Fiiuuuhhhh….


     Well….ini bulan kedua sejak tanggal 1 Januari 2015 saya berhenti total merokok. Alhamdulillah mental sudah lebih kuat, tak ada keinginan untuk merokok yang menggebu-gebu seperti saat hari-hari pertama lalu. Sekarang bukan masalah lagi tak ada rokok disaku baju. Tak ada masalah tak merokok setelah makan. Tak masalah ngobrol bersama teman tanpa ditemani rokok. Kopi pun sekarang saya kurangi, bahkan dalam beberapa hari ini saya hanya minum kopi satu cangkir saja. Teh Hijau sebagai penggantinya.

       Permasalahan baru timbul selama bulan kedua berhenti merokok. Dulu selagi masih merokok, jika waktu senggang atau menonton tv (TV kami dan TV anak-anak berada dalam ruang yang terpisah) saya selalu ditemani rokok dan kopi. Sampai berapa jam-pun saya menonton saya akan tetap betah walau hanya ditemani rokok dan kopi. Begitu juga jika sedang santai bersama teman teman tetangga, kami sanggup ngobrol sampai larut malam tanpa diselingi makan asalkan ada rokok dan kopi. Tapi sekarang Sob…timbangan dalam dua bulan naik drastis sampai lebih dari 6 kilogram…!!! sompreeeet…terutama didaerah perut….ya Salllaaaammmm….

       Gimana gak naik drastis…sekarang kalo nonton TV selalu ditemani cemilan, entah itu keripik, kacang, gorengan, coklat, martabak, nasi goreng, roti dan laen laennyalah. Jika sedang di meja kerja pun selalu ada cemilan, apapun bentuknya apapun namanya apapun rasanya asalkan bisa dimakan.

       Beberapa hari kemaren mulai kewalahan ketika memakai celana. Rasanya ada yang perlu diperbaiki, semula saya pikir bahannya ciut atau ristletting-nya somplak…ternyata oh ternyata….ya sudahlah, kemaren sudah pesan ke tukang jahit untuk bikin tiga stel celana baru dengan ukuran nambah lebar di seputaran perut sebanyak 4 Cm….bayangkan 4 Cm Sob…

       Jujur, penampakan perut yang makin membuncit membuatku tidak nyaman. Meski ada yang bilang kalau perut buncit adalah lambang kesuksesan kaum pria dalam kemapanan. Iiiiissshhh….mencari kebenaran dalam menolak kemaluan…hallllahh…

     Sekarang perlu ada niatan baru yang harus lebih kuat dari niatan berhenti merokok kemarin. Yaitu niatan ber-olah raga teratur. Bisa gak yaaahhh….tapi kalau sudah kuat tekad harus nekat, berhenti merokok saja bisa masak olah raga teratur aja gak bisa….demi pemerataan di seputaran perut harus ada yang disiksa…okelah…

GANBATE….!!!

Akhirnya Ke Bali Juga…


     Akhirnya bisa ke Bali.

      Yeeeeiiii…Alhamdulillah akhir tahun lalu ,masih dikasih kesempatan oleh kantor untuk mengikuti sosialisasi tentang Back Door Listing di Pasar Modal Indonesia di Bali, ya di Bali. Sebenarnya seperti mimpi juga bisa di ikut sertakan dalam team sosialisasi pengenalan Pasar Modal Indonesia kepada beberapa tamu yang berasal dari 7 negara. Semula di kantor hanya membantu teman teman yang membutuhkan data mengenai beberapa Emiten di Indonesia yang melakukan Back Door Listing serta melakukan Dual Listing dibeberapa negara. Pekerjaan yang sangat mudah tentunya, toh kami telah melakukan pengawasan dan pemantauan terhadap Emiten dimaksud. Sooo…jiika suatu saat ada yang mebutuhkan data terkait Emiten dimaksud, maka dengan hitungan menit kami sudah bisa menyiapkannya. Dan ternyata pekerjaan yang mudah dan tak disangka sangka ini menjadikan saya dan beberapa teman diikutkan dalam team sosialisasi ke Bali ini. Sosialisasi ini adalah kerjasama indonesia dengan negara-negara yang tergabung dalam OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) merupakan sebuah organisasi internasional dengan tiga puluh negara yang menerima prinsip demokrasi perwakilan dan ekonomi pasar bebas. Atau kalo mau mengetahui lebih jauh apa dan siapa OECD itu bisa cari di Mbah Google yahhh…hehe

