Menunggu Yang Tak Pasti


   

  Minggu kemarin adalah hari terakhir liburan sekolah. Hari ini, Senin, Juli 1989 adalah hari pertama kembali masuk sekolah. Aku kelas II SMA sekarang. Hari pertama seperti biasa belum ada aktivitas ajar mengajar yang signifikan. Kami hanya mencari informasi dimana kelas kami sekarang, siapa teman baru kami sekarang, siapa wali kelas kami sekarang dan lalu berusaha mencari posisi kursi yang strategis. Aku tak terlalu suka duduk didepan meskipun tak jadi masalah buatku, aku biasanya memilih di baris ketiga atau kedua. Kursi paling belakang adalah posisi yang paling aku benci sejak Sekolah Taman Kanak-Kanak. Pesan Ibu adalah “jika ingin pintar, duduklah di kursi paling depan”  dan itu tergiang terus saat mencari posisi kursi diruang kelas. Tapi kepintaran bukan dari posisi kursi, namun dari kapasitas otak masing-masing individu. Meskipun selalu duduk dibaris terdepan dan selalu belajar mati-matian, aku tak pernah sekalipun masuk 10 besar, bahkan untuk mencapai 15 besar aku butuh perjuangan setengah mati. Nilaiku selalu jeblok di matematika dan fisika. Nilai 6 diraport adalah perjuangan penuh darah dan nanah. Tapi untuk pelajaran yang berbasis hapalan aku bisa dibilang mumpuni. PMP, BIOLOGI, GEOGRAFI, PSPB, AKUNTANSI, BAHASA INGGRIS dan AGAMA nilaiku alhamdulillah cemerlang, tapi matematika dan fisika cukup 6 saja tak pakai koma, itupun aku pikir adalah nilai belas kasihan guru karena aku yakin sebetulnya aku tak mampu mencapai angka 6. Kendala traumatimatis.

     Di papan mading tertera penempatan kelasku di kelas II ini. Aku masuk kelas IISOS2, artinya aku kelas dua dan di jurusan sosial urutan dua. Ada 4 urutan untuk kelas sosial, 3 Kelas Fisika, 3 kelas biologi dan 1 kelas bahasa. Aku berharap di kelas sosial ini ada peningkatan mutu nilai dan berharap teman-temanku yang sakti mandraguna tak ada dikelas ini. Oke, baguslah harapan sesuai kenyataan. Tiga sahabat terbaik di kelas satu dulu juga masuk kelas ini. Empat raja kembali bertahta tak terpisahkan. Kami adalah pasukan cowok lugu, cowok pemalu, cowok kuper, cowok lurus, cowok penakut dan segala sesuatu yang sifatnya negatif ada di kami. Kami sebetulnya sekumpulan cowok lucu, namun entah kenapa cuma kami sendiri yang bisa menilai bahwa kami itu lucu. Suatu saat akan ada cerita tentang kami.

     Ada nama nama asing yang aku baca di mading. Kebanyakan aku hanya tahu nama samaran mereka, nama alias yang kadang diberikan berdasarkan bentuk pisik, lokasi tinggal, perbuatan bodoh atau bahkan nama orang tua. Seperti  I Ketut yang dipanggil rompal karena bentuk gigi yang tak beraturan, Heri yang dipanggil Ewunk karena tinggal dibantaran kali Ciliwung, Sunaidi yang dipanggil pacul karena saat ospek dulu mau-mau-nya disuruh bawa pacul, atau Johny yang dipanggil Rahmat karena dia satu satunya orang keturunan Cina yang nama bapaknya memiliki nama pribumi. Dan aku sendiri di panggil Babeh, entah kenapa aku dipanggil Babeh, katanya sih karena aku mirip Rano Karno, bahkan saking miripnya, Rano Karno kalah mirip sama aku. Yah begitulah.

