Bakat (masih) Terpendam Kayla


     Beberapa hari lalu saya dan istri sibuk merapikan meja belajar Kay yang berantakan, terlebih hari Senin adalah hari pertama dia ujian tri semester (UTS). Masih kelas III Sekolah Dasar memang. Tapi kalau kami lihat intensitas ajar mengajar periode ini berbeda jauh dengan masa ajar mengajar dijaman kami kecil dulu. Jumlah buku paket yang dipelajari jauh lebih banyak dan beragam. Belum lagi ekstrakulikuler yang melelahkan. Jaman ini sepertinya setiap anak didik dipersiapkan sematang mungkin menghadapi perkembangan jaman yang tak bisa dielakkan.

       Jaman kami dulu, ketika menginjak kelas III Sekolah Dasar kami masih dalam tahap bermain dan belajar, namun sudah mulai belajar untuk diberi tanggung jawab sederhana, membuat pekerjaan rumah atau yang lebih dikenal dengan PR. Itupun bukan sesuatu yang rumit dan tak perlu keahlian khusus di bidang teknologi. Tapi sekarang, PR yang diberikan selalu berbasis pada hasil karya teknologi, apalagi kalau bukan perangkat komputer dan internet. Jaman kami dulu, PR paling susah adalah membuat prosa atau karangan bila mata pelajarannya adalah Bahasa Indonesia, atau membuat prakarya sederhana seperti membuat layang-layang atau kotak pensil dari kardus bekas jika mata pelajarannya adalah seni dan prakarya. Jaman sekarang jauh berbeda, anak kami sejak masuk sekolah taman kanak-kanak sudah mengenal yang namanya PR. Dan ketika manginjak kelas I Sekolah Dasar harus sudah bisa baca tulis dan berhitung. PR yang dibuat biasanya harus dicari melalui internet dan mau tak mau kami harus punya perangkat komputer di rumah. Bukan Main.

       Mengenai hiburan, jaman kami juga beda dengan jaman anak sekarang. Dahulu, kami  kadang menciptakan permainan sendiri yang mudah dimainkan dan bisa dimainkan secara bersama sama. Anak kami sejak mengenal permainan adalah melalui perangkat elektronik. Yang namanya permainan galahasin, petak benteng, enggrang dan 7 Pahlawan tak pernah tahu. Tapi hapal game-game terbaik versi online dan offline. Buku cerita kami saat dulu adal H.C. Andersen, Lima sekawan, Bobo dan jika sudah punya Tintin, Godam atau Marvel itu sudah kelas super. Jaman anak saya semuanya di jejali manga Jepang dan Korea. Dragonball, Yaiba, Conan, Naruto dan sebagainya. Film kami hanya si Huma dan Si Unyil. Anak kami ada Gundam, Ultraman, dan banyak lagi yang tidak saya kenal. Kami masih merasakan berimajinasi melalui kaset Sanggar cerita nya Hana Pertiwi Dkk. Anak kami tak perlu berimajinasi, karena animasi Jepang luar biasa menyuguhkan secara langsung dan mematikan imajinasi mereka.

       Mengenai imajinasi, ketika kami dulu membaca lima sekawan dan mendengarkan cerita dongeng Sanggar Cerita  Hana Pertiwi di kaset, kami harus berimajinasi dengan cerita tanpa gambar tersebut sesuai dengan ceritanya, meski lebih banyak menduga-duga dalam alur imajinasi absurd kami, tapi imajinasi kami terlatih menjadi baik. Anak saya…Hhmmmm wassalam. Mereka agak lambat membayangkan sebuah kejadian tanpa visual yang jelas, karena selama ini mereka tak pernah berimajinasi secara verbal. Kasihan.

     Tapi, kemarin kami menemukan sesuatu yang mengejutkan dalam lemari belajar Kayla. Kami menemukan sebuah komik strip buatan tangan mungil anak kami. Komik strip yang dia buat berdasarkan imajinasi sepulang sekolah bersama temannya. Imajinasi yang digambarkan dalam visual sederhana namun sempat menghentakkan dada kami. Aaaahhh…ternyata anak yang satu ini berbeda. Dilain waktu kami mencoba memeriksa lagi lemari belajarnya, kami menemukan satu buku tulis yang penuh dengan komik strip buatan tangannya. Dan itu adalah gambaran kesehariannya dirumah atau disekolah. Dia bilang bahwa ini adalah kejadian tadi yang digambarkan lewat gambar. Entahlah, aku mau bilang apa…tapi yang pasti imajinasi Kayla adalah sebuah bakat yang terpendam.