Bali 1

        Oke, tugas ini sejatinya dilaksanakan selama 3 hari. Hari pertama dan kedua adalah presentasi tentang Back Door Listing di Pasar Modal kepada para tamu kemudian diteruskan dengan presentasi oleh para tamu dari negara tetangga tentang Back Door Listing di Pasar Modal dari negara masing-masing. (Jepang, Swiss, Jerman, Australia, India, Denmark dan Korea) pembicara dan moderator berasal dari Indonesia, Amerika dan Belanda. Sedangkan Jepang sebagai pihak pendukung acara ini secara dia adalah negara maju di Asia yang telah menjadi anggota OECD.  Sosialisai ini dilakukan menjelang dilaksanakannya MEA. Okelah, sosialisasi yang sepenuhnya dalam bahasa Inggris, buat saya hanya bisa diikuti dalam beberapa jam saja. Lewat jam makan siang fokus bahasa tetangga sudah tak terekam lagi. Terutama pembicara dari Jepang dan Korea, bahasa Inggrisnya “agak” susah didengarkan. Jujur, orang Indonesia masih lebih jago dalam berbahasa inggris bahkan logatny pun tak kalah dengan nature-ya.

      Mending gak usah ngomongin kerjaan ya, saya cuma pengen pamer cerita aja sih intinya haha….

     Hari ke-3 adalah hari yang sudah bebas dari tugas. Setelah pemberkasan selesai sejak pagi-pagi tadi, maka waktu yang tersisa sekitar 8 jam lagi sebelum kepulangan ke Jakarta kami manfaatkan untuk sekedar berkeliling Nusadua, terutama wilayah pantai. Kami bangun pukul 4.30 WIT lalu menuju pantai Nusa Dua meenunggu sunrise. Tak terlalu mengecewakan, pagi yang dingin kami nikmati dengan kemunculan matahari detik demi detik.

Bali 5

     Kami menyewa mobil beserta sopirnya merangkap sebagai Guide. Dia yang mengantarkan kami dengan sangat efektif waktu. Pertama kami diajak berbelanja pagi pagi karena menurut dia saat pagi toko souvenir belum penuh pengunjung. Betul juga sih, kami yang kebetulan semua lelaki hanya butuh satu jam untuk berbelanja oleh-oleh yang dibutuhkan. Permintaan orang rumah adalah makanan pie susu khas Bali, baju barong rajut tangan (agak susuah ini) dan kain batik Bali serta beberapa pernak pernik kerajinan tangan. Semua permintaan itu sudah kami dapatkan hanya dalam hitungan beberapa menit. Sedangkan sisa waktu yang tersisa kami gunakan untuk menyempatkan diri mencoba kopi Bali dulu dikedai samping toko sambil ber-istirahat. Praktis kami kaum lelaki hanya butuh satu jam  buat belanja dan ngopi Bali. Bayangkan jika pasangan anda ikut….padahal toko ini besar sekali.

Disini nih...

Disini nih…

     Selesai belanja dan ngopi, kami diajak menuju Uluwatu, pantai tebing. Oke saya tak tahan dengan ketinggian tebingnya karena saya pemilik phobia ketinggian…saya menyerah tak bisa menikamati pantai dari atas tebing…siiiiplah…jadinya saya setelah di foto sekali saja, saya sisanya hanya berdiri manis dibawah pohon bareng monyet bali yang suka jahat mencuri topi atau kacamata wisatawan.

Ini dah mau muntah ini ngeliat ke bawah...

