteng gak jelas gini….mending juga ngopi di starbuk…mahal ada nikmatnya. Siiip 50 Ribu melayang sia-sia buat 10 menit jalan-jalan naik taksi mahal.

       Tapi masih bersyukur saya belum sampai tempat tujuan, seandainya saya kesana pun mungkin bukan cuma otak yang ketinggalan tapi rasa malu yang tak terperikan…saya akan ternistakan di Bank Indonesia senista nistanya…bisa-bisa saya akan dianggap lebih rajin dari iblis yang selalu menggoda manusia setiap detiknya, bayangkan saya sudah datang rapat seminggu sebelumnya…mau nyari kavling apa…?!?

    Oke Plan A lapor Atasan Langsung :

(PB) : “Bu,…saya terpaksa kembali ke kantor…!

(Boss) : “…Loh kenapa Pak, bukannya tadi sudah ijin mau ke BI, jadi siapa yang pergi kesana buat wakil kita…??”

(PB) : “…Tak ada Bu…!”

Perbincangan lima menit dengan alasan yang sudah saya siapkan dan saya perhitungankan akibatnya pada akhirnya berhasil. Sang Boss terlihat memerah wajahnya karena saya bantah terus dan saya bersikeras untuk tetap di kantor. Sampai sang Boss akhirnya bicara perlahan : “…ada apa dengan pak Hery, kok tak seperti biasanya begini…?” oke saya langsung jawab : “…Bu, saya sebisa mungkin akan datang tepat waktu sesuai jadwal undangan, tapi saat ini saya tak bisa tepat waktu dan saya tak mau…karena memang undangannya bukan buat hari ini Bu…tapi buat minggu depan…!”

(Boss) : “…Jadi…??? …..sempet lama terdiam (Blank akut) ya sudahlah” Perbincangan kembali melunak dan akhirnya jadi tertawa terpingkal-pingkal setelah saya jelaskan. Beres plan A sukses mallliiiihhh…

       Sekarang Plan B, lapor kepada sang pendisposisi :

Perbincangannya sama sih gak berubah, hanya saya dramatisir lebih mendalam seakan-akan saya menolak tugas Boss Besar. Perbincangan makin panas dan mimik Pak Boss sudah berubah drastis.

(Pak Boss) : “…kamu punya masalah apa sama saya sampai-sampai kamu menolak hadir sesuai disposisi saya…?!?”

(PB) : “…Masalahnya undangan ini bukan buat hari ini Pak, tapi buat minggu depan…!!”

(Pak Boss) : “…Jadi…???”

(PB) : “…ya gitu deh…”  pak Boss sempet lemot sebentar kemudian tertawa terbahak-bahak…

Oke…oke Pak Boss minta maaf karena tak teliti baca disposisi undangan buat saya dan akan mengganti biaya terbuang sia-sia tersebut, gak perlu sih karena akhirnya malah diajak makan bareng sepulang kerja…siaplah kalo diajak kuliner malam-malam…Jakarta Memang yahuuud.

 Fokus memang perlu tapi teliti juga lebih perlu.

Yang terpenting saya bisa lihat tabiat para Boss yang baiiiiiik hati ini saat marah, Plan A dan Plan B saksesss…

Don’t try this at office

Ketika Waktu Kami Mesti Berlalu (1)


       Oke, aku coba kembali mengingat-ingat romansa waktu kecil. Aku hanya ingin membandingkan saat masa kecil aku dengan saat masa kecil anak-anakku. Terlalu melankolis mungkin, tapi biar bagaimanapun kita masing-masing harus punya sejarah sendiri, disini sejarah aku dan anakku.

      Aku lahir di Jakarta tahun 1972. Masa-masa diawal pembagunan negara ini menuju repelita pertama setelah pergantian presiden Soekarno ke Presiden Soeharto sejak 1968-1073. Aku tinggal di daerah keras selatan Jakarta, Manggarai, tepat dibelakang stasiun dan bengkel kereta api Manggarai (dulu disebut Magessen). Setelah usai sekolah taman kanak-kanak di Menteng, tepatnya Jl. Tegal no. 10, jakarta, tahun 1978 kami sekeluarga hijrah ke daerah yang lebih baik, Depok II Tengah, Jawa Barat. Bapak melihat kehidupan sosial didaerah kelahiranku mulai tidak baik buat tumbuh kembangku. Terlebih lagi Bapak begitu senangnya ketika mendapatkan jatah rumah bagi PNS saat program Perumanahan Nasional yang dicanangkan Pemerintahan Soharto kala itu. Depok adalah percontohan kedua setelah Bekasi. Aku pernah menuliskan tentang perjalananku pertama kalinya ke Depok bersama Bapak (“Depok 1978”).

       Oke, setelah kami hijrah ke Depok suasana sangat berbeda dan sama sekali baru. Aku tinggal di Jalan Pajaga I. Sepanjang gang itu berderet rumah yang rapi dengan model yang sama. Jika hari siang panasnya cukup terik, namun ketika menjelang pukul 16.00 sore hawa dingin Jawa Barat mulai terasa, terlebih saat pagi hari. Disini aku belum punya teman seusiaku, aku masih bermain dengan adikku yang berbeda usia dua tahun dariku. Permainanku berasal dari alam. Kadang menangkap belalang atau jangkrik. Kadang memetik buah atau mencabut singkong di rumah tetangga yang belum berpenghuni. Atau kadang menangkap ikan-ikan kecil dan ketam di sungai jernih dekat mata air bersama Bapak kala air dari PDAM tak menyala. Sederhana memang, tapi buat kami kebahagiaan seperti itu sudah luar biasa.