Komik Strip

Oiyaa…kemarin dia minta dibuatkan Blog mirip papa, katanya mau bikin novel…ya Ampuuuunnn…baiklah nak…

Menunggu Yang Tak Pasti


   

  Minggu kemarin adalah hari terakhir liburan sekolah. Hari ini, Senin, Juli 1989 adalah hari pertama kembali masuk sekolah. Aku kelas II SMA sekarang. Hari pertama seperti biasa belum ada aktivitas ajar mengajar yang signifikan. Kami hanya mencari informasi dimana kelas kami sekarang, siapa teman baru kami sekarang, siapa wali kelas kami sekarang dan lalu berusaha mencari posisi kursi yang strategis. Aku tak terlalu suka duduk didepan meskipun tak jadi masalah buatku, aku biasanya memilih di baris ketiga atau kedua. Kursi paling belakang adalah posisi yang paling aku benci sejak Sekolah Taman Kanak-Kanak. Pesan Ibu adalah “jika ingin pintar, duduklah di kursi paling depan”  dan itu tergiang terus saat mencari posisi kursi diruang kelas. Tapi kepintaran bukan dari posisi kursi, namun dari kapasitas otak masing-masing individu. Meskipun selalu duduk dibaris terdepan dan selalu belajar mati-matian, aku tak pernah sekalipun masuk 10 besar, bahkan untuk mencapai 15 besar aku butuh perjuangan setengah mati. Nilaiku selalu jeblok di matematika dan fisika. Nilai 6 diraport adalah perjuangan penuh darah dan nanah. Tapi untuk pelajaran yang berbasis hapalan aku bisa dibilang mumpuni. PMP, BIOLOGI, GEOGRAFI, PSPB, AKUNTANSI, BAHASA INGGRIS dan AGAMA nilaiku alhamdulillah cemerlang, tapi matematika dan fisika cukup 6 saja tak pakai koma, itupun aku pikir adalah nilai belas kasihan guru karena aku yakin sebetulnya aku tak mampu mencapai angka 6. Kendala traumatimatis.

     Di papan mading tertera penempatan kelasku di kelas II ini. Aku masuk kelas IISOS2, artinya aku kelas dua dan di jurusan sosial urutan dua. Ada 4 urutan untuk kelas sosial, 3 Kelas Fisika, 3 kelas biologi dan 1 kelas bahasa. Aku berharap di kelas sosial ini ada peningkatan mutu nilai dan berharap teman-temanku yang sakti mandraguna tak ada dikelas ini. Oke, baguslah harapan sesuai kenyataan. Tiga sahabat terbaik di kelas satu dulu juga masuk kelas ini. Empat raja kembali bertahta tak terpisahkan. Kami adalah pasukan cowok lugu, cowok pemalu, cowok kuper, cowok lurus, cowok penakut dan segala sesuatu yang sifatnya negatif ada di kami. Kami sebetulnya sekumpulan cowok lucu, namun entah kenapa cuma kami sendiri yang bisa menilai bahwa kami itu lucu. Suatu saat akan ada cerita tentang kami.

     Ada nama nama asing yang aku baca di mading. Kebanyakan aku hanya tahu nama samaran mereka, nama alias yang kadang diberikan berdasarkan bentuk pisik, lokasi tinggal, perbuatan bodoh atau bahkan nama orang tua. Seperti  I Ketut yang dipanggil rompal karena bentuk gigi yang tak beraturan, Heri yang dipanggil Ewunk karena tinggal dibantaran kali Ciliwung, Sunaidi yang dipanggil pacul karena saat ospek dulu mau-mau-nya disuruh bawa pacul, atau Johny yang dipanggil Rahmat karena dia satu satunya orang keturunan Cina yang nama bapaknya memiliki nama pribumi. Dan aku sendiri di panggil Babeh, entah kenapa aku dipanggil Babeh, katanya sih karena aku mirip Rano Karno, bahkan saking miripnya, Rano Karno kalah mirip sama aku. Yah begitulah.