Ini dah mau muntah ini ngeliat ke bawah…

     Perjalanan berlanjut ke pantai Padang-Padang. Ini akses pantai yang enggak sembarang orang bisa masuk dengan bebas katanya sopir, tapi berhubung sang sopir sudah sangat sakti buat urusan seperti ini, maka akses jalan ini menjadi mudah buat kami. Menurut dia akses pantai yang memang dilokasi yang sangat tertutup ini adalah lokasi para wisatawan bule yang ingin berjemur sinar matahari dengan pakaian yang sangat minim. Ini yang sejak semula membuat kami penasaran setengah mati. Okelah jalan menuju pantai harus melewati celah sempit diantara dua tebing. Hanya cukup untuk jalan satu orang. Lalu masuk menembus batu yang berlubang (ini unik juga ini) untuk selanjutnya menuruni anak tangga menuju pantai. Fiuuuuhhhhh ….matahari sudah ada di tengah tengah kepala saat itu. Udara yang panas dilengkapi dengan pemandangan pantai yang juga panas. Para Bule dengan santainya berjemur sambil bercanda dengan pakaian yang aaaahhhhh  sudahlah…..oke dibeberapa tempat masih ada yang pakai bikini, tapi ditempat ini bukan bikin yang dipakai…tapi G-string…siiiplah bertambah sudah dosa ini karenanya….

     Gak betah lama disini, kami sendiri yang jadi risih karena kami kepantai ini dengan pakaian super lengkap ala wisatawan sopan, terlebih sang ustadz juga ikut bersama kami ya sudah…wasallamlah…(maaf saya sudah sortir beberapa foto yang sekiranya pantas ditampilkan, namun saya tak menemukan satu pun foto yang pantas untuk ditampilkan…sebaiknya pembaca kesana saja untuk membuktikannya).

       Perjalan harus terhenti, kami harus ada di Bandara Ngurah Rai sebelum jam 18.00 WIT untuk penerbangan pukul 19.00 WIT, Dari hotel kami di Nusa Dua menuju bandara, kami masih sempat melihat gejala sunset sang matahari dari mobil. Sayang sekali kami tak bisa menikmati sunset sejak datang sampai pulang. namun tak apalah, insya Allah kami diberi kesempatan lagi kesini.

Tak sempat selesai...

Tak sempat selesai…

Teman Perjalanan...

Teman Perjalanan…

Lemari Gantung (Bagian-4)


 

     Baiklah, sekarang saya ulas sedikit tentang lemari tempel.

     Setelah lemasi sepatu dan meja tv selesai dibuat dengan sukses, ternyata masih menyisakan bahan material yang lumayan cukup untuk membuat lemari tempel. Semula lemari ini hanya untuk  tempat perkakas mandi kendaraan saja, seperti sikat, kain lap, sabun dan sebagainya. Namun setelah dihitung-hitung ternyata sisa material masih cukup untuk dibuatkan lemari sebagai penyimpan helm. Bahkan dibawahnya dibuatkan juga untuk mengantung jaket hujan dan payung. Great…!

     Saya tak sempat lihat sang tukang menghitung dan menggambarkan skema lemari dimaksud, karena saat saua beranglkat kerja pagi hari belum sempat bertemu dan sepulang kerja ternyata lemari gantung sudah jadi dan tergantung dengan manisnya di samping mesin pengatur udara. Alhamdulillah…

     Saya sempat menggambil gambarnya pada malam hari sepulang kerja, jadi mungkin gambarnya agak buram, maklum ponsel pintar ini model lama yang hanya punya megapixel kecil, jadi mohon maklum aja yah….

Begini penampakannya.

LG

LG1

LG2

LG3

Bagaimana menurut teman-teman ?

Masih ada beberapa rencana kami untuk membuat lemari buku, meja kerja dan meja belajar anak sederhana, semoga masih ada waktu bertemu dengan tukang ini.

Terimakasih.

Sepenting Apa Dirimu…?!