    Dan ada satu yang mengejutkan kami ber-empat adalah bunga sekolah kelas bidadari kelas para dayang yang jadi incaran para senior dan kaum cowok, ternyata  juga termasuk dalam kelas kami. Kami cuma saling pandang dan berbicara lewat telepati, kemudian tertawa terbahak-bahak. Entah tertawa senang, mencemooh atau tertawa heran. Yang aku tahu bidadari ini dulu pernah sesumbar kalau dia tak masuk kelas fisika lebih baik pindah sekolah, kelas selain fisika adalah kelas para recehan, namun nyatanya sekarang ada dikelas kami. Termakan karma, ingin menyamar atau mencari kesempatan seperti aku agar mendapat peningkatan nilai mutu ? entahlah yang pasti salah seorang teman sangat berbinar binar matanya penuh nafsu birahi. Itu bukan sesuatu yang aku harapkan, aku masih berharap seseorang yang aku kenal tanpa sengaja, seseorang yang sempat membuat semangat hidup bersekolah kembali membuncah, seseorang yang bisa membuat aku senyam senyum sendiri, seseorang yang saat di mushala membuat otak mesumku berkibar tak tentu arah, seseorang yang memiliki betis indah putih merona juga ada dalam kelasku. Kelas para raja.

     Hari ini seseorang itu tak ada dalam pencarian mata liarku. Parahnya aku juga tak tahu siapa nama seseorang itu. Jadi sia-sia rasanya mencari seseorang itu berdasarkan nama-nama yang tertera di mading. Bodoh. Siang makin meninggi, lapar kian meradangi perut kami, mie ayam Bram dipojok kantin jadi sasaran tempat kami melampiaskan kebutuhan biologis. Sambil menatapi para teman yang terlihat antusias atas kelas barunya atau bahkan ada yang kecewa dengan penempatannya, aku bahkan tak merasakan sensasi yang mereka rasakan. Biasa saja karena sensasi yang aku harapkan belum terjadi dan aku tak tahu apakah akan terjadi. Aku hanya menunggu seseorang itu, tak perlu pula harus sekelas, yang aku butuh hari ini adalah bisa menatapnya dihari pertama sekolah di kelas II. Semoga. 

 

Based on “Buku Harian Binal” catatan jaman SMA Juli 1989

 

 

 

 

 

 

Thanks Mates…!


     Tak terasa sudah hampir 2 tahun sejak saya di promosikan ditempat baru dimana pada awalnya saya dihadapkan dengan situasi dan kondisi kerja yang berbeda, namun karena saya memiliki partner kerja yang bisa saling mengerti antara hak dan kewajiban, tugas dan tanggungjawab serta kebebasan dan kepatuhan, maka situasi dan kondisi yang semula saya anggap sebagai sebuah tantangan berat berubah menjadi sebuah kinerja yang luar biasa hasilnya.

     Saya memiliki dua staff wanita, keduanya memiliki nilai positif yang berbeda satu sama lain. Mereka sangat bisa saya andalkan dalam membantu saya membuat keputusan. Mereka keduanya lulusan strata satu akuntansi dari Universitas terkemuka di tanah air, Universitas Indonesia. Mereka berdua juga sempat menikmati suka duka di Kantor Akuntan Publik terkemuka sebelum bergabung bersama di kantor ini, PwC dan Deloitte. Dua nama yang cukup memberikan value lebih dalam ilmu ke-Akuntansi-an. Aku juga seorang akuntan, tapi akuntan abal-abal, ilmuku tak se-sakti mereka, jadi kayaknya gak penting juga kalo aku bahas gelarku disini.

     Selama kebersamaan kami, aku tak pernah memberikan tekanan dalam bekerja, karena aku yakin mereka sudah paham apa yang harus mereka kerjakan, karena memang dikeseharian kami tak pernah lepas dari yang namanya Laporan Keuangan. Aku memberikan mereka kebebasan dalam berkarya namun tetap berpegang pada peraturan yang telah ditetapkan. Aku mempercayai mereka sangat, maka apresiasi yang mereka berikan adalah menyelesaikan tugas tugas yang telah diberikan sesuai dengan tenggat waktu. Kolaborasi yang aneh menurut mata teman temanku. Dimana bagi mereka posisi seperti aku adalah posisi yang memiliki kewenangan penuh atas anak buah. Tapi itu tidak bagiku. Bagiku, ketika teammates-ku bisa bekerja dengan nyaman tanpa tekanan maka hasil dan apresiasi yang mereka berikan akan luar bisa hasilnya. Dari hal-hal kecil seperti memberi perintah kerja atau hal-hal besar dalam membuat  keputusan hasil kerja, saya sebisa mungkin melakukannya dengan pendekatan yang sederhana. Intinya kita tetap santai dan nyaman dalam bekerja namun hasil yang dibuat bisa kita pertanggungjawabkan.