    Dan ada satu yang mengejutkan kami ber-empat adalah bunga sekolah kelas bidadari kelas para dayang yang jadi incaran para senior dan kaum cowok, ternyata  juga termasuk dalam kelas kami. Kami cuma saling pandang dan berbicara lewat telepati, kemudian tertawa terbahak-bahak. Entah tertawa senang, mencemooh atau tertawa heran. Yang aku tahu bidadari ini dulu pernah sesumbar kalau dia tak masuk kelas fisika lebih baik pindah sekolah, kelas selain fisika adalah kelas para recehan, namun nyatanya sekarang ada dikelas kami. Termakan karma, ingin menyamar atau mencari kesempatan seperti aku agar mendapat peningkatan nilai mutu ? entahlah yang pasti salah seorang teman sangat berbinar binar matanya penuh nafsu birahi. Itu bukan sesuatu yang aku harapkan, aku masih berharap seseorang yang aku kenal tanpa sengaja, seseorang yang sempat membuat semangat hidup bersekolah kembali membuncah, seseorang yang bisa membuat aku senyam senyum sendiri, seseorang yang saat di mushala membuat otak mesumku berkibar tak tentu arah, seseorang yang memiliki betis indah putih merona juga ada dalam kelasku. Kelas para raja.

     Hari ini seseorang itu tak ada dalam pencarian mata liarku. Parahnya aku juga tak tahu siapa nama seseorang itu. Jadi sia-sia rasanya mencari seseorang itu berdasarkan nama-nama yang tertera di mading. Bodoh. Siang makin meninggi, lapar kian meradangi perut kami, mie ayam Bram dipojok kantin jadi sasaran tempat kami melampiaskan kebutuhan biologis. Sambil menatapi para teman yang terlihat antusias atas kelas barunya atau bahkan ada yang kecewa dengan penempatannya, aku bahkan tak merasakan sensasi yang mereka rasakan. Biasa saja karena sensasi yang aku harapkan belum terjadi dan aku tak tahu apakah akan terjadi. Aku hanya menunggu seseorang itu, tak perlu pula harus sekelas, yang aku butuh hari ini adalah bisa menatapnya dihari pertama sekolah di kelas II. Semoga. 

 

Based on “Buku Harian Binal” catatan jaman SMA Juli 1989

 

 

 

 

 

 

Thanks Mates…!


     Tak terasa sudah hampir 2 tahun sejak saya di promosikan ditempat baru dimana pada awalnya saya dihadapkan dengan situasi dan kondisi kerja yang berbeda, namun karena saya memiliki partner kerja yang bisa saling mengerti antara hak dan kewajiban, tugas dan tanggungjawab serta kebebasan dan kepatuhan, maka situasi dan kondisi yang semula saya anggap sebagai sebuah tantangan berat berubah menjadi sebuah kinerja yang luar biasa hasilnya.

     Saya memiliki dua staff wanita, keduanya memiliki nilai positif yang berbeda satu sama lain. Mereka sangat bisa saya andalkan dalam membantu saya membuat keputusan. Mereka keduanya lulusan strata satu akuntansi dari Universitas terkemuka di tanah air, Universitas Indonesia. Mereka berdua juga sempat menikmati suka duka di Kantor Akuntan Publik terkemuka sebelum bergabung bersama di kantor ini, PwC dan Deloitte. Dua nama yang cukup memberikan value lebih dalam ilmu ke-Akuntansi-an. Aku juga seorang akuntan, tapi akuntan abal-abal, ilmuku tak se-sakti mereka, jadi kayaknya gak penting juga kalo aku bahas gelarku disini.

     Selama kebersamaan kami, aku tak pernah memberikan tekanan dalam bekerja, karena aku yakin mereka sudah paham apa yang harus mereka kerjakan, karena memang dikeseharian kami tak pernah lepas dari yang namanya Laporan Keuangan. Aku memberikan mereka kebebasan dalam berkarya namun tetap berpegang pada peraturan yang telah ditetapkan. Aku mempercayai mereka sangat, maka apresiasi yang mereka berikan adalah menyelesaikan tugas tugas yang telah diberikan sesuai dengan tenggat waktu. Kolaborasi yang aneh menurut mata teman temanku. Dimana bagi mereka posisi seperti aku adalah posisi yang memiliki kewenangan penuh atas anak buah. Tapi itu tidak bagiku. Bagiku, ketika teammates-ku bisa bekerja dengan nyaman tanpa tekanan maka hasil dan apresiasi yang mereka berikan akan luar bisa hasilnya. Dari hal-hal kecil seperti memberi perintah kerja atau hal-hal besar dalam membuat  keputusan hasil kerja, saya sebisa mungkin melakukannya dengan pendekatan yang sederhana. Intinya kita tetap santai dan nyaman dalam bekerja namun hasil yang dibuat bisa kita pertanggungjawabkan.