 

     Well….ini tentang sebuah “kebiasaan” dari sifat seseorang yang selalu ingin atau terbiasa dilayani laksana raja yang terkadang tak sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.

     Jam makan siang sudah datang. Saya sengaja keluar ruangan untuk mencari makan siang bersama berombolan teman-teman  betawi Koplaks. Hari ini kebetulan tidak hujan, beberapa hari belakangan ini kami minta bantuan jasa dari para Cleanning service/Office Boy untuk membelikan kami makan siang. Bukan karena malas atau ingin dilayani seperti raja, sehari-hari kami selalu makan bersama-sama, namun karena beberapa hari kebelakang Jakarta selalu di guyur hujan, kami jadi malas untuk keluar ruangan. Jadi tak salah rasanya beberapa hari lalu kami minta bantuan CS/OB untuk membelikan makan siang kami, lagipula mereka senang juga bisa dapat tips dari jasa yang telah diberikan.

      Kedai sate kambing dan soto tangkar langganan kami terlihat penuh hari ini. Namun masih ada sisa kursi yang kebetulan pas dengan jumlah kami, oke tak apalah meski agak didalam yang penting bisa makan disini. Pesanan sudah kami layangkan. Seperti biasa 40 tusuk sate kambing bumbu kacang dan lima porsi sop kambing tulang muda. Kami harus menunggu giliran dua grup pelanggan lagi yang harus dilayani. Fine…sambil menunggu kami bercengkrama dan bercanda ala Betawi.

     Grup pertama adalah segerombolan 4 orang wanita berpenampilan Borjouis. Banyak permintaan yang dilayangkan sesuai dengan keinginan dan selera masing-masing orang. Padahal seperti biasanya ditempat seperti ini dalam kondisi seperti ini (makan siang) amat susah melayangkan pesanan sesuai keinginan pribadi. Bagi para pelanggan yang terbiasa makan disini selalu melayangkan pesanan tanpa permintaan khusus. Jika ingin soto ya bilangnya minta soto, jika minta sate kambing bumbu kecap atau kacang ya pesannya sate kambing dengan bumbu dimaksud. Tak ada pelanggan disini yang pesan sate kambing dengan permintaan khusus seperti misalnya dagingnya harus yang muda semua, atau tanpa gajih, atau dagingnya harus daging daerah paha, atau sebagainya atau yang lainnya. Yang ada adalah pesanan instan cukup bilang : “… sate kambing bumbu kacang 20 tusuk nasi putih satu…” sudah cukup begitu saja, maka pesanan akan sampai dengan selamat dan nyaman.

     Gerombolan ini sejak pesan pertama sudah minta macam-macam. Sotonya jangan pakai bawang, jangan pakai jeruk nipis, jangan pakai sambel, jangan pakai garam, jangan ada tulang, jangan pakai emping, jangan pakai kecap, jangan pakai babat, jangan pakai wortel, jangan pakai apaaallllaaaaahhhh….masing-masing personal pesan dengan layanan pesan khusus dan membabi buta, tanpa mempedulikan apakah pelayan kedai itu sanggup mengingat permintaan mereka, terlebih siang itu pelanggan sangat banyak. Belum lagi pesanan satenya harus begini harus begitu. Minumannya juga, jangan begini jangan begitu. Remmmmpppooooonnnggg….

      Betul juga, saat pesanan yang mereka pesan tak sesuai dengan permintaan mereka, mereka ribut dan menyalahkan pelayan kedai, sampai-sampai minta disajikan kembali sesuai permintaan mereka. Hadoooooohhhhh….haloooowww ini jam makan siang sudah mau selesai ini…tapi kami belum dapat pesanan kami. pelayan agak bingung harus bagaimana, secara pesanan yang lain juga masih menumpuk. Gerombolan itu bersikeras di sesuaikan dengan pesanannya. Wuaaaannndddjrrriiittt….lalu kapan pesanan kami dan pelanggan yang lain akan selesai…??