     Tapi semuanya akan berubah mulai minggu depan. Saya dipindahkan ke Divisi lain yang posisinya saat ini kosong dengan bidang industri kerja yang berbeda namun dengan pola yang 100% sama. Dan sayangnya, saya harus di-pisah-kan dengan teammates yang selama ini sudah sangat cocok dalam bekerja. Bagi saya ini sebuah “pisahan” yang sangat traumatis. Tak mudah membuat sebuah kecocokan dalam team kerja yang seperti ini. Bagi saya ini sangat berat, entahlah buat mereka. Ditempat yang baru saya juga akan mendapatkan dua teammates wanita. Saya harus memulainya dari awal untuk membentuk kembali cara kerja yang sesuai dengan watak saya dan watak mereka. Membangun kembali kepercayaan terhadap team baru, menciptakan suasana kerja yang bersahabat, saling mengisi kekurangan dan memberi kelebihan satu sama lain pastilah butuh waktu dan tenaga. Tak apalah biar waktu nanti yang akan menjawabnya.

     Buat Shinta dan Riri, terimakasih atas kerjasama kita selama ini, terima kasih atas kepercayaan yang kalian berikan kepada saya atas langkah langkah yang saya ambil buat team, terimakasih atas kenyamanan dan pemenuhan atas hak dan kewajiban diantara kita, terima kasih atas segalanya, semoga dibawah kepemimpinan yang baru nanti kalian bisa lebih baik lagi berkarya dan berbakti. Dan mohon maaf atas segala kesalahan kesalahan yang pernah saya buat saat bekerja dalam team, mohon maaf juga jika saya tak bisa memberikan yang terbaik buat kalian. Mohon support dan doa kalian buat aku yahh…agar aku bisa selalu bekerja dengan gaya yang seperti ini.

N.B.:

“Tahun depan kalian berdua di promosikan untuk beasiswa Strata 2 di Australia, gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya ya, selamat…!  

Aku tak bisa bantu dalam bentuk materiil, tapi dukungan dan doa-ku buat kalian berdua Mates…!!

shirin

Hadiah Ulang Tahun Papa


Alhamdulillah…

       Setelah berkutat selama seminggu penuh dengan buku-buku pelajaran sejak awal semester hingga akhir semester, anak dara satu-satunya memberikan sebuah kejutan besar. Yeeeeiyyyy…akhirnya Kayla masuk ranking II setelah dikelas satu tahun lalu ada di ranking III. Alhamdulillah sekali lagi….dia bilang ini hadiah ulang tahun buat Papa…haaahhhh buat aku…? sungguh sebuah kejutan tak ternilai, penerimaan raport tak jauh berseling dengan tanggal kelahiranku, baiklah tak apa-apa…hadiah ini sudah cukup membuat bangga…terimakasih Kay.

     Perjuangan menuju angka II tak lepas dari perhatian istri yang kewarasannya diatas rata-rata. Sebetulnya buat aku pribadi, masa-masa ujian semester atau kenaikan kelas anak-anakku adalah masa masa tidak nyaman lahir batin. Istri yang kelewat batas dalam pelajaran sekolah anak-anak, akan semakin ekstreem dikala masa ujian. Tak ada televisi, tak ada sepeda, tak ada gadget, tak ada games dan tak ada jalan-jalan…kalo yang terkhir aku setuju sekali. Sehabis maghrib sampai dengan jam 10 malam adalah masa masa dikawah candradimuka sebelum masuk kemedan pertempuran esok harinya.

     Aku yang tak pernah ambil peranan dalam masa masa ini lebih banyak tak ikut campur dalam urusan teori teori tetek bengek mata pelajaran anak anak, masa masa ini adalah masa masa kekuasaan istri mengajari anaknya dengan gaya dia. Aku punya gaya yang berbeda dalam mengajari suatu pelajaran, aku tak bisa terikat oleh teori, aku lebih suka berjalan di praktek langsung atau belajar lewat cerita yang rasional. Kalo orang bilang “banyak jalan menuju Roma”….gaya beda hasil sama.

       Tak apalah, yang pasti dengan gaya manapun jika intinya untuk kemajuan dan kesuksesan kita bisa menggunakannya.

Terima kasih Kayla

Lolie Menghilang…!!