     Tapi semuanya akan berubah mulai minggu depan. Saya dipindahkan ke Divisi lain yang posisinya saat ini kosong dengan bidang industri kerja yang berbeda namun dengan pola yang 100% sama. Dan sayangnya, saya harus di-pisah-kan dengan teammates yang selama ini sudah sangat cocok dalam bekerja. Bagi saya ini sebuah “pisahan” yang sangat traumatis. Tak mudah membuat sebuah kecocokan dalam team kerja yang seperti ini. Bagi saya ini sangat berat, entahlah buat mereka. Ditempat yang baru saya juga akan mendapatkan dua teammates wanita. Saya harus memulainya dari awal untuk membentuk kembali cara kerja yang sesuai dengan watak saya dan watak mereka. Membangun kembali kepercayaan terhadap team baru, menciptakan suasana kerja yang bersahabat, saling mengisi kekurangan dan memberi kelebihan satu sama lain pastilah butuh waktu dan tenaga. Tak apalah biar waktu nanti yang akan menjawabnya.

     Buat Shinta dan Riri, terimakasih atas kerjasama kita selama ini, terima kasih atas kepercayaan yang kalian berikan kepada saya atas langkah langkah yang saya ambil buat team, terimakasih atas kenyamanan dan pemenuhan atas hak dan kewajiban diantara kita, terima kasih atas segalanya, semoga dibawah kepemimpinan yang baru nanti kalian bisa lebih baik lagi berkarya dan berbakti. Dan mohon maaf atas segala kesalahan kesalahan yang pernah saya buat saat bekerja dalam team, mohon maaf juga jika saya tak bisa memberikan yang terbaik buat kalian. Mohon support dan doa kalian buat aku yahh…agar aku bisa selalu bekerja dengan gaya yang seperti ini.

N.B.:

“Tahun depan kalian berdua di promosikan untuk beasiswa Strata 2 di Australia, gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya ya, selamat…!  

Aku tak bisa bantu dalam bentuk materiil, tapi dukungan dan doa-ku buat kalian berdua Mates…!!

shirin

Hadiah Ulang Tahun Papa


Alhamdulillah…

       Setelah berkutat selama seminggu penuh dengan buku-buku pelajaran sejak awal semester hingga akhir semester, anak dara satu-satunya memberikan sebuah kejutan besar. Yeeeeiyyyy…akhirnya Kayla masuk ranking II setelah dikelas satu tahun lalu ada di ranking III. Alhamdulillah sekali lagi….dia bilang ini hadiah ulang tahun buat Papa…haaahhhh buat aku…? sungguh sebuah kejutan tak ternilai, penerimaan raport tak jauh berseling dengan tanggal kelahiranku, baiklah tak apa-apa…hadiah ini sudah cukup membuat bangga…terimakasih Kay.

     Perjuangan menuju angka II tak lepas dari perhatian istri yang kewarasannya diatas rata-rata. Sebetulnya buat aku pribadi, masa-masa ujian semester atau kenaikan kelas anak-anakku adalah masa masa tidak nyaman lahir batin. Istri yang kelewat batas dalam pelajaran sekolah anak-anak, akan semakin ekstreem dikala masa ujian. Tak ada televisi, tak ada sepeda, tak ada gadget, tak ada games dan tak ada jalan-jalan…kalo yang terkhir aku setuju sekali. Sehabis maghrib sampai dengan jam 10 malam adalah masa masa dikawah candradimuka sebelum masuk kemedan pertempuran esok harinya.

     Aku yang tak pernah ambil peranan dalam masa masa ini lebih banyak tak ikut campur dalam urusan teori teori tetek bengek mata pelajaran anak anak, masa masa ini adalah masa masa kekuasaan istri mengajari anaknya dengan gaya dia. Aku punya gaya yang berbeda dalam mengajari suatu pelajaran, aku tak bisa terikat oleh teori, aku lebih suka berjalan di praktek langsung atau belajar lewat cerita yang rasional. Kalo orang bilang “banyak jalan menuju Roma”….gaya beda hasil sama.

       Tak apalah, yang pasti dengan gaya manapun jika intinya untuk kemajuan dan kesuksesan kita bisa menggunakannya.

Terima kasih Kayla

Lolie Menghilang…!!