       Emosi panas siang hari ditambah perut lapar dan bosan menunggu, sontak saya teriak ke pelayan kedai :

“…..Mas !!, pesanan ibu-ibu yang salah pesan itu semua bawa kesini,… biar kami yang makan…kelamaan nih…!!!” 

       Teman lain menimpali :

“…Iya Mas, mending layani dulu pelanggan yang udah jadi langganan disini lebih dulu, nanti kalo semua sudah selesai baru pesanan ibu-ibu ini menyusul belakangan biar gak salah lagi…”

      Demi mendengar banyak pelanggan lain yang komplain, gerombolan itu terdiam. Lalu sambil ngedumel ada aja yang berseloroh :

“…Enak aja di minta duluan, kita sudah lama pesen kok…”

“…Enak aja manggil kita ibu-ibu…emangnya gak liat apa…”

“…Kalo ngomong yang sopan kenapa, kita kan juga pelanggan yang harus dilayani…”

“…yaudah sini Mas, lain kali dengerin pesenan kita dong…”

     Akhirrul kata, gerombolan itu mau juga memakan makanan yang menurut mereka salah pesan dan tak sesuai keinginan mereka. Pelayan kedai jadi lega dan bisa melayani pelanggan yang lain lebih cepat. Sambil cekikikan kami lihat mereka makan dengan lahap dan seakan-akan tak ada masalah dengan makanan yang menurut mereka salah pesan, bahkan soto, sop dan sate nya pun tak tersisa begitu juga dengan minumannya. Dan mereka keluar kedai juga dengan rasa lega kok…aneh ya sebenarnya….apa yang mereka nikmati dari rasa “ingin dilayani” padahal tanpa ada rasa itu pun mereka bisa menikmati makanan dengan baik…Apakah ini sebagai sebuah keinginan yang lain dimana mereka ingin dianggap “penting” oleh orang lain….ataukah seperti orang kebanyakan bilang kalau orang yang seperti itu adalah orang yang ingin menutupi kelemahannya dengan melemahkan orang lain…entahlah yang pasti 40 tusuk sate kambing bumbu kacang dan 5 mangkuk sop kambing tulang muda sudah didepan mata menunggu untuk dibantai….seraaang…!!!

“…Mas…!! bawangnya mana…?”

“…Mas…!! sambelnya mana…?’

“….Mas…!! Minumnya mana….?”

“….Mas…ngutang dulu ya Mas…”

Meja TV (Bagian-3)


     Alhamdulillah…meja TV pagi tadi sudah selesai.

     Sepulang kantor diteras telah ada sebuah meja tv yang lumayan bagus. Ternyata meja itu selesai pagi tadi menjelang siang. Variasi balutan warna coklat tua dan lapisan putih dibuat senada dengan corak pada lemari sepatu sebelumnya. Sebenarnya saya ingin dengan corak warna coklat yang lebih muda, namun karena kursi tamu didalam rumah yang warnanya juga coklat tua maka meja tv ini pada akhirnya dibuat senada.

mtv2

meja tv

mtv

     Bandingkan hasil buatan sendiri dengan biaya seharga 480k tanpa merek, dengan meja TV ber merek seharga 1299k dari toko furniture terakreditasi B. Mana yang lebih baik dari fungsi dan penampilannya ??

meja TV Informa

     Selanjutnya masih ada kabar bagus. Setelah lemari sepatu dan meja tv selesai dibuat, ternyata masih terdapat sisa bahan material yang bisa digunakan untuk membuat satu kabinet tempel mungil untuk tempat helm dan jaket hujan serta perlengkapan mandi kendaraan.

     Saya tak tahu seperti apa bentukkannya nanti, yang pasti istriku bilang nanti kabinet mungil itu akan ditempelkan disamping AC agar mudah dijangkau dan tidak memakan banyak tempat di bawah. Welll….aku iyakan saja, toh aku tak akan  bisa lihat hasilnya, setidaknya nanti sampai aku pulang kerja.

      Okelah, kabinet tempel mungil itu akan saya tampilkan pada tulisan berikutnya.