     Sejak Sabtu siang kemaren kami satu rumah di sibuk-kan dengan hilangnya Lolie sang Hamster betina kami yang manis. Kayla yang terutama sangat kehilangan. Sabtu pagi kami sudah berangkat kerumah sakit mata Aini, Kuningan, Jakarta Selatan guna menjenguk Ibu saya yang selesai menjalani operasi katarak di mata sebelah kiri. Sejak pagi kami sudah mempersiapkan apa saja yang harusnya kami lakukan sebelum meninggalkan rumah selama seharian penuh, karena sepulang dari rumah sakit kami juga berencana tak langsung pulang kerumah. Kandang sudah kami bersihkan dan ganti alasnya. Makan dan minum pun sudah kami sediakan, tak lupa sekerat mentimun dan potongan kecil apel sebagai nutrisi hariannya. Mereka sangat menyukai mentimun dan apel, terutama yang dingin.

     Sabtu malam sekitar jam 20.30 WIB kami sudah sampai dirumah lagi. Karena sudah tidak fokus karena ngantuk dan lelah seharian diluar rumah, saya tak begitu mempedulikan hamster lagi. Saya hanya memberinya dua potong biskuit kecil sebagai tambahan kalsium dan karbo lengkap. Lagipula saya pikir mereka berdua sudah pasti sedang tertidur, karena arena bermain (roda putar) tempat mereka membakar lemak tak bekerja.

     Minggu pagi baru kami di hebohkan dengan hilangnya salah satu hamster tersayang kami, hamster paling lucu, hamster paling pintar, hamster paling demplon, Lolie. Saya tersadar ketika melihat Lilo diam tersandar tak bergairah disudut kandang. Roda putar pun tak bergerak. Biskuit yang saya berikan semalampun masih utuh tidak habis seperti biasanya. Saya lihat kedalam ternyata Lolie tak ada…!!. Celaka saya sudah pasrah, dia pasti kabur keluar rumah ketika saya lengah tak menutup pintu kandang dengan rapat semalam dan membiarkan pintu rumah terbuka sejak subuh tadi. Kayla hanya terdiam tak bicara. Terlebih pagi ini kami harus segera berangkat ke Bumi Perkemahan Cibubur untuk mengikuti ujian kenaikan tingkat Kayla yang ikut Taekwondo. Kami makin panik setelah mencari selama setengah jam tapi Lolie tak ketemu. Waktu sudah kritis.

     Ya sudahlah, dengan hati tak tenang dan rasa bersalah pada Kayla kami tetap melanjutkan perjalanan ke Cibubur. Efeknya terasa, Kayla seperti tak bersemangat di ujian kenaikan tingkat. Selalu minta pulang lebih cepat untuk mencari lolie dirumah. Jam 12.30 WIB kami meluncur pulang. Sesampai dirumah semua sudut kami periksa hingga ke kolong almari dan tempat tidur. Hasilnya NIHILLLL….!, Lolie tak ketemu.

     Baiklah, karena frustasi, sedih dan marah, Kayla tertidur juga, tak lupa dia berdo’a minta sama Tuhan agar Lolie dipulangkan  kerumah dan tidak dimakan kucing. Kasihan juga menatap dan mendengar lirih do’a nya. Hingga larut malam, ketika semua sudah tertidur, hanya tinggal saya yang menonton televisi. Karena heningnya malam, pendengaran saya sedikit lebih peka. Saya mendengar suara gemeresek dari salah satu kamar. Saya perhatikan lebih teliti dan suara itu makin jelas. Karena penasaran saya cek setiap sudut kamar, dan pendengaran saya tertuju pada meja belajar Kayla. Tepat di Bawah komputer saya lihat ada penampakan yang sangat saya kenal. Lolie…!!, dia terjebak diantara sudut meja belajar dan CPU komputer rupanya. Aiiiiihhhh….sudah lebih seharian hewan ini bikin heboh dan perang urat syaraf diantara kami. Langsung saya ambil, dan sepertinya dia mengerti, suara cieeet..cieeet mirip tikus terdengar, mirip seperti suaranya ketika dipegang Kayla…Alhamdulillah, hewan ini masih hidup dan tidak dimakan kucing. Jam menunjukkan pukul 00. 43. WIB ketika Lolie ditemukan. Hanya istri yang aku beri tahu malam itu. Hhhhhhh….lega hati kami, karena Kayla tak mau diberikan pengganti.