     Sejak Sabtu siang kemaren kami satu rumah di sibuk-kan dengan hilangnya Lolie sang Hamster betina kami yang manis. Kayla yang terutama sangat kehilangan. Sabtu pagi kami sudah berangkat kerumah sakit mata Aini, Kuningan, Jakarta Selatan guna menjenguk Ibu saya yang selesai menjalani operasi katarak di mata sebelah kiri. Sejak pagi kami sudah mempersiapkan apa saja yang harusnya kami lakukan sebelum meninggalkan rumah selama seharian penuh, karena sepulang dari rumah sakit kami juga berencana tak langsung pulang kerumah. Kandang sudah kami bersihkan dan ganti alasnya. Makan dan minum pun sudah kami sediakan, tak lupa sekerat mentimun dan potongan kecil apel sebagai nutrisi hariannya. Mereka sangat menyukai mentimun dan apel, terutama yang dingin.

     Sabtu malam sekitar jam 20.30 WIB kami sudah sampai dirumah lagi. Karena sudah tidak fokus karena ngantuk dan lelah seharian diluar rumah, saya tak begitu mempedulikan hamster lagi. Saya hanya memberinya dua potong biskuit kecil sebagai tambahan kalsium dan karbo lengkap. Lagipula saya pikir mereka berdua sudah pasti sedang tertidur, karena arena bermain (roda putar) tempat mereka membakar lemak tak bekerja.

     Minggu pagi baru kami di hebohkan dengan hilangnya salah satu hamster tersayang kami, hamster paling lucu, hamster paling pintar, hamster paling demplon, Lolie. Saya tersadar ketika melihat Lilo diam tersandar tak bergairah disudut kandang. Roda putar pun tak bergerak. Biskuit yang saya berikan semalampun masih utuh tidak habis seperti biasanya. Saya lihat kedalam ternyata Lolie tak ada…!!. Celaka saya sudah pasrah, dia pasti kabur keluar rumah ketika saya lengah tak menutup pintu kandang dengan rapat semalam dan membiarkan pintu rumah terbuka sejak subuh tadi. Kayla hanya terdiam tak bicara. Terlebih pagi ini kami harus segera berangkat ke Bumi Perkemahan Cibubur untuk mengikuti ujian kenaikan tingkat Kayla yang ikut Taekwondo. Kami makin panik setelah mencari selama setengah jam tapi Lolie tak ketemu. Waktu sudah kritis.

     Ya sudahlah, dengan hati tak tenang dan rasa bersalah pada Kayla kami tetap melanjutkan perjalanan ke Cibubur. Efeknya terasa, Kayla seperti tak bersemangat di ujian kenaikan tingkat. Selalu minta pulang lebih cepat untuk mencari lolie dirumah. Jam 12.30 WIB kami meluncur pulang. Sesampai dirumah semua sudut kami periksa hingga ke kolong almari dan tempat tidur. Hasilnya NIHILLLL….!, Lolie tak ketemu.

     Baiklah, karena frustasi, sedih dan marah, Kayla tertidur juga, tak lupa dia berdo’a minta sama Tuhan agar Lolie dipulangkan  kerumah dan tidak dimakan kucing. Kasihan juga menatap dan mendengar lirih do’a nya. Hingga larut malam, ketika semua sudah tertidur, hanya tinggal saya yang menonton televisi. Karena heningnya malam, pendengaran saya sedikit lebih peka. Saya mendengar suara gemeresek dari salah satu kamar. Saya perhatikan lebih teliti dan suara itu makin jelas. Karena penasaran saya cek setiap sudut kamar, dan pendengaran saya tertuju pada meja belajar Kayla. Tepat di Bawah komputer saya lihat ada penampakan yang sangat saya kenal. Lolie…!!, dia terjebak diantara sudut meja belajar dan CPU komputer rupanya. Aiiiiihhhh….sudah lebih seharian hewan ini bikin heboh dan perang urat syaraf diantara kami. Langsung saya ambil, dan sepertinya dia mengerti, suara cieeet..cieeet mirip tikus terdengar, mirip seperti suaranya ketika dipegang Kayla…Alhamdulillah, hewan ini masih hidup dan tidak dimakan kucing. Jam menunjukkan pukul 00. 43. WIB ketika Lolie ditemukan. Hanya istri yang aku beri tahu malam itu. Hhhhhhh….lega hati kami, karena Kayla tak mau diberikan pengganti.

     Setelah dimasukkan ke kandangpun, Lilo teman sejak kecilnya terlihat mulai bergairah dan menunjukkan sikap yang positif dan lebih agresif, tidak seperti tadi pagi. Syukurlah mereka bisa sekandang lagi, yang pasti besok pagi Kayla akan lebih bersemangat untuk pergi kesekolah. Terima kasih Tuhan, Engkau telah kabulkan permintaan Kayla atas hewan kesangannya yang dia beli sendiri dari tabungan uang jajannya. Alhamdulillah.