     Menjelang bulan kedua ditempat baru, mulailah tetangga baru kami berdatangan. Bapak menyalami tetangga baru dan saling berkenalan. kadang dalam satu hari ada dua sampai tiga tetangga baru kami berdatangan. Ada beberapa keluarga baru yang kebetulan memiliki anak seusiaku. Bagi kami, seusia itu adalah usia mudahnya kami bersosialisasi secara instan dengan kawan baru. Hanya dengan bermodalkan jangkrik dalam plastik kami sudah cepat berbaur dan saling berkenalan, bahkan dalam hitungan menit kami sudah bermain bersama.

     Permainan jaman kami sangat sederhana, namun disitulah semua fungsi sayaraf motorik halus dan motorik kasar kami bertumbuh dan bekerja secara maksimal. Daya imajinasi kami liar membuncah menciptakan karya atau permainan baru bersama. Permainan favorit adalah “Petak Umpet”, karena bisa dimainkan hanya oleh dua atau tiga orang saja. Lalu kemudian “Petak Benteng” yang bisa dimainkan oleh minimal empat orang, selanjutnya “Galah Asin” atau “Gobak Sodor” atau kami lebih mudah menyebutnya “Galasin” yang biasanya dimaninkan oleh dua kelompok team terdiri dari empat orang atau lebih. Namun dibalik semua permainan favorit kami ada permainan yang favorit diantara yang favorit, yaitu bermain bola dikala hujan.

Dari Google

Dari Google

     Namun resiko yang dihadapi sangat besar. Kami tidak takut petir atau suara halilintar yang menggelegar, yang kami takutkan adalah Ibu yang menunggu di depan pintu dengan sapu ditangan. Kalau Ibu sudah murka maka bisa-bisa tak dapat makan malam atau tak dapat uang jajan, belum lagi paha kami yang merah terkena pukulan sapu. Biasanya kami berfikir lebih cerdik demi menghindari murka Ibu. Jika kami bermain bola dikala hujan, maka biasanya kami bermain telanjang tubuh atau hanya dengan menggunakan cawat. Pakaian kami simpan dalam tas plastik lalu letakkan di tempat aman, setelah hujan berhenti kami bisa mandi dikali untuk berbasuh dari kotoran dan lumpur ditubuh setelah bersih pakaian kami yang masih kering akan menyelamatkan kami dari murka Ibu. Paling-paling Ibu cuma bertanya dari mana, biasanya kami akan jawab kami berteduh di mushala, beres. Bermain bola sambil hujan-hujanan dan berenang disungai kami dapat, murka Ibu lewat.

Dari Google       Dari Google

Dari Google

       Permainan adakalanya disesuaikan juga dengan kondisi dan situasinya. Pada saat bulan ramadhan permainan olah pisik yang mainstream biasanya kami tinggalkan sejenak, kecuali dimainkan pada sore menjelang berbuka atau setelah shalat tarawih. Entahlah permainan nyang satu ini disebut apa, tapi dulu kami menyebutnya permainan sarung terbang. Gampang dan menyenangkan, kedua ujung sarung diselipkan atau diikat pada celana dan dua ujungnya lagi kita pegang erat, kemudian kita berlari dengan cepat agar angin yang terjebak di dalam sarung membuat sarung mengembang. Biasanya menjelang berbuka puasa di depan Mushala kami bermain seperti ini sambil menunggu berbuka bersama dan shalat mahgrib berjamaah di mushala. Indah…

images (1)

Dari Google

       Sedangkan setelah shalat tarawih, kami biasanya menuju ke tanah lapang untuk melihat atau bermain “Bleguran” permainan “Meriam Bambu”, ini permainan yang paling seru. Bambu yang diberi lubang kecil sebagai penyulut pada ujung pokok bambu, kemudian bisa diisi karbit atau minyak tanah (karbit lebih dasyat) sedangkan ujung Bambu disumpal dengan kertas basah atau apalah, selanjutnya lubang kecil disulut api, maka suara dentumannya dan lontaran kertas basahnya membuat kami seakan-akan sedang berperang. Seru…..

Dari Google

Dari Google

Seandainya bisa, aku ingin kembali menikmati permainan ini bersama kawan-kawanku lagi. Namun setelah hampir setengan putaran bumi ini aku kehilangan banyak teman kecil. Meski orang tua kami masih tinggal ditempat yang sama, namum kami anak-anaknya telah terpisah oleh jarak dan waktu. Kami hanya bisa bertemu saat hari raya Iedul Fitri, biasanya disitu romansa kami hidup lagi.

Buat kami saat itu bahagia sederhana sekali…

Bagimana dengan anak-anak kami saat ini…?

Apakah permainan mereka sama dengan kami diwaktu kecil…?