     Setelah dimasukkan ke kandangpun, Lilo teman sejak kecilnya terlihat mulai bergairah dan menunjukkan sikap yang positif dan lebih agresif, tidak seperti tadi pagi. Syukurlah mereka bisa sekandang lagi, yang pasti besok pagi Kayla akan lebih bersemangat untuk pergi kesekolah. Terima kasih Tuhan, Engkau telah kabulkan permintaan Kayla atas hewan kesangannya yang dia beli sendiri dari tabungan uang jajannya. Alhamdulillah.

Saat Rasa Itu Datang


     Semester kedua ditahun pertama sekolah di SMA ini tentunya tak akan ada yang istimewa seandainya aku tak memaksakan diri ikut acara pertandingan antar kelas atau yang saat itu dikenal dengan nama Class Meeting diakhir minggu setelah selama sepekan penuh kami menghadapi ujian semester. Sekolahku adalah sebuah sekolah negeri dibilangan Cibubur, Jakarta Timur. Awal tahun 1989 masih dihiasi dengan curahan sisa-sisa hujan sejak November tahun lalu. Jika kawan sekelasku pagi ini tak datang menjemput, aku lebih baik beristirahat saja dirumah, terlebih hanya untuk datang menonton pertandinmgan sepakbola antar kelas. Aku tak suka bola. Pertandingan bulutangkis yang rencananya akan aku ikuti dihapuskan dengan olah raga volley Ball. Angin yang terlalu keras dan permainan outdoor yang tak cocok di musim ini menjadi alasan kenapa bidang olah raga yang aku kuasai harus dihapuskan dari daftar yang dipertandingkan dalam acara class meeting ini.

     Langkah ini terasa berat. Aku malas untuk bicara. Aku lebih menikmati diam selama perjalanan. Kekecewaanku setelah ngotot di forum OSIS agar bulutangkis disertakan dalam class meeting ternyata harus kandas juga karena faktor alam. Terlebih semua yang dipertandingkan tak ada yang bisa menggantikan minatku untuk ikut dalam ajang lomba ini. Aku hanya bisa bulutangkis. Ini juga yang menjadikan alasan aku malas untuk datang dan tak bersemangat meski harus dijemput pula oleh seorang kawan baik sekalipun. Kawanku adalah ketua OSIS yang tinggalnya satu komplek dengan rumahku.

     Selama hinggar binggar dilapangan pertandingan, aku hanya berdiam diri di ruang kelas. KLA Project jadi hiburan satu satunya yang bisa aku nikmati lewat Walkman 2 bands hadiah saweran teman satu kelas. Dari lantai dua ruang kelas aku hanya bisa menatapi lapangan bulutangkis yang kosong melompong. Hanya ada tumpukan tas dan logistik pertandingan tertumpuk disisi pinggir. Dilapangan sepak bola riuh hiruk pikuk peserta dan supporter tak bisa menggodaku untuk sekedar melirik kesana. Lapangan Volley Ball yang selalu dipenuhi siswi siswi cantik dan genit tak juga membuatku tertarik walau hanya sekedar tuk mencuci mata yang penat ini. hanya saja di beberapa sudut luar ruang kelas, seperti biasa, anak-anak senior (anak kelas tiga) terlihat menebar jala pesona kepada anak-anak junior (kelas satu atau kelas dua) untuk sekedar berbual bual mencari perhatian. Tak dapat dipungkiri, acara seperti ini adalah ajang mencari jodoh bagi anak senior, mungkin secara masa pendidikan, jatah mereka disekolah ini sudah tak lama lagi. Aku belum tertarik untuk urusan yang seperti itu, lagipula aku masih junior kelas satu pulak. Syukur Alhamdulillah, sejak pertama kali aku menjejakkan kaki disini tak ada yang menggangguku. Rata rata anak senior disini adalah kakak kelas yang tinggalnya satu komplek denganku, bahkan kedua mantan OSIS terdahulu dan yang sekarang adalah tetangga samping kiri kanan rumah. Setidaknya karena itu pula aku mendapat penjagaan nonformil, secara aku tiap hari datang dan pulang bersama mereka.

     Jam sudah menunjukkan pukul 16.20 WIB. Aku masih ada diruang OSIS menunggu kawan aku yang sedang memberesi perlengkapan hari ini dan untuk dipakai esok hari. Tak ada yang bisa dilakukan selain duduk santai mendengarkan lagu lagu dan berbincang dengan beberapa guru diruangan itu. Bahkan makanan yang berlimpahpun tak mengoyahkan hasratku untuk menjamahnya. Hingga suatu saat mata ini tertuju pada seseorang wanita yang menuruni tangga. Aku tak kenal dia, tapi mata ini tak melepaskan begitu saja, seperti ada yang menarik dari dirinya. Entahlah, dirinya yang lewat sepintas itu dalam sekejap bisa membuncahkan perhatianku. Namun dalam sekejap pula menghilang dari ke-terkesima-an-ku.

     Kami bersiap untuk pulang setelah selesai shalat ashar. Sambil menunggu kawan mengambil motor ditempat parkir, kusandarkan tubuh dipilar teras mushala. Sejuk cuaca dan semilir angin sore lumayan menentramkan jiwa ini. Entah mengapa sekelabat bayang bayang yang aku kenal saat kulihat menuruni tangga tadi lewat dihadapanku. Aku terkesima, ketika dalam jarak hanya tiga meter dia ada dihadapanku melepaskan sepatunya, melepas kaos kakinya dan berlari dengan polosnya menuju tempat wudhu. Jelas aku dapat memandangi wajahnya. Rambut lurus, tebal, pendek sepundak, mengenakan bando, berkacamata dan dengan tas selempang berwarna merah bertuliskan “ESPRITE” warna hijau. Cantik rupa wajahnya, putih merah merona…….imajinasiku mulai bermain main tak senonoh. Jiwa ke-lelakian-ku seakan akan baru membuncah menuju kondisi yang sesungguhnya, setelah sekian masa waktu bumi terkekang dalam ikatan tabu yang absurd. Bidadari ini sungguh turun dari langit, turun ditempat yang suci, menembusi relung hati yang yang selama ini tertutup tabu tradisi. Astaghfirullah…ini mushala tempat dimana diharamkannya pandangan zina dan sebagainya….maafkan aku Tuhan…!!!

       Sepanjang perjalanan pulang, diamku kali ini berbeda dengan diamku saat datang tadi. Banyak imajinasi yang berkecamuk di hati dan otak ini. Janjiku pada kawan untuk tak datang besok hari kesekolah rasanya adalah sebuah maklumat yang bodoh yang keluar dari emosi jiwa yang labil atas ke-tidak-berdayaan yang absurd. Aku ingin melanggar janji itu…ingin sekali dan pasti akan kulanggar. aku ingin melihat sekali lagi raut wajah putih merah merona yang berlari polos dihadapanku tadi. Aku ingin melihat sekali lagi rambut hitam lurus tebalnya yang diselipkan bando dirambutnya. Aku juga ingin melihat sekali lagi isi dari balik kaos kakinya yang aahhhh….sudahlah….!!!. Aku tak sadar ketika senyum senyum sendiri ini sudah terlihat gila di mata sang kawan. Entah bagaimana cara dia memperhatikan aku yang ada dibelakangnya.

     Aku tak sabar menunggu pagi, aku ingin  matahari terbit lebih cepat malam ini. Aku ingin menyambut hidup baruku disemester kedua sebagai junior yang penuh ambisi. Aku ingin ada yang bisa membuat aku bersemangat menyapa pagi. Aku ingin ada yang bisa aku isi untuk memenuhi hati ini dengan sesuatu yang baru, sesuatu yang bukan keputus asaan, kegamangan, kesedihan atau bahkan hanya sekedar kesenangan semu…aku ingin ada juga cinta yang bisa mengisi dan memenuhi hatiku disisa waktuku. Mungkin baru kusadari, inikah yang dinamakan “suka pada pandangan pertama”  …masih banyak yang harus kucari untuk menjawabnya, yang pasti akan kudapatkan sesuatu yang lain dari hidupku sejak ini. Selamat datang rasa baru …selamat datang cinta.

N.B. : Disarikan dari catatan catatan semprul buku diary yang masih tersimpan rapi dilemari, sekedar mengingat kembali perjalanan cinta yang hingga saat ini tak lekang oleh waktu…amiiin.

Jakarta, 27 Januari 1989 – SMAN 99 Jakarta